NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 : Tidak Berani Bercerita

Kini kegiatan terapi sore berakhir. Satu per satu pasien kembali digiring menuju bangsal masing-masing. Beberapa masih tertawa sendiri, ada yang bersenandung pelan, sementara yang lain berjalan sambil menggenggam boneka lusuh kesayangan mereka.

Adrian berdiri paling belakang. Sejak datang pagi tadi, ia tidak pernah membuat keributan. Bahkan, ia lebih banyak diam dibandingkan pasien lain.

"Pasien baru itu aneh, ya?" bisik salah seorang perawat.

"Iya, dia kelihatan tenang."

"Mungkin saja itu efek obat."

Nadira yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum tipis. "Setiap pasien punya cara yang berbeda untuk menghadapi traumanya," ujarnya. "Jadi jangan langsung menilai."

Kedua perawat itu mengangguk lalu kembali bekerja.

Malam mulai turun...

Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat berubah jauh lebih sunyi. Lampu-lampu lorong menyala redup. Aroma obat-obatan bercampur cairan disinfektan memenuhi udara.

Nadira mendapat giliran jaga malam. Ia berjalan memeriksa setiap kamar pasien, memastikan semuanya sudah beristirahat. Ketika sampai di kamar nomor tujuh, ia mengintip dari jendela kecil di pintu.

Adrian belum tidur, pria itu masih duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong.

Nadira lalu membuka pintu perlahan. "Kamu belum tidur?"

Tidak ada jawaban seperti biasa.

Ia masuk sambil membawa segelas susu hangat. "Biasanya susu hangat bisa membuat orang cepat tertidur"

Adrian melirik sekilas ke arah gelas itu. Sesaat kemudian, tanpa diduga, ia mengulurkan tangan dan menerimanya.

Nadira sedikit terkejut. "Syukurlah." Ia duduk di kursi yang sama seperti siang tadi. "Aku tahu mungkin kamu belum percaya padaku. Tapi tidak apa-apa, aku akan tetap merawatmu."

Adrian menundukkan kepala, sudah lama tidak ada seseorang yang berbicara kepadanya tanpa nada menghakimi.

Nadira kembali tersenyum. "Kalau suatu hari nanti kamu mau bercerita, aku pasti akan mendengarkannya."

Kalimat itu membuat jantung Adrian berdegup lebih cepat. Ia ingin mengatakan semuanya, bahwa dirinya dijebak dan dipaksa berada di tempat ini.

Namun ia mengurungkan niatnya, ia masih ingat bagaimana dokter menertawakannya saat pertama kali ia mengatakan dirinya tidak gila. Sejak saat itu Adrian memilih bungkam.

***

Sementara itu, di sebuah rumah mewah di pusat kota. Seorang wanita berusia lima puluh tahun duduk santai di ruang keluarga sambil menyeruput teh.

Wanita itu adalah Miranda Mahendra, Ibu sambung Adrian.

"Bagaimana keadaan Adrian?" tanyanya kepada seorang pria berkacamata yang duduk di hadapannya.

Pria itu tersenyum tipis. "Masih sama seperti sebelum di bawa kerumah sakit, Nyonya."

Miranda mengangguk puas. "Bagus. Pastikan dia tidak pernah keluar dari sana."

"Tenang saja Nyonya. Selama pihak rumah sakit percaya dia mengalami gangguan jiwa, tidak akan ada yang mendengarkan ucapannya," jawab pria itu dengan santai.

Miranda tersenyum puas. "Sebentar lagi seluruh saham Mahendra Grup akan resmi menjadi milikku."

Di sudut ruangan, seorang pemuda yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Bagaimana kalau Kak Adrian berhasil membuktikan dirinya tidak gila?"

Miranda menatap putra kandungnya itu dengan kesal. "Itu tidak akan terjadi. Orang yang pernah masuk rumah sakit jiwa akan selalu dianggap gila. Dan jika perlu..." Ia berhenti sejenak. "Kita akan membuat Adrian kehilangan kewarasannya."

Pria itu bernama Dimas Mahendra dia adalah anak kandung Miranda, dan sebentar lagi Dimas yang akan mengantikan posisi Adrian di perusahaan Mahendra Grup.

"Aku harap juga begitu Ma," sahutnya sambil tersenyum senang.

***

Di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat...

