NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 | Pengadilan

Begitu mendengar salah satu pasien yang ditangani terkena kasus yang mengharuskan di sidang, pikiran Luna langsung berisik. Ia menebak-nebak siapa pasien itu. Tapi, lagi-lagi di otaknya hanya terpikir satu nama. Jika tebakannya benar, ia tidak tau lagi harus bagaimana menanganinya.

"Orion Grimm kah nama pasiennya?" tanya Luna karena ia sudah tidak bisa melawan rasa penasarannya.

Xabiru hanya diam, ia mengalihkan pandangan. Hal itu membuat jantung Luna semakin berdetak kencang. Bagaimana jika benar? Bagaimana jika Orion yang akan di adili? Kedua tangan Luna langsung memegang pundak Xabiru lalu ia mendesak supaya pria itu menjawab. "Jawab kak!" desaknya panik.

Mereka saling beradu pandang. Sang pria menghela napas berat. "Orion itu siapa?"

Deg.

Dunia Luna serasa runtuh setengah. Benar. Xabiru belum mengenal pasien barunya itu. Bisa-bisanya ia langsung melayangkan nama asing bagi si pria di hadapannya. "A-ah... b-bukan siapa-siapa..." jawabnya terbata. Wanita itu langsung menurunkan tangannya lalu mengambil jarak.

"Namanya Kael Raiden. Kalo ngga salah... dia pasien rawat jalan kamu selama 2 bulan ini," terang Xabiru yang langsung membuat alis Luna mengernyit.

Luna versi mini di otaknya kini sedang mencari nama yang disebut Xabiru. Mereka terus membelah diri hingga berjumlah tak terhingga. Semua Luna versi mini berlarian kesana kemari mencari sebuah nama Kael Raiden di memori Luna yang berkapasitas sedang, bahkan nyaris kecil.

"Kael kael kael..." gumam Luna sembari memejamkan mata supaya lebih fokus saat mencari.

Matanya membelalak sesaat setelah sebuah ingatan yang sempat terkubur akhirnya muncul kembali. "AKU INGAT!" serunya tanpa sadar sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.

"Ingat apa, Lun?" tanya seseorang dengan suara khas bapak-bapak berduit yang langsung membuat tubuh Luna membeku.

Teriakan Luna berhasil menarik perhatian papahnya yang berada di lantai dua. Buktinya saat ini papahnya sedang menuruni tangga dengan memegang secangkir kopi dan tatapan bertanya yang dilayangkan pada anak satu-satunya.

"Kamu ingat apa?" tanya papahnya lagi begitu sampai di hadapan Luna.

Yang ditanya hanya diam tak berkutik. Ia merutuki kebodohannya sendiri. "I-itu pah... nama pasien aku..."

"Pasien kamu kenapa?" tanyanya lagi dilanjut menyeruput kopi hitam yang asapnya masih mengepul.

"Kena kasus, om," jawab Xabiru mewakili Luna.

Kedua alis milik papah Luna terangkat. Matanya juga terbuka sedikit lebih lebar. "Kasus apa memangnya, Ru?"

Xabiru tampak menghela napas sebelum menjawab. "Pembunuhan."

Tidak hanya tubuh papahnya Luna saja yang membeku, tapi anaknya juga. Dirinya tidak menyangka bahwa kasus pasiennya sudah sampai tahap bunuh-bunuhan. "Mengerikan. Terus tujuan kamu kesini ngapain, Ru?" tanya papah Luna.

"Saya mau jemput Re– Luna untuk memberikan keterangan sebagai psikiater yang menangani terdakwa. Pengadilan membutuhkan penjelasan mengenai riwayat dan kondisi kejiwaan terdakwa," jelas Xabiru sambil menatap mata papahnya Luna.

Papah Luna mengangguk pelan sebelum menoleh ke putrinya. "Kalau begitu, pasien-pasienmu di rumah sakit gimana, Lun? Kamu ngga praktik hari ini?"

"Ngga apa-apa, pah. Nanti aku bisa minta dokter pengganti buat ngambil alih jadwalku hari ini," jawab Luna diakhiri cengiran khasnya.

"Semua pasien?" tanya papahnya lagi dan langsung dijawab oleh anggukan putrinya.

"Kita berangkat jam berapa, kak?"

"Lima belas menit lagi kita berangkat."

"Oke. Kalo gitu, aku siap-siap dulu yaa," ujar Luna seraya berdiri dan bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.

