NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Nadia berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. "Jelaskan."

Dila menggaruk tengkuk. "Aku... cuma udah nggak tahan, Nad."

"Nggak tahan apa?"

"Nggak tahan lihat Reno hidup enak. Dia selingkuh, ninggalin kamu, nggak nafkahi Kian, terus bisnisnya malah makin sukses. Kan nggak adil."

Nadia mengembuskan napas panjang. "Itu bukan alasan kamu mengumbar masalah rumah tanggaku."

"Aku memang salah karena nggak izin. Tapi kalau nunggu kamu yang bergerak, bisa-bisa sepuluh tahun lagi Reno masih santai minum kopi di Cafe Setia."

"Dila..."

"Kelamaan balas dendamnya kalau nunggu tokoh utama berhasil dulu. Sekali-sekali biar antagonis kena batunya di tengah cerita."

Nadia menatap Dila beberapa detik. Lalu ia memijat pelipisnya sambil menggeleng pelan. "Dilaaaa, Kamu ya..." Dila langsung nyengir bersalah. "...kebanyakan baca novel!"

Dila terkekeh pelan. "Soalnya di novel yang aku baca, pembaca suka gemas kalau penjahatnya terlalu lama hidup enak."

Nadia akhirnya tak kuasa menahan tawa kecilnya, meski rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang. "Kamu ini benar-benar ada-ada saja."

"Tapi... marahnya jangan lama-lama, ya?"

Nadia menghela napas. "Aku marah karena kamu nggak bilang dulu. Bukan karena kamu membelaku."

Dila langsung menggenggam tangan sahabatnya. "Maaf, Nad. Aku benar-benar minta maaf. Aku cuma ingin Reno merasakan sedikit saja sakit yang selama ini kamu pendam sendirian."

Mata Nadia berkaca-kaca. "Aku tahu niatmu baik. Tapi lain kali, jangan jadikan hidupku seperti alur novel yang kamu baca."

Dila tertawa. "Nggak janji."

"Kamu!" Sebuah bantal melayang ke arah Dila. Dengan cekatan Dila menangkapnya, lalu keduanya tertawa bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawa itu kembali terdengar di kontrakan kecil milik Nadia.

Dila menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menyeringai usil. "Eh, tapi ngomong-ngomong..."

Nadia yang sedang menuangkan teh menoleh. "Apa lagi?"

"Dari semua drama ini, sudah ada belum calon pangeran yang bakal menggantikan Reno?" Nadia nyaris tersedak. "Iya, dong! Masa tokoh utama menderita terus? Minimal sekarang mulai muncul male lead."

"Dila..."

"Pokoknya dia harus CEO." Nadia memutar bola mata. "Usahanya harus lebih besar daripada Reno. Terus... harus tampan." Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kalau bisa, duda mapan yang sayang anak."

Entah mengapa, tanpa diminta, wajah Pak Fahri tiba-tiba melintas di benak Nadia. Cara pria itu selalu berbicara dengan tenang. Perhatiannya kepada Kian. Tatapan tulusnya setiap kali menawarkan bantuan. Nadia sontak membelalakkan mata sendiri. Astaghfirullah, Ia buru-buru menggeleng keras. "Ya Allah, kenapa aku malah kepikiran Pak Fahri? Dia itu ayahnya Rey. Memang beliau duda... tapi ya ampun, aku ini mikir apa sih?"

Melihat Nadia menggeleng-geleng sendiri sambil bengong, mata Dila langsung membulat. "Eeeh..." Nadia masih sibuk menepis pikirannya sendiri. "Eeeh, Nad..."

"Apa?"

"Jadi... sudah ada?"

Nadia langsung tersadar. "Hah? Siapa?"

"Calon male lead!"

"Dila!"

"Ayo ngaku! Tadi kamu senyum sendiri, terus geleng-geleng. Itu gejala khas tokoh utama yang mulai berbunga-bunga."

Nadia mengambil bantal lalu memukul lengan sahabatnya. "Ngaco! Nggak ada!" Nadia mendesah panjang. Ia tak tahan dengan tatapan menyelidik Dila. "Dila, sudah! Aku saja belum ketuk palu!"

Dila langsung tertawa terbahak-bahak. "Berarti calonnya sudah masuk daftar nominasi!"

"DILAAA!" Sebuah bantal kembali melayang ke arah Dila.

"Kena! Tokoh utama mulai salting!" godanya sambil tertawa menghindar.

