Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan di tengah kehancuran
Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam ruangan beton yang senyap itu. Sudah dua bulan berlalu sejak malam kelam di mana Salsa diseret dan dibuang dari dunianya yang megah.
Dua bulan pula wanita itu dikurung dalam ruangan yang dingin, gelap, dan lembab, terasing dari peradaban seolah dirinya telah mati dan dihapus dari muka bumi.
Setiap hari, tanpa absen satu kali pun, Salsa dicekoki obat-obatan dalam jumlah yang begitu banyak.
Pil-pil berwarna-warni dipaksakan masuk ke dalam tenggorokannya yang kering, dan tak terhitung pula sudah berapa banyak jarum suntik yang menusuk kulit lengannya yang kini dipenuhi bekas memar kebiruan.
Zat kimia dosis tinggi itu bekerja tanpa ampun, menghancurkan benteng pertahanan mentalnya hari demi hari.
Sekarang, Salsa tidak lagi diikat tangan dan kakinya di atas brankar besi. Pihak rumah sakit jiwa menilai Pasien 5006 tidak lagi menunjukkan kecenderungan agresif yang membahayakan.
Namun, pelonggaran itu terjadi karena sebuah kondisi yang tragis: kesadaran Salsa sudah mulai hilang. Efek destruktif dari obat penenang konsentrasi tinggi telah menumpulkan fungsi kognitifnya secara perlahan.
Salsa kini hanya bisa melamun di sudut ruangan, duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin dengan kedua lutut ditekuk di depan dada.
Sepasang matanya yang kosong menatap lurus tanpa berkedip ke arah satu titik cahaya kecil yang menyusup dari lubang beton di bagian atas dinding.
Tatapan itu menyiratkan sebuah keputusasaan yang teramat dalam, seolah-olah ia masih menyimpan secercah harapan kecil yang semu, berharap ada seseorang, entah itu papanya atau bahkan keajaiban, yang akan datang mengetuk pintu besi itu dan menjemputnya pulang dari neraka ini.
Penampilan Salsa telah berubah total, nyaris tidak lagi menyisakan jejak sebagai seorang putri konglomerat yang dulu selalu tampil menawan dan glamor.
Rambutnya yang dulu panjang, hitam legam, dan berkilau terawat, sekarang tampak kusut, kusam, dan berantakan karena tidak jarang tersentuh sisir.
Wajahnya yang tirus terlihat sangat sayu, kulitnya pucat pasi kehilangan rona kehidupan, dan kedua matanya tampak cekung dikelilingi lingkaran hitam yang tebal.
Salsa tidak lagi berteriak histeris. Ia tidak lagi menggedor-gedor pintu atau meminta tolong dengan suara melengking seperti bulan-bulan pertama. Suaranya telah habis, begitu pula dengan energinya.
Di tengah keheningan ruangan yang mencekam, bibir pucatnya kini hanya sesekali bergerak tanpa suara, bergumam lirih mengulang satu pertanyaan yang sama seolah menjadi mantra kepasrahannya....
"Apa salahku...?"
Kondisi fisik dan mental Salsa yang memburuk membuat sensor sarafnya mulai terganggu secara serius. Jiwanya seolah telah menarik diri dari cangkang tubuhnya. Karena itulah, ketika suara dentum berat pintu besi ruangan itu terbuka lebar, Salsa tidak memberikan respon sedikit pun. Kepalanya tidak menoleh, jemarinya tidak bergerak, dan fokus matanya tetap terpaku pada titik cahaya di dinding beton.
Seorang perawat wanita yang usianya sudah paruh baya melangkah masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengenakan seragam putih bersih, membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup daging hangat dan segelas air putih. Namanya Suster Weni.
Di antara sekian banyak staf medis yang memperlakukan Salsa seperti objek uji coba tak berharga, hanya Suster Weni yang selalu memandang wanita muda itu dengan mata kemanusiaan.
Suster Weni menghentikan langkahnya beberapa jengkal di depan Salsa. Ia berlutut di atas lantai yang dingin, menaruh nampan makanan itu di dekat kaki Salsa.
