NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.8

Di bawah langit senja yang berwarna jingga keemasan di pantai yang tenang, nampak sepasang kekasih duduk berdampingan menikmati semilir angin yang lembut. Suara deburan ombak menjadi irama alami yang menemani percakapan canda dan tawa hangat sepasang kekasih itu. Dengan segelas minuman dingin di tangan, mereka berdua menikmati momen sederhana yang terasa begitu sempurna. Tatapan penuh cinta terpancar dari mata keduanya saat saling memandang.

" Maaf ya, Dok, aku harus membatalkan janji kemarin," kata Anna tiba-tiba, membahas sesuatu yang membuat Alvaro bingung.

"Janji yang mana? Aku lupa," jawab Alvaro dengan acuh tak acuh.

"Aku maksud janji untuk Eliz, Dokter. Kemarin aku terpaksa membatalkan rencana berobatnya sama kamu. Mama tiba-tiba menemukan dokter yang dianggap lebih cocok untuk Eliz," ujar Anna dengan nada yang agak berat.

"Oh, itu, tidak apa-apa," jawab Alvaro singkat. Wajahnya langsung berubah, seolah enggan membahas tentang Eliz.

“Dokter tidak marah?” desak Anna, semakin tak enak hati.

“Untuk apa marah, sayang? Lagipula hari ini aku hanya ingin membahas hubungan kita, bukan hal lain,” jelas Alvaro sambil menggenggam lembut lengan kekasihnya.

Anna mengangguk pelan, mengiyakan ucapan pria itu.

"Maaf ya, Dok," ucapnya dengan nada menyesal, lalu segera meminta maaf.

"Mulai hari ini, jangan panggil aku pak dokter lagi, ya. Besok atau kapan pun, panggil aku Mas atau Sayang saja," bisik Alvaro tepat di telinga Anna, membuat bulu kuduknya merinding.

Di momen itu, mereka tampak asyik membicarakan masa depan yang sudah lama mereka nantikan. Dari hal-hal kecil hingga rencana serius, Anna hampir tak percaya, tapi Alvaro terus meyakinkannya.

"Bagaimana kalau orang tuamu tidak setuju, Mas? Mereka belum pernah mengenalku," tanya Anna ragu.

"Jangan khawatir soal itu. Aku sudah cerita semuanya pada mama dan papa tentang hubungan kita. Mereka tidak ada yang keberatan," jawab Alvaro tenang.

" Terima kasih atas cintamu selama ini, Mas," bisik Anna hampir tak terdengar.

"Bulan depan aku akan datang melamarmu. Di depan ibumu, aku berjanji akan membahagiakanmu," janji Alvaro dengan suara mantap.

"Terlalu cepat, Mas. Nanti setelah aku wisuda, baru Mas boleh datang melamarku," pinta Anna dengan lembut.

"Kelamaan, sayang. Aku tidak bisa menunggu lebih lama," sahut Alvaro.

"Tinggal 5 bulan lagi, masa tidak bisa menungguku sedikit, Mas?" Anna mengerutkan kening sambil cemberut.

Angin laut berhembus pelan meyapu pesisir. Rambut Anna terurai indah. Menari lembut mengikuti arah angin.

Hari itu Anna dan Alvaro sibuk menenun masa depan dengan cinta yang begitu hangat. Di sampingnya Alvaro berjalan perlahan sambil sesekali menatap Anna dengan senyum tipis.

Rancangan lamaran hingga impian bulan madu di luar negeri yang jauh seolah tak sabar menantikan momen itu. Setiap tawa, tatapan dan janji yang terucap menjadikan dunia mereka lebih indah dari segalanya.

" Aku tidak sabar menikah denganmu, An," kata Alvaro, tak bisa menyembunyikan perasaannya. Anna memegang tangannya dengan lembut, memberikan ketenangan. "Kalau memang jodoh, pasti kita akan bertemu di akad nikah nanti, Mas," ucap Anna. Wajah teduhnya selalu berhasil membuat Alvaro merasa nyaman.

***

Siang itu langit menggantung teduh, seakan menahan cahaya agar tidak terlalu menyentuh halaman rumah keluarga Alvaro. Di tengah ketenangan yang tampak biasa itu, seorang wanita paru baya dengan hati yang penuh percaya diri. Tak seorang pun yang mengetahui kedatangannya. Bahkan Alvaro tak pernah membayangkan ibu sang kekasih datang menemui orang tuanya.

