Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Ramalan
Kantor kepolisian, kota Selabatu.
Dien Moretz keluar dari markas pasukan malam yang berada tepat di bawah tanah kantor kepolisian kota Selabatu. Sebelum pulang ke rumah Dien mampir ke pasar tradisional Monday terlebih dulu untuk membeli buah tangan mengingat sudah beberapa hari dia belum pulang.
Dien menyusuri jalanan pasar tradisional yang sangat sibuk dan padat. Beberapa pedagang berteriak untuk menarik pelanggan agar datang dan membeli dagangan mereka. Beberapa pedagang yang tidak sabaran bahkan langsung mendatangi calon pembeli dan menawarkan dagangannya, mereka tampak bersemangat memperkenalkan dagangan mereka.
Seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun datang ke hadapan Dien sembari membawa beberapa tumpukan koran. Bocah itu tersenyum tulus dan mengangkat satu korannya dengan tangan gemetar, menunjukkannya kepada Dien yang kebetulan lewat.
“Kakak! Ada berita terbaru dan paling panas dibicarakan masyarakat. Puluhan orang tiba-tiba menghilang misterius di danau Liverl. Malam yang sama ada kemunculan monster kelabang raksasa di danau Liverl secara live di beberapa media sosial. Selain itu, ada berita kedatangan pesawat Alien di Kekaisaran Kalinka. Jika kakak tertarik membaca beritanya, beli koranku. 10.000 kertas emas saja.” Ujar anak laki-laki itu dengan wajah lesu, mata hitam cekung, bibir pucat, dan tangan gemetar.
Dien mengernyitkan dahi.
“Kenapa mereka disebutkan hilang? Bukankah mereka dimakan monster kelabang? Apakah pasukan malam menyembunyikan fakta yang sebenarnya? Tapi kenapa? Kenapa mereka menyembunyikan keberadaan monster pemangsa manusia dari masyarakat luas?” Batin Dien berpikir dan membeli koran dengan uang bernilai 100 ribu kertas emas.
“Ambil saja kembaliannya.” Ucap Dien tersenyum dan pergi sembari membaca koran untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Bocah penjual koran yang sibuk mencari kembalian di kantongnya seketika tersenyum senang dan berterima kasih, serta mendoakan kesuksesan Dien.
“Ternyata benar! Mereka adalah korban monster kelabang raksasa.” Gumam Dien membaca keterangan keluarga korban, dimana mereka menyebut orang yang hilang sedang berlibur atau berkunjung ke danau Liverl.
Dien membaca koran berita itu hingga akhir kalimat dan tidak menemukan apapun, selain kesaksian beberapa orang yang kebetulan berada di danau Liverl. Mereka semua bersaksi tidak melihat para korban di danau pada malam itu, mereka percaya orang-orang yang hilang tidak pernah menginjakkan kaki di danau Liverl yang disebut-sebut ada kemunculan monster kelabang raksasa. Mengenai kemunculan monster kelabang yang viral di dunia maya, mereka juga tidak tahu atau mungkin ingatan mereka yang sesuai dihapus Syifa Kafa (Pasukan Malam).
“Sepertinya ingatan mereka yang sesuai tentang tragedi itu memang dihilangkan.” Gumam Dien yakin, lalu membuang koran ke kotak sampah.
Ketika sampai di kios lotere Dien tertarik untuk melihat-lihat dan mungkin saja ikut membeli nomor Lotere.
“Karena inilah aku menginginkan kekuatan melihat masa depan. Aku akan menjadi kaya. Haha.” Dien tertawa jahat dan mengaktifkan kekuatannya.
Dien mencoba melihat masa depan dan mengintip nomor mana yang akan keluar sebagai pemenang. Saat mengaktifkan kekuatannya yang dapat melihat masa depan, ternyata Dien hanya melihat seseorang datang membeli nomor dan penglihatan masa depan berakhir begitu saja.
