maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Di tengah kepungan intimidasi Paul yang begitu menyesakkan, isi kepala Maizy sebenarnya sudah hancur lebur berkeping-keping. Fokusnya benar-benar terpecah. Di satu sisi, ancaman nyata dari Paul dan gengnya membuat jantungnya terus berdegup panik. Namun di sisi lain, jauh di dalam lubuk hatinya, jiwa ENFJ Maizy yang penuh rasa ingin tahu masih sangat penasaran dengan kelanjutan berita dua cincin kuno dan kerangka tangan yang saling berpegangan itu.
Dia ingin sekali kembali ke perpustakaan Winterhall, membuka lagi kotak kardus tua, dan membaca jurnal misterius yang kemarin sempat ia temukan. Maizy merasa ada sebuah cerita mendalam, sebuah ikatan kesetiaan yang luar biasa dari masa lalu yang seolah sedang memanggilnya untuk diungkap. Namun, bagaimana dia bisa fokus mencari tahu jika setiap kali dia melangkah di koridor, bayangan teror Paul selalu membuntutinya?
Paul yang menyadari tatapan Maizy mendadak kosong dan tidak fokus, langsung mengetuk konter wastafel dengan jarinya yang kokoh, menciptakan bunyi nyaring yang memutus lamunan Maizy.
"Kau mengabaikanku, Maizy?" tanya Paul, suaranya merendah, terdengar semakin berbahaya karena harga dirinya yang tak mau kalah merasa tersinggung. "Aku sedang bicara padamu, dan pikiranmu malah melayang entah kemana."
Maizy tersentak, tatapannya kembali tertuju pada wajah dingin Paul. "Aku... aku tidak mengabaikanmu," bisik Maizy terbata-bata. Sifatnya yang tidak enakan membuat dia refleks menarik diri, menjauh beberapa senti dari Paul. "Aku hanya... aku mau kembali ke kelas."
"Ingat peringatanku tadi," ucap Paul dingin sambil menegakkan tubuhnya kembali, memberikan ruang bagi Maizy untuk lewat, namun tatapan matanya tetap mengunci pergerakan gadis itu seperti seekor predator. "Satu saja tindakan konyol atau aduan darimu, hidupmu di Berlin tidak akan tenang."
Maizy tidak menjawab. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang gemetar mendekap dadanya, dia berjalan cepat keluar dari toilet, mengabaikan tatapan sinis dari Hartonkind dan Cade yang ternyata sedari tadi berjaga di depan pintu luar.
Sepanjang sisa jam pelajaran hari itu, Maizy duduk seperti raga tanpa jiwa. Gurunya sedang menerangkan di depan kelas, namun matanya hanya menatap kosong ke arah buku tulisnya. Pikirannya benar-benar semrawut, bercampur aduk antara rasa takut akan teror pesan malam nanti, wajah dingin Paman Michael di rumah, rasa bersalah pada Rachel, hingga kilasan gambar dua cincin bangsawan misterius yang sempat dia tonton di TV.
Maizy merasa terjebak di dalam labirin yang gelap, dan dia sama sekali tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk bisa keluar dari semua tekanan ini.Bel pulang sekolah kembali berdering, namun alih-alih merasa lega, dada Maizy justru semakin bergemuruh kencang. Dengan langkah berat, dia berjalan menuju deretan loker di koridor utama Winterhall International School untuk mengambil jaket dan tasnya yang tertinggal.
Namun, begitu dia sampai di depan lokernya, Maizy mendadak membeku.
Dari sela-sela pintu loker besi miliknya, mengalir keluar cairan merah kental yang tampak seperti darah—yang untungnya, setelah dicium baunya, ternyata adalah saus tomat murah dalam jumlah banyak. Seseorang telah sengaja menyemprotkan berbotol-botol saus lewat celah atas loker, mengotori seluruh bagian luar dan menggenang di lantai koridor.
Tidak berhenti di situ, di pintu lokernya tertempel sebuah kertas besar bertuliskan: **
"TEMPAT SAMPAH TETAPLAH SAMPAH."
Di ujung koridor, Hartonkind, Cade, dan Reze sedang bersandar sambil bersiul-siul santai. Sementara Paul Graxiel Laxsman berdiri agak jauh di dekat tangga, memperhatikan reaksi Maizy dengan tatapan tajam dan dingin tanpa minat untuk menghentikan gengnya. Dia selalu ingin menang dan memastikan Maizy benar-benar tunduk di bawah kendalinya.
