Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Sepupu
“K-kamu? Kenapa kamu ada di sini?” Risma tercengang. Ia menatap Satya. Lalu mengalihkan wajah ke gadis di sampingnya. Sesaat setelah menyadari keberadaan si gadis asing. “Mau apa kamu ke sini?”
Langkahnya mundur selangkah, meremas tas mewah di tangannya dengan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.
“Saya ingin bertemu Paman.” Satya menjawab tegas, mempererat pegangannya pada jemari Melati yang mulai mendingin akibat intimidasi atmosfer rumah mewah tersebut.
“Tidak ada!” potong Risma sengit. “Aku tidak menyangka kalau kamu akan kembali.” Tubuh wanita itu gemetaran hebat. Seperti melihat mayat hidup. “Tante mengira kamu sudah mati.”
Satya tersenyum. “Mengira atau … sengaja mau dimatikan?” sindirnya, tajam. “Tenang saja Tante. Saya datang bukan mau mengambil hak. Saya cuma mau ketemu sama Paman.”
Ia melangkah maju, tatapan matanya menembus langsung ke dalam rasa bersalah Risma yang penuh intrik keji masa lalu.
“Pamanmu pergi. Dinas ke luar negeri,” jawab Risma kaku. “Aku akan berikan uang hak-mu. Tapi jangan pernah datang ke sini lagi. Kamu sudah ditulis mati.”
Wanita itu melirik cemas ke arah pintu gerbang, seolah takut ada rahasia besar keluarganya yang bocor ke telinga publik.
“Jadi aku benar-benar dicoret dari daftar keluarga?” suara Satya bergetar. Dada pemuda itu sesak, menyadari kekejaman konspirasi Tantenya yang begitu rapi demi menyingkirkannya.
“Bram Satya Utama sudah lama mati! Kamu bukan Bram keponakanku lagi. Jadi aku mau kamu pergi. Tidak usah menemui pamanmu lagi, mengerti?” Risma mendengkus angkuh. Menatap parut luka bakar di wajah Satya dengan tatapan jijik yang teramat sangat.
“Aku datang hanya untuk memberi kabar. Kalau aku akan ….”
“Keluarga Maesa Utama, tidak butuh kabarmu. Pergi! Atau aku akan minta satpam menyeretmu!” ancam Risma, memotong cepat. Sambil melirik tajam kepada Melati.
“Dan kamu wanita muda!” Telunjuknya mengarah tajam, menuduh tepat di depan wajah Melati yang kebingungan. “Kamu mau sama Bram, pasti karena dijanjikan harta kan sama dia?” tudingnya keras.
“Bukan. Saya … sudah kenal lama Satya. Saat di panti.” Melati menggeleng cepat. Ia mencengkeram lengan jaket Satya, hatinya terluka mendengar asmara ketulusannya diinjak-injak dengan penuh drama tudingan.
“Omong kosong!” Risma menggertak, “gadis cantik sepertimu. Tak mungkin mau sama pemuda cacat seperti ….” Kalimatnya tergantung. Risma baru menyadari sang keponakan bisa berdiri tegap tanpa bantuan tongkat. “.... Tidak mungkin. Bukankah kamu tidak bisa berjalan?”
“Awalnya iya. Tapi berkat Melati, aku bisa melangkah lagi.” Satya melingkarkan tangan ke pundak Melati. “Dan Melati, bukan wanita seperti yang Tante tuduhkan.” Sambil menarik tubuh Melati lebih dekat ke dadanya, seakan melindungi dari segala tuduhan keji.
“Aku tak percaya!” Risma mengibaskan tangan. “Kecuali gadis itu buta, baru aku percaya.”
“Saya memang buta, Tante.” Melati memeluk tangannya. Suaranya bergetar. Isak tangis yang tertahan membuat bahunya sedikit terguncang di tengah ketegangan yang kian memuncak.
“Pantas saja. Ternyata buta, toh. Pantas kamu mau sama si buruk rupa ini?” Risma tertawa sinis, merendahkan kekurangan Melati dengan kata-kata yang menusuk jantung.
“Cukup Tante!” Satya menggertak. Suara menggelegar Satya memutus tawa Risma seketika.