Adrian masih berdiri di balik jendela kamarnya. Tatapannya menerobos kegelapan malam yang diselimuti rintik hujan. Dari balik kaca, ia bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

Dulu di jam seperti ini, ia masih berada di ruang kerjanya sebagai Direktur Utama Mahendra Grup. Menyelesaikan tumpukan laporan sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan sekretarisnya. Namun kini, ia hanya seorang pria yang dianggap memiliki gangguan jiwa.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan membuat Adrian menoleh. Pintu kamar terbuka sedikit.

Nadira masuk sambil membawa selimut tebal. "Malam ini udara cukup dingin." Tanpa menunggu jawaban, ia menghampiri Adrian lalu menyampirkan selimut itu ke bahunya. "Kalau kamu sampai sakit, nanti aku akan tambah repot."

Adrian menatap wajah wanita itu beberapa detik. Tatapan mereka sempat bertemu. Untuk sesaat, Nadira merasa ada sesuatu yang berbeda. Mata pria itu tidak seperti mata pasien gangguan jiwa yang biasa ia rawat dan tatapannya begitu tenang.

Namun pikiran itu segera ia singkirkan. "Mungkin hanya perasaanku saja." Nadira tersenyum kecil. "Selamat malam." Ia berbalik hendak keluar, namun baru dua langkah berjalan...

Bruk!

Suara benda jatuh membuat Nadira menoleh cepat. Adrian rupanya kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terduduk di lantai.

"Adrian!" Nadira berlari menghampiri. "Astaga... kamu tidak apa-apa?"

Tanpa berpikir panjang, ia membantu Adrian duduk kembali ke tepi ranjang. Saat memegang lengannya, Nadira sedikit terkejut.

"Ototnya keras sekali..." gumamnya dalam hati.

Selama menjadi perawat, jarang ada pasien dengan kondisi fisik sebaik Adrian. Bahkan telapak tangannya dipenuhi kapalan halus, seperti orang yang terbiasa berolahraga atau bekerja keras.

"Apa sebelum sakit kamu sering olahraga?" tanyanya tanpa sadar.

Adrian hanya menatapnya, tak sepatah kata pun keluar.

Nadira tersenyum canggung. "Maaf... aku lupa."

Ia kembali mengoleskan salep pada luka di siku Adrian yang sedikit tergores akibat terjatuh. "Sekarang sudah selesai, besok jangan berdiri terlalu lama di dekat jendela, ya."

Adrian mengangguk sangat pelan. Itu adalah respons pertama yang benar-benar ia berikan sejak datang ke rumah sakit.

Mata Nadira langsung berbinar. "Nah... begitu lebih baik. Aku senang kamu mulai merespons."

Adrian kembali menundukkan kepala. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya memang selalu mengerti setiap ucapan Nadira. Hanya saja... ia tidak lagi berani mempercayai siapa pun.

***

Keesokan paginya...

Seorang pria berjas rapi turun dari mobil mewah yang berhenti di halaman rumah sakit. Di tangannya terdapat sebuah tas kulit hitam. Ia langsung menuju ruang direktur rumah sakit.

"Silahkan masuk."

Pria itu menutup pintu rapat setelah berada di dalam. Direktur rumah sakit menyambutnya dengan senyum tipis.

"Bagaimana keadaan pasien?"

"Masih aman terkendali."

Pria berjas itu mengangguk lalu meletakkan tas hitamnya di atas meja. Resleting tas dibuka, tumpukan uang pecahan seratus ribu memenuhi isi tas itu

"Ini bagianmu."

Direktur rumah sakit tersenyum puas. "Tenang saja. Selama aku masih menjabat di sini, Adrian Mahendra akan tetap tercatat sebagai pasien dengan gangguan jiwa berat."

Pria itu mengangguk puas. "Lakukan apa pun agar dia tidak pernah dinyatakan sembuh. Kalaupun nanti ada perkembangan... buatlah laporan bahwa kondisinya masih belum stabil."

Direktur rumah sakit mengambil tas itu tanpa ragu. "Kau bisa mempercayaiku."

Tanpa mereka sadari... percakapan itu terdengar samar oleh seseorang yang sedang berdiri di balik pintu. Seseorang itu adalah Nadira, namun karena hanya mendengar beberapa potong kalimat yang tidak jelas, ia mengira mereka sedang membahas pasien lain.

Dengan sopan ia mengetuk pintu. "Permisi, Pak Direktur. Saya membawa berkas pemeriksaan pasien."

Kedua pria di dalam ruangan langsung saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah tegang.

"Masuk."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!