"Astaga! Ada apa dengan keributan ini?"
Suara berat Tuan Weber, salah satu guru senior Winterhall, mendadak menggema di koridor. Dia berjalan mendekati loker Maizy yang sudah berantakan dengan kening berkerut.
Maizy refleks menoleh. Untuk sesaat, secercah harapan muncul di hatinya. Sebagai seorang ENFJ yang menjunjung tinggi keadilan, dia berharap sang guru akan bertindak tegas dan menghukum pelakunya. Namun, sifatnya yang aslinya pendiam dan "tidak enakan" membuat Maizy hanya bisa berdiri kaku, menggigit bibir bawahnya tanpa berani langsung menunjuk hidung Paul dan gengnya.
Tuan Weber melirik ke arah genangan saus tomat, lalu beralih menatap Hartonkind dan Cade yang sekarang mendadak memasang wajah polos tanpa dosa.
"Ah, Weber, anak-anak zaman sekarang memang selalu punya cara aneh untuk bersenang-senang," celetuk seorang guru lain yang kebetulan lewat, memicu tawa kecil di koridor.
Tuan Weber mengembuskan napas panjang, lalu menepuk bahu Maizy pelan. "Maizy, bersihkan ini sebelum kau pulang, ya? Lain kali, bilang pada teman-temanmu kalau mau bercanda jangan keterlaluan sampai mengotori fasilitas sekolah seperti ini."
Bercanda?
Kata itu menghantam dada Maizy dengan sangat keras. Guru yang seharusnya melindungi justru memaklumi tindakan kurang ajar ini hanya dengan dalih "bercandaan remaja". Privilese Paul sebagai ketua divisi dan siswa berprestasi tampaknya membuat para guru selalu menutup mata dan memberi kelonggaran luar biasa pada lingkungan pergaulannya.
"I-iya, Pak... maaf," bisik Maizy lirih. Sifat tidak enakannya lagi-lagi menahan suaranya untuk protes. Dia tidak ingin memperpanjang masalah atau dicap sebagai murid yang "baperan" dan merusak suasana sekolah internasional tersebut.
Tuan Weber mengangguk sekilas lalu pergi begitu saja.
Paul yang berdiri di dekat tangga perlahan melangkah melewati koridor, sengaja berjalan lambat di dekat Maizy yang mulai berlutut di lantai untuk membersihkan noda merah itu dengan tisu seadanya.
"Sudah kubilang, kan? Di sini, suaramu tidak akan pernah terdengar, Maizy," bisik Paul dengan nada sedingin es, mutlak tak mau kalah sebelum dia melenggang pergi diikuti oleh sisa gengnya yang tertawa puas.
Maizy terus menggosok lantai dengan tangan yang gemetar. Air matanya setetes demi setetes mulai jatuh, bercampur dengan warna merah saus di lantai. Pikirannya benar-benar kalut dan hancur. Di tengah rasa terhina yang luar biasa ini, anehnya fokus Maizy sempat terlempar kembali pada sepasang cincin kuno dan kerangka tangan yang saling berpegangan di berita TV.
Kenapa kisah di masa lalu terasa begitu penuh kesetiaan dan perlindungan, sementara dunianya saat ini terasa begitu kejam, sepi, dan tidak adil?
Sambil menangis dalam diam di koridor yang mulai sepi, Maizy meratapi nasibnya yang harus menanggung semua siksaan mental ini sendirian, tanpa berani mengadu pada siapa pun—termasuk pada Paman Michael yang menantinya di rumah dengan keheningan yang sama kaku.
Mendung di langit Berlin malam itu akhirnya tumpah menjadi gerimis tipis yang dingin. Maizy berjalan dengan langkah gontai menuju stasiun U-Bahn, tubuhnya terasa sangat lelah dan pakaiannya masih menyisakan bau samar saus tomat yang asam. Karena fokusnya yang sudah hancur dan pikirannya yang melayang kemana-mana, Maizy tidak menyadari ada langkah kaki yang membuntutinya sejak keluar dari gerbang sekolah.
Saat melewati sebuah gang kecil yang sepi dan remang-remang di antara bangunan bata tua khas Berlin, sebuah tangan kekar mendadak mencengkeram tudung sweater kebesaran Maizy dari belakang.
