Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Petunjuk dari Dalam Mimpi
Kegelapan yang mutlak.
Itulah satu-satunya hal yang dapat dirasakan Haruto di sekelilingnya. Tidak ada cahaya yang menembus, tidak ada bayangan yang terlihat, dan yang paling aneh—tidak ada suara sama sekali. Keheningan itu begitu pekat hingga terasa berat, seolah menjadi wujud fisik yang menekan dari segala arah. Ruang itu tak memiliki ujung, tak memiliki dasar, dan tak memiliki arah.
Haruto merasa tubuhnya melayang tanpa tujuan, sehelai daun yang terbawa arus di tengah kekosongan semesta. Ia mencoba merasakan lantai di bawah kakinya, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang tak bertepi.
"...Di mana ini?" suaranya terdengar asing, lemah, dan seketika lenyap tanpa bergema.
Dengan hati-hati, ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Ia bisa melihatnya dengan samar, namun terasa berbeda—sangat ringan, seolah tidak memiliki berat sama sekali. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya; gerakannya luwes, tanpa hambatan sedikit pun.
"Apakah... aku masih hidup?" bisiknya lagi, kali ini penuh keraguan.
Tidak ada jawaban. Hanya kegelapan yang diam seribu bahasa. Haruto mulai merasakan getaran cemas yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Apakah ini akhir? Apakah kesadarannya telah terperangkap di sini selamanya?
Namun, di tengah kepasrahan itu, sesuatu berubah.
Tiba-tiba...
Byuur...
Suara lembut namun jernih itu menggema dari kejauhan, memecah kebisuan yang tak tergoyahkan. Itu adalah suara aliran air—dalam, tenang, namun penuh kekuatan.
Di hadapan Haruto, di tengah ruang hampa yang gelap, sebuah titik cahaya biru kecil perlahan muncul. Titik itu membesar dan berubah wujud menjadi setetes air yang melayang diam. Berkilau lembut, seolah memancarkan cahayanya sendiri.
Setetes itu jatuh—namun tidak ke bawah, melainkan menyebar.
Menjadi aliran kecil yang berkelok di udara.
Kemudian melebar menjadi sungai yang berarus deras.
Hingga akhirnya berubah menjadi lautan luas yang membentang tanpa batas, memenuhi seluruh pandangannya.
Kegelapan telah lenyap. Digantikan oleh hamparan air biru jernih yang memantulkan langit tanpa matahari. Haruto terpaku, matanya terbelalak takjub. Pemandangan itu begitu murni, begitu megah, hingga napasnya tertahan di tenggorokan.
"Indah sekali..." desisnya kagum, lupa akan rasa takutnya.
Di tengah lautan yang tenang itu, di atas permukaan air yang tidak pernah terpecah, berdiri seorang lelaki tua.
Ia tampak begitu wujud di antara elemen air. Rambutnya putih bersih dan panjang, terurai hingga mencapai pinggang, bergerak pelan seolah tertiup angin yang tak terlihat. Janggut lebatnya disisir rapi dan jatuh ke dadanya. Ia mengenakan jubah berwarna biru tua yang dalam, dihiasi dengan sulaman motif ombak yang seolah bergerak hidup setiap kali ia bergerak sedikit saja.
Meski ia hanya berdiri diam tanpa bergerak satu inci pun, air di sekelilingnya bergerak mengikuti irama tarikan napasnya. Lautan itu menaatinya tanpa ragu.
Haruto dapat merasakan tekanan yang luar biasa dari sosok itu. Bukan tekanan yang menindas atau jahat, melainkan sebuah keagungan yang murni dan abadi. Kekuatan itu jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia rasakan—bahkan melampaui aura yang terpancar dari Mizuna.
"Kakek... siapa Anda?" tanyanya dengan suara bergetar.
Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Haruto dengan mata yang jernih dan bijaksana, seperti danau yang tenang di puncak gunung. Perlahan, ia mengangkat satu jari telunjuk ke atas.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, tanpa melontarkan mantra atau simbol sihir apa pun—seluruh lautan berguncang hebat.
Permukaan air naik dengan cepat, memelintir dan membentuk naga raksasa dengan sisik yang berkilauan. Naga itu menderu tanpa suara, lalu dalam sekejap berubah wujud menjadi burung raksasa yang mengepakkan sayapnya setinggi langit.
