Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyebarkan cahayanya yang lembut, menghangatkan halaman rumah keluarga Baskara yang terlihat hijau dan terawat. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma tanah basah sisa embun semalam dan bunga melati yang tumbuh di dekat pagar. Suasana terasa tenang dan damai, seolah menjanjikan hari yang berjalan lancar dan menyenangkan.
Di dalam rumah, Alena dan Elio sudah bersiap sepenuhnya mengenakan seragam sekolah mereka. Setelah sarapan bersama Kakek Baskara dengan suasana yang hangat dan akrab, keduanya berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Sejak tinggal bersama, kebiasaan berangkat berdua sudah menjadi hal yang wajar, bahkan terasa seperti kebiasaan yang tak terpisahkan.
“Kami berangkat dulu, Kek. Hati-hati di rumah,” ucap Elio sambil mencium tangan kakeknya, diikuti oleh Alena yang melakukan hal yang sama dengan sopan.
“Ya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut, dan jaga diri kalian berdua,” pesan Kakek Baskara sambil tersenyum lembut, menatap kedua anak muda itu dengan pandangan penuh harapan.
Begitu melangkah keluar rumah dan menuju gerbang utama, langkah mereka terhenti seketika. Di balik pagar besi yang tinggi itu, sudah berdiri seorang gadis yang terlihat sedang menunggu dengan sabar. Itu adalah Jena, sahabat masa kecil Elio yang beberapa hari lalu mereka temui di taman. Gadis itu sudah mengenakan pakaian rapi, lengkap dengan tas selempang di bahunya, dan wajahnya langsung berseri-seri begitu melihat sosok Elio muncul dari balik pintu utama.
“Elio! Akhirnya kamu keluar juga. Aku sudah menunggu di sini sejak sepuluh menit yang lalu,” seru Jena dengan nada ceria, lalu segera melangkah masuk melewati pintu gerbang yang terbuka, mendekat ke arah mereka berdua.
Melihat kehadiran Jena secara tiba-tiba, Alena langsung merasa sedikit tidak nyaman. Ia secara refleks berdiri sedikit lebih dekat ke sisi Elio, menatap gadis itu dengan pandangan waspada namun tetap berusaha bersikap sopan. Sementara itu, Elio hanya mengangguk singkat, menyapa dengan nada yang ramah namun terasa menjaga jarak.
“Jena? Kenapa kamu ada di sini? Ada keperluan apa sampai datang ke rumah pagi-pagi begini?” tanya Elio dengan nada tenang, tidak terlihat terkejut berlebihan.
Jena tersenyum lebar, lalu dengan santai ia melangkah lebih dekat dan mencoba meraih lengan Elio, namun Elio secara halus sedikit menggeser posisinya sehingga sentuhan itu tidak terjadi. “Aku ke sini ingin minta tolong, Elio. Hari ini ayah dan sopirku sedang sibuk sekali, jadi tidak bisa mengantarku ke sekolah. Kebetulan sekolahku tidak terlalu jauh dari jalur yang biasa kamu lewati, kan? Bolehkah kamu mengantarku sebentar saja? Aku tidak mau terlambat masuk kelas.”
Mendengar permintaan itu, tatapan Elio beralih sejenak ke arah Alena. Ia melihat sekilas raut wajah gadis itu yang terlihat sedikit cemberut dan tidak setuju, meskipun Alena berusaha menyembunyikannya. Dalam hati Elio sudah tahu jawaban apa yang harus ia berikan, bukan hanya karena logika, tapi juga karena ia ingin menjaga perasaan Alena agar tidak tersakiti atau merasa tersaingi.
Elio menggeleng pelan, lalu menjawab dengan nada yang sopan namun tegas dan tidak bisa dibantah. “Maaf, Jena. Sepertinya tidak bisa. Jalur ke sekolahmu memang berbeda arah dengan sekolah kami. Kalau aku memutar jalan untuk mengantarkanmu, nanti kami justru yang akan terlambat masuk kelas. Lagipula, lebih baik kita tidak pergi bersama-sama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara orang lain.”
Wajah Jena seketika berubah, senyumnya memudar digantikan ekspresi terkejut dan sedikit kecewa. Ia tidak menyangka akan ditolak begitu saja, mengingat selama ini Elio selalu bersikap baik dan menuruti permintaannya saat mereka masih kecil.
“Tapi… hanya sedikit saja lho, Elio. Tidak akan memakan waktu lama. Lagipula kita kan sudah kenal lama, masa tidak mau menolong sedikit saja?” tanya Jena lagi, mencoba memohon dengan nada yang lebih lembut, bahkan melirik sekilas ke arah Alena seolah ingin mengatakan bahwa kehadiran gadis itu adalah penghalang.
