Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Tawaran Taaruf
Merasa di tegur. Keduanya sigap, mengambil jarak.
"Maaf, Wak." Satya menunduk gugup. Ia segera menarik kembali tangannya. Meremas jemarinya di atas lutut. Demi menutupi debaran jantungnya yang kian berpacu liar.
Di sisi lain Melati langsung merah muka. Gadis itu menundukkan kepala. Tangannya sibuk meraba ujung baju, dengan perasaan campur aduk.
Seakan tahu, Wak Kaji, kembali melanjutkan, "Sudah sama-sama dewasa. Kenapa tidak ...." Beliau menggantung kalimatnya, menatap lurus pada Satya dengan binar mata penuh selidik yang sarat akan makna tersembunyi.
"Anu, Wak. Saya mau cari kos buat Melati," sambar Satya buru-buru. Ia memajukan duduknya. Mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum rahasia hatinya terbongkar di depan Melati.
"Kos?" Wak Kaji mengernyit, sambil menyuguhkan air kemasan di depan Satya dan Melati. “Kos untuk apa?”
Melati sama bingungnya. Namun memilih diam. Ia meremas jemarinya lebih erat. Batinnya bergolak. Mempertanyakan status kedekatan mereka yang tanpa kejelasan di tengah badai masalah yang dihadapinya.
"Jadi begini.” Satya menelan ludah, sebelum menjelaskan, “Melati mau dijual sama bibinya. Saya takut terjadi sesuatu sama dia. Makanya saya mau carikan kos buat dia,” terangnya dengan panik.
Wak Kaji terkekeh. Ia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala. Menatap Satya dengan pandangan menggoda. "Anak muda. Kalau cinta jangan dipendam lama-lama. Nanti diambil orang lho."
Melati dan Satya tersentak. Tak menyangka kalau Wak Kaji tiba-tiba menceletukkan kalimat frontal. Atmosfer di ruang tamu itu seketika mendingin dan mencekam.
"Saya tidak pantas." Satya menunduk.
Menyadari kecacatan fisiknya. Ia mengusap parut luka bakar di pipi. Penuh kepedihan mendalam. Merasa dirinya yang buruk rupa, tak akan pernah layak bersanding dengan wajah cantik Melati.
“Tak pantas?” Wak Kaji tersenyum kecil. “Apa menurutmu, pria buruk rupa, seperti sahabat Rasulullah Julaibib, tak pantas untuk putri cantik pemimpin Anshar?”
Ia memandangi Satya dengan tatapan yang menembus langsung ke dalam kalbu. Meruntuhkan dinding ketidak-percayaan diri sang pemuda.
Hening. Suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi begitu tegang. Sarat akan emosi yang tertahan. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar. Berpacu seirama dengan detak jantung mereka yang bergejolak hebat.
Satya mengepalkan tangan kuat. Urat-urat di lengan kekarnya menegang. Meratapi rahasia identitas aslinya sebagai pewaris keluarga Utama yang kini terperangkap dalam rupa yang hancur.
Hingga tanpa diduga ….
“Maaf. Apa ini berarti Wak Kaji mau menjodohkan saya dengan Satya?”
Ceplosan itu keluar liar dari mulut Melati. Ia bahkan sampai, mencondongkan tubuhnya ke depan. Meraba ujung meja kayu jepara dengan gerakan panik. Mencoba mencari kepastian di tengah konflik nasibnya.
Membuat tangan Satya berkeringat dingin. Gemetar karena kaget. Pemuda itu tercekat, napasnya tertahan di tenggorokan mendengar celetukan sang gadis, yang tak ia sangka.
“Ya.” Wak Kaji mengangguk, sambil mengelus jenggot putihnya. Menatap lurus pada jalinan asmara dua anak manusia di hadapannya.
“Bagaimana? Apa kamu mau saya jodohkan sama Satya?”
“Saya tidak pantas ….” Satya menyela lirih, mencoba menyembunyikan wajahnya yang cacat dari hadapan mereka.
“Saya mau!” sergah Melati mantap.
Suaranya yang melengking tegas memecah keraguan di dalam ruangan. Meruntuhkan segala batasan drama yang mengepung.
Satya sampai melongo menatapnya. Antara kaget, bingung, gugup, tak percaya. Matanya yang menyalang menatap lekat mata Melati yang Meksi buta, tapi indah.
“ …. Tapi apa Satya mau sama gadis buta seperti saya?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar.
Melati menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa begitu dingin.
“Melati, apa kamu sudah memikirkan ini matang-matang?” Satya tak tahan, meluapkan semua simpanan kalimatnya. Ia memajukan duduknya. Menatap gadis itu dengan debaran dada yang kian membumbung tinggi penuh dilema.
Melati mengangguk. “Ya.” Jawabannya singkat, tapi bergaung penuh keyakinan.
“Kamu tak pernah melihatku. Bagaimana kamu bisa se-yakin itu?” desak Satya lagi, suaranya memberat menahan gejolak asmara sekaligus trauma masa lalu.
“Bagaimana kamu mencintai Tuhan, sedangkan kamu tidak pernah melihat wujudnya?” Melati bertanya balik.
Ia memutar kepalanya tepat ke arah sumber suara Satya, seolah mata hatinya mampu menembus fisik sang pemuda.
“Jangan samakan aku dengan Tuhan.” Satya menggeleng pelan. Ia mengusap parut luka di pipinya dengan getir. “Andai kamu tahu betapa buruk wajahku. Kamu pasti tak mau ada di dekatku.”
