NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cuaca Dingin Tetapi Otak Sedang Panas

Perjalanan pulang menuju Kediaman Alexander terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Emma duduk di kursi belakang mobil.

Kepalanya bersandar pada jendela.

Pemandangan Kota London berlalu begitu saja tanpa benar-benar ia lihat.

Yang terus terbayang justru satu kejadian di ruang CEO.

Emma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Astaga...bodoh..bodoh dasar gadis bodoh!"

gumamnya lirih.

"Apa yang sudah kulakukan..."

Bukan.

Yang lebih tepat...

"Apa yang baru saja terjadi?"

Ia mendengus kesal pada dirinya sendiri.

"Lain kali jangan terlalu dekat dengannya Emma, Aku memperingatkan mu!"

"Dasar bodoh."

"Kau malah terpancing. Sungguh menjijikan."

"Mudah-mudahan tamparan tadi tidak membuatnya curiga. Itu sangat spontan untuk pria mesum sepertinya."

Sopir di depan sempat melirik melalui kaca spion.

Namun memilih diam.

Sesampainya di Alexander Manor...

Emma langsung naik ke lantai dua.

Hannah yang hendak menyambutnya bahkan tidak sempat mengucapkan salam.

"Nyonya anda sudah kembali?"

"Tolong jangan.. Aku sedang tidak ingin diganggu siapapun."

"Baik, Nyonya."

Pintu kamar tertutup.

Brak.

Emma berjalan mondar-mandir.

Lima putaran.

Sepuluh putaran.

Tetap saja kepalanya penuh.

Ia mengambil sebuah buku.

Membaca dua halaman.

Menutupnya lagi.

Tidak masuk satu kalimat pun.

Ia mencoba menyalakan televisi.

Lima menit kemudian dimatikan.

Membosankan.

Ia mencoba bekerja menggunakan laptop.

Baru sepuluh menit.

Fokusnya kembali buyar.

"Sial... Kenapa pikiran ku terasa sangat terganggu."

Emma mengacak rambut pirangnya sendiri.

"Kenapa aku terus mengingatnya?"

Ia berdiri mendadak.

"Tidak."

"Aku harus melakukan sesuatu."

Setelah berganti pakaian...

Emma mengenakan pakaian renang merah berenda miliknya yang memang dibawanya sewaktu liburan itu.

Ia berjalan menuju kolam renang pribadi di belakang mansion.

Hannah yang melihatnya tampak khawatir.

"Nyonya..."

"Hari ini cukup dingin untuk berada diluar ruangan."

Emma hanya menjawab singkat.

"Aku tahu kalau cuaca sedang dingin."

"Airnya pasti sangat dingin."

"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa."

"Tapi Nyonya nanti Tuan akan.."

"Hannah."

Emma menoleh.

"Aku hanya ingin berenang bukan nya menyiksa diri sendiri."

Hannah langsung mengangguk.

"Baik. saya akan menyediakan handuk kering dan minuman hangat jika diperlukan."

Tak lama kemudian...

Byur!

Emma melompat ke dalam kolam.

Air dingin langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Namun anehnya...

Justru itu yang ia inginkan.

Ia berenang tanpa henti.

Satu putaran.

Dua putaran.

Lima putaran.

Sepuluh putaran.

Napasnya mulai memburu.

Namun ia tidak berhenti.

"Lupakan."

"Lupakan ciuman itu."

"Lupakan."

Air dingin tidak mampu mendinginkan pikirannya.

Justru otaknya terasa semakin panas.

Emma berhenti di tepi kolam.

Mengusap wajahnya.

"Luar biasa."

gumamnya sinis.

"Air sedingin ini..."

"...tetap kalah dengan kekacauan di kepalaku."

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Tidak ada rasa apa-apa."

"Hanya..."

"...kejadian itu terlalu memalukan. Ella maafkan aku.. Aku bahkan malu menghubungi mu untuk sekarang ini."

Sementara itu...

Alexander Group.

Ralph menatap layar laptopnya.

Masih ada tiga dokumen yang harus ia selesaikan.

Biasanya...

Ia tidak akan pulang sebelum semuanya selesai.

Namun hari itu...

Ia membaca satu paragraf.

Lalu pikirannya melayang.

Yang muncul justru wajah Emma.

Cara wanita itu menatapnya.

Cara ia marah.

Dan tamparan yang mendarat di pipinya.

Ralph tanpa sadar kembali menyentuh bibirnya.

Sekretarisnya mengetuk pintu.

"Tuan?"

"Masuk."

Christina masuk membawa kopi.

"Masih ada dua berkas yang harus diperiksa."

