NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:670
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: gelas yang Retak

Pendar ungu pekat dari cawan perak itu berdenyut kian cepat, memancarkan gelombang hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Udara di dalam ruang arsip kuno menara barat mendadak berbau belerang dan pembusukan—aroma khas dari sihir hitam yang dipaksakan.

“Aria, mundur!”

Kael menarik bahu Aria, menyembunyikan gadis itu di balik jubah beludru hitamnya yang tebal. Namun, Aria tahu melarikan diri bukan pilihan. Ruangan ini sempit, tersudut di puncak menara, dan radius ledakan dari artefak yang terdistorsi oleh necromancy akan meruntuhkan seluruh struktur batu ini, mengubur mereka hidup-hidup sebelum para kesatria di bawah sempat menyadari apa yang terjadi.

Dalam kegelapan di balik punggung Kael, Aria memejamkan mata. Jemarinya yang gemetar meraba saku gaun, menggenggam pena tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh jiwanya.

“Lumi,” bisik Aria dalam hati, memanggil roh pelindungnya.

Detik itu juga, waktu seolah merambat lambat. Lembaran kertas transparan raksasa—hukum alam semesta yang mengatur dunia ini—terbentang di benak Aria. Di atasnya, baris-baris kalimat kuno berwarna perak berkedip tidak stabil, menunjukkan distorsi yang disebabkan oleh mantra Kaisar Magnus.

Dengan sisa energi yang ia miliki\, Aria memproyeksikan kehendak fisiknya pada lembaran tersebut. Ia menuliskan satu baris kalimat baru secara mental\, menghapus narasi kehancuran yang sudah diambang mata: *Cawan perak itu kehilangan kestabilan energinya\, membiarkan mana kuno di dalamnya meresap ke dalam pori-pori lantai batu tanpa riak.*

Rasa sakit yang luar biasa mendadak menghantam pelipis Aria. Mengubah realitas secara instan menuntut bayaran yang tidak murah. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam, dan rasa anyir darah mulai teraba di pangkal tenggorokannya.

Cahaya ungu pada cawan itu memuncak, membelah kegelapan dengan kilatan membutakan, sebelum akhirnya padam secara mendadak dengan suara desisan basah yang pelan. Cawan perak itu retak memanjang dari bibir hingga ke dasarnya. Cairan hitam di dalamnya tumpah, menguap menjadi asap kelabu yang tidak berbahaya begitu menyentuh lantai basalt.

Keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan. Satu-satunya suara yang terdengar adalah napas Kael yang memburu dan detak jantung Aria yang bertalu di rongga dadanya.

Kael perlahan menurunkan lengannya. Netra emasnya menyapu ruangan, memastikan tidak ada lagi ancaman yang tersisa sebelum berbalik cepat ke arah Aria. Kedua tangan sang Pangeran mencengkeram bahu Aria dengan erat, memeriksa setiap jengkal tubuh gadis itu dengan tatapan penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

“Kau terluka? Katakan padaku, di mana yang sakit?” Suara Kael terdengar serak, sarat akan ketakutan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

Aria menggeleng lemah, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kelu. “Saya baik-baik saja, Yang Mulia. Hanya... sedikit lelah.”

Lutut Aria melemas. Persendiannya seolah kehilangan penopang hingga ia hampir terjatuh jika Kael tidak segera menangkap pinggangnya. Pangeran itu menarik Aria ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar pada dadanya yang bidang. Aroma kayu cedar dan kehangatan samar dari mana naga milik Kael perlahan mengusir rasa dingin yang ditinggalkan oleh sihir hitam tadi.

“Bodoh,” bisik Kael, menempelkan dahi ke puncak kepala Aria. “Jangan pernah melakukan hal senekat itu lagi di hadapanku.”

Sebelum Aria sempat membalas, sebuah langkah kaki yang santai terdengar dari arah luar selasar menara. Ketukan sol sepatu bot kulit itu terdengar berirama, terlalu tenang untuk situasi yang baru saja hampir merenggut nyawa mereka.

Kael seketika menegakkan tubuh, menempatkan dirinya di depan Aria dengan tangan kanan yang sudah bertumpu pada hulu pedangnya.

Dari balik bayang-bayang pilar batu yang retak, muncullah sesosok pria berambut perak dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Duke Lucien Veritas melangkah masuk, memegang sebuah gelas kristal berisi anggur merah yang bergoyang pelan mengikuti gerakannya.

“Sungguh pertunjukan yang menarik,” ujar Lucien, suaranya mengalun halus di antara dinding-dinding batu yang dingin. Netra birunya yang tajam menatap cawan perak yang telah hancur di lantai, lalu beralih pada Aria dengan binar penuh kepuasan. “Saya selalu tahu Anda memiliki cara tersendiri untuk menjinakkan badai, Nona Evander.”

“Duke Veritas,” desis Kael, suaranya sedingin es di puncak gunung utara. “Apa yang Anda lakukan di menara terlarang ini? Area ini seharusnya steril dari tamu perjamuan.”

Lucien menyesap anggurnya perlahan, sama sekali tidak terintimidasi oleh aura naga yang mulai menguar dari tubuh Kael. “Saya hanya mencari udara segar, Yang Mulia. Aula perjamuan terlalu penuh dengan kepalsuan. Namun, siapa sangka saya justru menemukan sisa-sisa mainan lama Kaisar Magnus di sini?”