Lalu berubah menjadi sebilah pedang panjang yang tajam dan mematikan.
Menjadi hujan deras yang turun membasahi bumi.
Menjadi ribuan jarum air yang tajam dan mematikan, melayang di udara dalam formasi yang sempurna.
Semua perubahan itu terjadi hanya dengan satu gerakan tangan yang sederhana. Tanpa usaha, tanpa beban.
Haruto terpana hingga tidak mampu berkata-kata. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tak lepas dari pertunjukan sihir yang luar biasa itu.
"Hebat..." itu adalah satu-satunya kata yang bisa terucap dari bibirnya.
"Jadi... beginilah wujud kekuatan seorang penyihir air sejati," batinnya bergetar penuh kekaguman dan harapan.
Pria tua itu akhirnya membuka mulut. Suaranya tidak menggema seperti guntur, namun tenang dan lembut seperti aliran sungai di pagi hari—namun terdengar jelas di setiap sudut lautan itu.
"Air bukan untuk ditaklukkan," ujarnya perlahan, menatap tepat ke manik mata Haruto.
"Air adalah sahabat."
Kata-kata itu langsung menembus ke dalam hati Haruto, dan seketika ia teringat akan ajaran Mizuna yang selalu ia pegang teguh.
"Sihir air bergantung pada kendali."
Namun di sini, di hadapan sosok legendaris ini, kebenaran yang lebih dalam terungkap. Bukan sekadar kendali, melainkan persahabatan.
Pria tua itu kembali berbicara, suaranya penuh persetujuan.
"Kau telah melangkah ke jalan yang benar, anak muda."
"Namun jalanmu masih sangat panjang, dan rintanganmu belum datang."
Haruto memberanikan diri, melangkah maju di atas permukaan air yang kokoh seolah tanah padat.
"Siapa sebenarnya Anda? Mengapa saya ada di sini?"
Sang kakek hanya tersenyum tipis, senyum yang penuh rahasia dan kebijaksanaan mendalam.
"Datanglah menemuiku," jawabnya singkat namun bermakna.
"Hah?" Haruto bingung. "Tapi di mana tempat ini? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Pria tua itu mengangkat tangannya perlahan ke arah permukaan laut. Air di bawahnya bergolak sejenak sebelum mengeras dan berubah wujud menjadi sebuah peta topografi yang sangat rinci.
Di sana terlihat benua yang luas, dan di salah satu sudutnya—sebuah gunung tinggi yang menjulang tajam ke langit, puncaknya tertutup salju abadi yang berkilauan. Di kaki gunung yang megah itu terdapat sebuah danau besar dengan air berwarna biru tua pekat, seolah menyimpan rahasia dunia di dalamnya. Dan tepat di tengah danau itu, berdiri sebuah pulau kecil yang dikelilingi kabut tipis.
"Itu..." Haruto berusaha mengingat-ingat bentuk tempat tersebut, mencocokkannya dengan peta yang pernah ia lihat di buku perpustakaan desa. Namun ingatannya samar.
Sebelum ia sempat bertanya lagi atau menanyakan lokasi pastinya, pemandangan itu mulai memudar. Tubuh pria tua itu perlahan hancur, berubah menjadi percikan air yang halus dan menyatu kembali dengan lautan di bawahnya.
Suaranya terdengar samar, seolah datang dari kejauhan yang tak terjangkau.
"Temukan aku..."
"Sebelum semuanya terlambat..."
Seketika, dunia di sekeliling Haruto mulai retak. Garis-garis cahaya muncul di mana-mana, memecah keindahan lautan itu seperti kaca yang pecah. Kegelapan mulai merayap kembali dari celah-celah retakan itu, digantikan oleh cahaya putih yang menyilaukan dan menyelimuti seluruh pandangannya.
Rasa berat perlahan kembali ke tubuhnya, menariknya ke bawah dengan kekuatan yang tak tertahankan.
Haruto perlahan membuka mata.
Cahaya lembut menyentuh penglihatannya, perlahan menjadi jelas. Ia melihat langit-langit kayu yang sederhana namun rapi—bukan langit tanpa batas, bukan pula gua yang gelap.