"Ting Tong Ting Tong"

Tidak berselang lama, pintu itu terbuka perlahan. Senyum ramah yang diukir di bibir tak mampu menghapus kegugupan di wajah Yusi.

" Saya ingin bertemu ibu Lidya, Nak. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya. Kebetulan, adik perempuan Alvaro yang masih duduk di bangku SMA membuka pintu. Dengan penuh tanda tanya di benaknya, ia melangkah ke belakang rumah untuk menemui ibunya, setelah mempersilakan tamunya duduk.

" Tante Yusi ada di depan, Ma. Katanya ingin ketemu mama." Kata Caca adik Alvaro, seolah ia sudah mengenal baik ibu dari kekasih sang kakak. Tanpa banyak bicara, ia menemui Alvaro di kamarnya.

Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Lidya terkejut. Di balik sikap tenang putranya, ada sesuatu yang disembunyikan. Terlebih ketika Alvaro lebih memilih kembali memeriksa kondisi pasien dengan sistem online daripada menemui ibu Anna  yang datang berkunjung.

" Jangan begini, Al. Bagaimana kalau dia memecat kamu sebagai calon mantunya," kelakar Lidya sebelum keluar menemui tamunya.

" Aku tidak bisa temani ibunya Anna, Ma. Aku buru-buru ke rumah sakit, ada pasien darurat" ujar Alvaro dengan suara sedikit dipelankan.

Lidya melangkah menghampiri tamunya, yang tak lain adalah Yusi, teman masa remajanya. Saat dalam perjalanan, Yusi sudah menghubungi Lidya untuk memberi tahu kedatangannya. Wanita itu hanya mengiyakan meski penasaran maksud dan tujuan kunjungan tersebut.

"Maaf ya, kamu sudah lama menunggu," kata Lidya. Yusi melempar senyum lembut sambil mengajak temannya duduk lebih dekat.

"Nak Alvaro di mana?" tanyanya, matanya menelisik sekeliling ruang tamu.

"Alvaro sedang sibuk hari ini, jadi tidak bisa menemani seperti biasanya," jawab Lidya dengan nada sedikit tak enak hati, meski ia tak ingin menghalangi kesibukan putranya.

Yusi dan Lidya terlihat sangat akrab, menandakan bahwa keduanya memang sudah lama menjalin persahabatan. Namun, siapa sangka di balik keakraban itu tersimpan kisah menarik yang tak pernah mereka ungkapkan. Mereka seolah sengaja menghindari pembicaraan tentang masa lalu, karena masing-masing sudah menemukan kebahagiaan baru.

"Kamu pasti penasaran, kenapa aku datang ke sini," kata Yusi setelah menceritakan banyak hal tentang perjalanan hidupnya. Lidya mengangguk, mencoba menebak apa yang akan disampaikan temannya.

" Ini tentang hubungan putriku dan putramu, dokter Alvaro," lanjut Yusi dengan wajah berseri-seri. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya saat ia terus bercerita tentang harapan dan kelebihan putrinya. Lidya hanya menyimak, tak banyak bicara.

Dalam benak Lidya, wanita di sampingnya sedang bercerita tentang Anna. Ia sudah tahu tentang hubungan putranya dengan wanita cantik itu, bahkan langsung mendengarnya dari mulut sang anak. Alvaro.

"Kita serahkan semuanya pada anak-anak saja, Yus. Mereka saling mencintai, dan sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukung niat baik mereka."

“Apakah ini berarti kamu menyetujui hubungan mereka?” Yusi bertanya lagi, kali ini dengan nada ingin memastikan.

“Tentu saja, Yus. Putraku memilih putrimu, dan sebagai orang tua, aku hanya ingin melihat putraku bahagia,” jawab Lidya dengan yakin. “Kalau putraku memilih putrimu, aku sama sekali tak keberatan, meski dulu pernah ada kisah di antara kita yang tak ingin kuingat lagi,” Lidya menambahkan, matanya sesaat menerawang ke masa lalu.

“Aku minta maaf, Lidya. Tolong lupakan semuanya. Aku tidak ingin kamu membalas dendam lewat putriku.”

“Oh, tentu bukan begitu maksudku. Jika putraku resmi mempersunting putrimu, maka sejak hari itu, aku akan menganggapnya sebagai putriku sendiri.”

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!