Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Jejak yang Tertinggal
Tekanan di tenggorokan Arunika semakin terasa berat. Pasokan oksigen ke paru-parunya menipis drastis, membuat dadanya seolah dihantam oleh gada besi yang membara. Di atas sofa kulit itu, dia hanya bisa mencengkeram pergelangan tangan Arsen, mencoba mencari celah sekecil apa pun agar cengkeraman maut itu melonggar. Namun, usahanya sia-sia. Tangan raja mafia itu sekokoh baja, tak bergeser bahkan satu milimeter pun.
"Katakan padaku, Arunika..." Bisikan Arsen terdengar seperti desis ular beludak di keheningan kamar yang mencekam. "Siapa nama asli ibumu sebelum dia menikah dengan Baskoro?"
Pertanyaan itu bergaung berulang-ulang di dalam kepala Arunika yang mulai pening dan berputar. Sepasang mata elang Arsen yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya tidak lagi memancarkan kedinginan yang acuh tak acuh, melainkan kobaran api dendam purba yang siap membakar apa saja hingga menjadi abu. Di bawah tatapan sebuas itu, Arunika merasa dirinya mengecil, seperti seekor serangga tak berdaya yang siap dilumat di bawah tumit sepatu pantofel mewah pria itu.
"Aku... tidak... tahu..." ratih Arunika di sela napasnya yang semakin putus-putus. Air matanya menetes pasrah, membasahi jemari kokoh Arsen yang mengunci jalur udaranya. "Ibuku... meninggal saat aku masih... balita. Ayah... tidak pernah cerita..."
Arsen menyipitkan matanya, mencari riak kebohongan di celah manik mata Arunika yang dipenuhi ketakutan murni. Untuk beberapa detik yang terasa begitu menyiksa dan panjang, cengkeraman itu justru semakin mengencang, membuat Arunika mulai melihat kilatan cahaya putih di sudut penglihatannya. Kesadarannya berada di ambang batas. Dia pasrah jika malam ini harus berakhir di sini. Mati di tangan pria yang beberapa jam lalu menyelamatkannya terasa tidak ada bedanya dengan mati di tangan pembunuh bertato di sayap barat mansion.
Namun, tepat sebelum kesadaran Arunika benar-benar menguap dan segalanya menjadi gelap, Arsen tiba-tiba menyentak tangannya menjauh.
Arunika terenyak ke depan, terbatuk-batuk hebat sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga dadanya naik turun dengan kasar. Dia memegangi lehernya yang perih, yang kini dipastikan meninggalkan bekas memar kemerahan berbentuk pola jemari Arsen. Rasa hangat dari aliran darah yang kembali lancar perlahan mengembalikan kesadarannya, meskipun rasa ngeri masih melekat erat di dadanya.
Arsen berdiri tegak, membalikkan tubuhnya membelakangi Arunika. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya dengan langkah yang teratur dan tenang. Namun, ketegangan di punggung lebarnya menunjukkan bahwa badai di dalam kepalanya belum sepenuhnya mereda. Pria itu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja mahoni, menekan satu tombol panggilan cepat, lalu menempelkannya ke telinga.
"Marco," panggil Arsen, suaranya kembali datar dan sedingin es, mengubur dalam-dalam letupan emosi mematikan yang baru saja dia perlihatkan. "Bawa berkas investigasi kasus pembantaian keluarga Valentino sepuluh tahun lalu ke kamarku. Sekarang."
Setelah memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban, Arsen tidak melirik Arunika sedikit pun. Dia berdiri diam menghadap jendela besar, menatap kabut pagi yang mulai menyelimuti tebing curam di luar mansion. Keheningan kembali merajai kamar tidur itu, menciptakan atmosfer yang begitu menekan hingga Arunika bahkan takut untuk sekadar mengembuskan napas terlalu keras. Gadis itu tetap duduk meringkuk di atas sofa, mencoba merapikan kemeja sutra hitam milik Arsen yang agak berantakan akibat ketegangan tadi.
Kurang dari tiga menit, ketukan pelan namun tegas terdengar di pintu ganda kamar tersebut.
