NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pandangan mata Bianca mendadak terhenti di sebuah meja privat di sudut ruangan.

Di sana, duduk seorang pria berkemeja abu-abu santai. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya da tidak terpesona oleh kecantikannya.

Pria itu hanya duduk tenang sambil menatap lurus ke luar jendela seolah keberadaan Bianca di restoran itu tak lebih dari sekadar angin lalu. Pria itu adalah Darius.

Langkah kaki Bianca terhenti sejenak, alis tipisnya berkerut halus. Sebagai putri Keluarga Mahadinata, ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian dan dipuja ke mana pun ia melangkah.

Melihat seorang pria yang sepenuhnya mengacuhkannya bahkan memancarkan ketenangan yang begitu pekat dan misterius membuat rasa ingin tahu di dalam hatinya terusik.

"Nona Bianca? Ada masalah?" tanya asisten pribadinya yang berjalan tepat di belakangnya dengan nada cemas.

"Tidak ada," sahut Bianca pendek, suaranya mengalun merdu namun tegas bagaikan kristal. "Ayo naik."

Sebelum melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai atas, Bianca sempat melirik sekali lagi ke arah Darius.

'Pria yang aneh... Tapi aura di tubuhnya sungguh tidak biasa,' batin Bianca seraya mengukir senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun.

Tak lama setelah Bianca melangkah naik ke lantai atas, seorang pramusaji membawa hidangan Wagyu A5 Ribeye beserta secangkir kopi hitam tanpa gula ke meja Darius.

"Selamat menikmati hidangan Anda, Tuan," ucap pramusaji itu dengan sopan sebelum mundur kembali.

Darius menikmati makan siangnya tanpa terburu-buru, sama sekali tak terpengaruh oleh hiruk-pikuk pengunjung lain yang masih membicarakan Bianca Mahadinata.

Setelah menyelesaikan makan siangnya dan meminum habis kopi hitamnya, Darius memanggil seorang pramusaji untuk melakukan pembayaran.

"Ini tagihan Anda, Tuan," ucap pramusaji itu dengan ramah seraya menyerahkan sebuah map kecil.

Darius melirik angka yang tertera di map tersebut. Ia lalu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam beraksen emas milik Bank of Auritania ke atas meja.

Pramusaji wanita itu sempat terkejut melihat jenis kartu yang sangat langka itu, namun ia dengan cepat mengendalikan ekspresinya dan segera memproses pembayaran.

"Terima kasih banyak, Tuan. Pembayaran sudah berhasil," tutur pramusaji itu sambil membungkuk sewaktu mengembalikan kartu milik Darius.

Darius mengambil kartunya, menyimpan kembali ke saku, lalu bangkit berdiri. Dengan langkah tegap dan santai, ia melangkah menuju pintu keluar Savoire House.

Saat Darius tiba di pelataran depan, dua petugas valet parking sudah memarkirkan Bugatti Veyron hitam-merah tersebut tepat di depan anak tangga utama.

Kedua petugas itu berdiri tegak sambil memegang kunci dengan ekspresi penuh kekaguman dan kecemasan, takut goresan sekecil apa pun menempel pada mobil tersebut.

"Mobil Anda sudah siap, Tuan," ujar salah satu petugas valet seraya menyerahkan kunci dengan kedua tangannya.

Darius menerima kunci tersebut, membuka pintu, lalu masuk. Ia segera memindahkan tuas transmisi dan memutar kemudi, meninggalkan pelataran Savoire House.

Di lantai atas, dari balik jendela kaca transparan ruangan VIP utama, Bianca Mahadinata tampak berdiri kaku seraya memegang cangkir tehnya.

Matanya yang tajam menatap lurus ke bawah, menyaksikan Bugatti Veyron hitam-merah itu melaju pergi meninggalkan restoran.

"Nona Bianca, ada yang mengganggu pikiran Anda?" tanya asisten pribadinya yang berdiri di dekatnya.

Bianca menyesap teh hangatnya dengan pelan, mata indahnya menyipit menatap siluet mobil hypercar yang perlahan menghilang di jalan raya.

"Pria berkemeja abu-abu tadi..." bisik Bianca denga0n suara pelan. "Dia pemilik Bugatti Veyron itu."

Asistennya terkejut sejenak. "Bugatti Veyron? Bukankah itu salah satu mobil termahal di dunia? Apakah dia salah satu pengusaha dari luar negeri?"