Ia mengenali tempat ini. Ini adalah kamar di rumah kayu milik Mizuna.
"Aku..." napasnya terengah-engah, dadanya naik turun. "Kembali?"
Di samping tempat tidurnya, ada gerakan kecil yang melompat penuh semangat. Sesuatu yang kenyal dan hangat langsung mendarat di dadanya.
"Pyoo!" seru makhluk kecil itu dengan ceria.
"Ugh!" Haruto mengerang pelan karena kaget, namun senyum segera merekah di wajahnya.
Ia tertawa kecil sambil mengusap permukaan tubuh slime setianya itu dengan lembut. "Tenanglah, Pochi... aku baik-baik saja."
Tak lama kemudian, pintu kamar kayu itu terbuka perlahan.
Mizuna masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan berisi segelas air hangat. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak lega tanpa bisa disembunyikan. Di belakangnya, Daichi ikut berdiri tegak dengan tatapan penuh perhatian.
"Syukurlah kau akhirnya sadar," ucap Mizuna lembut, mendekat ke sisi tempat tidur.
Haruto mencoba bangkit dan duduk perlahan, menopang tubuhnya dengan siku. Kepalanya masih terasa sedikit pening, namun rasa sakit yang tajam telah hilang.
"Kepalaku masih sedikit pusing," akuinya pelan.
"Itu wajar," jawab Mizuna sambil meletakkan gelas di meja samping tempat tidur lalu membantunya bersandar pada bantal. "Kau kehabisan mana hingga batas terakhir. Tubuhmu butuh waktu untuk pulih."
Ia mengambil gelas berisi air hangat itu dan menyodorkannya perlahan.
"Minumlah. Ini air yang sudah dimantrai untuk menenangkan aliran mana."
Haruto menerima gelas itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar. Ia meneguknya perlahan hingga tetes terakhir. Air itu terasa begitu segar dan hangat, mengalir lembut di kerongkongannya hingga ke perut. Entah mengapa, begitu ia menghabiskannya, seluruh tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan segar seketika, seolah kelelahan yang mendalam telah terhapus.
"Terima kasih," ucapnya tulus sambil mengembalikan gelas kosong itu.
Mizuna mengangguk pelan dan meletakkannya kembali ke nampan.
Ia menatap Haruto lekat-lekat, meneliti ekspresi wajah muridnya itu.
"Lalu..." suaranya terdengar hati-hati. "Ada sesuatu yang mengganggumu, bukan? Matamu mengatakan bahwa kau tidak hanya tidur biasa."
Haruto terdiam sejenak, menata kembali ingatan yang masih sangat jelas dan hidup di benaknya. Ia mengingat setiap detail—suara air, jubah biru tua, dan kekuatan yang melampaui akal sehat.
Ia menarik napas panjang lalu mulai menceritakan semuanya secara rinci. Tentang kegelapan awal, tentang lautan luas yang muncul dari kehampaan, tentang pria tua berjubah biru dengan kekuatan yang tak terbayangkan, tentang ajaran yang didengarnya, dan tentang peta yang ditunjukkan serta permintaan untuk menemuinya.
Setelah Haruto selesai bercerita hingga bagian terakhir di mana cahaya putih menutup pandangannya, keheningan menyelimuti ruangan itu.
Suasana menjadi sangat sunyi. Daichi memandang Mizuna dengan tatapan bingung dan penuh pertanyaan, berharap gurunya bisa menjelaskan makna di balik cerita yang mustahil itu. Namun Mizuna justru berdiri diam, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh kendali kini tampak berubah menjadi sangat serius, bahkan sedikit pucat.
"Mustahil..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, seolah melihat sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia nyata.
Haruto mengernyitkan dahi, merasa cemas melihat reaksinya yang luar biasa itu.
"guru? Apa maksudmu?"
Wanita itu menarik napas panjang dan berat, seolah membebani dirinya dengan ingatan lama yang tersembunyi. Ia berjalan perlahan menuju jendela yang terbuka sedikit, membiarkan angin segar masuk ke dalam ruangan, lalu menatap ke arah danau yang berkilauan di kejauhan.
"Haruto," mulailah Mizuna dengan suara dalam dan berhati-hati.
"Ceritamu... sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku kenal."