*Cklek.*
Marco masuk dengan kepala sedikit tertunduk, memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang tampak kusam dan berdebu di bagian sudutnya. Pria tangan kanan itu melirik sekilas ke arah Arunika yang duduk menyudut dengan wajah pucat dan bekas memar di leher. Sebagai tangan kanan yang terlatih dan profesional, Marco segera mengalihkan pandangannya kembali pada Arsen, mengabaikan ketegangan emosional yang memenuhi ruangan.
"Ini berkas yang Anda minta, Tuan," ucap Marco sambil meletakkan map tersebut di atas meja kerja dengan penuh hormat. "Semua data tentang faksi pembunuh bayaran 'The Eclipse' yang mengeksekusi mansion lama Anda sepuluh tahun lalu ada di dalam sini. Termasuk profil, rekam jejak, dan identitas asli sang eksekutor utama yang memimpin operasi malam itu."
Arsen berjalan mendekati meja, membuka map kulit itu dengan perlahan. Suara gesekan kertas di dalam keheningan kamar terdengar seperti suara pisau yang sedang diasah bagi pendengaran Arunika. Setiap lembar yang dibuka seolah membawa kembali bayangan darah dan api dari masa lalu Arsen.
"Arunika," panggil Arsen tanpa menoleh sedikit pun dari berkas di tangannya. "Kemari."
Tubuh Arunika kembali bergetar mendengar namanya dipanggil dengan nada sedatar dan seotoriter itu. Dengan sisa tenaga yang ada di kedua kakinya, dia bangkit dari sofa. Dia merapatkan kemeja sutra hitam besar milik Arsen untuk menutupi tubuhnya, lalu melangkah perlahan, setapak demi setapak, mendekati meja kerja pria itu. Setiap langkah terasa berat, seolah dia sedang berjalan menuju panggung eksekusinya sendiri.
Arsen menunjuk sebuah foto hitam putih yang sudah agak buram di dalam berkas tersebut. Foto itu menampilkan sesosok wanita muda yang cantik berambut panjang. Wanita itu sedang memegang sebuah senapan laras panjang dengan senyuman dingin yang asimetris di bibirnya. Di bahu kiri wanita itu—yang terekspos jelas karena dia hanya mengenakan tangtop hitam—terdapat sebuah tanda lahir yang sama persis dengan milik Arunika. Sebuah bentuk bulan sabit merah yang terpotong di bagian tengahnya.
"Namanya di dunia bawah tanah adalah Katarina Vane. Sang Penembak Jitu dari faksi Eclipse," suara Arsen terdengar sangat berat, bergaung dengan aura kematian yang pekat. "Sepuluh tahun lalu, dia memimpin tim yang membakar rumah orang tuaku dan menembak mati ibuku tepat di depan mataku sendiri. Dan berdasarkan catatan sipil serta investigasi medis yang baru saja Marco temukan di bagian bawah berkas ini... nama aslinya sebelum menghilang dari radar dunia hitam adalah Katarina Baskoro."
Dunia Arunika seolah runtuh untuk kesekian kalinya dalam malam yang panjang ini. Kepalanya berdengung keras, membuat pandangannya kabur sejenak. Katarina Baskoro. Nama itu... adalah nama yang tertulis di balik lembar foto kecil yang selalu disimpan ayahnya di dalam bagian paling rahasia dari dompet kulit tuanya. Foto seorang wanita berwajah lembut yang selama ini dipercayai Arunika sebagai ibunya yang telah meninggal karena sakit di sebuah rumah sakit desa saat dia masih kecil.
"Tidak... ini tidak mungkin..." bisik Arunika, menggelengkan kepalanya dengan histeris. Air matanya kembali menetes, membasahi meja mahoni Arsen. "Ibuku... ibuku adalah wanita biasa. Dia bukan pembunuh! Ayah selalu bilang dia meninggal karena sakit! Kami hanya keluarga miskin dari desa, Arsen! Kami tidak punya hubungan dengan dunia hitam ini!"
"Ayahmu berbohong untuk menyelamatkan lehernya sendiri, dan tentu saja, lehermu," sahut Arsen tanpa belas kasihan sedikit pun. Pria itu menutup map kulit itu dengan satu hantaman keras yang membuat Arunika terlonjak kaget.
