Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Malam itu, bulan tertutup awan tebal. Gelap pekat menyelimuti ibukota Shenghua, menyembunyikan segala dosa dan konspirasi yang merayap di balik tembok istana.
Di sebuah sudut tersembunyi di taman belakang Istana Bulan Giok, dua sosok berdiri di bawah naungan pohon willow tua. Putri Li Yuexin telah mengganti hanfu ungunya dengan pakaian pelayan pria berwarna abu-abu kusam. Wajahnya yang cantik ditutupi oleh topi bambu bertirai hitam tipis, dan posturnya dibuat sedikit membungkuk untuk menyembunyikan lekuk tubuh wanitanya. Qingyu juga mengenakan pakaian serupa, membawa tas kecil berisi peralatan penyamaran dan pisau belati pendek.
"Ingat," bisik Putri Li Yuexin, suaranya diubah menjadi lebih berat dan serak. "Kita bukan Putri dan Pelayan. Kita adalah 'Angin' dan 'Debu', dua agen rendahan dari Menara Bayangan yang dikirim untuk mengonfirmasi informasi."
Qingyu mengangguk, meski tangannya gemetar sedikit. Ini pertama kalinya dia meninggalkan keamanan istana untuk misi berbahaya seperti ini. "Hamba siap, Nona... maksudnya, Kakak Angin."
Putri Li Yuexin tersenyum tipis di balik tirai topinya. "Ayo. Waktu tidak akan menunggu."
Mereka menyusuri lorong-lorong gelap menuju gerbang samping istana yang jarang dijaga. Dengan bantuan Kasim Tua Zhou, yang sudah menunggu di sana dengan kunci cadangan. Mereka berhasil lolos tanpa terdeteksi oleh penjaga malam.
Kedai teh "Naga Tidur" terletak di distrik perdagangan utara, jauh dari kemegahan pusat kota. Bangunannya tua, kayunya lapuk, dan aromanya campuran antara teh, keringat, dan asap rokok. Tempat seperti ini adalah sarang informasi bagi para pedagang gelap, preman, dan mata-mata.
Putri Li Yuexin dan Qingyu masuk melalui pintu belakang, sesuai instruksi yang diberikan Kasim Zhou. Di dalam, suasana suram. Hanya ada beberapa meja yang ditempati oleh pelanggan yang tampak curiga.
Di sudut paling gelap, dekat tangga menuju lantai atas, duduk tiga orang.
Satu di antaranya adalah Gu Wenhao. Dia tidak lagi mengenakan jubah putih bersihnya, melainkan jubah cokelat sederhana yang membuatnya terlihat seperti seorang sarjana miskin. Wajahnya tegang, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu.
Di sebelahnya duduk Lin Mei, ayah Lin Meirong. Pria gemuk dengan wajah licik, jari-jarinya memainkan sebuah cincin giok palsu.
Dan di hadapan mereka, duduk seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah hitam polos. Wajahnya tertutup oleh tudung kepala, namun tangan kanannya yang memegang cawan teh menunjukkan cincin perak dengan ukiran ular melilit pedang. Simbol keluarga Han.
Putri Li Yuexin dan Qingyu tidak langsung mendekat. Mereka duduk di meja seberang, memesan teh dan berpura-pura bermain dadu sambil mendengarkan.
"...dokumen itu harus sampai ke tangan Marquis sebelum sidang kekaisaran minggu depan," suara pria berjubah hitam itu rendah dan dingin. Suaranya seperti gesekan batu.
Gu Wenhao menelan ludah. "Tapi... risikonya sangat besar. Jika Shen Guotai mencium bau ini, kepala saya akan melayang."
"Kepala kamu sudah melayang sejak kamu memutuskan untuk berkhianat pada Putri kekaisaran," sahut pria itu sinis. "Marquis Han menjamin keselamatanmu. Asalkan bendungan Utara gagal dibangun. Menteri Perang Shen Mingyuan, akan disalahkan karena korupsi dana proyek. Reputasi Faksi Timur akan hancur, dan takhta akan lebih mudah direbut oleh Pangeran Jianyu."
Putri Li Yuexin merasakan darah mendidih di nadinya, tapi wajahnya tetap datar. Jadi, inilah rencananya. Sabotase bendungan. Bendungan Utara adalah proyek yang sensitif, karena bendungan itu untuk mencegah banjir di musim hujan. Jika gagal, ribuan rakyat akan mati, dan Paman Shen Mingyuan akan dihukum mati karena kelalaian.
Ini bukan sekadar politik. Ini pembunuhan massal yang direncanakan.
"Apa isi kotak itu?" tanya Lin Mei, matanya berbinar tamak.
"Dokumen pemalsuan tanda tangan pekerja, dan laporan palsu tentang kualitas tanah," jawab pria Han. "Kau hanya perlu menyelipkannya ke dalam arsip Kementerian Pekerjaan Umum. Gu Wenhao memiliki akses sebagai asisten junior di sana, bukan?"
