Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Misi Emas — Diseksi Aorta
“Baik,” gumamnya. “Satu per satu.”
Ardi memutar motor ke arah RSUD Soetomo sebelum panel biru itu sempat memudar.
Surabaya masih panas, jalanan padat, dan tubuhnya sudah melewati batas lelah sejak lama. Tapi kata pada panel itu membuat semua rasa kantuk menghilang.
Diseksi Aorta Akut.
Itu bukan nyeri dada biasa. Lapisan dalam aorta robek, darah menyusup di antara dinding pembuluh, dan setiap detik tekanan bisa memecahkan pembuluh utama seperti pipa tua yang dipaksa menahan banjir.
Kalau terlambat, pasien mati sebelum sempat meminta maaf kepada keluarganya.
Ponsel Ardi berdering di helm.
Ia menepi singkat dan mengangkat.
“Ardi, posisi?” suara Dokter Fajar terdengar tegang.
“Sepuluh menit lagi.”
“Pak Haji Qosim dibawa dari kegiatan masjid. Nyeri dada hebat, tekanan tidak stabil, CT awal mengarah ke diseksi aorta tipe A. Dokter Hasan dari RS UNAIR sedang menuju sini.”
“Ruang operasi?”
“Disiapkan. Tapi Hasan minta tim lengkap dan operator resmi. Kamu tahu situasimu.”
Ardi tahu.
Tenaga kontrak.
STR valid, SIP belum kembali.
Secara administrasi, ia masih berada di pinggir pintu. Namun beberapa hari terakhir, hampir semua pasien yang berdiri di pinggir kematian justru jatuh ke tangannya.
“Saya masuk sebagai asisten di bawah DPJP,” kata Ardi.
“Itu yang akan saya tulis.”
“Pak Fajar.”
“Ya?”
“Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama hanya karena nama saya.”
Fajar terdiam setengah detik. “Cepat datang.”
Ketika Ardi tiba di IGD, suasana sudah seperti medan perang yang rapi. Pak Haji Qosim terbaring di brankar dengan wajah pucat, napas pendek, dan tangan kanan menggenggam tasbih. Beberapa orang dari rombongannya berdiri di luar garis steril, sebagian masih memakai baju koko dan peci.
“Pak Haji,” kata Ardi sambil memeriksa pupil dan nadi perifer. “Saya Dokter Ardi. Bapak dengar saya?”
Pria tua itu membuka mata sedikit. “Dada... seperti dibelah...”
Kata itu membuat Ardi makin yakin.
Di monitor, tekanan naik turun tidak stabil. Nyeri berpindah ke punggung. Nadi lengan kanan dan kiri tidak sama kuat.
Diseksi.
Fajar menyerahkan hasil CT. “Robekan naik sampai ascending aorta. Kita tidak punya waktu.”
Langkah cepat terdengar dari koridor.
Dokter Hasan Mulyadi masuk dengan dua residen. Usianya lebih tua dari Fajar, rambutnya mulai memutih di pelipis, dan matanya tajam seperti orang yang terbiasa mengambil keputusan besar di ruang jantung.
Ia melihat pasien, melihat hasil CT, lalu melihat Ardi.
“Siapa ini?”
Fajar menjawab sebelum Ardi. “Dokter Ardi Pratama. Dia akan membantu.”
Hasan mengernyit. “Pratama? Yang baru kembali itu?”
Koridor mendadak sunyi.
Rudi yang berdiri dekat meja obat langsung menatap lantai, seolah menahan komentar.
Hasan tidak menurunkan suara. “Pak Fajar, ini diseksi aorta tipe A, bukan jahit luka wajah. Kenapa ada tenaga kontrak di tim operasi?”
Ardi tidak tersinggung. Atau lebih tepat, ia tidak punya energi untuk tersinggung.
“Karena pasien tidak punya waktu untuk menunggu semua orang nyaman dengan riwayat saya, Dokter Hasan.”
Tatapan Hasan menajam. “Berani sekali.”
“Tidak. Saya hanya membaca CT.”
