NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.

Tema dan Tatapan yang Mengganggu

Siang itu, kelompok mereka berkumpul di sudut perpustakaan yang tenang. Waktu sudah tiba untuk menentukan tema spesifik yang akan diangkat dalam makalah, sebelum akhirnya disetujui oleh Bu Ratna. Dimas sudah menyiapkan secarik kertas berisi catatan ide, Aisyah membuka buku referensi di hadapannya, sementara Arga sibuk merapikan pulpen dan penggaris di atas meja. Hanya Laras yang tampak berbeda dari yang lain.

Daripada memikirkan ide atau membuka buku, matanya justru terus menatap Dimas tanpa berkedip. Sesekali ia tersenyum malu-malu saat Dimas bergerak, atau membetulkan posisi duduknya agar lebih dekat ke arah cowok itu. Ia sama sekali tidak menyimak apa yang dibicarakan teman-temannya, pikirannya melayang jauh hanya pada sosok di sebelahnya.

"Baiklah, mari kita ajukan ide masing-masing satu per satu ya," buka Dimas lembut, berusaha memulai diskusi. "Aku punya usulan, mungkin kita bisa angkat tema tentang peran generasi muda dalam melestarikan budaya daerah. Bagaimana menurut kalian?"

Aisyah mengangguk setuju. "Bagus sekali. Kalau aku menyarankan agar kita lebih fokus pada kesenian tradisional yang mulai tergeser zaman, supaya lebih spesifik materinya."

Arga ikut menimpali. "Kalau aku usulkan kita tambahkan data dari daerah-daerah yang masih memegang teguh adat istiadat, biar makin lengkap buktinya."

Giliran Rara kini. "Aku setuju dengan keduanya. Tapi menurutku kita juga harus menyertakan tantangan yang dihadapi, supaya solusinya terasa nyata dan tidak sekadar teori saja."

Semua mata kini beralih ke Laras. "Laras, giliranmu. Kamu punya ide lain atau mau menambahkan sesuatu?" tanya Dimas sopan.

Laras tersentak kaget, wajahnya memerah seketika karena baru sadar namanya dipanggil. "Eh... ah... iya... maksudku... terserah kalian saja," jawabnya terbata-bata, lalu kembali menatap Dimas lekat-lekat seolah lupa bahwa mereka sedang berdiskusi tugas.

Dimas menghela napas pelan, tangannya perlahan menutup buku catatannya. Ia mulai merasa tidak nyaman. Tatapan Laras yang tajam, senyum yang tidak pada tempatnya, dan sikapnya yang sama sekali tidak peduli pada tugas membuatnya sulit berkonsentrasi. Ia mencoba menatap balik sekilas, tapi Laras justru tersenyum makin lebar.

Suasana hening sejenak. Rara yang sejak tadi memperhatikan tingkah Laras tidak bisa lagi menahan kesabaran. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap tajam ke arah Laras.

"Hei, kamu kenapa malah kayak begitu?" ucap Rara secara refleks, suaranya terdengar jelas dan tegas di antara keheningan perpustakaan. "Kita lagi diskusi tugas penting lho. Daripada cuma melamun dan ngeliatin orang terus, lebih baik kamu pikirkan juga ide apa yang mau disampaikan. Kita kerja kelompok, bukan cuma buat satu orang saja."

Laras tertegun kaku. Mulutnya sedikit terbuka hendak membalas, tapi melihat tatapan tajam Rara dan wajah Dimas yang tampak sungkan, ia akhirnya hanya menunduk dalam diam. Pipi dan telinganya memerah padam menahan malu, tak berani lagi mengangkat wajah atau menatap siapa pun.

Dimas menghela napas panjang, lalu mencoba mencairkan suasana yang kembali menegang. "Sudah, tidak apa-apa. Mungkin Laras sedang bingung memilih ide. Kita gabungkan saja usulan yang sudah ada dulu ya. Nanti kalau ada yang kurang, kita tambahkan lagi," ucapnya bijak, meski matanya masih menyiratkan rasa lega karena gangguan tadi berhenti sejenak.