Nadia ikut tertawa, meski pipinya mulai menghangat. Dalam hati ia terus mengomeli dirinya sendiri.n"Astaghfirullah... jangan sampai Dila tahu aku sempat kepikiran Pak Fahri. Bisa-bisa aku nggak berhenti di-bully seumur hidup."

Dila rupanya belum juga puas menggoda sahabatnya. Ia menggeser duduknya hingga lebih dekat dengan Nadia, lalu berbisik seolah sedang menyusun rencana besar. "Nad... Bisikkan padaku siapa namanya. Calon suami barumu."

"Dila!"

"Tenang. Aku ini punya koneksi. Suamiku."Kalau memang sudah ada orangnya, tinggal kasih tahu namanya. Biar suamiku yang mempercepat proses kalian."

Nadia sampai melongo. "Mempercepat proses apanya?"

"Ya dikenalin, dipertemukan, dibikin sering ketemu. Istilahnya... kami jadi tim hore, siapa tahu enam bulan lagi undangan nikah sudah dicetak."

Nadia spontan menepuk dahinya. "Astaghfirullah, Dila! Aku belum resmi jadi janda. Kamu sudah ngomongin undangan nikah!" Tapi Dila terus meledek sampai Nadia kesal. Nadia langsung mengangkat sebuah bantal. Bantal itu pun melayang lagi ke arah Dila.

Dila tertawa lepas sambil menangkisnya. "Oke... oke... aku menyerah."

Nadia menggeleng sambil ikut tertawa. "Punya sahabat sepertimu itu capek. Tapi seru." Nadia akhirnya tersenyum. Dalam hati, Nadia kembali mengingat wajah Pak Fahri. Ia buru-buru mengusir bayangan itu sebelum Dila kembali membaca ekspresi wajahnya. "Ya Allah... semoga Dila tidak bisa membaca pikiranku."

***

Dua minggu kemudian, hari yang selama ini dinanti akhirnya tiba. Nadia duduk tenang di ruang sidang. Di sampingnya, Dila setia menemani. Kursi tergugat tampak kosong. Reno kembali tidak menghadiri persidangan. Sejak bisnisnya dihantam gelombang boikot dan berada di ambang kehancuran, ia lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus masalah di seluruh cabang Cafe Setia daripada datang ke pengadilan.

Majelis hakim pun melanjutkan sidang sesuai ketentuan yang berlaku. "Menimbang seluruh fakta dan alat bukti yang diajukan, majelis mengabulkan gugatan penggugat." Nadia menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat. "Perkawinan antara penggugat, Nadia, dengan tergugat, Reno, dinyatakan putus karena perceraian."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Nadia, kalimat tersebut menjadi penutup dari perjalanan rumah tangga yang penuh luka. Ia memejamkan mata sejenak. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Yang ada hanyalah embusan napas panjang, seolah beban yang selama ini menyesakkan dadanya perlahan terangkat.

Setelah membacakan amar putusan, hakim mengetukkan palunya. Tok! "Sidang dinyatakan selesai." Resmilah. Nadia dan Reno bukan lagi suami istri.

Di luar ruang sidang, Dila langsung memeluk sahabatnya. "Selamat, Nad."

Nadia tersenyum tipis. "Orang biasanya mengucapkan selamat karena menikah."

Dila mengangguk. "Kalau hari ini, aku mengucapkan selamat karena kamu akhirnya bebas."

Nadia mengangkat wajahnya menatap langit yang cerah. "Iya... akhirnya aku benar-benar bisa memulai hidup yang baru."

Di tempat lain, Reno masih sibuk berpindah dari satu cabang Cafe Setia ke cabang lainnya, berusaha menyelamatkan bisnisnya yang terus merugi. Tanpa ia saksikan sendiri, ikatan yang selama ini menghubungkannya dengan Nadia telah resmi berakhir di hadapan hukum. Kini, kesempatan untuk memperbaiki semuanya bukan lagi sekadar terlambat, melainkan telah benar-benar tertutup.

***

Sepulang dari Pengadilan Agama, Nadia dan Dila tiba di kontrakan. Namun, baru saja Nadia membuka pagar kecil di depan rumah, ia tertegun. Beberapa ibu wali murid kelas Kian sudah berdiri di teras sambil membawa kotak-kotak makanan, kue, dan balon sederhana. "Surprise!"

Nadia membelalakkan mata. "Ibu-ibu...?"

"Selamat datang, Bu Nadia!" seru mereka kompak.

Nadia menoleh bingung ke arah Dila. "Kamu lagi?"

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!