Di tengah ketegangan. Sebuah mobil sedan sport berhenti. Tepat di belakang mobil Risma.
Seorang pria muda, dengan pakaian bermerek turun dari kursi kemudi. Menatap bingung ke arah keributan di depan gerbang.
"Ada apa ini, Ma? Siapa orang-orang ini? Kenapa bikin ribut di depan rumah?" tanyanya dengan wajah tak suka. Namun, setelah melihat melati. Rautnya berubah. “Eh, siapa gadis cantik ini?” Ia mencoba menggoda. Hampir mengulurkan tangan. Namun, sigap ditepis Satya.
Risma tidak menjawab pertanyaan anaknya. Wajahnya semakin pucat pasi karena ketakutan.
Tanpa pikir panjang. Wanita yang masih terlihat segar di usia lima puluh itu, berteriak, “Satpam! Seret dua orang asing ini pergi! Cepat!”
“Laksanakan!”
Dua orang satpam berbadan tegap langsung tanggap, mencengkeram kasar lengan Satya dan Melati. Memaksa keduanya mundur ke jalanan.
Genggaman tangan kasar itu membuat Melati meringis, di tengah kepanikan kegelapannya.
“Hei, jangan menyentuh gadisku!” Satya berteriak. Namun percuma. Salah satu satpam itu sudah menyeret Melati.
Mengempaskannya ke jalan hingga lutut gadis itu membentur aspal panas.
Satya langsung pasang badan, memeluk bahu Melati yang gemetaran.
Sementara Risma menarik tangan putranya. “Ayo masuk.” Wanita itu melotot tajam, menyembunyikan intrik busuknya.
“Tunggu, Ma! Aku hanya penasaran ….” Sang putra menepis perlahan tangan mamanya, menatap parut luka di wajah Satya yang terasa familier.
“Bagas, masuk!” Risma memotong, dengan nada tinggi. Suaranya melengking penuh kepanikan yang nyata.
Tak bisa melawan. Bagas mengembuskan napas kasar. Langkahnya berat, saat memutuskan masuk kembali ke dalam mobil.
‘Aku akan cari tahu sendiri,’ pikirnya, sambil memegang kemudi erat. Ia menginjak pedal gas dalam. Membiarkan deru mesinnya membelah ketegangan di halaman rumah mewah keluarga Maesa Utama.
—
“Tadi itu pasti Bagas,” cicih Satya, sambil membantu Melati berdiri. Ia membersihkan kerikil dan debu jalanan yang menempel di lutut celana kain Melati dengan gerakan perlahan. Menahan amarah yang bergemuruh di dalam dada.
“Bagas?” Melati mengerutkan kening. Sambil menegakkan tubuh, mengandalkan kekuatan lengan Satya sebagai tumpuan utamanya.
“Dia sepupuku. Usianya hampir sama denganku. Hanya beda bulan.” Satya menjelaskan seraya menepis sisa debu di telapak tangan Melati.
“Oh.” Melati mengangguk paham, bibirnya mengatup rapat merasakan ketegangan drama keluarga yang begitu pekat.
“Aku tak percaya kata-kata Tante Risma,” lanjutnya geram. Satya bahkan sampai mengepalkan tangan kuat. Natanya menatap tajam ke arah pagar besi tinggi yang baru saja ditutup rapat. “Besok. Aku akan menemui Paman di kantornya.”
“Satya,” panggil Melati lembut. Ia meraba lengan kekar Satya, mencoba menenangkan gejolak emosi sang kekasih, yang kian membubung.
“Kenapa tantemu … mengusir kita?” tanyanya kemudian, menyuarakan kebingungan yang sejak tadi mengusik.
“Dia ingin menguasai harta keluarga Utama.” Satya menjawab pahit. Ia menuntun Melati mendekati motor sport hitam milik Fawaz yang terparkir di pinggir jalan.
“Tapi tadi dia seperti mengatakan … ingin memberikan hak-mu.” Melati memiringkan kepala, mencoba meresapi kembali ucapan Risma.
“Aku sudah ditulis mati. Bagaimana bisa aku akan mendapatkan hak?” Satya tersenyum getir. Ia memakaikan helm ke kepala Melati dengan sangat hati-hati. Memastikan talinya terpasang dengan benar. “Yang ada malah aku dituntut, kalau menerima uang itu. Kayak nggak tahu otak licik mereka saja.”