"Entahlah," sahut Bianca dingin namun penuh minat. "Cari tahu siapa pria itu. Aku ingin data lengkapnya sebelum makan malam nanti."

"Baik, Nona. Akan segera saya laksanakan."

Sementara itu, Bugatti Veyron itu kembali melesat mulus membelah jalanan Ibukota.

Raungan mesinnya menggelegar tenang, membuat kendaraan di sekitarnya refleks memberi jalan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil tersebut mulai memperlambat lajunya saat mendekati gerbang besi setinggi lima meter milik Perumahan Dama Sanctuary.

Dari kejauhan, sang komandan keamanan dan para petugas berseragam taktis yang bersiaga di pos penjagaan sudah mengenali raungan mesin Bugatti Veyron tersebut.

"Buka gerbang! Tuan kembali!" teriak sang komandan keamanan dengan sigap melalui radio komunikasi.

Palang pintu otomatis terangkat seketika, dan gerbang besi itu terbuka lebar bahkan sebelum mobil Darius menyentuh garis batas.

Empat petugas keamanan langsung berdiri dalam posisi siap, lalu membungkukkan badan saat Bugatti Veyron hitam-merah itu melintas masuk.

Darius membawa Bugatti Veyron tersebut meluncur turun menuju garasi bawah tanah. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera mematikan mesin.

Pria itu lalu keluar dari mobil, lalu berjalan menuju lift pribadi yang membawanya kembali ke lantai utama mansion.

TING!

Pintu lift terbuka di area aula utama. Angelina, sang kepala pelayan, bersama lima pelayan wanita lainnya langsung berdiri rapi menyambutnya.

"Selamat datang kembali, Tuan," sapa Angelina dengan suara yang lembut dan penuh penghormatan. "Apakah perjalanan Anda lancar?"

"Lancar," jawab Darius singkat dan datar. Sebuah jawaban yang terlalu dingin untuk mengundang pertanyaan susulan.

Angelina melangkah satu jengkal lebih dekat. "Apakah Tuan ingin saya menyiapkan kamar utama atau ada hal lain yang Anda butuhkan?"

Darius mengedarkan pandangannya ke sekeliling interior mansion yang luas, tenang, dan tertata sempurna. Tempat ini jauh lebih nyaman daripada mansion milik Keluarga Adhitama.

"Siapkan kamar utama," perintah Darius tenang. "Aku ingin beristirahat sejenak di sini hingga sore hari."

"Baik, Tuan. Kamar utama di lantai dua telah kami siapkan. Silakan," ujar Angelina seraya mengisyaratkan tangan ke arah tangga utama dengan penuh kehangatan.

Para pelayan wanita lainnya menundukkan kepala dengan hati berdebar saat Darius melangkah melewati mereka. Aura yang dipancarkannya membuat rasa kagum semakin tumbuh di hati mereka.

Darius menaiki anak tangga menuju kamar utama. Begitu pintu kamar berarsitektur modern-klasik itu terbuka, ketenangan murni menyambutnya.

Darius lalu menarik kursi di dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan taman pribadi mansion. Ia mengeluarkan ponsel miliknya, lalu menekan tombol panggilan cepat.

Panggilan itu hanya berdering satu kali sebelum suara Julian terdengar di seberang telepon dengan intonasi penuh kesigapan dan penghormatan.

"Tuan," sapa Julian dengan cepat. "Apakah ada instruksi baru untuk saya?"

"Julian," ucap Darius datar, sorot matanya menatap ke arah taman di luar jendela kamarnya. "Siapkan sebuah mobil yang tidak terlalu mencolok dan tempatkan di luar gerbang Perumahan Dama Sanctuary sebelum jam empat."

Julian tidak mempertanyakan alasan di balik perintah tersebut. Sebagai bawahan yang sangat memahami garis berpikir Darius, ia tahu betul tuannya itu pasti tidak ingin menarik perhatian yang tak perlu.

"Siap, Tuan," jawab Julian tanpa ragu sedikit pun. "Saya akan menyuruh salah satu anak saya untuk menyiapkannya dan langsung memarkirkannya di luar gerbang Perumahan Dama Sanctuary."

"Bagus," pungkas Darius dengan pendek. "Pastikan kuncinya diberikan kepada komandan penjaga gerbang."

"Akan segera dilaksanakan, Tuan."

Setelah mematikan sambungan telepon, Darius melangkah menuju tempat tidur berukuran king-size di tengah kamar utama.

Ia membaringkan tubuhnya, lalu mulai memejamkan mata, dan beristirahat dalam ketenangan yang murni.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!