Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu
Perjalanan kembali ke kantor berlangsung tenang.
Chelsea duduk di kursi penumpang belakang sambil sesekali memandangi jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Presentasi yang tadi ia lakukan terus terbayang di kepalanya.
Ia masih sulit percaya semua berjalan begitu lancar.
Begitu tiba di kantor, Noah kembali sibuk dengan beberapa rapat internal. Chelsea pun menyelesaikan laporan hasil kerja sama dan merapikan seluruh dokumen yang diperlukan.
Tanpa terasa, jam kerja berakhir. Chelsea baru saja mematikan komputer ketika terdengar suara Noah dari meja kerjanya.
"Sudah selesai?"
Chelsea segera berdiri. "Sudah, Pak."
"Saya antar pulang."
Chelsea menggeleng cepat. "Nggak usah, Pak. Saya bisa naik bus."
Noah memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Apartemen itu fasilitas perusahaan."
Chelsea mengangguk. "Iya, Pak."
"Berarti saya juga bertanggung jawab memastikan sekretaris saya sampai dengan selamat."
Chelsea tidak bisa membantah lagi. "Kalau begitu ... terima kasih, Pak."
Mobil Noah melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu-lampu sore. Di dalam mobil, suasana terasa cukup nyaman.
Radio memutar lagu pelan. Chelsea sesekali mencuri pandang ke arah Noah yang fokus menyetir.
"Pak."
"Ya, ada apa?" tanya Noah.
"Boleh tanya sesuatu?" tanya Chelsea dengan suara pelan.
"Tentu saja boleh."
"Bapak memang selalu sebaik ini sama semua sekretaris?"
Noah tersenyum tipis. "Kamu penasaran?"
"Iya."
"Jawabannya ... tidak."
Chelsea langsung menoleh. "Oh, begitu ya."
"Sekretaris saya sebelumnya sudah berumur lima puluh tahun."
Chelsea spontan tertawa. "Pantas."
"Dia juga tidak pernah memaksa saya makan brokoli."
Chelsea kembali tersenyum, jika mengingat kejadian. "Pak ... jangan diingat-ingat terus."
"Itu sejarah. Baru pertama kali sekretaris memaksa saya makan sayur." Chelsea dan Noah tertawa mengingat hari itu.
Tak terasa mobil memasuki kawasan apartemen. Bangunan tinggi itu tampak cukup mewah. Halamannya dipenuhi taman kecil dengan lampu-lampu taman yang mulai menyala karena matahari hampir tenggelam.
Noah menghentikan mobil tepat di depan lobi. Chelsea membuka sabuk pengaman.
"Terima kasih sudah mengantar saya, Pak."
Baru saja hendak turun, Noah memanggilnya. "Chelsea."
"Iya, Pak?"
Noah tampak sedikit berpikir sebelum akhirnya berkata pelan. "Saya sebenarnya mau minta tolong."
Chelsea langsung menoleh penuh perhatian. "Apa, Pak?"
"Mau membantu saya?"
Chelsea tersenyum. "Kalau memang saya bisa, tentu saya akan bantu."
Noah mengembuskan napas pelan. "Besok malam ada pesta ulang tahun kakek saya."
Chelsea mengangguk. "Selamat ulang tahun untuk beliau."
"Saya diminta datang."
"Bagus, Pak."
"Tapi ...."
Chelsea mengernyit. "Tapi kenapa, Pak?"
"Kakek selalu marah kalau saya datang sendirian."
Chelsea mulai punya firasat aneh. "Lalu?"
"Maukah kamu menemani saya?"
Chelsea membeku beberapa detik. "Ya, Pak"
"Hanya menemani datang saja. Tak melakukan apapun."
Chelsea menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Iya."
"Tapi saya ini sekretaris Bapak."
"Itulah alasannya."
Chelsea semakin bingung. "Maksudnya?"
"Kalau saya datang sendirian, acara ulang tahunnya bisa berubah jadi acara ceramah tentang kapan saya menikah."
Chelsea menahan tawa. "Separah itu?"
"Itu belum seberapa."
"Lalu?"
"Lebih parah."
Chelsea akhirnya tertawa. Noah ikut tersenyum melihat tawanya. "Kamu tidak perlu melakukan apa pun."
"Hanya datangkan, Pak?"
"Iya."
Chelsea berpikir cukup lama. Kalau dipikir-pikir, ini memang hanya menemani atasan menghadiri acara keluarga. Tidak ada yang aneh.
Akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah, Pak."
"Serius?"
"Iya."
"Terima kasih."
Chelsea tersenyum. "Sama-sama, Pak."
Ia pun turun dari mobil tanpa menyadari bahwa senyum Noah tidak juga menghilang sampai sosoknya masuk ke dalam lobi apartemen.
Malam berikutnya ....
Chelsea berdiri di depan cermin apartemen. Ia mengenakan gaun berwarna biru muda yang sederhana namun elegan.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan riasan tipis. Saat bel apartemen berbunyi, ia segera membuka pintu. Noah berdiri di sana. Pria itu terlihat jauh lebih tampan dibanding biasanya.
Noah sendiri sempat terdiam beberapa detik. "Kamu ...."
Chelsea langsung gugup. "Kenapa, Pak?"
