NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Cemburu yang Salah Alamat

Shaka masih duduk di sisi kiri ranjang.

Lampu kamar menyala redup. Di luar jendela, malam sudah benar-benar sunyi. Jenna berbaring di sisi kanan ranjang, memunggunginya dengan selimut yang ditarik sampai bahu. Napasnya terdengar pelan, tetapi Shaka tahu perempuan itu belum sepenuhnya tidur.

Ia bisa merasakan jarak itu.

Jarak yang kembali muncul karena kebodohannya sendiri.

Sejak pulang dari panti asuhan, ia membiarkan rasa cemburu mengambil alih. Ia memilih diam. Memasang wajah dingin. Menjawab singkat. Membuat Jenna menebak-nebak kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan.

Padahal Jenna tidak salah.

Anak-anak panti itu hanya bicara polos.

Sagara hanya seseorang dari masa kegiatan sosial Jenna.

Dan Jenna sudah mengatakan dengan jelas bahwa Shaka adalah suaminya.

Tetapi Shaka tetap membiarkan dirinya kalah oleh rasa panas di dada.

Ia menatap punggung Jenna lama. Kemudian, sebelum keberaniannya hilang lagi, Shaka bergerak pelan mendekat.

Jenna merasakan pergerakan itu, tetapi tetap memejamkan mata.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Shaka menunduk perlahan, lalu mengecup kening Jenna dengan sangat pelan.

Jenna langsung menegang.

Kecupan itu singkat. Hangat. Tidak menuntut apa pun. Tetapi cukup untuk membuat seluruh pertahanan Jenna bergetar.

Shaka berbisik rendah di dekatnya.

“Kamu tidak salah, Jenna. Akulah yang salah di sini.”

Setelah mengatakan itu, Shaka menjauh dan membaringkan tubuhnya di sisi kiri ranjang.

Kamar kembali sunyi.

Jenna tetap memejamkan mata.

Namun hatinya tidak lagi tenang.

Keningnya masih terasa hangat. Kalimat Shaka masih menggema jelas di telinganya. Untuk sesaat, rasa kesalnya goyah. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin berbalik, bertanya apa maksud Shaka, memintanya menjelaskan, atau setidaknya menatap wajah laki-laki itu.

Tetapi Jenna menahan diri.

Tidak.

Ia tidak boleh luluh semudah itu.

Ia kesal.

Benar-benar kesal.

Bukan hanya karena Shaka diam, tetapi karena Shaka membuatnya merasa bersalah tanpa alasan. Ia sudah mencoba bertanya baik-baik. Ia sudah membuatkan kopi. Ia sudah membuka ruang untuk bicara. Namun Shaka tetap memilih diam dan hanya memberi jawaban pendek.

Jenna menggenggam ujung selimut.

Ia bukan orang yang pendiam. Ia suka bercerita. Ia suka mengungkapkan isi pikirannya. Tetapi sejak menikah dengan Shaka, ia terlalu sering menahan diri karena takut dianggap melewati batas.

Dan malam itu, meski keningnya baru saja dikecup dengan lembut, Jenna tetap memilih diam.

Di sisi lain, Shaka menatap langit-langit kamar.

Ia tahu permintaan maaf singkat itu belum cukup.

Tetapi setidaknya, ia sudah mengatakan bahwa Jenna tidak salah.

Sayangnya, ia belum berani mengatakan alasan sebenarnya.

Bahwa ia cemburu.

Bahwa ia tidak suka Sagara disebut-sebut sebagai calon suami Jenna.

Bahwa ia merasa terlambat masuk ke dunia Jenna, sementara laki-laki lain sudah lebih dulu mengenal sisi hangat istrinya.

Malam itu, mereka tidur dalam satu ranjang.

Namun tidak dalam ketenangan yang sama.

Sarapan pagi berlangsung dengan keheningan.

Meja makan tertata rapi seperti biasa. Ada nasi goreng, telur mata sapi, buah potong, teh hangat untuk Jenna, dan kopi hitam untuk Shaka. Mbak Rini sesekali datang memastikan semua tersedia, tetapi ia pun bisa merasakan suasana yang tidak biasa di antara tuan dan nyonya rumahnya.