☆☆☆

"Xabiru, saya titip Luna ya. Awas aja kalo putri saya sampe kenapa-kenapa," ancam Vincent Keller sambil menepuk-nepuk pundak pria di hadapannya.

"Tenang, om. Saya jamin Luna aman. Lagi pula, hari ini saya lebih khawatir sama orang-orang yang harus berurusan dengannya saat dia kurang tidur," seloroh Xabiru dengan senyum sejuta dolarnya.

"Hei! Aku denger ya!" teriak Luna dari lantai dua. Selesai bersiap-siap, ia segera turun menghampiri papahnya dan pria menyebalkan itu. "Luna berangkat ya pah!"

"Hati-hati yaa, sayang. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau sudah selesai, langsung pulang," pesan Vincent Keller sambil mengusap lembut puncak kepala putrinya.

Luna tersenyum kecil. "Iya, Pah."

Ia kemudian menoleh ke arah Xabiru yang sudah berdiri di dekat pintu rumah sambil memainkan kunci mobilnya. "Ayo?" tanya pria itu singkat.

Luna mengangguk. Setelah melambaikan tangan sekali lagi pada papahnya, ia segera melangkah keluar rumah. Udara pagi masih terasa sejuk. Sinar matahari yang belum terlalu terik menerpa wajahnya begitu ia menuruni anak tangga teras. Sebuah SUV hitam telah terparkir rapi di halaman depan.

Xabiru lebih dulu membuka pintu penumpang. "Ladies first."

Luna mendengus pelan. "Tumben sopan," sindirnya halus.

"Aku selalu sopan," jawab pria itu santai.

"Kita berdua tahu itu bohong," cibir Luna sambil memutar bola matanya.

Xabiru terkekeh pelan sebelum menutup pintu setelah Luna masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mesin mobil menyala. Untuk beberapa menit pertama, tidak ada percakapan di antara mereka. Luna memilih memandangi pemandangan pagi yang bergerak perlahan di balik jendela.

Beberapa menit setelah mobil meninggalkan kawasan rumah keluarga Keller, Xabiru tiba-tiba mengulurkan sebuah kantong plastik putih ke arah Luna. "Nih."

Luna yang sejak tadi sibuk memeriksa ulang berkas pasiennya langsung mengangkat kepala. "Ini apa?"

"Sarapan," jawab Xabiru singkat.

Luna mengerutkan kening. Dengan ragu, ia menerima kantong plastik itu lalu mengeluarkan sebuah kotak styrofoam. Begitu tutupnya dibuka, aroma khas daun pisang dan nasi hangat langsung memenuhi kabin mobil. Tebak apa?

"Nasi bakar?" tanya Luna tidak percaya.

Xabiru mengangguk santai. "Yeah."

Luna memejamkan mata sejenak. "Kak, kamu kenal aku berapa tahun?"

"Dari kamu lahir masih unyu-unyu."

"Dan selama itu, kamu pernah lihat aku sarapan pake nasi?" tanya Luna dengan nada dingin.

Xabiru masih fokus dengan jalan dihadapannya, tapi Luna bisa menafsirkan bahwa pria itu tampak sedang berpikir. "Hmm... ngga tau aku. Emang ngga pernah ya, sarapan pake nasi?"

"Menurutmu?" tanya Luna dengan nada sarkas.

"Kayaknya ngga pernah. Pantes sih kamu kayak anak stunting," jawab Xabiru kelewat jujur.

Plak!

"Ouch!"

Telapak tangan Luna mendarat tepat di lengan Xabiru yang sedang memegang kemudi. "PUNYA MULUT DI JAGA YA! AKU NGGA STUNTING!"

"Ini nih, gejala kurang sarapan," celetuk pria itu sambil meringis karena rasa pedas di lengannya masih ada.

Luna mendengus kesal lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum ia kembali melirik kotak styrofoam di pangkuannya. Aroma nasi bakar itu masih tercium. Sial, baunya enak.

Dengan enggan, ia mengambil sendok plastik dan menyendok sedikit nasi. "Bagus," komentar Xabiru tanpa menoleh.

"Belum juga makan," ucap Luna ketus.

"Tapi kamu mau makan, kan? Makan ajaa, jangan malu-malu. Atau, mau aku suapin?" goda Xabiru sedikit melirik wanita di sampingnya.

"Najis, ngga mau!"