Namun, Elio tetap tidak mengubah pendiriannya. Ia bahkan melingkarkan satu lengannya di bahu Alena, menarik gadis itu sedikit lebih dekat ke sisinya sebagai tanda penegasan. “Bukan soal tidak mau menolong, tapi memang waktunya tidak pas dan jalurnya tidak searah. Selain itu, sekarang aku sudah memiliki Alena di sisiku, dan aku harus menjaga perasaannya serta batasan yang seharusnya. Lebih baik kamu naik taksi atau memesan kendaraan daring saja, itu jauh lebih cepat dan praktis. Aku yakin kamu bisa melakukannya.”
Penjelasan yang jujur dan tegas itu membuat Jena terdiam. Ia menatap Elio dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa kecewa, kaget, namun juga mulai sadar bahwa posisinya kini tidak lagi sama seperti masa lalu. Ia melihat bagaimana Elio memegang dan melindungi Alena, seolah tidak ada ruang bagi orang lain di antara mereka. Dengan berat hati, Jena akhirnya mengangguk pelan sambil memaksakan senyum tipis.
“Baiklah… kalau begitu aku mengerti. Maaf sudah merepotkan pagi-pagi begini. Kalau begitu aku pergi mencari kendaraan lain dulu ya,” ucap Jena, lalu berpamitan dan berjalan menjauh dengan langkah yang terasa sedikit lesu.
Begitu sosok Jena menghilang dari pandangan, Alena langsung menoleh ke arah Elio dengan tatapan yang masih terasa terkejut namun juga penuh rasa lega dan bahagia. Ia tidak menyangka Elio akan menolak dengan begitu tegas dan terbuka di depannya.
“Kamu tadi… benar-benar menolaknya dengan sangat jelas. Apakah tidak apa-apa? Nanti dia tersinggung atau merasa kita sombong,” tanya Alena dengan nada lembut, meskipun di dalam hatinya ia sangat senang melihat sikap Elio itu.
Elio tertawa pelan, lalu mencubit lembut pipi Alena yang terlihat menggemaskan. “Kenapa harus merasa bersalah? Aku hanya berkata jujur dan menjaga batasan yang benar. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman, dan yang paling penting adalah aku tidak ingin hatimu merasa tidak nyaman sedikit pun. Kalau aku mengantarkannya, tentu saja kamu akan merasa cemburu dan sedih, kan? Itu hal yang tidak akan pernah aku biarkan terjadi.”
Kata-kata tulus itu membuat wajah Alena memerah, namun senyum bahagia yang lebar tidak bisa disembunyikan lagi. Ia mengangguk setuju, lalu menggenggam tangan Elio erat-erat. “Terima kasih, Elio. Aku sangat menghargai sikapmu itu.”
“Sudah, jangan bicara terima kasih lagi. Ayo kita berangkat, nanti benar-benar terlambat,” jawab Elio sambil tersenyum, lalu keduanya melanjutkan perjalanan menuju sekolah dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bahagia.
Sesampainya di sekolah, suasana sudah mulai ramai dengan siswa-siswa yang berdatangan. Begitu masuk ke dalam kelas, Alena segera duduk di tempatnya, sementara Elio berpamitan sebentar untuk mengambil buku di ruang guru dan kemudian berkeliling menemui teman-temannya. Hari itu berjalan cukup lancar hingga jam istirahat tiba.
Alena memutuskan untuk tetap tinggal di dalam kelas, mengerjakan sedikit tugas yang belum selesai sambil menunggu Elio kembali dari kantin. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan agak keras, dan masuklah Dinda—gadis yang sudah lama memiliki perasaan pada Elio dan sering kali tidak menyukai keberadaan Alena—diikuti oleh dua orang temannya yang selalu mendukungnya.
Dinda berjalan mendekati meja Alena dengan langkah sombong, lalu berdiri tepat di hadapan gadis itu dengan tangan di pinggang dan tatapan tajam. Suasana di dalam kelas yang masih sepi membuat kehadiran mereka terasa semakin mencolok.
“Jadi begini, kamu rupanya. Sudah mulai merasa menjadi ratu di sekolah ini hanya karena tinggal serumah dengan Elio?” ucap Dinda dengan nada sinis dan tinggi, membuat Alena mengangkat wajahnya perlahan.
Alena menatap Dinda dengan tenang, tidak terlihat takut atau terguncang. “Apa maksudmu, Dinda? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”
“Jangan berpura-pura tidak tahu!” bentak Dinda sedikit keras, membuat teman-temannya tersenyum miring seolah menikmati adegan itu. “Semua orang sudah mulai membicarakan kalian. Dulu kalian bermusuhan hebat, sekarang malah terlihat sangat akrab bahkan sampai tinggal satu atap. Jangan-jangan kamu menggunakan cara-cara licik untuk mendekati Elio, ya? Supaya dia jatuh hati padamu?”