“Aku tak mengerti.” Melati mendesah lirih, merasa asing dengan konspirasi kotor dunia orang kaya.
“Permainan kotor orang besar. Selama tidak punya harta dan kekuasaan. Jangan harap akan menang.” Satya mengelus kepala Melati, memberi sensasi menenangkan, untuk meredam kekhawatiran. “Ayo pulang. Aku akan mengajakmu makan.”
“Eh, bukannya kamu belum gajian?” Melati menahan lengan Satya saat pria itu hendak menyalakan mesin motor.
“Aku ada rezeki sedikit.” Satya menggandeng Melati, menuntunnya naik ke atas motor.
"Uang gajiku yang ditahan. Kemarin sudah diberikan sama Pak To. Ya … meski dicicil.” Ia terkekeh pelan, mencoba mencairkan atmosfer dramatis di antara keduanya.
“Ditabung saja. Mana tahu kita nanti bisa punya rumah sendiri.” Melati menyarankan dengan nada penuh harap, memikirkan masa depan asmara mereka yang mandiri.
“Iya itu sudah aku pikirkan. Sekarang kamu manut saja. Sesekali kita makan di luar, aku rasa tak masalah.” Satya mengusap pipi Melati dengan lembut, tersenyum hangat meski wajahnya dipenuhi parut luka.
Satya kembali melajukan motor. Menuju sebuah resto siap saji.
Baru saja masuk. Pandangan orang-orang langsung mengarah ke arah, dua pasangan dengan kekurangan fisik tersebut. Suasana resto yang bising mendadak terasa senyap, digantikan oleh bisik-bisik sengit, yang menyengat telinga.
Satya hanya tersenyum miris. Menanggapi pandangan jijik dan iba pengunjung resto.
Namun, seakan tak peduli, ia menuntun langkah Melati, menuju sebuah meja. Bahkan sigap menarik kursi perlahan agar Melati bisa duduk tanpa meraba dan tersandung.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Satya sambil mengambil duduk di hadapan Melati.
“Aku belum pernah makan di luar. Jadi manut kamu saja.” Melati menjawab dengan suara pelan, tangannya meremas ujung meja kayu karena merasa risih. Sadar dengan suara bisikan, yang membuat sang kekasih menjadi pusat perhatian.
“Oke. Kamu tunggu di sini ya?” Satya beranjak. Menuju meja pesanan.
Saat antre. Beberapa orang kembali menatapnya jijik. Bahkan seorang anak kecil menceletuk, “Ma, wajah Kakak itu kenapa?” Sambil menunjuk Satya.
“Ssst, nggak boleh begitu.” Ibu si bocah langsung mengambil tindakan. Menarik tangan anaknya. Sedikit menjauh dari Satya. Seakan si pemuda membawa penyakit menular.
Satya yang mendengar, hanya bisa menunduk, membiarkan luka batinnya semakin menganga akibat diskriminasi sosial.
Tak sampai di situ. Usai memesan makanan, saat kembali ke meja. Lagi-lagi Satya mendapat cemoohan.
“Wajah pemuda itu kenapa ya? Ngeri aku lihatnya.”
“Si cewek kok mau ya? Padahal cantik. Tapi kayanya luka itu karena terbakar.”
“Mungkin berduit.”
“Berduit kok nggak operasi plastik?”
Deg.
Celetukan terakhir membuat jantung Satya berdetak cepat. ‘Benar. Operasi plastik. Kenapa aku nggak mikir begitu ya?’ pikirnya, ‘bukannya dokter yang pernah menanganiku, duku. Pernah mengatakan, kalau aku hanya cukup melakukan injeksi kortikosteroid intralesi. Untuk memulihkan wajah?’ Secercah harapan mendadak muncul, membakar semangatnya untuk mengembalikan rupa aslinya.
‘Kenapa Paman dan Tante, tidak mengambil langkah yang disarankan? Apa mereka sengaja? Kenapa malah membuangku?’
Banyak pertanyaan tiba-tiba bermunculan. Membuat hati Satya melengos perih.