Benar saja, seseorang memang datang membeli nomor lotere sesuai dengan masa depan yang dia lihat sebelumnya.
Dien tidak menyerah dan terus mencoba melihat masa depan nomor lotere mana yang akan menang, namun masa depan yang dia lihat hanyalah beberapa detik saja.
“Sepertinya aku hanya bisa melihat masa depan sejauh 5 detik saja.” Gumam Dien menyimpulkan batas kemampuan melihat masa depannya.
Untuk memastikan kesimpulannya, Dien menghidupkan stopwatch di ponsel sebagai pengukur waktu, lalu kembali mencoba melihat masa depan.
“Ternyata benar.” Gumam Dien melihat stopwatch dengan mata emasnya.
Dimana stopwatch yang menunjukkan detik 7 langsung berubah menjadi detik 13 saat kekuatannya aktif, lalu berubah ke detik 8 ketika nonaktifkan.
“Aku hanya bisa melihat masa depan sejauh 5 detik saja? Hanya sejauh itu?” Batin Dien tidak percaya dan kecewa.
“Tapi itu cukup untuk menghindari serangan musuh.” Dien hanya bisa menghibur dirinya sendiri.
“Halo tuan! Nomor berapa yang anda inginkan?” Tanya penjaga kios yang sejak awal memperhatikan.
Dien tersenyum canggung, lalu pergi dari kios lotere tanpa mengatakan apapun. Dien ingin cepat-cepat pulang ke rumah, karena belum pulang selama dua hari akibat ditahan pasukan malam. Tidak jauh melangkah Dien tiba-tiba melihat seorang wanita tua yang duduk di pinggiran toko yang cukup ramai pembeli.
Terlihat bola bening berada di hadapan wanita tua tersebut.
“Peramal?” Dien tertarik.
Dien dapat dengan mudah menebak identitas wanita tua hanya dengan melihat atribut yang dia kenakan. Dien dengan langkah lebar menghampiri wanita tua yang diduga seorang peramal, siapa tahu dia bisa belajar beberapa hal tentang ilmu ramalan.
Dien tersenyum dan merogoh kantongnya.
“Jika tuan datang untuk melihat nasib maka aku akan menyambutmu, namun jika tuan ingin menjadi murid aku tidak bersedia.” Ujar wanita tua melirik Dien sekilas.
Dien terdiam. Dia tidak percaya wanita tua yang tampak penipu itu tahu dengan jelas tujuannya datang. Dien tersenyum ramah dan meletakkan selembar uang ke wadah yang ada dihadapan wanita tua.
“Kenapa kamu tidak menerima murid?” Tanya Dien apa adanya.
Wanita peramal tua tersenyum, menampakkan giginya yang hitam dan sangat tidak terawat.
“Karena itu merepotkan.” Balas peramal tua apa adanya.
Dien tersenyum kecil dan tidak terburu-buru pergi dari hadapan peramal tua. Dien ingin melihat cara peramal tua melakukan ramalan, mungkin saja dia mendapatkan beberapa pencerahan tentang ilmu ramalan.
“Karena sudah membayar, maka sebutkan pertanyaanmu tuan. Aku akan meramalnya.” Ujar Wanita tua tersenyum ramah.
Dien tertegun sesaat, lalu berbalik melihat kios lotere yang banyak dikunjungi orang-orang. Dien seketika tersenyum licik.
“Nomor mana yang akan keluar sebagai pemenang besok siang?” Tanya Dien penuh harap dan bersemangat.
Wanita peramal tiba-tiba tersenyum penuh arti.
“Pemenang pertama nomor 12, pemenang kedua nomor 76, dan pemenang ketiga adalah nomor 53. Besok siang mereka akan keluar sebagai pemenangnya.” Balas peramal tua dengan senyuman kecil dan hampir tertawa.
Dien mengangguk mengerti, lalu pergi ke kios lotere untuk membeli tiga nomor yang akan keluar sebagai pemenang besok siang. Beberapa saat berbicara dengan penjaga kios, dia balik ke lapak peramal tua dengan kecewa dan sedikit marah.