"Katarina memalsukan kematiannya di dunia bawah tanah, mengubah seluruh identitasnya, dan bersembunyi di balik nama keluarga Baskoro setelah faksi Eclipse dihancurkan oleh aliansi keluargaku. Pria tua bangka yang sekarang sekarat di bawah itu tahu persis siapa wanita yang dia nikahi dan rahasia berdarah apa yang dia bawa ke dalam rumah tangga mereka."
Arsen melangkah maju satu tahap, memangkas jarak di antara mereka hingga Arunika bisa merasakan kehangatan napas dan dinginnya aura dominasi pria itu mengurungnya kembali.
"Sekarang kau paham kenapa faksi Volkov mengirimkan tubuh ayahmu kembali dengan pesan berdarah itu?" tanya Arsen, sebuah seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibirnya. "Mereka tahu aku sedang memburu sisa-sisa darah Katarina selama sepuluh tahun ini. Mereka ingin melihat apakah aku akan melemah. Dan takdir, dengan cara yang sangat sarkas, justru mengantarkan anak perempuan dari musuh besarku langsung ke dalam cengkeramanku sebagai pengantin pengganti. Ini adalah lelucon terbaik yang pernah aku terima."
Arunika mundur selangkah hingga betisnya menghantam tepian sofa. Rasa bersalah yang bukan miliknya tiba-tiba terasa begitu berat dan menghimpit dadanya hingga dia sulit bernapas. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pembantaian sepuluh tahun lalu. Dia tidak tahu bahwa wanita yang melahirkannya adalah seorang eksekutor berdarah dingin yang menghancurkan keluarga pria di hadapannya ini.
Dia hanya seorang gadis biasa yang mencoba bertahan hidup dari utang judi ayahnya yang tak masuk akal. Tapi di dunia mafia ini, aturan yang berlaku sangat primitif: darah harus dibayar dengan darah, dan dosa orang tua akan diwariskan sepenuhnya kepada anak-anaknya.
"Lalu... apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Arunika, suaranya bergetar penuh kepasrahan yang amat dalam. Dia menatap Arsen dengan mata yang pasrah, menanti vonis maut. "Membunuhku sekarang untuk membalaskan dendam ibumu?"
Arsen menatap tanda di bahu Arunika sekali lagi dengan pandangan yang rumit, lalu beralih menatap wajah gadis itu yang dipenuhi air mata dan ketakutan. Sesuatu yang dingin, tajam, dan penuh perhitungan bisnis melintas di sepasang mata elang sang raja mafia.
"Membunuhmu sekarang terlalu mudah, Arunika," ucap Arsen perlahan, setiap katanya sengaja diucapkan dengan tekanan yang lambat, terdengar seperti vonis kutukan baru yang mengikat kebebasannya. "Dan kematianmu terlalu murah untuk menebus darah ibuku yang berharga. Kau akan tetap hidup di sini. Kau akan tetap menjadi istriku, menjadi pengantinku, dan menjadi jaminanku yang paling berharga. Tapi mulai detik ini, tempat ini bukan lagi sekadar penjaramu. Tempat ini adalah neraka pribadimu, dan aku adalah pemiliknya."
Arsen berbalik menatap Marco yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di dekat pintu. "Pindahkan Baskoro ke ruang isolasi bawah tanah setelah operasinya benar-benar selesai dan kondisinya stabil. Pastikan tim medis menjaga jantungnya tetap berdetak, tapi jangan biarkan dia melihat cahaya matahari sedikit pun. Dan untuk gadis ini..." Arsen melirik Arunika sekilas dengan tatapan merendahkan, "...panggil pelayan tua untuk membersihkan penampilannya yang berantakan itu. Besok pagi, aliansi mafia faksi barat akan datang ke mansion ini untuk merayakan... 'pernikahan' resmi kita."
"Baik, Tuan Arsen. Semuanya akan disiapkan sesuai perintah," Marco membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari kamar dengan cepat untuk melaksanakan seluruh instruksi.