Ardi menunjuk gambar. “Entry tear di ascending aorta, hematoma meluas. Kalau tekanan dibiarkan fluktuatif, ruptur bisa terjadi sebelum induksi selesai. Kita perlu kontrol tekanan, cannulation hati-hati, dan jangan terlalu agresif saat membuka perikardium.”
Hasan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik sebelumnya ia masih melihat Ardi sebagai masalah administrasi. Sekarang ia terpaksa melihatnya sebagai dokter yang memahami medan.
Fajar memotong. “Kita bawa ke ruang operasi. Saya sebagai DPJP rumah sakit, Dokter Hasan sebagai operator utama. Ardi asisten.”
Hasan menatap Ardi sekali lagi. “Jangan bergerak tanpa instruksi saya.”
Ardi mengangguk. “Selama instruksinya tidak membunuh pasien.”
Rudi batuk kecil untuk menutup suara tertawa yang hampir keluar.
Hasan mendengus, tapi ia tidak membuang waktu lagi.
Di ruang scrub, panel Sistem Modifier muncul.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【SISTEM MODIFIER】 ║
║ ║
║ Skill baru terdeteksi! ║
║ ▸ Operasi Diseksi Aorta - Level: ║
║ Belum Dikuasai ║
║ ║
║ Poin Modifikasi tersedia: 30 PM ║
║ Upgrade ke Pemula? (Biaya: 10 PM) ║
║ ║
║ [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi memilih [YA].
Pengetahuan dasar masuk: anatomi aorta, jalur robekan, prinsip cooling, cannulation, penggantian segmen.
Panel berganti.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Operasi Diseksi Aorta: Pemula ║
║ ║
║ Poin Modifikasi tersedia: 20 PM ║
║ Upgrade ke Menengah? (Biaya: 10 PM)║
║ ║
║ [YA] [TIDAK] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi tidak berhenti.
[YA]
Kali ini pengetahuan itu menjadi lebih tajam. Bukan hanya tahu langkah, tapi tahu kapan langkah harus diubah. Ia melihat risiko perdarahan tersembunyi, titik jahitan rapuh, dan cara menggabungkan Hemostasis Manual dengan teknik vaskular agar waktu tidak habis.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Upgrade Berhasil!】 ║
║ Operasi Diseksi Aorta telah ║
║ ditingkatkan ke level Menengah. ║
║ ║
║ Saldo PM: 10 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Operasi dimulai.
Hasan memang bukan dokter biasa. Sayatan sternotomi cepat dan bersih. Timnya disiplin. Fajar menjaga koordinasi dengan anestesi dan perfusionist. Ardi berdiri sebagai asisten, tampak diam, tapi matanya mengikuti setiap milimeter.
Ketika perikardium dibuka, tekanan di ruangan ikut berubah.
Aorta tampak membengkak tegang, warna kebiruannya buruk. Seperti ular besar yang siap pecah dari dalam.
“Tekanan turun,” kata anestesi.
“Siapkan bypass,” perintah Hasan.
Ardi melihat sudut cannulation yang dipilih Hasan.
“Dokter Hasan,” katanya, “bagian itu dekat flap. Kalau masuk di sana, aliran bisa masuk lumen palsu.”
Hasan berhenti setengah detik. “Kamu melihat dari mana?”
Ardi menunjuk hasil CT yang ditempel di layar. “Cabang ini bergeser. Lumen sejati lebih sempit di sisi medial.”
Hasan menatap layar.
Kali ini ia tidak membantah.
“Baik. Geser dua sentimeter.”
Instruksi berubah.
Operasi berjalan lagi.
Sepuluh menit kemudian, saat segmen aorta dibuka, darah menyembur lebih deras dari perkiraan. Salah satu tepi robekan melebar. Perawat menarik napas tajam.
“Suction!”
“Tekanan jatuh!”
Hasan bergerak cepat, tapi bidang pandangnya tertutup darah. Di momen sempit itu, Ardi melihat titik sumbernya.