Sret!
"Ah!" Maizy menjerit kecil saat tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam kegelapan gang yang lembap.
Brakk!
Punggungnya menghantam dinding bata dengan cukup keras, membuat kacamatanya terlepas dan jatuh ke tanah berbatu. Pandangan Maizy seketika menjadi buram berekor-ekor, namun dia bisa mengenali siluet tinggi tegap milik Hartonkind yang menjaganya di depan, sementara Cade dan Reze berdiri di dekat mulut gang untuk mengawasi situasi.
Dan di tengah-tengah mereka, berdirilah Paul Graxiel Laxsman. Cowok Kanada itu menatap Maizy dengan pandangan yang luar biasa dingin, tanpa sedikit pun rasa iba. Sifatnya yang mutlak tidak mau kalah telah mencapai titik tertinggi—dia ingin memastikan Maizy benar-benar hancur dan tidak akan pernah berani menatap matanya lagi di sekolah.
"Sudah kubilang kan, Nona Kacamata? Peringatan verbal dan coretan di meja kemarin itu tidak ada artinya kalau kau masih belum bisa tunduk," ucap Paul, suaranya berat dan tenang, namun terasa sangat mencekam di bawah rintik gerimis.
"Kenapa... kenapa kalian melakukan ini padaku?" bisik Maizy lirih. Air matanya mulai menetes, bercampur dengan air hujan di pipinya. Sifatnya yang aslinya pendiam dan selalu "tidak enakan" membuat dia sama sekali tidak bisa mengangkat tangan untuk melawan. Dia hanya bisa mendekap tas sekolahnya erat-erat di depan dada sebagai perisai rapuh.
"Karena kau sangat mengganggu pemandangan, Maizy," celetuk Hartonkind sinis. Tanpa peringatan, Hartonkind maju dan menepis tas di dekapan Maizy hingga terlempar ke kubangan air, lalu mendorong bahu gadis itu hingga dia tersungkur di atas tanah yang dingin dan kotor.
Lutut Maizy membentur batu keras, menimbulkan rasa perih yang seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Kulitnya lecet dan seragamnya kini basah oleh air hujan dan lumpur.
Cade melangkah mendekat, sengaja menginjak kacamata Maizy yang tergeletak di tanah sampai terdengar bunyi krak yang memilukan—lensanya retak seribu. "Oops, tidak sengaja. Lagipula kacamata jelek ini sudah tidak berguna untukmu, kan?" ejek Cade sambil tertawa bersama Reze.
Maizy meraba-raba tanah dengan tangan yang gemetar hebat, memeluk kedua lututnya sendiri di atas tanah yang dingin. Rasa sakit fisik di lutut dan punggungnya tidak sebanding dengan rasa hancur dan terhina yang berkecamuk di dalam dadanya. Dia benar-benar sendirian di gang gelap kota Berlin ini, menjadi samsat amarah dari Paul dan gengnya yang super berkuasa.
Paul berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Maizy yang sedang bersimpuh. Dia merunduk sedikit, menatap Maizy yang tampak sangat rapuh dan tak berdaya lewat tatapan meremehkan yang amat dalam.
"Ingat rasa sakit malam ini, Maizy," bisik Paul dingin tepat di telinganya, mutlak tanpa belas kasihan. "Ini adalah harga yang harus kau bayar karena mencoba menantangku. Besok di sekolah, pastikan kau mengunci mulutmu rapat-rapat kalau tidak mau hal yang lebih buruk terjadi pada tubuh ringkihmu ini."
Paul menegakkan tubuhnya kembali, membetulkan letak kerah seragam Winterhall-nya yang sedikit basah. "Ayo pergi. Tempat kotor ini membuatku muak," perintah Paul pada gengnya.
Hartonkind sengaja menendang sisa genangan air ke arah Maizy sebelum mereka berempat melenggang pergi, meninggalkan Maizy sendirian di dalam kegelapan gang yang dingin.
Di bawah guyuran gerimis Berlin, Maizy menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran karena kedinginan dan rasa sakit fisik yang mendera. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan trauma mendalam dan ketakutan luar biasa untuk kembali melangkah ke rumah, membayangkan bagaimana dia harus menyembunyikan luka fisik ini dari tatapan mata Paman Michael yang sedingin es.