Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Nadi Analog di Jantung Digital
Udara pelabuhan Sektor 3 terasa seperti pisau es yang diusapkan ke tenggorokan. Melalui filter masker respirator curiannya, napas Arka terdengar berat dan serak.
Ia berjalan menunduk, menyeret kaki kirinya sedikit, melebur dalam barisan puluhan kuli bongkar muat berseragam kanvas abu-abu yang bergerak menuju lapangan kontainer. Setiap langkah adalah negosiasi dengan rasa sakit. Kain coverall kaku itu bergesekan tanpa ampun dengan sisa-sisa kulit yang melepuh di dadanya, mengirimkan sengatan perih yang membuat pandangannya sesekali memutih.
"Kau tidak akan bertahan sampai pagi, Bos," bisik halusinasi Bram yang kini berjalan di sisinya, memanggul hantu sebuah peti kayu. "Satu senggolan dari kuli-kuli ini, dan dadamu akan kembali berdarah."
Arka mengabaikan delusinya. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata pelindung buram dengan rakus membedah tata letak operasi Sitorus.
Sektor 3 adalah mahakarya efisiensi dingin. Drone pemindai terbang rendah dalam pola grid sempurna. Ratusan kontainer diangkat oleh gantry crane otomatis yang dikendalikan oleh AI, memindahkan kargo tanpa suara kecuali dengungan magnetik yang memekakkan telinga.
Arka tahu, mustahil mencari letak penyimpanan Mana Ore ilegal di sistem sebesar ini. Sitorus terlalu pintar. Jika Mana Ore—barang yang dilarang keras oleh Asosiasi—dimasukkan ke dalam sistem digital pelabuhan ini, audit Vanguard akan menemukannya dalam hitungan detik.
Jika barang ilegal itu tidak ada di sistem digital... lalu bagaimana Sitorus melacak ribuan ton kargo gelapnya? Jika kapasitas throughput kargo adalah lima ribu TEU per hari, maka margin error-nya...
BZZZZZT!
Kilatan panas menyambar dasar tengkoraknya. Arka mengerang tertahan di balik maskernya, nyaris tersungkur ke depan. Ia terpaksa bertumpu pada tumpukan palet kayu, napasnya memburu, merasakan darah segar mengalir perlahan dari hidungnya dan tertampung di dalam masker respirator.
Jangan pakai matematika, Arka mengingatkan dirinya sendiri dengan susah payah. Gunakan matamu. Kau seorang pengatur logistik. Cari anomali alirannya.
Ia menegakkan tubuhnya, menahan perih di dada. Ia berhenti mencoba meretas sistem drone dan mulai mengamati perilaku manusia.
Di tengah lautan otomatisasi raksasa ini, mata Arka menangkap sebuah kejanggalan. Di ujung blok penyortiran C, terdapat sebuah bangunan bunker beton yang sengaja dirancang menyerupai gardu listrik tua. Namun, berbeda dengan mesin crane yang beroperasi sendiri, bangunan beton itu dijaga oleh empat orang tentara bayaran bersenjata lengkap, dan tidak ada satu pun kamera pengawas digital yang mengarah ke sana.
Lebih aneh lagi, Arka melihat seorang mandor dengan seragam beda warna masuk ke dalam bunker itu sambil membawa... sebuah buku besar bersampul kulit tua dan setumpuk kertas manifestasi fisik.
Kertas. Di pelabuhan Sektor 3 yang seratus persen menggunakan komputasi kuantum.
Mata Arka melebar. Jantungnya berdetak kencang, nyaris melupakan rasa sakit di dadanya.
Itu dia. Titik Buta Sitorus. Nadi analog di dalam jantung digital.
Untuk menyembunyikan logistik ilegalnya dari pantauan Asosiasi, Sitorus membangun sistem bayangan yang sepenuhnya dijalankan secara manual (analog) menggunakan kertas dan buku besar—persis seperti cara kerja kuli di Sektor 4. Bunker itu adalah Pusat Komando Logistik Gelap milik Sitorus. Jika buku besar di dalam sana dihancurkan atau jadwalnya diubah, seluruh jalur penyelundupan Sitorus akan runtuh karena kehilangan koordinat.
Arka tidak perlu mengalahkan Gulo atau membunuh Sitorus dalam pertarungan fisik. Ia hanya perlu menyelinap masuk ke dalam bunker itu dan memicu kekacauan pada jadwal distribusinya.
Ia memutar arah langkahnya, memisahkan diri dari barisan kuli, dan mulai merayap di balik bayang-bayang tumpukan kontainer, menuju bunker beton tersebut. Ini adalah bunuh diri. Namun, dengan tubuh yang semakin hancur, Arka tahu ini adalah satu-satunya serangan yang bisa ia berikan sebelum tubuhnya menyerah.
***
[AUTHOR NOTE] Gila, Sitorus ternyata pakai buku manual di tengah pelabuhan super canggih! Ini benar-benar plot twist yang masuk akal, orang yang paling mengandalkan teknologi tahu persis kelemahan teknologi itu sendiri. Arka berhasil menemukan jantung logistik gelap ini, tapi masalahnya... dia harus masuk ke bunker yang dijaga ketat dalam kondisi dada melepuh parah dan tanpa senjata. Tolong beri Arka kekuatan di kolom komentar! Menurut kalian, trik licik apa yang harus dipakai Arka untuk menembus empat tentara bayaran itu?
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