Ralph menatap jam.

Baru pukul lima sore.

Masih terlalu awal baginya untuk pulang.

Namun entah mengapa...

Hari ini ia tidak ingin berada di kantor lebih lama.

"Besok saja."

Christina tampak terkejut.

"Besok?"

"Ya."

"Tapi biasanya Tuan.."

"Aku tahu kebiasaanku. Tapi saat ini aku punya urusan yang sangat mendesak."

Nada suara Ralph tetap tenang.

Namun tegas.

Christina mengangguk.

"Baik Tuan, saya permisi."

Setelah sekretarisnya keluar...

Ralph menutup laptop.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun...

Ia meninggalkan kantor sebelum matahari terbenam.

Alexander Manor.

--------

Hannah sedang menyajikan teh hangat di teras belakang.

Ia terkejut ketika melihat mobil Ralph memasuki halaman.

"Tuan?"

Ralph turun dari mobil.

"Hannah."

"Anda pulang lebih awal."

"Hm.. Pekerjaan hari ini sudah selesai jadi aku pulang lebih awal."

Ralph menyerahkan tas kerjanya.

"Aku ingin beristirahat lebih awal hari ini."

"Baik, Tuan."

Ralph hendak masuk ke dalam rumah.

Namun suara percikan air membuat langkahnya berhenti.

Byur.

Byur.

Ia menoleh ke arah kolam renang.

Di sana...

Emma masih berenang.

Rambut pirangnya basah menempel di wajah.

Gerakannya cepat.

Seolah sedang melampiaskan sesuatu.

Ralph berdiri beberapa saat.

Memperhatikannya.

Hannah mengikuti arah pandangan majikannya.

"Nyonya sudah berenang hampir dua jam."

Ralph sedikit mengernyit.

"Dua jam?"

"Iya."

"Saya sudah beberapa kali mengingatkan karena cuacanya dingin."

"Tetapi Nyonya tetap tidak mau berhenti."

Ralph kembali memandang Emma.

Beberapa menit kemudian...

Emma akhirnya naik dari kolam.

Begitu melihat Ralph berdiri di teras...

Ia membeku.

"Kau?"

Emma benar-benar terkejut.

"Kau sudah pulang?"

Ralph mengangguk pelan.

"Hari ini lebih cepat."

Emma mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Bukankah tadi masih banyak pekerjaan?"

"Ada."

"Dan?"

"Aku hanya ingin cepat pulang."

Jawaban singkat itu membuat Emma semakin heran.

Ia mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya.

"Kau sakit?"

"Tidak."

"Rapat dibatalkan?"

"Tidak."

"Lalu kenapa?"

Ralph tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada Emma yang masih berdiri di tepi kolam dengan rambut basah.

Wanita itu tampak berbeda di bawah cahaya matahari sore.

Bukan karena pakaian renangnya.

Melainkan karena ekspresi hidup yang selama lima tahun tidak pernah ia lihat pada diri Ella.

Ralph akhirnya duduk di kursi teras.

"Teruskan saja."

Emma mengernyit.

"Apa?"

"Berenang."

"Aku tidak akan mengganggumu."

Emma menatap Ralph beberapa detik.

Aneh.

Biasanya pria itu akan masuk ke ruang kerja atau perpustakaan.

Hari ini...

Ia justru duduk diam memandanginya.

"Ada yang aneh denganmu."

ucap Emma terus terang.

"Mungkin saja."

jawab Ralph pelan.

Emma mendecakkan lidah.

"Dasar pria aneh."

Ia kembali masuk ke kolam.

Namun kini setiap kali muncul ke permukaan...

Ia bisa merasakan sepasang mata terus mengikutinya.

Dan untuk pertama kalinya...

Emma benar-benar merasa tidak nyaman.

Bukan karena takut.

Melainkan karena tatapan Ralph telah berubah.

Tidak lagi sekadar rasa penasaran.

Di dalam tatapan pria itu mulai tumbuh ketertarikan yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Ralph sendiri tidak berusaha menyangkalnya.

Selama bertahun-tahun ia menjalani pernikahan tanpa perasaan.

Namun hanya dalam beberapa hari setelah "perubahan" istrinya...

Wanita itu berhasil memenuhi pikirannya, mengacaukan ritme kerjanya, bahkan membuatnya pulang lebih awal hanya karena ingin melihatnya sekali lagi.

Perasaan itu masih asing baginya.

Tetapi satu hal mulai ia sadari.

Ia tidak lagi ingin menjaga jarak dengan istrinya.

Dan kesadaran itu adalah awal dari obsesi yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!