Gu Wenhao mengangguk kaku. "Ya. Tapi... saya butuh jaminan uang. Janji Marquis sebelumnya belum terpenuhi."
Pria Han tertawa kecil, suara yang mengerikan. Dia melemparkan sebuah kantong kain kecil ke meja. Bunyi logam berdenting di dalamnya. Emas.
"Ini uang muka. Sisanya setelah Shen Mingyuan dipenjara."
Gu Wenhao meraih kantong itu dengan tangan gemetar. Keserakahannya telah mengalahkan sisa-sisa nuraninya, jika dia pernah memilikinya.
Putri Li Yuexin cukup mendengar. Dia punya bukti percakapan mereka tapi dia juga butuh bukti lain. Kotak dokumen itu.
Dia memberi isyarat halus pada Qingyu. Alihkan perhatian.
Qingyu, yang paham rencana, sengaja menjatuhkan gelas tehnya dengan keras.
Crash!
Semua mata di kedai itu tertuju pada mereka. Termasuk ketiga konspirator di sudut.
"Maaf! Maaf!" seru Qingyu dengan suara panik, berpura-pura gugup. Dia segera membungkuk untuk memungut pecahan keramik, tapi secara tidak sengaja menendang kaki meja pria Han.
Pria Han marah. "Hei! Kau buta?!"
Dia berdiri, hendak memarahi Qingyu. Dalam kebingungan itu, Putri Li Yuexin bergerak cepat. Dengan gerakan lincah yang dilatihnya diam-diam bersama penjaga istana dengan alasan "belajar bela diri untuk kesehatan", dia menyelinap di balik punggung pria Han yang sedang berdiri.
Tangannya yang terlatih mencuri kotak hitam kecil dari saku jubah pria Han dengan kecepatan kilat, lalu menggantinya dengan kotak rokok kosong yang sama dari sakunya sendiri.
Semua terjadi dalam hitungan detik.
Pria Han duduk kembali, masih menggerutu. Dia tidak menyadari bahwa kotaknya sudah tertukar.
Putri Li Yuexin kembali ke kursinya, jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya tetap tenang di balik topi. Dia menyelipkan kotak hitam itu ke dalam bajunya.
"Ayo pergi," bisiknya pada Qingyu. "Sebelum mereka sadar."
Mereka berdiri, meninggalkan beberapa koin tembaga di meja, dan keluar dari kedai dengan langkah cepat namun tidak berlari.
Saat mereka mencapai gang sepi di luar kedai, Putri Li Yuexin menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya, tapi darahnya panas karena adrenalin.
"Kita berhasil, Nona," bisik Qingyu, wajahnya pucat tapi lega.
"Belum sepenuhnya," kata Putri Li Yuexin sambil membuka kotak hitam itu di bawah cahaya lentera jalan yang redup.
Isinya bukan dokumen.
Kotak itu kosong.
Yuexin mengerutkan kening. Kosong? Apakah pria Han sudah memindahkan dokumennya? Atau ini jebakan?
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di ujung gang.
"Lari," perintah Putri Li Yuexin tajam.
Mereka berlari menyusuri gang-gang sempit ibukota, dikejar oleh bayangan-bayangan hitam yang muncul dari kegelapan. Penjaga pribadi Marquis Han.
Putri Li Yuexin memimpin Qingyu menuju saluran pembuangan air tua yang mengarah ke sungai dekat istana. Ini adalah rute kabur darurat yang dia pelajari dari peta rahasia Keluarga Shen.
Mereka melompat ke dalam air dingin yang kotor, berenang di bawah permukaan hingga mencapai titik aman di dekat tembok istana bagian barat.
Saat mereka muncul di sisi lain tembok, basah kuyup dan menggigil, Kasim Tua Zhou sudah menunggu dengan selimut hangat.
"Tuan Putri..." Zhou tampak khawatir. "Apakah kalian mendapatkan sesuatu?"
Putri Li Yuexin mengeluarkan kotak kosong itu, lalu tersenyum dingin. "Dokumennya tidak ada di sini. Tapi kita tahu siapa dalangnya, apa rencananya, dan kapan eksekusinya. Dan yang lebih penting..."
Dia menatap ke arah Istana Zamrud yang terlihat samar di kejauhan.
"...kita tahu bahwa Gu Wenhao sudah resmi menjadi pengkhianat negara. Bukan hanya pengkhianat cinta."
Kasim Zhou mengangguk serius. "Ini cukup untuk menghancurkannya, jika digunakan dengan tepat. Tapi hati-hati, Tuan Putri. Marquis Han pasti akan menyadari kehilangan kotaknya. Mereka akan mencari 'tikus' di dalam istana."
"Biarkan mereka mencari," kata Putri Li Yuexin sambil menggigit giginya yang menggigil kedinginan. "Karena tikus yang mereka cari... adalah phoenix yang baru saja belajar terbang di tengah badai."