Jenna makan dengan tenang.

Shaka duduk di hadapannya, sesekali melirik, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

“Setelah ini ke kafe?” tanya Shaka akhirnya.

“Iya, Mas.”

Nada Jenna sopan.

Terlalu sopan.

Shaka mengangguk. “Saya antar.”

“Baik.”

Hanya itu.

Tidak ada percakapan lain.

Setelah sarapan, mereka berangkat bersama. Di dalam mobil pun suasananya tetap sama. Jenna menatap keluar jendela, sementara Shaka menyetir dalam diam. Biasanya, meski masih canggung, setidaknya ada beberapa kalimat kecil di antara mereka. Tentang kafe. Tentang jadwal. Tentang makan malam. Tentang hal-hal sederhana.

Namun pagi itu, semua terasa beku.

Ketika mobil berhenti di depan Jenna’s Bloom Café, Shaka menoleh.

“Nanti saya jemput.”

Jenna membuka sabuk pengaman.

“Tidak perlu, Mas. Jenna bisa pulang sendiri.”

Shaka langsung menatapnya.

Namun Jenna sudah lebih dulu melanjutkan, “Kalau Mas sibuk, tidak perlu memaksakan.”

Kalimat itu tidak tajam.

Tetapi terasa jauh.

Shaka menahan napas sebentar.

“Saya jemput,” ucapnya pelan.

Jenna tidak membantah lagi.

“Baik. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Jenna turun dari mobil, lalu masuk ke kafe tanpa menoleh lagi.

Shaka menatap pintu kafe yang tertutup setelah Jenna masuk. Dadanya terasa berat.

Ia sadar, kecupan di kening semalam tidak serta-merta memperbaiki semuanya.

Apalagi jika ia masih belum berani bicara jujur.

Di kantor AZ Global Enterprises, Shaka terlihat murung sejak pagi.

Ia duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Beberapa dokumen menunggu ditandatangani, tetapi pikirannya terus kembali kepada Jenna.

Pada punggung Jenna yang memunggunginya semalam.

Pada wajah datar Jenna saat sarapan.

Pada kalimat Jenna pagi tadi.

Kalau Mas sibuk, tidak perlu memaksakan.

Shaka mengusap wajahnya kasar.

Pintu ruang kerjanya terbuka setelah dua ketukan.

Rafa masuk membawa map.

Ia baru melangkah beberapa kali, lalu berhenti.

“Wah.”

Shaka mengangkat wajah dengan tatapan malas.

“Apa?”

Rafa menunjuk wajahnya.

“Ini wajah suami yang habis bikin salah.”

“Rafa.”

“Benar, kan?”

Shaka menatapnya tajam. “Kamu ke sini untuk kerja atau membaca ekspresi saya?”

“Dua-duanya. Tapi yang kedua lebih menarik.”

Shaka berdecak kesal.

Rafa meletakkan map di atas meja, lalu duduk tanpa diminta.

“Cerita.”

“Tidak ada yang perlu diceritakan.”

“Kalimat standar orang yang jelas punya masalah.” Rafa menyandarkan punggung. “Bu Jenna?”

Shaka diam.

Rafa mengangguk seolah mendapat jawaban.

“Sudah kuduga.”

Shaka menatap jendela besar di samping ruang kerjanya. Beberapa detik ia diam, lalu akhirnya berkata, “Kemarin saya ikut kegiatan bakti sosial Jenna.”

Rafa langsung tertarik. “Oh, acara panti asuhan itu?”

“Iya.”

“Terus?”

Shaka menghela napas pendek.

“Ada anak panti yang bertanya siapa saya. Jenna menjawab saya suaminya.”

“Bagus dong.”

“Lalu anak lain berkata, dia kira Sagara yang akan menjadi suami Jenna.”

Rafa terdiam sebentar.

Lalu tertawa.

Tertawa cukup keras sampai Shaka langsung menatapnya dengan sorot membunuh.

“Rafa.”

Rafa menutup mulut, tetapi bahunya masih bergerak.