"Kamu cantik."
Chelsea langsung salah tingkah. "Terima kasih, Pak ...."
Noah segera berdeham. "Ayo kita berangkat."
Chelsea mulai melangkah. Perjalanan menuju kediaman keluarga Noah memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Rumah besar bergaya klasik itu sudah dipenuhi tamu. Lampu-lampu gantung menghiasi halaman. Musik mengalun pelan. Para tamu mengenakan pakaian formal.
Chelsea menelan ludah. "Pak ...."
"Hm?"
"Saya jadi gugup."
"Kenapa?"
"Takut salah ngomong."
Noah tersenyum kecil. "Tenang, keluarga saya orangnya bukan kaku."
"Kalau ada apa-apa gimana, Pak?"
"Saya yang tanggung jawab."
Ucapan itu membuat Chelsea sedikit lebih tenang. Mereka pun berjalan memasuki aula. Baru beberapa langkah, seorang pria tua berambut putih berjalan menghampiri dengan langkah cepat.
"Noah!"
Noah langsung tersenyum hangat. "Kakek."
Chelsea bisa melihat ekspresi Noah berubah jauh lebih lembut dibanding saat di kantor. Noah menyalami lalu memeluk pria tua itu.
"Kakek, selamat ulang tahun."
"Terima kasih."
Tatapan sang kakek kemudian beralih kepada Chelsea. Matanya langsung berbinar. "Lho, anak gadis siapa ini?"
Chelsea langsung menunduk sopan. "Selamat malam, Kek."
"Nama kamu siapa?"
"Chelsea."
Belum sempat Noah menjelaskan. Kakek langsung tertawa lebar.
"Akhirnya!"
Noah menghela napas. "Kek ...."
"Akhirnya kamu bawa pacar juga!"
Chelsea langsung membelalakkan mata. "Hah?"
Kakek menggenggam kedua tangan Chelsea dengan wajah bahagia. "Cantik sekali kamu , Nak."
Chelsea melirik Noah panik. "Pak N-Noah ...."
"Kakek..." Noah mencoba menjelaskan. "Kami bukan—"
"Kapan nikah?" tanya Kakek.
Kalimat itu membuat Chelsea hampir tersedak. "Kek?"
"Kakek sudah tua."
Chelsea makin bingung. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Kakek ingin cepat-cepat gendong cicit."
Noah memijat pelipis. "Kek, dengarkan dulu."
"Apa?"
"Chelsea itu sekretaris saya."
Suasana langsung hening. Kakek berkedip beberapa kali.
"Sekretaris?" tanya Kakek.
"Iya, Kek."
"Kalau memang hanya sekretaris, kenapa kamu bawa ke sini?"
"Pak Noah. Kakek pasti salah paham ...," gumam Chelsea pelan.
Beberapa detik kemudian. Kakek menepuk lengan Noah cukup keras. Chelsea sampai terkejut. "Noah! Jangan main-main sama perempuan!"
"Tapi Kek ...."
"Kamu pikir Kakek senang? Kalau memang suka ya bilang!"
Noah menghela napas panjang. "Kami memang hanya rekan kerja, Kek."
Kakek malah semakin kesal. "Diam kamu!"
Chelsea menahan senyum. Pria setenang Noah ternyata bisa dimarahi habis-habisan.
Kakek lalu menoleh kepada Chelsea. "Nak."
"Iya, Kek."
"Kalau Noah macam-macam sama kamu, bilang sama Kakek. Biar Kakek yang marahin dia."
Chelsea tersenyum mendengar ucapan pria tua itu. "Iya, Kek."
Noah menggeleng pasrah. "Baiklah, Kek. Terserah Kakek mau berpikir apa saja."
Belum selesai sampai di sini, dari arah belakang terdengar suara seorang wanita. "Noah?" Seorang wanita anggun bersama pria paruh baya menghampiri.
"Mama. Papa."
Chelsea langsung tahu. Itu pasti kedua orang tua Noah. Tatapan sang mama langsung jatuh kepada Chelsea. Memandanginya dari ujung rambut hingga kaki.
"Noah ...."
"Iya, Ma."
"Kamu akhirnya bawa pasangan?"
Chelsea kembali panik. "Bukan, Tante ...."
Mama Noah langsung tersenyum lebar. Tak menghiraukan ucapan Chelsea. "Ya ampun ... cantik sekali."
Papa Noah ikut mengangguk puas. "Selera kamu bagus juga, Noah ...."
Noah kembali mencoba meluruskan. "Dia sekretaris saya, Ma, Pa."
Mama Noah langsung memasang wajah kecewa. "Apa? Jangan main-main kamu!"
"Aku serius, Ma?"
Mama Noah melipat kedua tangan. "Mama nggak percaya."
"Ma ...."
"Kalau cuma sekretaris, mana mungkin kamu ajak ke acara keluarga."
Wajah Chelsea memerah menahan malu. Kakek yang sejak hanya mendengarkan langsung mengangguk setuju. "Nah! Apa Kakek bilang, pasti semua akan berpikir kalau Chelsea bukan hanya sekedar sekretaris!"
suka iy lah
duka ..maaf yee🤣
jd ga sbr ngu hari itu el🤣🤣