Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
"Hampir saja..." gumam Arka sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Kalau sampai ditangkap petugas keamanan, mau kujelaskan apa? Masa aku bilang, 'Pak, saya bangkit dari mati terus dapat sistem superhero'?"
[Ting!]
[Saran Sistem: Risiko terdeteksi kamera pengawas (CCTV) di area luar gedung mencapai 78%. Segera berganti pakaian dan bergerak ke koordinat aman.]
Sebuah garis transmisi biru tipis tiba-tiba muncul di pandangan mata Arka, membimbingnya menyusuri atap menuju ke arah bagian belakang rumah sakit, tepatnya dekat area ruang ganti staf dan jemuran pos penjagaan.
"Kau ini memang serba tahu ya, Sistem," bisik Arka sambil merayap pelan di balik bayangan pagar pembatas. "Tapi minimal kasih tahu aku dulu, kenapa aku bisa dapat sistem ini? Bukannya aku harusnya sudah mati karena operasi tadi?"
[Memproses jawaban: Jiwa Anda dinilai memiliki kompatibilitas 99.8% dengan Sistem Penyelamat Takdir. Nyawa Anda dikembalikan sebagai bentuk kontrak kerja sama.]
"Kontrak kerja sama? Berarti aku jadi semacam buruh penolong nyawa orang, begitu?" Arka menghela napas, setengah tertawa miris.
Langkahnya terhenti ketika melihat jendela kecil ruangan ganti perawat yang sedikit terbuka.
Di dalam, tidak ada orang. Sebuah jemuran berdiri di sudut ruangan, menampilkan beberapa stel pakaian dinas dan pakaian bebas milik staf yang tertinggal.
Arka tidak berpikir dua kali. Dengan gerakan cepat dan lincah, efek dari peningkat imunitas dan fisik dari Sistem, ia menyelinap masuk melalui jendela.
"Maafkan aku, siapa pun pemilik baju ini. Anggap saja ini pinjaman darurat," bisik Arka seraya melepas kain kafan yang melilit tubuhnya.
Ia mengambil sebuah kaus hitam polos, celana jeans longgar, dan sepasang sepatu kets yang agak kebesaran.
Begitu pakaian itu melekat di tubuhnya, Arka merasa seperti manusia utuh kembali. Kain kafan yang tadi membalutnya dilipat rapi dan ditinggalkan di sudut meja.
Namun, saat ia hendak melangkah keluar melalui pintu belakang, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah koridor dalam.
"Cari pria yang pakai kain kafan itu! Jangan sampai dia keluar dari kompleks rumah sakit!" suara Dokter Senior yang tadi menggelegar dari jauh.
"Dokter, penjaga kamar mayat bilang dialah jenazah yang hilang dari Meja Nomor 4!" timpal suara petugas keamanan yang lain.
"Tidak masuk akal! Mana ada orang mati bisa bangun, menyelamatkan orang, terus lompat dari lantai tiga?! Periksa semua sudut!"
Arka menyeringai kecil di balik kegelapan. Ia memutar gagang pintu belakang, lalu menyelinap keluar menuju jalan raya yang mulai sepi.
[Ting!]
[Zona Bahaya Terlewati.]
[Menampilkan Antarmuka Status Pengguna:]
[Nama: Arka]
[Status: Hidup Kembali (Tingkat 1)]
[Poin: 1.500]
[Keterampilan: Pengetahuan Medis Dasar, Analisis Saraf Pusat]
Arka memandangi layar transparan itu sambil berjalan santai di bawah pendar lampu jalanan.
Dunia luar terasa sangat berbeda malam ini. Suara jangkrik, hembusan angin, bahkan bau asap kendaraan terasa luar biasa berharga baginya yang baru saja merasakan dinginnya ruang kematian.
"Poin 1.500... Ini bisa dipakai buat apa saja selain menolong orang?" tanya Arka pelan.
[Poin Takdir dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan fisik, membuka keahlian medis tingkat lanjut, atau menukar barang khusus di Toko Sistem.]
[Peringatan: Misi Utama Berikutnya akan diaktifkan dalam 24 Jam. Disarankan untuk mencari tempat tinggal dan merapikan identitas Anda.]
Arka merogoh saku celana jeans pinjamannya dan menemukan dompet tipis beserta beberapa lembar uang ratusan ribu yang tertinggal, mungkin milik perawat pemilik celana.
"Aduh, mas perawat yang punya celana ini baik banget," kekeh Arka. "Nanti kalau ketemu pasti kukembalikan."
Ia menghentikan langkahnya di pinggir jalan raya, menatap ke langit malam yang bertabur bintang tipis.
Hidup keduanya baru saja dimulai, dan ia tahu, jalan di depannya tidak akan pernah sama lagi.
"Oke, Sistem," kata Arka dengan senyum penuh keyakinan. "Mari kita lihat, siapa lagi nyawa yang harus kita selamatkan besok."