"Seseorang?" tanya Haruto cepat.
Mizuna mengangguk perlahan, pandangannya masih tertuju pada cakrawala.
"Dulu... saat aku masih menjadi petualang, sebelum menetap di desa ini," suaranya terdengar jauh, seolah melayang di masa lalu. "Aku pernah belajar sihir tingkat lanjut kepada seorang pertapa legendaris yang hidup dalam pengasingan."
Haruto langsung menegakkan tubuh, perhatiannya terpusat sepenuhnya.
"Namanya..." Mizuna terdiam sejenak, mengingat rasa hormat yang mendalam. "Master Ryuusen."
"Beliau dijuluki..." ia menelan ludah sebelum melanjutkan dengan penuh penghormatan. "Sang Pertapa Air."
"Di kalangan penyihir elemen air," lanjutnya, "Beliau adalah legenda hidup. Masyarakat percaya beliau telah menguasai esensi sihir air hingga tingkat yang tidak dapat dicapai oleh penyihir biasa seumur hidup mereka. Bahkan ada yang mengatakan beliau mampu mengendalikan aliran seluruh sungai di sebuah lembah hanya dengan satu gerakan tangan—tanpa mengeluarkan mantra."
Haruto langsung teringat kembali sosok di dalam mimpinya. Gerakan yang begitu sederhana namun menciptakan keajaiban.
"Jadi... orang itu benar-benar ada di dunia nyata?" suaranya bergetar karena antusiasme bercampur rasa hormat.
Mizuna menoleh padanya dan mengangguk pelan dengan wajah serius.
"Ya. Beliau adalah tokoh yang nyata dan sangat hebat. Namun..." nada bicaranya berubah suram. "Beliau telah menghilang bertahun-tahun yang lalu. Tanpa pesan, tanpa jejak. Tidak ada yang tahu apakah beliau masih hidup atau telah tiada."
Haruto mengepalkan tangannya di atas selimut, tekad mulai membara di dadanya.
"Tapi guru Mizuna... beliau memintaku menemuinya. Beliau menunjuk tempat itu padaku."
Mizuna menatap Haruto dengan tatapan tajam dan menyelidik, seolah ingin membaca kebenaran terdalam di dalam jiwa muridnya itu.
"Kalau benar yang kau lihat dan temui adalah Master Ryuusen..." katanya perlahan dan penuh penekanan. "Berarti itu bukan sekadar mimpi biasa yang lahir dari imajinasimu atau sisa kelelahanmu."
"Itu adalah panggilan."
Daichi yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu, akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara dengan nada antusias.
"Kalau begitu... setelah kondisi Haruto pulih sepenuhnya, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus pergi mencari keberadaan Master Ryuusen itu."
Mizuna memandang Daichi, lalu kembali menatap Haruto yang menantikan jawaban. Ia mengangguk perlahan dengan keputusan yang tegas.
"Benar. Karena jika beliau benar-benar masih hidup dan memanggilmu..." ucapnya dengan suara penuh keyakinan. "Maka tidak ada guru sihir air yang lebih hebat dan lebih bijaksana di seluruh benua ini daripada beliau."
Haruto menatap kedua tangannya sendiri yang terbuka di pangkuannya. Ia merasakan aliran mana di dalam tubuhnya—biasanya bergejolak dan butuh usaha keras untuk ditenangkan—namun sekarang terasa begitu lancar, jernih, dan tenang, seolah sungai yang telah menemukan jalannya ke laut. Perasaannya terhadap sihir terasa sedikit berbeda, lebih dekat, lebih akrab.
Ia mengangkat kepalanya, menatap Mizuna dengan mata yang bersinar penuh tekad baru.
Entah apa yang menantinya di perjalanan menuju gunung bersalju dan danau biru itu. Entah bahaya apa yang mungkin mengancam atau rahasia apa yang akan terungkap. Namun Haruto sudah membuat janji pada dirinya sendiri di dalam mimpi itu.
Apa pun yang terjadi, berapa pun jauhnya jarak yang harus ditempuh, ia akan menemukan sosok misterius yang memanggilnya dari dalam samudra kesadaran itu.
"Saya akan pergi," ucap Haruto dengan suara mantap yang bergema di ruangan itu.