Meninggalkan kamar yang kini terasa semakin dingin, fajar akhirnya benar-benar pecah di ufuk timur. Sinar matahari pertama yang pucat menembus celah-celah kabut tebal, menyinari kamar tidur mewah yang kini terasa seperti ruangan interogasi bagi Arunika. Gadis itu berjalan kembali ke sofa dengan langkah yang goyah, menjatuhkan tubuhnya di sana tanpa sisa energi lagi. Emosinya telah diperas habis-habisan hingga ke titik paling dasar, menyisakan kehampaan yang luar biasa hampa di dalam dadanya.
Arsen tidak lagi memedulikan keberadaan Arunika di ruangan itu. Pria itu melangkah ke kamar mandi pribadinya, membersihkan diri, dan kembali dengan setelan jas baru yang sangat rapi tanpa cacat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau melirik ke arah sofa, Arsen melangkah keluar dari kamar, membiarkan suara pintu ganda yang menutup berat bergema di dalam kesunyian.
Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa, hingga matahari sudah naik cukup tinggi menembus tirai kamar. Pintu kamar kembali terbuka dengan bunyi klik yang familier.
Namun, yang masuk kali ini bukanlah Arsen atau Marco, melainkan seorang pelayan wanita paruh baya dengan pakaian seragam hitam-putih yang kaku. Di kedua tangannya, pelayan itu membawa sebuah manekin yang mengenakan gaun panjang berwarna merah marun pekat. Gaun itu terbuat dari bahan beludru mewah yang tampak sangat berat dan mahal.
Wajah pelayan itu datar, tanpa keramahan atau senyuman sedikit pun, mencerminkan atmosfer kaku yang mengakar di seluruh mansion ini.
"Nona Arunika," ucap pelayan itu dengan suara yang monoton dan formal. "Tuan Arsen meminta Anda segera bersiap tanpa menunda waktu lagi. Para tamu aliansi dari berbagai faksi barat sudah mulai berdatangan dan memenuhi aula utama di lantai bawah. Gaun ini... adalah pilihan langsung dari Tuan untuk Anda kenakan malam ini."
Arunika menatap gaun merah marun itu dengan tatapan ngeri yang samar. Warnanya begitu pekat dan gelap, mengingatkannya secara instan pada genangan darah ayahnya yang tercecer di lantai lobi beberapa jam lalu. Dia tahu persis maksud di balik pemilihan gaun ini. Arsen tidak sedang mendandaninya untuk sebuah pesta pernikahan yang indah. Pria itu sedang membungkus umpan hidupnya dengan kain mewah. Mengenakan gaun ini berarti dia secara resmi melangkah masuk ke dalam sangkar emas sang singa sebagai boneka pajangan yang akan digunakan untuk memancing musuh-musuh Arsen keluar ke permukaan.
Dengan tubuh yang masih terasa kaku dan lelah, Arunika bangkit dan membiarkan pelayan tua itu membantunya bersiap. Dia membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya, membiarkan rambut panjangnya disanggul rapi ke atas dengan hiasan jepit perak yang elegan. Wajahnya yang pucat dipoles dengan kosmetik tebal untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya serta memar kemerahan di lehernya akibat cengkeraman Arsen sebelumnya. Gaun beludru mewah itu membalut tubuhnya yang ramping dengan sangat pas, seolah sengaja dijahit khusus untuknya.
Namun, sesaat sebelum mereka selesai, pelayan itu dengan sengaja menata potongan kerah gaun tersebut agak rendah dan miring di bagian bahu kiri. Tindakan itu membiarkan tanda lahir bulan sabit merah milik Arunika terekspos dengan sangat jelas di bawah sorotan lampu kamar.
Arunika memejamkan matanya, menahan napas. Dia mengerti sekarang. Arsen sengaja ingin memperlihatkan tanda itu kepada seluruh dunia bawah tanah yang hadir malam ini. Pria itu ingin memamerkan kepada setiap pasang mata mafia bahwa anak perempuan dari musuh besar mereka, sang pembantai dari faksi Eclipse, kini telah bertekuk lutut dan berada di bawah kendali mutlaknya sebagai barang rampasan perang.
"Sudah selesai, Nona. Mari ikuti saya," ucap pelayan itu, membuka pintu kamar.
Arunika digiring menuruni lorong-lorong panjang, melewati penjagaan ketat para pria berjas hitam, menuju ke arah tangga utama yang langsung menghadap ke aula pernikahan. Dari atas tangga, suara gemuruh obrolan dari ratusan pria berjas dan wanita-wanita bergaun mewah sudah terdengar bergema, memenuhi udara dengan kebisingan yang memusingkan. Aroma alkohol mahal, asap cerutu dari berbagai belahan dunia, serta ketegangan politik dunia hitam menguar pekat di udara aula yang megah tersebut.
Di ujung bawah tangga, Arsen Valentino sudah berdiri menunggu. Pria itu tampak luar biasa tampan namun mematikan dengan setelan tuksedo hitamnya yang sempurna. Dia berdiri kokoh di tengah aula seperti seorang penguasa mutlak yang siap menyambut tawanannya yang paling berharga. Ketika Arunika menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, seluruh perhatian di dalam aula besar itu mendadak tersedot ke arahnya.
Suara obrolan yang tadinya bergemuruh perlahan-lahan menyusut, digantikan oleh bisikan-bisikan tertahan dan pandangan mata yang menajam. Ratusan pasang mata dari berbagai faksi mafia internasional kini tertuju tepat pada bahu kiri Arunika, tempat tanda bulan sabit merah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal yang mewah. Beberapa tamu tampak terbelalak kaget, sementara yang lain langsung menatap Arsen dengan pandangan penuh selidik dan intrik politik. Faksi Volkov yang berada di sudut aula bahkan langsung menghentikan aktivitas minum mereka, menatap Arunika dengan tatapan yang luar biasa dingin.
Ketika Arunika sampai di anak tangga terakhir, Arsen mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke depan.
Arunika menatap telapak tangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat oleh kepanikan yang coba dia sembunyikan di balik wajah datarnya. Dia tahu tidak ada jalan untuk kembali lagi. Dia meletakkan jemarinya yang dingin di atas telapak tangan Arsen. Detik itu juga, Arsen menggenggamnya dengan sangat erat—cengkeraman yang terasa protektif namun di saat yang sama juga posesif dan mengunci pergerakannya.
Arsen menarik tubuh Arunika mendekat hingga lengan mereka bersentuhan erat. Di tengah suara tepuk tangan formal dan penuh kepalsuan dari para tamu aliansi, Arsen menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Arunika.
"Tersenyumlah, Pengantinku," bisik Arsen, suaranya terdengar begitu tenang namun sedingin es yang mampu membekukan darah.
"Panggung sandiwara berdarah kita baru saja dimulai dengan sangat sempurna. Dan pastikan kau tidak melakukan satu pun kesalahan kecil malam ini, karena salah satu pelayan baru saja mengantarkan segelas minuman ke mejaku dengan sebuah catatan kecil... seseorang di antara kerumunan ini baru saja mengirimkan ancaman pembunuhan kedua untukmu."
Jantung Arunika seolah mencelos ke dasar perutnya. Rasa dingin yang luar biasa mendadak menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Dia refleks melemparkan pandangannya ke arah kerumunan tamu yang memenuhi aula luas tersebut. Di antara ratusan wajah yang sedang tersenyum palsu dan bertepuk tangan, sepasang mata di barisan belakang tampak menatapnya dengan intensitas yang berbeda.
Sepasang mata itu tidak memancarkan keterkejutan politik seperti tamu lainnya, melainkan sebuah kebencian murni yang membara. Tangan sosok misterius di barisan belakang itu tampak mencengkeram sebuah gelas kristal berisi minuman dengan begitu kuat, hingga perlahan-lahan terdengar suara retakan halus pada kaca kristal tersebut di tengah kebisingan aula.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 7...**
*Siapakah sosok misterius di barisan belakang yang menatap Arunika dengan kebencian sedalam itu? Apakah ancaman pembunuhan kedua ini datang dari sisa-sisa masa lalu ibunya, ataukah dari musuh baru Arsen yang ingin merusak reputasinya di depan aliansi faksi barat? Dan bagaimanakah Arunika akan bertahan di atas panggung sandiwara yang penuh dengan senjata tersembunyi ini? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan menegangkan di bab berikutnya!*