Bukan robekan besar.
Cabang kecil di tepi flap.
“Tekan di sini,” kata Ardi.
Ia memasukkan jari dengan sudut sempit, menekan titik yang tepat sambil menjaga jaringan rapuh agar tidak hancur. Hemostasis Manual Menengah bekerja seperti ingatan tubuh. Darah yang tadinya membutakan lapangan berkurang cukup untuk memberi ruang.
Hasan melihat.
Benar-benar melihat.
“Benang 5-0 pledget,” katanya cepat.
Ardi sudah mengambil sebelum diminta.
Hasan menjahit.
Ardi menjaga tekanan.
Fajar mengatur ritme tim.
Untuk beberapa menit, tidak ada status, tidak ada masa lalu, tidak ada tenaga kontrak, tidak ada mantan napi. Hanya tiga dokter dan satu pembuluh utama yang tidak boleh pecah.
“Tekanan membaik,” kata anestesi.
Hasan menghembuskan napas pendek. “Lanjut graft.”
Setelah itu, operasi menjadi panjang tapi terkendali. Segmen rusak diganti. Anastomosis diperiksa. Perdarahan mikro ditutup. Bypass diturunkan perlahan.
Jantung Pak Haji Qosim kembali mengambil alih sirkulasi.
Saat monitor menunjukkan tekanan stabil, Rudi yang mengintip dari balik kaca mengangkat kedua alis seolah baru melihat pertandingan final.
Fajar menatap Ardi sebentar, lalu kembali pada pasien.
Hasan yang terakhir melepas sarung tangan.
“Pasien ke ICU,” katanya.
Pak Haji Qosim keluar dari ruang operasi dalam kondisi stabil.
Panel biru muncul.
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Misi Selesai!】 ║
║ Misi Emas: Diseksi Aorta Darurat ║
║ ║
║ Hadiah: +50 PM ║
║ Saldo: 60 PM ║
║ ║
║ 【Peti Harta Perak Diperoleh!】 ║
║ Buka sekarang? [YA] [NANTI] ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Ardi memilih [YA].
```
╔══════════════════════════════════════╗
║ 【Peti Harta Perak Dibuka】 ║
║ ║
║ Hadiah: Kartu Upgrade x1 ║
╚══════════════════════════════════════╝
```
Kartu Upgrade.
Ardi menyimpan informasi itu dalam diam.
Di koridor, Hasan berhenti di samping Fajar. Suaranya tidak keras, tapi Ardi mendengar.
“Orang itu... tidak sederhana.”
Fajar meliriknya. “Maksud Anda?”
Hasan menatap pintu ICU yang baru tertutup. “Dia melihat flap dari CT lebih cepat daripada residen saya. Dia menahan perdarahan seperti orang yang sudah puluhan kali memegang kasus vaskular. Bagaimana mungkin dia cuma tenaga kontrak?”
Fajar tidak menjawab.
Karena jawaban yang sebenarnya bahkan lebih mustahil.
Beberapa jam kemudian, Pak Haji Qosim sadar sebentar di ICU. Ia meminta bertemu dokter yang pertama memanggil namanya di IGD.
Ardi masuk dengan pakaian operasi yang sudah diganti. Pak Qosim membuka mata lemah dan menggenggam tangannya.
“Dokter,” bisiknya. “Anda adalah jawaban dari doa saya.”
“Bapak harus istirahat.”
“Nanti... kalau saya kuat bicara...” Mata Pak Qosim bergerak gelisah. “Saya pernah dengar nama Anda. Ardi Pratama.”
Jantung Ardi menegang.
Pak Qosim menarik napas pendek. “Saya kenal orang-orang yang dekat dengan Rangga Pradana. Ada cerita lama tentang kasus Anda... tidak semua orang percaya Anda bersalah.”
Di balik kaca ICU, lampu putih memantul di wajah Ardi.
Untuk pertama kalinya, bayangan masa lalunya tidak hanya terasa seperti luka.
Ia mulai terlihat seperti pintu yang bisa dibuka.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