Rara pun kembali duduk tegak, tapi di dalam hatinya ia berharap Laras benar-benar sadar bahwa tugas ini adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar alasan untuk melamunkan seseorang.

Suasana hening sejenak setelah teguran Rara. Hanya suara halaman buku yang berdesir pelan terdengar di antara mereka. Laras masih menunduk dalam, jari-jarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, menahan rasa kesal sekaligus malu yang menyelimuti hatinya. Ia tahu tadi benar-benar salah fokus, tapi rasanya sulit sekali mengalihkan pandangan saat Dimas berbicara—cara matanya berbinar, cara ia menjelaskan ide dengan tenang, semuanya seolah memanggil perhatiannya.

Namun kini semua mata tertuju padanya, membuatnya serba salah. Dimas menyadari keheningan yang canggung itu, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan. "Yuk kita lanjutkan ya. Jadi kita sepakat temanya adalah 'Peran Generasi Muda Melestarikan Kesenian Tradisional di Tengah Arus Globalisasi'. Bagaimana?" tanyanya lembut.

Aisyah dan Arga langsung mengangguk setuju. Rara pun ikut mengiyakan, meski matanya masih sesekali melirik Laras yang belum berani mengangkat wajah.

"Kalau begitu, mari kita bagi tugas lebih detail lagi," lanjut Dimas sambil menunjuk catatannya. "Aku dan Arga akan mencari data tentang kesenian yang mulai terancam punah. Aisyah dan Rara, bisakah kalian menyusun latar belakang dan merumuskan masalahnya? Laras..." Dimas berhenti sejenak, menatap Laras dengan harapan. "Bolehkah kamu bantu mencari contoh program atau kegiatan yang sudah dilakukan anak muda di daerah lain? Itu akan sangat membantu kita."

Laras perlahan mengangkat wajah. Matanya sembab sedikit, tapi ia berusaha menampilkan senyum yang tenang. "Boleh... tentu saja boleh," jawabnya pelan. "Maaf ya tadi aku tidak fokus. Aku janji akan mengerjakannya sebaik mungkin."

Mendengar itu, Rara menghela napas lega. Ia tidak bermaksud membuat Laras menangis atau tersinggung, ia hanya ingin semua orang bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing.

"Bagus kalau begitu," kata Arga sambil menepuk pelan meja. "Nanti sore kita kumpulkan semua materi di grup ya. Jangan sampai ada yang terlambat."

Mereka pun kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun tak lama kemudian, Laras melirik sekilas ke arah Rara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran rasa kesal dan rasa ingin membuktikan bahwa ia juga mampu, bukan sekadar orang yang cuma bisa melamun. Rara hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali menunduk ke bukunya. Ia berharap mulai hari ini, Laras benar-benar berubah dan bisa bekerja sama dengan baik.

Saat mereka hendak beranjak meninggalkan perpustakaan, Laras berjalan mendekat ke arah Rara pelan-pelan. "Terima kasih sudah menegurku tadi," bisiknya tiba-tiba. "Mungkin kamu benar... aku terlalu terbawa perasaan sampai lupa tugas utamaku."

Rara tertegun sejenak, lalu tersenyum tulus. "Sama-sama. Aku cuma ingin kita semua sukses bersama. Kalau ada yang ingin kamu tanyakan soal tugas, tanya saja. Aku siap bantu."

Mereka pun berjalan beriringan keluar dari perpustakaan, meski belum sepenuhnya akrab, setidaknya beban di hati masing-masing sudah sedikit berkurang.

"Kalian jangan marah-marahin kayak gitu ya atau nggak enak hati kita itu satu kelompok di sini jadi kita harus bisa bekerja sama dengan baik! Dan yang paling penting itu adalah kita harus kompak kita harus bisa mempresentasikan dengan hasil yang sangat memuaskan kepada mereka, kalau kita cuma memikirkan ego kita nggak akan pernah ada habisnya dan kita harus semangat untuk ngerjain tugas-tugas yang bakalan kita lakukan nanti."

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!