Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Lamaran yang Kupilih Sendiri
Hasyim Raharja menerima kedatanganku di kantor yayasannya tanpa senyum dan tanpa teh.
Ruangan itu sempit, berada di lantai dua sebuah bangunan tua yang bagian bawahnya dipakai toko alat tulis. Dindingnya dipenuhi foto kegiatan pendidikan, sertifikat yang mulai menguning, dan satu gambar Ridwan ketika masih mengenakan seragam sekolah dasar.
Hasyim adalah ayah angkat penghulu yang menikahkan kami.
Nama yang menerima pembayaran besar pada hari aku melamar Nadira.
Hasyim menutup buku kas ketika aku duduk.
“Saya sudah memberikan salinan kepada pengacara istrimu.”
“Bagus.”
Ia mengangkat alis, mungkin menunggu aku memintanya menarik kembali dokumen tersebut.
“Kamu tidak datang untuk menghentikannya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku ingin mendengar apa yang kubayar.”
Hasyim mendengus.
“Kamu yang mentransfer uangnya.”
“Aku tahu jumlahnya. Aku ingin mendengar akibatnya dari orang yang menerimanya.”
Ia memandangku cukup lama sebelum membuka laci. Sebuah map hijau diletakkan di antara kami. Pada sampulnya tertulis nama program yang pernah hampir membawa Nadira keluar Jakarta selama satu tahun.
FELLOWSHIP MEDIASI KELUARGA NUSANTARA.
Aku masih mengingat surel penerimaan itu terlalu jelas.
Nadira membacanya di dapur apartemen sambil berdiri tanpa alas kaki. Ia terpilih mengikuti program di Yogyakarta, mendapat tempat tinggal, pelatihan, dan kesempatan bekerja dengan lembaga bantuan hukum yang lebih besar. Matanya berbinar ketika menjelaskan semua yang bisa ia pelajari.
Aku lebih banyak mendengarkan waktu itu.
Sampai ia melihatku.
“Setahun lama sekali,” katanya.
Aku menjawab bahwa kami bisa mengaturnya.
Malam itu juga aku menelepon Hasyim.
“Pembayaranmu menutup kekurangan dana fellowship,” katanya sekarang. “Secara resmi, program ditunda karena sponsor utama menarik diri. Secara tidak resmi, kamu meminta nama Nadira dipindahkan dari angkatan pertama.”
“Bukan dicoret.”
“Ditunda tanpa tanggal baru sama saja kalau orangnya tidak pernah diberi tahu.”
Pandanganku tertahan pada map hijau.
“Aku meminta tempatnya dijaga sampai keadaan aman.”
“Aman menurut siapa?”
Pertanyaan itu sudah terlalu sering kuterima beberapa hari terakhir.
Jawabannya tetap sama buruknya.
“Menurutku.”
Hasyim membuka halaman lain. Di sana ada surat penolakan dari keluarga Kalyana terhadap pernikahan kami. Bukan penolakan resmi yang bisa dilawan di pengadilan. Hanya syarat-syarat yang disusun Surya dan Helena agar Nadira dianggap pantas masuk keluarga.
Menutup Ruang Tengah atau memindahkan kepemilikannya ke yayasan keluarga.
Menandatangani perjanjian kerahasiaan tentang pekerjaan Aditya.
Menghentikan mediasi terhadap eksekutif yang terhubung dengan Kalyana Group.
Mengikuti pemeriksaan kesehatan mental oleh dokter pilihan keluarga.
Aku pernah membaca daftar itu di ruang kerja ayah. Aku merobeknya, lalu mengatakan kami akan menikah tanpa restu mereka kalau perlu.
Aku juga tahu apa yang tersembunyi di balik penolakan itu. Ruang Tengah masih menyewa bangunan dari yayasan kecil yang punya utang kepada perusahaan pembiayaan milik jaringan Kalyana. Surya bisa membuat kantor Nadira kehilangan tempat hanya dengan meminta satu kreditur menagih tepat waktu.
“Aku membayar utang gedung,” kataku.
“Melalui yayasan saya,” jawab Hasyim. “Lalu kamu meminta saya menjadi perantara agar keluarga Kalyana menarik keberatan. Mereka tidak menariknya. Mereka hanya setuju tidak menyampaikan syarat-syarat itu kepada Nadira.”
“Karena aku mengambil tanggung jawab hukumnya.”
“Karena kamu memberi mereka jaminan bahwa Nadira tetap berada dalam jangkauanmu.”
Aku mencari sesuatu di wajahnya yang bisa kubantah.
Hasyim tidak mengalihkan pandangan.
“Saya tidak tahu seluruh isi jaminan itu. Tapi saya tahu kamu menjanjikan tidak ada dokumen Aditya keluar selama pernikahan.”
“Itu untuk melindunginya.”
“Dan kalimat itu masih terdengar nyaman di mulutmu?”
Aku tidak menjawab.
Hasyim tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya.
Aku membuka lembar transfer. Keterangan PENYELESAIAN KEBERATAN KELUARGA ternyata mencakup tiga hal: pelunasan utang gedung Ruang Tengah, biaya pengganti peserta fellowship, dan ongkos hukum untuk memisahkan kantor Nadira dari klaim Kalyana.
Di permukaan, aku menyelamatkan pekerjaannya.
Pada saat yang sama, aku menutup satu jalan yang bisa membawanya pergi dariku.
“Ridwan tahu?” tanyaku.
“Bahwa saya menerima dana, iya. Bahwa fellowship Nadira ditunda atas permintaanmu, tidak.”
“Apakah kau memintanya menikahkan kami karena uang itu?”
Wajah Hasyim mengeras.
