NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Sarapan Pertama Bersama

Pagi itu Rubi terbangun dengan perasaan yang cukup aneh.

Entah kenapa tidurnya terasa sangat nyenyak semalam.

Bahkan untuk pertama kalinya sejak berada di dunia ini, ia tidak memimpikan kehidupan lamanya.

Tidak ada panti asuhan.

Tidak ada kafe tempatnya bekerja.

Tidak ada jalan raya tempat dirinya kehilangan nyawa.

Yang ada hanya rasa tenang yang sulit dijelaskan.

Rubi duduk perlahan di atas ranjang lalu mengusap matanya.

Tangannya refleks menyentuh perutnya.

Senyum kecil langsung muncul.

"Selamat pagi."

Ia masih sering melakukan kebiasaan itu.

Berbicara kepada bayi yang bahkan belum lahir.

Meski terdengar konyol, Rubi merasa bayi itu adalah satu-satunya orang yang benar-benar terhubung dengannya di dunia ini.

Setelah mandi dan bersiap, Rubi turun ke ruang makan.

Biasanya ia sarapan sendirian.

Alexander hampir selalu pergi lebih awal sebelum dirinya bangun.

Karena itu Rubi tidak terlalu berharap akan bertemu dengannya.

Namun saat memasuki ruang makan, langkahnya langsung terhenti.

Alexander sudah berada di sana.

Pria itu duduk di ujung meja panjang sambil membaca beberapa dokumen.

Masih mengenakan kemeja hitam yang rapi.

Masih dengan wajah datarnya yang sulit ditebak.

Namun tetap saja kehadirannya membuat ruangan terasa penuh.

Rubi berkedip beberapa kali.

"Eh?"

Alexander mengangkat kepala.

Tatapan abu-abunya langsung bertemu dengan Rubi.

"Pagi."

Rubi hampir mengira dirinya salah dengar.

Alexander baru saja menyapanya lebih dulu.

"P-pagi."

Rubi segera duduk di kursinya.

Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandangan diam-diam.

Hubungan Tuan Muda dan Nyonya Muda memang terasa berbeda akhir-akhir ini.

Tidak terlalu dekat.

Tetapi juga tidak sedingin dulu.

Seorang pelayan segera menyajikan sarapan.

Aroma makanan hangat langsung memenuhi ruangan.

Namun saat Rubi hendak mengambil roti, aroma telur membuat perutnya mendadak mual.

Wajahnya langsung berubah.

Alexander yang sedang membaca dokumen langsung menyadarinya.

"Apa yang terjadi?"

Rubi menutup hidungnya.

"Baunya..."

Alexander menoleh ke arah meja.

Lalu tanpa ragu berkata,

"Singkirkan."

Pelayan langsung bergerak cepat.

Dalam hitungan detik, hidangan yang membuat Rubi mual sudah diganti.

Rubi menatap Alexander.

"Maaf."

"Kau tidak perlu minta maaf setiap saat."

Jawaban itu membuat Rubi terdiam.

Pria itu memang masih dingin.

Tetapi akhir-akhir ini kata-katanya tidak setajam dulu.

Sarapan kembali berlangsung tenang.

Sampai akhirnya Rubi memberanikan diri bertanya.

"Hari ini Anda tidak ke kantor?"

"Akan berangkat nanti."

"Oh."

Suasana kembali hening.

Jujur saja, Rubi masih belum terbiasa mengobrol dengan Alexander.

Karena pria itu sering membuatnya bingung.

Kadang terlihat sangat jauh.

Kadang justru memperhatikannya secara diam-diam.

Sementara Alexander diam-diam memperhatikan Rubi yang sedang makan.

Wanita itu terlihat jauh lebih sehat dibanding beberapa minggu lalu.

Wajahnya tidak lagi pucat.

Bahkan pipinya mulai sedikit berisi.

Setidaknya itu membuatnya lega.

Tanpa sadar, pikirannya kembali pada kejadian semalam.

Saat ia merasakan gerakan bayi itu.

Sampai sekarang sensasinya masih terasa jelas.

Alexander menurunkan pandangan ke arah perut Rubi.

Kemudian bertanya pelan.

"Dia bergerak lagi?"

Rubi yang sedang minum hampir tersedak.

"Hah?"

Alexander terlihat sedikit canggung.

Hal yang sangat langka.

"Bayi."

"Oh."

Rubi langsung tersenyum.

"Iya. Beberapa kali."

Alexander mengangguk pelan.

Meski wajahnya tetap datar, ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Dan Rubi menangkapnya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat antusiasme kecil di sana.

Meski sangat samar.

Namun tetap ada.

Siang harinya.

Alexander sudah berangkat ke kantor.

Sementara Rubi memutuskan menghabiskan waktu di perpustakaan.

Belakangan membaca menjadi cara terbaik untuk mengalihkan pikirannya.

Saat sedang memilih buku di rak, kepala pelayan tiba-tiba datang menghampiri.