Mendengar tuduhan yang tidak berdasar itu, hati Alena sedikit merasa kesal, namun ia berusaha tetap menjaga emosinya agar tidak terpancing pertengkaran yang tidak perlu. Ia menutup bukunya perlahan, lalu menjawab dengan nada tegas namun tetap sopan.
“Hubunganku dengan Elio adalah urusan kami berdua. Tidak ada yang licik atau salah di dalamnya. Kalau kamu tidak percaya, itu bukan masalahku. Selama kami tidak menyakiti siapa pun, aku rasa tidak ada yang perlu dipersoalkan.”
Jawaban tenang itu justru membuat Dinda semakin marah. Ia merasa Alena tidak menghormatinya, sehingga ia semakin berani melancarkan perkataan yang menyakitkan. “Kamu ini memang sombong! Kamu pikir kamu siapa? Elio itu bukan milikmu, dia adalah idola banyak siswi di sekolah ini. Jangan merasa paling beruntung hanya karena saat ini dia bersikap baik padamu. Suatu saat nanti dia pasti akan bosan dan meninggalkanmu, lihat saja nanti!”
Teman-teman Dinda pun ikut menyela, menambahkan komentar yang membuat suasana semakin tidak nyaman. “Benar sekali, Dinda. Lihat saja penampilannya yang biasa saja, apa yang membuat Elio tertarik padanya? Pasti ada maksud tersembunyi.”
Mendengar ucapan-ucapan itu, Alena merasakan jantungnya berdebar kencang, namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan mereka. Ia membuka mulutnya untuk membalas, namun belum sempat suara keluar, sebuah suara berat dan tegas terdengar dari arah pintu, membuat semua orang yang ada di dalam kelas langsung menoleh dan terdiam seketika.
“Cukup! Kalian sedang bicara apa di sini?”
Itu adalah suara Elio. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat serius dan sedikit marah. Tangannya masih memegang beberapa bungkus makanan dan minuman yang baru saja dibelinya, namun tatapannya yang tajam membuat Dinda dan kedua temannya langsung mundur selangkah, terlihat gugup dan takut.
Elio melangkah masuk dengan langkah mantap, lalu berjalan mendekati meja Alena dan berdiri tepat di samping gadis itu, melindunginya dari pandangan mereka. Ia menatap Dinda dengan pandangan dingin yang jarang ia tunjukkan, membuat gadis itu menelan ludah gugup.
“Dinda, dan kalian berdua juga. Dengarkan baik-baik,” ucap Elio dengan nada yang tenang namun penuh tekanan, membuat suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru kelas. “Alena adalah gadis yang paling aku cintai, dan dia adalah satu-satunya wanita yang berhak berada di sisiku. Tidak ada yang licik, tidak ada yang salah, dan tidak ada yang bisa mengubah perasaanku padanya. Kalau kalian masih berani mengganggu, menuduh, atau menyakiti hatinya sedikit saja, maka jangan salahkan aku jika aku akan bertindak lebih tegas lagi. Ingat itu baik-baik.”
Wajah Dinda seketika memucat. Ia tidak pernah melihat Elio bersikap sekeras ini, dan ia sadar bahwa ucapannya barusan benar-benar membuat pria itu marah. Tanpa berani membantah lagi, Dinda hanya menunduk dan menggumamkan kata maaf yang terputus-putus, lalu segera menarik kedua temannya pergi meninggalkan kelas dengan langkah tergesa dan malu.
Begitu mereka pergi, suasana kembali tenang. Elio segera menoleh ke arah Alena, mengubah ekspresinya menjadi lembut dan penuh perhatian. Ia duduk di kursi di samping gadis itu, lalu memegang kedua tangan Alena dengan lembut.
“Kamu tidak apa-apa? Mereka tidak menyakitimu atau membuatmu menangis, kan?” tanya Elio dengan nada khawatir, menatap wajah Alena dengan seksama.
Alena menggeleng pelan, lalu tersenyum lega. “Tidak apa-apa, Elio. Mereka hanya bicara saja, tidak berani menyentuhku. Terima kasih sudah datang tepat waktu dan membela aku lagi.”
Elio menghela napas panjang, lalu mengusap kepala Alena dengan lembut. “Sudah kubilang, tidak ada yang boleh menyakiti hatimu selama aku ada di sini. Jangan pernah merasa sendirian, ya. Kalau ada apa-apa, segera ceritakan padaku.”
Mereka pun kemudian duduk berdampingan, menikmati makanan yang dibawa Elio sambil mengobrol santai untuk menghilangkan suasana yang sempat tegang itu. Meskipun pagi itu dipenuhi pertemuan dengan Jena yang sedikit mengganggu dan gangguan dari Dinda, namun semua itu justru membuat Alena semakin yakin dan merasa aman—karena ia tahu, selama ia bersama Elio, ia akan selalu dilindungi dan dicintai tanpa ragu.