“Ridwan menikahkan kalian karena dokumennya sah dan kalian datang dengan kemauan sendiri. Jangan seret integritas anak saya ke dalam keputusan yang kamu buat.”
“Aku perlu memastikan.”
“Tidak. Kamu perlu menemukan bagian yang masih bisa membuatmu merasa pernikahan itu bersih.”
Kalimatnya tepat.
Aku membencinya karena itu.
Aku berdiri, tetapi Hasyim belum selesai.
“Laksmi pernah datang ke sini sebelum meninggal,” katanya. “Dia meninggalkan pesan kalau suatu hari kamu dan Nadira membicarakan pernikahan.”
Aku berhenti.
“Apa pesannya?”
“Jangan bantu siapa pun menghilangkan pilihan Nadira.”
“Dan kau tetap menerima uangku.”
“Iya.”
Hasyim menutup map.
“Saya membenarkan diri dengan berpikir kantor Nadira akan selamat dan fellowship bisa dibuka lagi nanti. Saya salah. Saya memilih hasil yang kelihatan baik, lalu membiarkan kamu mengatur jalannya.”
Aku membawa salinan seluruh dokumen dan meminta Hasyim mengirim berkas asli kepada Damar. Tidak ada tawaran agar namanya dikeluarkan dari perkara. Tidak ada perjanjian baru.
Dalam mobil, aku membuka kembali kronologi hari lamaran.
Pagi itu Helena menelepon Nadira dan mengundangnya makan malam tanpa sindiran mengenai pekerjaan. Surya menyuruh asistennya mengirim ucapan selamat atas keberhasilan kantor. Pemilik bangunan mengonfirmasi sewa Ruang Tengah diperpanjang lima tahun. Pada sore hari, yayasan fellowship mengirim surat penundaan program.
Semua hambatan menghilang dalam satu hari.
Malamnya, Nadira bertanya apakah aku pernah berpikir menikah dengannya.
Aku tidak menyuruhnya bertanya.
Aku tidak mengancam jika jawabannya tidak.
Aku hanya membuat dunia di sekelilingnya terasa aman untuk tinggal bersamaku, sementara jalan menuju Yogyakarta pelan-pelan kututup.
Aku tidak memaksa jawaban.
Aku hanya memastikan satu jawaban terasa paling aman.
Sebelum meninggalkan parkiran yayasan, aku membuka kembali surel lama Nadira tentang fellowship. Pesannya masih memakai tanda seru terlalu banyak karena ia menulis dalam keadaan gembira. Ia mengirim daftar kelas yang ingin diambil, nama mediator yang ingin ditemui, juga foto kamar kecil yang akan ditempatinya di Yogyakarta.
Balasanku saat itu hanya satu kalimat:
Kalau ini yang kamu mau, aku akan mendukungmu.
Tiga jam setelah mengirim kalimat tersebut, aku menelepon Hasyim dan meminta programnya ditunda.
Aku tidak pernah melarang Nadira berangkat.
Aku membuat keberangkatan itu berhenti menjadi pilihan, lalu berdiri di sampingnya ketika surel penundaan datang.
Nadira menangis sebentar di kamar mandi malam itu. Ketika keluar, ia berkata mungkin semesta memang menyuruhnya tetap di Jakarta.
Aku memeluknya.
Aku membiarkannya percaya begitu.
Dalam kronologi audit, peristiwa itu tidak bisa kutulis sebagai perlindungan. Tidak ada ancaman yang mendesak. Tidak ada orang yang mengikutinya.
Hanya ada kemungkinan ia menemukan kehidupan yang tidak berpusat padaku.
Aku mengirim salinan percakapan tersebut kepada Damar bersama dokumen Hasyim. Judul surelnya kubuat sesederhana mungkin:
Fellowship Nadira—intervensi tanpa persetujuan.
Saat kembali ke kantor, Elsa menungguku dengan sebuah hard disk lama di atas meja.
“Ini ditemukan dalam audit perangkat rumah,” katanya. “Cadangan ponsel Nadira dari enam tahun lalu.”
“Aku tidak meminta membukanya.”
“Damar meminta seluruh data pribadi Nadira yang pernah disalin sistemmu. Tim harus menginventarisasi sebelum menyerahkan.”
Aku melihat daftar berkas. Foto, catatan, rekaman pesan, dan satu memo suara yang dibuat pada malam sebelum lamaran.
“Apakah Damar sudah menerima?”
“Salinan terenkripsi sedang dikirim. Kau boleh tidak mendengarnya.”
Aku seharusnya memilih itu.
Tapi nama file tersebut memakai tanggal yang langsung kukenal. Jemariku menekan tombol putar sebelum pikiranku sempat mencari alasan.
Suara Nadira terdengar pelan, seperti sedang berusaha tidak membangunkan siapa pun.
“Tara, aku enggak tahu kenapa aku merekam ini. Mungkin besok aku akan menghapusnya.”
Ada suara keran dapur, lalu napas panjang.
“Semua mendadak jadi mudah. Kantorku aman. Keluarga Rendra berhenti menolak. Program Yogyakarta tiba-tiba ditunda. Aku seharusnya senang, tapi rasanya seperti pintu-pintu ditutup tanpa suara.”
Aku tidak bergerak.
Nadira terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku mencintainya. Itu yang membuatku lebih takut. Kalau dia melamarku, aku mungkin akan bilang iya.”
Suara memo melemah menjadi bisikan.
“Tapi aku takut, saat dia melamar nanti, jawaban iya itu sudah tidak benar-benar menjadi pilihanku.”
Jari telunjukku masih berada di atas tombol putar.
Aku tidak menekan apa-apa.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku berharap rekaman itu berhenti lebih cepat.