Lucien melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di batas bayangan lilin dinding. Ia menatap Aria dengan subteks yang mendalam, seolah mereka berdua berbagi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh seluruh dunia.

“Naskah yang telah ditulis terkadang memiliki tinta yang terlalu tebal untuk dihapus, bukan?” tanya Lucien dengan nada jenaka yang terdengar dingin di rungu Aria.

Aria mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaunnya. Lucien tahu. Pria itu tahu tentang kemampuannya, atau setidaknya, ia tahu bahwa dunia ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Sihir hitam ini telah menyusup jauh lebih dalam dari yang kita duga,” sela Aria, mencoba mengalihkan perhatian sebelum Kael menyadari keanehan dalam ucapan Lucien. “Kaisar Magnus tidak hanya mengandalkan boneka di perbatasan. Dia memiliki mata dan telinga di dalam istana ini sendiri.”

Kael mengeraskan rahangnya. “Aku akan memerintahkan para pengawal untuk menyisir setiap sudut istana barat. Siapa pun yang membantu penyelundupan artefak ini akan digantung di alun-alun kekaisaran.”

“Dan membiarkan tikus-tikus itu tahu bahwa kita sedang memburu mereka?” Lucien terkekeh pelan, menyilangkan tangannya di dada. “Tindakan yang terlalu terburu-buru, Yang Mulia. Jika Anda memotong satu kepala ular sekarang, kepala yang lain akan segera bersembunyi lebih dalam di balik jubah emas para tetua dewan.”

Kata-kata Lucien ada benarnya. Istana Elgarth adalah sarang laba-laba politik yang rumit. Evelyn Roselia baru saja gagal mempermalukan Aria di aula perjamuan, tetapi konspirasi yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar kecemburuan seorang putri bangsawan. Magnus sedang mempersiapkan kebangkitan Moros, dan setiap langkah yang salah akan mempercepat kehancuran kekaisaran.

“Lalu, apa saran Anda, Duke Veritas?” tanya Aria, menatap langsung ke dalam manik mata biru Lucien yang dingin.

Lucien meletakkan gelas kristalnya di atas meja kayu yang berdebu. Senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan. “Biarkan mereka mengira rencana mereka berjalan lancar. Pada festival berburu minggu depan, Kaisar Magnus akan mengirimkan utusan resminya. Di sanalah, di bawah langit terbuka, kita akan melihat siapa yang memegang kendali atas papan catur ini.”

Kael menatap Lucien dengan pandangan menyelidik sebelum akhirnya menghela napas kasar. Ia tahu bahwa dalam hal manipulasi politik, Duke Veritas adalah sekutu sekaligus musuh yang paling berbahaya.

“Kita akan membahas ini lagi di tempat yang lebih aman,” kata Kael mutlak. Ia kemudian berbalik sepenuhnya pada Aria, ekspresi wajahnya melembut secara drastis. “Aku akan mengantarmu kembali ke paviliun keluarga Evander. Kau membutuhkan istirahat.”

Aria mengangguk setuju. Tubuhnya benar-benar membutuhkan pemulihan setelah menguras mana dalam jumlah besar.

Saat mereka berjalan meninggalkan menara barat, Aria menyempatkan diri untuk melirik ke belakang. Lucien masih berdiri di sana, di bawah siraman cahaya bulan yang pucat dari jendela melengkung. Pria itu mengangkat tangannya sedikit, memberikan gestur hormat yang elegan namun penuh misteri.

Di sepanjang selasar yang sunyi menuju paviliunnya, Kael menggenggam tangan Aria erat-aria seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya barang sedetik saja.

“Kael,” panggil Aria pelan, menggunakan nama kecil sang Pangeran tanpa embel-embel formalitas karena mereka kini hanya berdua.

Kael menghentikan langkahnya di bawah pilar balkon yang menghadap ke arah taman istana yang gelap. Angin malam berembus dingin, memainkan helai-helai rambut hitamnya.

“Ada apa?”

“Apakah Anda percaya bahwa takdir kita sudah ditentukan sejak awal?” tanya Aria, menatap lurus ke dalam netra emas Kael yang berkilau di kegelapan.

Kael terdiam sejenak. Jemari tangannya yang bebas bergerak perlahan, merapikan anak rambut Aria yang tertiup angin ke belakang telinganya. Sentuhan kulitnya terasa hangat, mengusir sisa-sisa keputusasaan yang sempat membayangi hati Aria.

“Jika takdir itu ada, dan ia bermaksud menjauhkanmu dariku,” kata Kael, suaranya begitu rendah namun penuh penekanan yang tak tergoyahkan, “maka aku sendiri yang akan menebas naskah takdir itu dengan pedangku.”

Aria merasakan getaran hangat menjalar di dadanya. Namun, saat ia menurunkan pandangannya ke arah jubah Kael, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di bagian manset lengan baju Kael, terdapat noda abu-abu keperakan yang sangat tipis—sisa dari bubuk mesiu magis yang digunakan untuk mengaktifkan cawan necromancy tadi. Noda itu segar, seolah baru saja menempel sebelum mereka memasuki ruangan arsip.

Pikiran Aria berputar liar. Apakah Kael menyembunyikan sesuatu darinya? Atau... apakah musuh telah berada begitu dekat dengan sang Pangeran tanpa ia sadari?

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!