"Nyonya muda."

"Iya?"

"Ada surat undangan."

"Undangan?"

Pria tua itu menyerahkan sebuah amplop berwarna emas.

Rubi menerimanya dengan bingung.

Saat membuka isi surat, alisnya langsung berkerut.

Acara keluarga Dimitri.

Minggu depan.

Dan namanya tercantum sebagai tamu utama bersama Alexander.

Rubi langsung menghela napas panjang.

Ia hampir lupa soal acara keluarga yang sempat dibicarakan beberapa hari lalu.

Jujur saja, ia tidak terlalu bersemangat.

Karena dari pertemuan sebelumnya saja sudah terlihat jelas bahwa sebagian keluarga Alexander tidak menyukainya.

"Nyonya muda tidak perlu khawatir."

Kepala pelayan tiba-tiba berkata.

Rubi menoleh.

"Hm?"

"Tuan muda pasti akan menjaga Nyonya."

Rubi tertawa kecil.

"Saya rasa saya tidak selemah itu."

Kepala pelayan ikut tersenyum.

"Tentu saja."

Meski begitu, dalam hati Rubi tetap merasa gugup.

Karena ia tahu satu hal.

Keluarga besar yang berebut kekuasaan biasanya jauh lebih berbahaya daripada orang asing.

Sore hari.

Rubi sedang berjalan di taman ketika ponselnya bergetar.

Sejak datang ke dunia ini, ia memang menerima ponsel milik Rubi asli.

Namun hampir tidak pernah digunakan.

Karena kebanyakan kontak di dalamnya adalah orang-orang yang tidak dikenalnya.

Saat melihat layar, nama yang muncul membuat Rubi bingung.

Clara.

Dari ingatan yang dimilikinya, Clara adalah salah satu teman Rubi asli.

Jarang menghubungi.

Tetapi cukup dekat.

Rubi ragu beberapa detik sebelum menjawab.

"Halo?"

Suara seorang wanita langsung terdengar.

"Rubi?"

"Iya."

"Kamu baik-baik saja?"

Rubi sedikit terkejut.

"Iya."

"Syukurlah."

Suara Clara terdengar lega.

"Aku dengar kamu sakit beberapa waktu lalu."

"Oh, cuma demam."

Percakapan berlanjut cukup lama.

Dan dari sana Rubi mengetahui beberapa hal baru tentang kehidupan pemilik tubuh ini.

Ternyata Rubi asli tidak memiliki banyak teman.

Bahkan bisa dihitung dengan jari.

Mungkin karena kehidupannya berubah drastis setelah menikah dengan Alexander.

Saat panggilan berakhir, Rubi menatap layar ponsel cukup lama.

Semakin banyak ia mengetahui kehidupan Rubi asli, semakin ia merasa kasihan.

Wanita itu benar-benar hidup sendirian.

Tidak memiliki keluarga.

Tidak memiliki banyak teman.

Dan menikah dengan pria yang saat itu bahkan tidak mencintainya.

"Berat juga hidupmu."

gumam Rubi pelan.

Malam hari.

Alexander pulang lebih larut dari biasanya.

Saat memasuki ruang keluarga, ia menemukan Rubi tertidur di sofa.

Sebuah buku masih berada di atas pangkuannya.

Lampu ruang keluarga masih menyala.

Alexander menghela napas pelan.

Wanita ini benar-benar tidak bisa menjaga dirinya sendiri.

Ia berjalan mendekat.

Kemudian mengambil buku yang hampir jatuh dari tangan Rubi.

Gerakan kecil itu membuat Rubi terbangun.

"Hm..."

Matanya terbuka perlahan.

Saat melihat Alexander, ia langsung duduk tegak.

"Anda sudah pulang?"

"Iya."

Rubi mengucek matanya.

"Maaf. Saya ketiduran."

Alexander memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

"Kalau mengantuk, tidur di kamar."

Rubi tertawa malu.

"Saya cuma mau baca sebentar."

"Hasilnya malah tidur di sofa."

Rubi tidak bisa membantah.

Alexander menggeleng pelan.

Lalu mengulurkan tangan.

"Ayo."

Rubi menatap tangan itu dengan bingung.

"Apa?"

"Bangun."

Untuk sesaat jantung Rubi berdetak lebih cepat.

Namun akhirnya ia menerima bantuan itu.

Tangan Alexander hangat.

Dan kuat.

Begitu berdiri, Rubi langsung melepaskannya karena malu.

Sementara Alexander pura-pura tidak menyadari reaksi itu.

"Malam sudah larut."

"Iya."

"Istirahat."

Rubi mengangguk.

"Selamat malam."

Alexander terdiam sesaat.

Lalu menjawab pelan.

"Selamat malam, Rubi."

Dan tanpa disadari keduanya, hubungan yang awalnya hanya dibangun oleh kesepakatan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat.

Sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan sejak awal.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!