“Tiga nomor itu sudah dibeli orang.” Dengus Dien sangat kesal.
“Aku hanya meramal nomor yang keluar sebagai pemenang, bukan menuntun nomor mana yang akan keluar sebagai pemenang. Sangat disayangkan ya. Hahaha.” Peramal tua terkekeh, memamerkan tiga nomor lotere dengan nomor yang sesuai.
Dien tertegun dan hanya bisa membatin dengan iri. “Sepertinya aku salah memilih ramuan kebangkitan spiritual.”
Peramal tua cengengesan melihat Dien tertegun dan tidak menyangka.
Seorang pria tua mengenakan setelan jas merk armani dan jam tangan rolex di tangan kiri, serta rambut berkilau datang sambil menggandeng seorang gadis muda yang memakai make up berlebihan dan sangat menor.
“Wanita tua! Tolong ramal apakah bidadari di sampingku ini masih perawan?” Tanya pria tua dengan senyum birahi, lalu mencolek dagu sang wanita muda.
Peramal tua tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kepada wanita muda.
“Berikan tanganmu, biarkan aku melihat masa lalumu.” Ucap peramal tua dengan suara serak dan ditekan.
“Melihat masa lalu? Bukankah ramalan adalah melihat masa depan?” Batin Dien disamping tidak mengerti apapun tentang ilmu ramalan.
Wanita muda dengan senang hati mengulurkan tangan, membiarkan wanita tua itu melihat masa lalunya.
Peramal tua memejamkan mata, menjelajahi ingatan wanita muda. Dia mengangguk-angguk mengerti, lalu tersipu malu, dan menatap wanita muda dengan tatapan aneh.
“Sangat ganas dan bergairah! Aku tidak menyangka kamu bisa bermain dengan 10 pria sekaligus!” Ucap peramal tua, membuat wanita muda itu marah sampai-sampai wajahnya merah karena marah.
“Apa katamu wanita gila? Jangan asal bicara!” Pekik wanita muda menunjuk hidung peramal tua yang terlihat santai.
“Itu yang aku lihat di masa lalumu, tepatnya malam tadi. Kamu sudah tidak...” Ucap peramal tua santai.
“Omong kosong!” Pekik wanita muda menyela dengan marah, lalu berbalik melihat pak tua yang mengerutkan kening.
Wanita muda dengan genit memeluk pak Steven sang pujaan hati.
“Sayang, kamu jangan mendengarkan ucapannya. Nenek gila ini jelas penipu! Aku mana mungkin bisa bersamamu jika berhubungan dengan 10 pria sekaligus malam tadi. Tidak ada wanita yang bisa jalan dengan bebas setelah melayani 10 pria bersamaan di malam sebelumnya.” Ucap wanita muda dengan genit, meraba-raba dada pak tua hingga turun ke bagian sensitif.
"Kamu percaya kepadaku, kan. Sayang?" Tanya wanita muda memancing birahi.
Wanita muda memeluk pak Steven dengan genit dan semakin memancing nafsu birahi.
“Sayang ayo kita pergi! Aku bisa gila jika terus berada di dekat nenek gila ini.” Ucap wanita muda dengan menggoda.
“Sayang, aku sudah tidak sabar bercinta." Bisik wanita muda dengan panas.
Pak Steven mengangguk saja, karena nafsu birahinya naik akibat godaan sang wanita muda. Pria tua kaya raya itu memberikan 2 ribu kertas emas kepada peramal tua, sebuah nilai yang sangat kecil dan dapat dianggap sebuah penghinaan.
“Terimakasih atas kemurahan hati anda. Hamba harap anda dapat menikmati hari-hari tua dengan damai, tanpa mengalami cidera kelamin.” Ucap peramal tua mendoakan pak Steven yang sudah dikuasai nafsu birahi.
Bersambung.