“Aku tahu kok.” Melati tersenyum tipis, setitik air mata ketulusan mulai tampak mengambang di sudut matanya yang indah.
“Apa?” Satya tersentak mundur, tangannya spontan mencengkeram lututnya sendiri dengan kepanikan yang luar biasa.
“Saat Mawar mengejekmu. Aku langsung teringat. Kalau kamu tak pernah mau. Kalau aku menyentuh wajahmu.” Melati menghela napas panjang. Ia mengangkat tangannya perlahan ke udara, berharap bisa menggapai pria yang dicintainya. “Aku buta. Kamu masih mau jadi temanku. Di saat yang lain meninggalkanku. Kamu datang. Saat aku hampir putus asa. Tuhan mempertemukan aku lagi denganmu.”
“Itu yang dinamakan jodoh.” Wak Kaji menyela, sambil tersenyum kecil. Ia meletakkan kembali cangkir tehnya. Menatap lekat kedua anak muda yang sedang dilingkupi kabut keraguan itu.
“Mau lari ke ujung dunia pun. Kalau sudah jodoh. Pasti ada saja jalan ketemunya. Sudah, gas aja. Satya sudah dua enam. Sudah waktunya aku lihat, Melati juga sudah cukup umur untuk menikah.” Tangannya menyodorkan air. “Minum dulu biar nggak tegang.” Wak Kaji mendorong dua gelas air putih ke tengah meja kaca.
Satya menerima. Melati mengikuti.
Seruput air, seakan menelan dahaga kegugupan sejenak. Gelas yang dipegang Satya sedikit berdenting karena tangannya yang bergetar hebat menahan gejolak rasa yang tak menentu.
Wak Kaji melanjutkan, “Sementara Melati kos dulu nggak apa. Kalian nggak usah pacaran. Minggu depan langsung nikah saja.” Sambil mengetuk meja pelan, menegaskan keputusan yang menyentak pagi.
“Minggu depan?” Satya dan Melati spontan menceplos. Keduanya saling menoleh, meski Melati hanya menatap kekosongan dengan napas yang memburu panik.
“Kenapa?” Wak Kaji mengernyit. Beliau memajukan badannya, memandang Satya dengan tatapan mendesak. “Ada masalah?”
“Ini terlalu cepat.” Satya mendengkus lirih. Ia menundukkan kepala dalam. “Saya bahkan belum tahu syarat nikah apa? Saya juga belum menghubungi dia ….”
Bayangan pria itu muncul. Heru Mahesa Utama. Satu-satunya keluarga yang ia miliki. Paman yang seharusnya melindungi, tapi malah mengusirnya, karena ia cacat. Sang paman, merasa keberadaan Satya yang cacat, akan merusak reputasi keluarga Utama.
Konflik batin yang terkubur bertahun-tahun kini kembali mencuat. Meremas dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat.
“Dia itu … keluargamu?” Wak Kaji menebak. Sorot mata pria tua itu menajam, menyadari ada rahasia besar dan drama kelam yang disembunyikan oleh pemuda, yang sudah dianggapnya cucu.
“Kamu masih punya keluarga?” Melati tak kalah kaget. Sebab yang ia tahu, Satya sama seperti dirinya. Yatim piatu. Ia meraba udara, mencoba mencari lengan Satya demi memastikan pendengarannya tidak salah.
Satya mengucek mata. Menahan airnya supaya tidak keluar. Ia menepis lembut bayangan pamannya yang kejam dari pelupuk matanya. “Aku masih punya Paman. Tapi aku tak pernah menganggap dia ada.” Suaranya bergetar hebat, dipenuhi dendam dan kekecewaan masa lalu yang mendalam.
Melati menahan napas. Ia bisa merasakan sakit dari nada bicara Satya. Tak mau suasana memburuk. Melati memilih diam. Ia menarik kembali tangannya. Mendekapkan ke dada dengan perasaan pilu yang ikut mengalir ke dalam hati.
“Sudah, cukup melankolis-nya. Sekarang kamu antar Melati ke kos-ku. Ada kamar satu kosong. Tapi lantai atas. Ingat, kamu nggak boleh ikut masuk. Biar penjaga kos saja yang mengantarnya.” Wak Kaji mengambil gawai, mengetikkan sesuatu, lalu menyambung kalimat. Sengaja memotong drama itu agar mereka tidak larut dalam kesedihan. “Kalian boleh ke sana. Aku sudah bilang sama penjaganya. Kamu tahu alamatnya kan?” tanyanya pada Satya.
“Iya. Lima rumah dari kontrakan.” Satya mengangguk pasti, mencoba menguasai dirinya kembali demi keselamatan Melati yang menjadi prioritas utamanya sekarang.
“Betul. Nggak jauh. Bisa jalan kaki. Atau kalau mau, kamu bisa bawa motor ini.” Wak Kaji menyodorkan kembali kunci motor di atas meja. Menawarkan.
“Eh, saya jalan kaki saja, Wak Kaji.” Satya buru-buru pamit. “Permisi. Terimakasih banyak.”
Ia menunduk hormat. Lalu mulai berjalan, sambil membantu Melati. Menuju pintu luar. Ia menggandeng jemari Melati dengan erat, melangkah cepat keluar dari teras rumah Wak Kaji.
Wak Kaji mengiringi di belakang. Menatap punggung keduanya. Kemudian melihat motornya. Tersenyum. “Lagi-lagi diisi penuh. Bocah itu baik. Nggak jelek juga, andai tidak ada luka bakar.” Ia menggeleng lalu, menuntun motornya masuk ke ruang lebih dalam.