Matanya menatap lekat tubuh kurus di hadapannya dengan pandangan yang sarat akan rasa prihatin dan iba yang teramat mendalam.
Namun, sebagai pekerja rendahan yang terikat sistem dan perintah atasan serta ancaman dari orang-orang berkuasa di balik penahanan Salsa, Suster Weni tidak bisa berbuat apa-apa untuk membebaskannya.
"Makanlah Salsa!" Pinta wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat lembut, hampir menyerupai bisikan seorang ibu.
Salsa tetap diam mematung bagai patung lilin. Tidak ada respon, tidak ada kedipan mata yang menandakan bahwa ia mendengar suara tersebut.
Tubuhnya yang kini terbungkus gaun pasien longgar, bukan lagi kain tipis ternoda, tampak semakin kurus kering, tulang selangkanya menonjol tajam karena ia terlalu sering menolak makanan yang diberikan.
Melihat keras kepalanya sang pasien, Suster Weni menghela napas panjang. Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Salsa, lalu berbisik dengan nada yang penuh penekanan rahasia.
"Kamu harus makan Salsa. Kamu harus kuat supaya tubuhmu bisa melawan racun dari obat-obatan yang setiap hari disuntikkan ke dalam tubuhmu! Jika kamu menyerah dan berhenti makan, obat-obat itu akan menghancurkan otakmu sepenuhnya"
Bisikan bernada mendesak dari Suster Weni seolah berhasil menembus lapisan kabut tebal yang menyelimuti pikiran Salsa.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, Salsa menolehkan kepalanya. Ia menatap mangkuk sup daging yang ada di depannya.
Uap hangat mengepul dari permukaan sup, membawa serta aroma kaldu gurih yang berpadu kuat dengan aroma bawang putih dan merica.
Namun, entah mengapa, indra penciuman Salsa yang sensitif menangkap aroma itu sebagai sesuatu yang teramat memuakkan. Detik itu juga, isi perutnya terasa bergolak hebat secara mendadak. Rasa mual yang luar biasa naik merayap ke tenggorokannya.
"Huek... huek..."
Salsa seketika membekap mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya membungkuk saat ia mengalami refleks muntah yang hebat. Tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya karena perutnya kosong, namun tubuhnya bergetar hebat menahan siksaan rasa mual yang melilit lambungnya.
Suster Weni dengan sigap langsung mengusap punggung Salsa yang bergetar, mencoba meredakan gejolak di tubuh pasiennya. Namun, di sela-sela tindakannya, gerakan tangan Suster Weni mendadak terhenti.
Sepasang mata tua itu melebar, dipenuhi oleh sebuah kesadaran mengejutkan yang tiba-tiba melintas di kepalanya.
Di sisa kesadarannya yang tumpul, Salsa sendiri merasakan ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa pada tubuhnya akhir-akhir ini. Rasa mual ini bukan sekadar mual biasa akibat efek samping obat.
Begitu pula dengan Suster Weni. Sebagai perawat senior yang bertugas mengurus seluruh kebutuhan sanitasi dan personal Salsa, ia tiba-tiba teringat satu detail penting, Salsa belum pernah sekalipun datang bulan semenjak pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit jiwa ini dua bulan lalu.
Selama ini, Suster Weni menduga keterlambatan itu murni terjadi karena pengaruh buruk dari komparasi zat kimia penenang yang mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh Salsa.
Namun, melihat reaksi mual yang begitu spesifik terhadap aroma makanan pagi ini, dikombinasikan dengan fakta hilangnya siklus datang bulan selama delapan minggu, Suster Weni menarik sebuah kesimpulan lain yang jauh lebih mencengangkan dan mengerikan.
Salsa, kemungkinan besar sedang mengandung.
Rasa syok seketika melanda batin Suster Weni, diikuti oleh gelombang ketakutan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Jika dugaan ini benar, maka ini adalah sebuah keajaiban sekaligus tragedi terbesar.
Janin itu tumbuh di dalam rahim seorang wanita yang setiap hari dicekoki obat penenang dosis tinggi di dalam sel isolasi.