Saat Luna hendak melakukan suapan pertama, ponselnya tiba-tiba bergetar. Maya menelepon. Sedetik kemudian Luna baru sadar bahwa dirinya belum mengabari Rumah Sakit Jiwa Silver Oak. "Sial sial!" umpat Luna seraya buru-buru menjawab panggilan Luna.

"Halo May?"

"LUN! KAMU DIMANAA?! KOK BELUM DATENG??!!" Suara Maya langsung menggema di seluruh sudut SUV hitam milik Xabiru.

Luna refleks menjauhkan ponselnya dari telinga. "Astaga, May. Pelan-pelan! Aku lagi di jalan."

"DI JALAN MANA?! MAU KESINI KANN??!!"

"Ke pengadilan, May. Aku hari ini izin ngga berangkat. Aku lupa ngabarin tadi pagi, hehe. Maaf," ucap Luna dengan nada menyesal.

Terdengar suara napas Maya yang tidak beraturan dari seberang sana. "Luna, dengerin aku baik-baik." Nada bicara Maya berubah. Dan itu membuat bulu kuduk Luna meremang.

"Kenapa, May?" tanyanya hati-hati.

"Aku DITEROR! Sejak jam setengah tujuh pagi."

"Hah?! Siapa yang neror, May?!"

Maya terdiam selama dua detik. "Menurutmu?"

Dan entah kenapa, sebelum Maya menyebutkan namanya, Luna sudah tahu jawabannya. "...Orion?" tebak Luna hati-hati. Tuhan, semoga tebakanku salah, batin Luna dengan pikiran yang sudah kemana-mana.

"YESS! SERATUS BUAT KAMU!"

Luna langsung memejamkan mata. Hari masih pagi, tapi wanita itu merasa sudah sial saja. "Dia tadi nanya kamu dimana, kenapa belum berangkat gitu," lanjut Maya dengan nada yanh sudah kembali normal.

Helaan napas Luna terdengar yang langsung membuat Xabiru menoleh sesaat. "Kenapa Re?"

"Terus dia nanya apa lagi, May?" tanya Luna tanpa memedulikan pertanyaan Xabiru.

"Dia minta nomermu, karena tadi sempat mau pinjam HP-ku tapi ngga aku bolehin."

Tangan Luna langsung memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak sakit. "Dan kamu tau, Lun? Orion dari tadi ngejar aku sampe ruangan. Dan dia sekarang lagi di depan pintu. Bisa gila aku, Lun!" resah Maya yang langsung membuat Luna semakin merasa bersalah pada sahabatnya.

"Oke oke, aku telepon dokter pengganti dulu. Aku bener-bener minta maaf atas perilaku Orion ke kamu hari ini," jawab Luna dengan nada penyesalan.

"Ngga apa-apa Lun, kayak sama siapa aja. Btw hati-hati di jalan yaa. See you tomorrow!" Panggilan terputus. Jemari Luna langsung sibuk mencari satu nama di daftar kontaknya.

"Halo?" Suara wanita di seberang terdengar tenang seperti biasanya.

"Halo dokter Alexa. Aku lupa ngabarin kalau hari ini aku harus ke pengadilan. Aku benar-benar minta maaf karena ngasih taunya mendadak. Dokter bisa gantiin jadwalku hari ini?" tanya Luna penuh harap.

Terdengar suara Alexa menghela napas pelan. "Panggil Alexa aja, Lun. Ngga usah pake embel-embel dokter. Lagian aku lebih muda dari kamu," pinta wanita bernama Alexa. "Soal ke pengadilan itu... tentang kasusnya Kael Raiden kah?" tanyanya dengan nada soft spoken.

"Iyaa Al. Baru tadi pagi aku ingat kalo hari ini ada sidangnya Kael."

Alexa terdiam sejenak. "Okey, kirim aja jadwal pasien-pasienmu hari ini ya!"

Luna mengangguk refleks sebelum sadar bahwa Alexa tidak bisa melihatnya. "Siap. Makasih banyak, Al! Sekali lagi, aku minta maaf yaa karena ngasih taunya mendadak. Jangan marah ya?" pinta Luna memohon.

"Aku ngga marah. Lain kali kasih taunya jangan lima menit sebelum jam praktik dimulai yaa," jawab Alexa masih dengan nada soft spoken.

"Iyaa, Alexa. Udah aku kirim ya jadwalnya!"

"Okey. Hati-hati di jalan, Luna!"

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!