“Maaf. Maaf. Tapi, Ka… serius? Jadi dari kemarin lo dingin ke Bu Jenna gara-gara ucapan anak kecil?”

Shaka menatapnya datar.

“Anak kecil biasanya bicara berdasarkan apa yang dia lihat.”

Rafa langsung mengangguk pelan, pura-pura bijak.

“Benar. Dan laki-laki dewasa biasanya cemburu berdasarkan apa yang dia takutkan.”

Shaka diam.

Rafa mencondongkan tubuh ke depan.

“Lo cemburu.”

“Saya tidak—”

“Stop.” Rafa mengangkat tangan. “Jangan hina kecerdasan gue. Lo cemburu. Dan parahnya, lo melampiaskan itu ke Jenna.”

Shaka menegang.

Rafa melanjutkan, kali ini lebih serius.

“Jenna salah apa?”

Shaka tidak menjawab.

“Dia mengenalkan lo sebagai suaminya, kan?”

“Iya.”

“Dia menjelaskan Sagara cuma teman kegiatan sosial?”

“Iya.”

“Dia ngasih celah ke Sagara?”

“Tidak.”

“Terus kenapa lo dingin ke dia?”

Shaka mengalihkan pandangan.

“Itulah masalahnya.”

Rafa menghela napas panjang.

“Ka, dengar. Lo boleh cemburu. Itu manusiawi. Apalagi lo baru sadar istri lo ternyata disukai laki-laki lain. Tapi jangan jadikan cemburu lo sebagai hukuman buat Jenna.”

Kalimat itu membuat Shaka diam.

“Kalau lo dingin tanpa penjelasan,” lanjut Rafa, “yang ada Jenna bakal mikir dia salah. Padahal dia nggak salah. Lo malah bikin dia menjauh lagi.”

Shaka menatap map di meja tanpa benar-benar melihatnya.

“Apa yang harus saya lakukan?”

Rafa tersenyum kecil.

“Nah, ini pertanyaan bagus.”

“Jangan buat saya menyesal bertanya.”

“Pertama, minta maaf yang jelas. Bukan cuma ‘kamu nggak salah’. Jelaskan lo cemburu. Iya, gue tahu kata itu bikin lidah lo kram. Tapi coba.”

Shaka berdecak.

“Kedua,” Rafa melanjutkan tanpa peduli, “jangan cuma dingin-diam-cemburu. Kalau bisa, lo lebih romantis sedikit.”

Shaka menatap Rafa seolah baru mendengar kata paling asing di dunia.

“Romantis?”

“Iya. Romantis. Hal kecil saja. Jemput dia dengan benar. Bawa bunga dari kafenya sendiri juga boleh, walau agak aneh. Ajak makan. Bilang dia cantik tanpa terlihat mau sidang direksi. Tanya harinya bagaimana. Dengarkan jawabannya.”

Shaka terlihat semakin pusing.

Rafa menahan tawa.

“Gue tahu ini level sulit buat lo, tapi bukan mustahil.”

“Saya tidak terbiasa.”

“Ya biasakan. Lo sudah menikah, bukan sedang merger perusahaan.”

Shaka menutup matanya sebentar.

Perasaannya sendiri membuatnya pusing.

Ia yang dulu selalu tahu apa yang harus dilakukan di ruang rapat, kini kebingungan hanya untuk menghadapi satu perempuan yang bernama Jenna.

Lebih tepatnya, istrinya sendiri.

Rafa berdiri sambil mengambil map.

“Ka.”

Shaka membuka mata.

“Kalau lo takut kehilangan posisi di hati Jenna karena Sagara, jangan bikin posisi lo sendiri makin jauh dengan sikap dingin.”

Setelah mengatakan itu, Rafa berjalan keluar.

Kali ini Shaka tidak membalas.

Ia hanya diam, membiarkan kalimat Rafa tertinggal di ruang kerjanya.

Sementara itu, Jenna’s Bloom Café mulai ramai menjelang siang.

Jenna berada di meja bunga, menyusun beberapa pesanan buket. Namun gerakannya tidak setenang biasanya. Beberapa kali ia salah mengambil pita, salah menyesuaikan warna wrapping, bahkan hampir lupa memasukkan kartu ucapan ke salah satu pesanan.