Suster Weni menatap sekeliling dengan waswas, memastikan tidak ada kamera pengawas yang merekam atau perawat lain yang menguping di balik pintu besi yang sedikit terbuka. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke arah Salsa yang masih lemas setelah muntah.
"Tenang, kamu harus tenang Salsa" Bisik Suster Weni dengan suara yang gemetar namun tegas.
"Dengarkan aku dengan baik. Aku akan menyembunyikan hal ini dulu dari siapa pun di rumah sakit ini, terutama dari dokter kepala, sebelum aku bisa memastikannya secara medis"
Suster Weni menatap perut rata Salsa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca oleh rasa iba.
"Kalau benar kamu sedang hamil, demi Tuhan, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar bayimu baik-baik saja dan tumbuh kuat di dalam sana, melawan banyaknya zat obat keras yang selama ini masuk ke dalam tubuhmu"
Salsa menatap Suster Weni dengan pandangan mata yang sayu dan berkabut, tidak sepenuhnya mencerna arti kata hamil atau bayi karena otaknya yang tumpul oleh pengaruh obat.
Namun, getaran ketakutan dan ketulusan dari suara perawat paruh baya itu berhasil menyentuh bagian terdalam dari nuraninya.
"Sekarang, aku minta kepadamu, makanlah sup ini sedikit saja!" Perintah Suster Weni dengan nada memohon yang mendalam, menyodorkan kembali mangkuk itu.
"Lakukan ini demi dia, demi janin yang sebenarnya belum pasti ada atau tidak di dalam tubuhmu saat ini. Jika dia benar-benar ada, dia butuh nutrisi darimu untuk bertahan hidup"
Suster Weni bangkit berdiri dengan terburu-buru, merapikan letak pakaian seragamnya yang sedikit kusut.
"Aku akan keluar sekarang untuk mencari alat tes kehamilan secara diam-diam di luar area rumah sakit untuk memastikannya. Ingat, jangan tunjukkan gejala mual ini di depan dokter atau perawat lain!"
Sebelum melangkah pergi, Suster Weni sempat mengusap punggung Salsa sekali lagi dengan lembut, memberikan kehangatan manusiawi yang sudah lama tidak Salsa rasakan.
Setelah itu, dengan langkah yang lebar dan terburu-buru, perawat paruh baya itu keluar dari ruangan, menutup pintu besi dengan rapat dan menguncinya dari luar.
Setelah kepergian Suster Weni yang mendadak, keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan segi empat tersebut. Bau sup daging yang mengaburkan aroma bawang putih masih menguar di udara, namun kali ini Salsa tidak lagi merasa mual.
Salsa kembali diam membeku di sudut ruangan. Namun, ada sebuah gerakan yang berbeda kali ini. Perlahan-lahan, tangan kanannya yang kurus dan dipenuhi bekas tusukan jarum bergerak turun.
Jemarinya yang gemetar meraba permukaan perutnya sendiri yang masih terasa rata di balik kain gaun pasien yang kusam.
Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari belahan bibirnya yang pecah-pecah. Keheningan itu begitu terasa.
Namun, di tengah kekosongan ekspresinya, air mata Salsa mulai berjatuhan satu per satu. Butiran air hangat itu mengalir melewati pipinya yang cekung, menetes jatuh di atas jemarinya yang masih setia mendekap perutnya.
Sebuah naluri keibuan yang murni, yang belum sempat terenggut oleh zat kimia penenang, mendadak bangkit dan berdenyut lemah di dalam dadanya.
Di dalam rahimnya, di tengah-tengah lingkungan yang beracun dan penuh kebencian ini, mungkinkah ada sebuah kehidupan baru yang sedang berjuang untuk tumbuh?
Buah dari malam terkutuk yang penuh paksaan bersama Arkan. Salsa terus menangis dalam diam, merasai setiap tetes air matanya yang jatuh bersamaan dengan rahasia besar yang kini mulai berdenyut di dalam tubuhnya yang ringkih.
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya