"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
"Mah, di mana makanan yang sudah Mamah pesan untukku? Perutku sangat lapar sekarang ini!" ucap Nathan acuh, seakan tak peduli dengan ritual yang sedang dibahas ibunya.
Kejutan muncul di wajah Vina ketika menyadari kehadiran anaknya. Nathan berhasil menyembunyikan perasaan bingungnya, sementara Jenny masih terkunci dalam keadaan syok.
Keduanya mencoba menggali informasi tentang ritual ini, memikirkan apa yang seharusnya mereka lakukan dengan pengetahuan yang baru mereka dapatkan. Keadaan semakin tegang, setiap detik yang berlalu semakin mempertegas bahwa ada misteri yang mengendap di balik percakapan Vina dan ritual yang belum mereka ketahui sepenuhnya.
"JENNY, KENAPA KAU MASUK KE DALAM RUANGAN KU TANPA MENGETUK PINTU TERLEBIH DAHULU! APA KAU ITU INGIN ALAT PENOPANG HIDUP IBUMU ITU AKU LEPAS SEKARANG JUGA!" Vina membentak dengan wajah merah padam, tatapan menusuk ke arah pelayan anaknya. Di benaknya, Vina merasa kesal karena merasa privasinya terganggu.
"Mah, kenapa hanya memarahi Jenny? Kami berdua masuk ke ruangan ini," Nathan membela.
Dalam hati Jenny, rasa takut dan penyesalan bercampur menjadi satu. "Maafkan saya, Nyonya Vina! Saya benar-benar tidak bermaksud mengganggu," ucapnya dengan suara tercekat, berusaha mengendalikan air mata yang hampir jatuh.
Namun, Nathan dengan sigap menahan tubuh Jenny agar tidak membungkuk. "Jangan khawatir, Jenny. Aku ada di sini," batin Nathan, merasa perlu melindungi Jenny dari kemarahan ibunya.
"Kalau tidak ingin mendapatkan konsekuensi nya, jangan sampai kau membocorkan apa yang barusan aku katakan!" ancam Vina, wajahnya semakin menakutkan.
"Sudahlah, Mah. Aku dan Jenny tidak mendengar apa-apa. Mana makananku? Aku benar-benar lapar," kata Nathan, berusaha meredakan suasana.
Vina nampak menghembuskan nafasnya itu dengan kasar, lalu ia berjalan ke arah meja ke arah meja kebesarannya.
Tak berselang lama Vina kembali dengan beberapa kantong makanan yang ada di tangannya.
"Ini Vector makanan mu! Syukurlah jika tadi kamu itu tidak mendengar apa apa, sekarang lebih baik di makan terlebih dahulu!" Vina menyerahkan bebarapa ayam goreng dan pizaa kepada anaknya, lalu ia juga terlihat menuntun anaknya itu untuk duduk di atas sofa.
"Makan yang banyak, Mamah mau pergi dulu ada urusan!" Vina terlihat pamit, lalu mengelus elus pucuk kepala anaknya.
"Dan untuk kau Jenny!! Jaga Vector dengan baik, awas kalau sampai ada aduan dari guru BP. Ingat, Vector tidak boleh ketinggalan satu pelajaran pun!" ancam Vina sebelum meninggalkan ruangan kepala sekolah itu.
"Baik nyonya," sahut Jenny sopan sembari menundukkan wajahnya.
Ceklek
Ruangan kepala sekolah tampak di tutup, Jenny sendiri masih berdiri di posisinya sedari tadi.
"Jenny, sini makan bareng aku! Kenapa malah diam mematung di situ?"
"Tuan muda saja yang makan gak papa, saya berdiri di sini," tolak Jenny halus.
"Ya udah, kalau kamu gak mau makan. Aku gak akan memakan semua makanan ini! Biar nanti kalau Mamah ku kembali, dia akan memarahi mu!" Nathan terlihat memberikan ancaman pada pelayannya.
Dengan hembusan nafas kasar, Jenny pun memilih berjalan menghampiri Tuannya.
Melihat Jenny yang patuh dan juga takut dengan ancaman nya, Nathan nampak menyunggingkan seulas senyuman miring.
"Apakah ini rasanya?" gumam Nathan dalam hatinya seraya memegang bagian dadanya.
"Tolong Tuan, makanlah!" pinta Jenny dengan suara lembut.
"Ya kalau pengen aku makan, buruan kamu duduk di sini!" kata Vector manja.
Jenny memilih untuk tidak mencari masalah, ia pun duduk mengikuti perintah Tuannya.
Keduanya sama sama diam dan juga saling termenung, Vector nampak menatap ke arah rok dan juga paha Jenny. Karena sekarang ini Jenny benar benar tidak nyaman dengan seragam sekolah sekolah yang kekecilan.
Lantas Vector pun terlihat melepaskan jaket yang sekarang ini ia kenakan.
"Pakailah jaketku untuk menutup bagian paha mu itu! Agar kamu bisa duduk dengan nyaman."
Jenny menoleh, lalu ia terlihat menerima jaket itu.
"Terimakasih banyak Tuan," kata Jenny tulus.
Berkali kali Nathan menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Beberapa menit pun berlalu, hanya ada keheningan di dalam ruang kepala sekolah itu.
Jenny melihat ke arah makanannya yang di anggurin oleh Tuannya.
"Bukankah tadi katanya dia itu lapar? Kenapa tidak segera memakan makanannya itu?" Pertanyaan pun muncul dalam benak Jenny.
Lalu Jenny memilih untuk bertanya ke pada Tuannya itu secara langsung.
"Tuan, kenapa tidak di makan makannya?"
Nathan pun menoleh. "Aku ingin kamu menyuapi ku Jenny!"
"A - apa?"
"Apakah kamu tidak mau?" tanya Nathan dengan suara normal. Bahkan ekspresi wajah nya sekarang ini tidak terlihat bodoh.
"Kenapa sekarang ini dia tiba tiba berubah? Bukankah biasanya dia itu culun dan terlihat bodoh!" gumam Jenny dalam hatinya, sembari mengingat kala Nathan bertingkah seperti orang bodoh dan dia juga di bully oleh murid lain.
Jenny pun memilih untuk mengambil ayam yang ada di atas meja sofa.
"Sekarang buka mulutnya Tuan!" titah Jenny sembari menyuapi ayam goreng itu pada tuannya.
Yang terjadi Nathan malah terlihat memegang tangan Jenny, lalu ia terlihat mendekatkan bibirnya itu ke arah bibir Jenny.
kalo berkenan mampir juga ya😉