Naya memperhatikan dari jauh, tetapi belum berani bertanya.

Tidak lama kemudian, bel pintu berbunyi.

Syana masuk dengan langkah percaya diri, mengenakan blouse putih, celana kulot beige, dan tas kecil di bahunya.

“Assalamu’alaikum, penghuni kafe paling sibuk.”

Jenna mengangkat wajah.

“Wa’alaikumussalam, Sya.”

Syana berjalan mendekat sambil memperhatikan deretan bunga.

“Aku mau pesan bunga.”

“Untuk siapa?”

“Calon mertuaku.”

Jenna langsung menoleh.

“Calon mertua?”

Syana tersenyum lebar.

“Iya. Aku mau berkunjung ke rumah pacarku. Doakan aku disukai, ya.”

Jenna hampir tersenyum.

“Mau bunga yang elegan atau hangat?”

“Yang memberi kesan calon menantu baik-baik tapi tetap mahal.”

Jenna menatapnya.

Syana mengangkat bahu. “Apa? Kesan pertama penting.”

Jenna akhirnya tersenyum kecil, lalu mulai memilih bunga.

Namun Syana yang mengenalnya terlalu baik langsung menyipitkan mata. Senyum Jenna tidak sampai ke matanya.

“Jen.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jawaban bohong.”

Jenna diam.

Syana meletakkan tasnya di kursi dekat meja bunga, lalu menatap Jenna lebih serius.

“Wajahmu murung. Jangan bilang tidak apa-apa.”

Jenna menarik napas pelan.

Ia sebenarnya tidak ingin menceritakan masalah rumah tangganya. Namun Syana adalah sahabatnya. Dan jika terus dipendam, ia takut rasa kesalnya berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

Akhirnya Jenna berkata lirih, “Mas Shaka dari kemarin mendiamkan Jenna.”

Syana langsung tegak.

“Mendiamkan bagaimana?”

“Setelah acara bakti sosial. Dari perjalanan pulang, dia diam terus. Ekspresinya dingin. Jenna tanya apakah Jenna salah, dia bilang tidak. Tapi tetap saja dia diam.”

Syana mengerutkan kening.

“Padahal sebelumnya kalian sudah mulai membaik, kan?”

Jenna mengangguk pelan.

“Malam sebelumnya kami sudah mulai dekat. Mas Shaka bahkan mulai bicara lebih lembut. Lalu dia ikut acara bakti sosial. Jenna pikir semuanya akan semakin baik. Tapi setelah acara selesai, dia berubah lagi.”

Syana menyilangkan tangan di dada.

“Ceritakan kegiatan kemarin dari awal.”

Jenna mulai bercerita.

Tentang mereka berangkat ke kafe mengambil bahan. Tentang anak-anak panti yang menyambutnya. Tentang Shaka yang ikut membawa kotak-kotak bahan. Tentang Sagara yang terlihat sedikit terkejut ketika Shaka ikut. Tentang sapaan kaku antara “Tuan Shaka” dan “Tuan Sagara”. Tentang anak-anak yang menghias tote bag, merangkai buket, dan bagaimana Shaka membantu dengan canggung tetapi cukup baik.

Syana mendengarkan serius.

Sampai Jenna sampai pada bagian itu.

“Lalu ada anak yang bertanya siapa Mas Shaka. Jenna bilang jujur kalau Mas Shaka suami Jenna. Terus ada anak lain yang bilang…”

Jenna berhenti sebentar.

Syana mengangkat alis.

“Bilang apa?”

“Dia kira calon suami Jenna itu Kak Sagara.”

Syana langsung menepuk meja.

“Nah itu masalahnya!”

Suaranya cukup keras sampai beberapa pelanggan menoleh. Naya, Kevin, Alya, dan Amanda yang sedang bekerja juga langsung melihat ke arah mereka.

Jenna membeku.

“Syana,” bisiknya panik.

Syana segera tersenyum canggung kepada pelanggan.

“Maaf, maaf. Diskusi bunga. Bunganya terlalu dramatis.”

Kevin dari balik bar berbisik, “Bunga apa yang punya konflik calon suami?”

Alya menyikutnya cepat.

Jenna menatap Syana dengan wajah malu.

“Pelankan suaramu.”

Syana mencondongkan tubuh ke depan, kali ini berbisik tetapi tetap penuh tekanan.

“Jen, itu jelas masalahnya.”

“Apa?”

“Suamimu itu sedang cemburu jenn.”

Jenna terdiam.

Cemburu.

Kata itu terasa aneh jika ditempelkan pada Shaka.

“Tidak mungkin.”

Syana menatapnya datar.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Mas Shaka bukan tipe yang…”

“Yang apa? Punya perasaan?” potong Syana. “Jen, sedingin apa pun laki-laki, kalau istrinya disebut-sebut cocok dengan pria lain, apalagi pria itu jelas dekat dan disukai banyak orang, ya bisa cemburu.”

Jenna menunduk.

“Tapi Mas Shaka tidak bilang apa-apa.”

“Karena dia gengsi. Atau bingung. Atau tidak terbiasa mengakui perasaannya.” Syana menghela napas. “Laki-laki seperti itu kadang kalau cemburu malah diam, bukannya bicara.”

Jenna menggenggam pita bunga di tangannya.

“Jadi dia mendiamkan Jenna karena cemburu?”

“Kemungkinan besar.”

“Tapi Jenna tidak melakukan apa-apa.”

“Memang tidak. Masalahnya bukan kamu melakukan sesuatu. Masalahnya Shaka melihat ada laki-laki lain yang mungkin menyukaimu, lalu dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

Jenna terdiam lama.

Rasa kesal di dadanya belum hilang. Namun sekarang, ada pemahaman baru yang perlahan masuk. Jika benar Shaka cemburu, maka sikap dinginnya bukan karena Jenna salah. Bukan karena Shaka tiba-tiba menyesal mendekat. Bukan karena semua usaha mereka semalam tidak berarti.

Tapi tetap saja, Jenna masih kesal.

“Kalau cemburu, harusnya bicara,” ucap Jenna pelan.

“Betul.” Syana mengangguk tegas. “Cemburu tidak boleh jadi alasan mendiamkan istri. Kamu boleh kesal.”

Jenna menatapnya.

“Jenna memang kesal.”

“Bagus. Jangan selalu merasa harus sabar tanpa boleh marah.” Syana menunjuk Jenna dengan lembut. “Nanti kalau dia mulai bicara, kamu dengarkan. Tapi kamu juga harus bilang bahwa kamu tidak suka didiamkan tanpa penjelasan.”

Jenna mengangguk pelan.

Syana kemudian mengambil setangkai mawar putih dari meja.

“Sekarang buatkan aku buket calon mertua. Tapi sambil itu, pikirkan satu hal.”

“Apa?”

“Kalau suamimu benar-benar cemburu, berarti dia mulai peduli.”

Jenna terdiam.

Hatinya bergerak kecil.

Syana tersenyum tipis.

“Tinggal masalahnya, dia harus belajar menunjukkan peduli itu dengan cara yang benar.”

Jenna menatap bunga-bunga di hadapannya.

Benar.

Kalau Shaka cemburu, mungkin itu berarti ada sesuatu yang mulai berubah di hati laki-laki itu.

Namun Jenna tetap tidak ingin menjadi orang yang terus menebak-nebak.

Ia ingin Shaka bicara.

Bukan hanya diam.

Bukan hanya dingin.

Bukan hanya kecupan di kening yang membuat hati berantakan, lalu kembali membiarkannya sendiri dengan tanda tanya.

Jenna mengambil bunga mawar putih, baby’s breath, dan eucalyptus untuk buket Syana.

Tangannya mulai bekerja lagi.

Namun pikirannya tertinggal pada satu hal.

Mungkin Shaka memang cemburu.

Dan jika benar begitu, malam nanti Jenna ingin mendengar langsung dari mulutnya.

Bukan dari tebakan Syana.

Bukan dari perubahan ekspresi.

Bukan dari diam yang menyakitkan.

Tetapi dari kejujuran Shaka sendiri.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!