NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Pergi Melihat Bersama

Bab 8 - Pergi Melihat Bersama

Suara pintu yang terbanting menimbulkan getaran samar di seluruh ruangan, membuat tubuh Raisa menegang seketika. Ia menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat, napasnya terasa sesak seolah ada beban berat yang menindih dadanya. Air matanya terus mengalir tanpa henti, jatuh membasahi pipi dan ujung bajunya, namun ia berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar keluar.

Ia melangkah perlahan mendekati meja makan di sudut kamar, menatap hidangan yang masih terlihat utuh dan sedikit mengeluarkan uap sisa kehangatan. Makanan itu terlihat lezat dan disiapkan dengan penuh perhatian, namun baginya rasanya tak akan pernah bisa masuk ke tenggorokan selama hatinya masih terasa hancur dan penuh kekhawatiran.

Tapi ucapan Senopati terus terngiang di telinganya. "Jadilah wanita yang patuh." Kalimat itu terasa seperti peringatan keras yang tak bisa ia abaikan. Jika ia menolak lagi, entah bagaimana reaksi pria itu nanti. Ia sudah cukup melihat betapa dingin dan tegasnya Senopati saat marah.

Dengan tangan yang gemetar, Raisa menarik kursi dan duduk perlahan. Ia mengambil sendok, mencoba memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya. Rasanya terasa hambar, tak ada rasa apa pun selain kepedihan yang menyelimuti hatinya. Namun ia tetap memaksakan diri menelan sedikit demi sedikit, meski terasa sangat sulit.

Di luar kamar, Senopati berdiri mematung bersandar di dinding koridor. Tangannya masih mengepal erat, dadanya naik turun mengatur napas yang memburu karena emosi yang baru saja ia luapkan. Begitu ia keluar, amarahnya seolah perlahan memudar dan digantikan oleh rasa sesak yang jauh lebih berat.

Mengapa ia harus berbicara setegas itu? Mengapa ia harus melontarkan kata-kata yang terasa menusuk sendiri jika dipikirkan kembali?

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menenangkan pikirannya. Di satu sisi ia ingin Raisa mengerti posisinya dan menerima kenyataan, tapi di sisi lain ia juga tahu betapa beratnya perubahan hidup yang harus dijalani wanita itu dalam waktu singkat. Ia ingat betapa menyedihkannya kehidupan Raisa selama ini, bagaimana ia diperlakukan seperti orang asing di rumahnya sendiri, dan kini ia justru bersikap seolah-olah menjadi tahanan di rumah barunya ini.

Senopati melangkah perlahan kembali ke ruang kerjanya. Malam itu ia tak bisa tidur tenang. Ia terus memikirkan apakah Raisa benar-benar memakan makanannya atau justru memaksakan diri hingga jatuh sakit. Ia ingin kembali memeriksa, tapi rasa gengsi dan kekhawatiran akan terlihat terlalu lemah menahannya untuk melangkah lagi ke depan pintu kamar itu.

Namun saat sudah larut, semua orang mungkin sudah tertidur dan hanya dia yang masih terjaga. Dengan langkah yang hati-hayi Senopati masuk kedalam kamar Raisa, wanita itu sudah tertidur pulas dengan mata yang terlihat sembap karena banyak menangis. Jauh di dalam hati Senopati ia merasa bersalah telah membentak wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Senopati melihat kearah meja tempat makanan Raisa berada, rupanya sepiring makanan dan segelas susu telah habis Raisa makan. "Baguslah jika dia menghabiskan makanannya." Senopati lalu beranjak meninggalkan kamar Raisa.

Keesokan paginya, suasana di rumah itu terasa lebih hening dari biasanya. Saat Senopati turun ke ruang makan, ia melihat kepala pelayan sudah menunggu dengan laporan rutin.

"Tuan, Nona Raisa sudah bangun sejak pagi. Ia meminta air hangat saja dan mengatakan tidak terlalu nafsu makan. Tapi makanan semalam sudah habis ia makan seperti perintah Tuan," lapor pelayan itu dengan suara pelan.

Mendengarnya, tidak membuat Senopati berekspresi karena ia sudah tahu lebih dulu, karena semalam ia masuk kedalam kamar Raisa dan memeriksanya sendiri.

"Baiklah. Pastikan kebutuhannya terpenuhi, dan jangan sampai ia kekurangan apa pun," perintahnya singkat.

"Baik, Tuan. Namun ada satu hal lagi—beberapa jam yang lalu ada surat yang dikirimkan untuk Nona Raisa, dikirimkan oleh seseorang bernama Kelvin. Apakah boleh saya serahkan kepadanya?"

Dahi Senopati langsung mengerut tajam mendengar nama itu disebut lagi. Jemarinya menggenggam gagang cangkir kopi dengan lebih kuat. Rasanya ada rasa tidak suka yang langsung muncul kembali, namun kali ini ia mencoba menahan diri agar tidak meledak lagi.

"Berikan surat itu kepadaku terlebih dahulu. Saya yang akan membacanya dulu sebelum diserahkan kepadanya," ucapnya dengan nada datar namun tegas, tak memberi ruang untuk dibantah.

Pelayan itu mengangguk patuh dan segera mengambil amplop tertutup berwarna cokelat, lalu menyerahkannya ke tangan Senopati. Begitu amplop itu berada di genggamannya, rasanya ada rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran yang menyelimuti. Apa isi surat itu? Apakah surat itu hanya akan menambah beban pikiran Raisa menjelang hari pernikahan mereka yang semakin dekat?

Senopati melirik ke arah tangga, di mana kamar Raisa berada di lantai atas. Hari ini hanya tersisa tiga hari lagi menuju hari di mana mereka akan diikat dalam ikatan pernikahan. Ia memilih untuk menyimpan surat itu dulu, mungkin Kelvin mengirim melalui surat untuk menyampaikan sesuatu karena Senopati menyuruh Raisa memblokir semua akses apapun agar Kelvin tak bisa menghubungi Raisa.

Senopati sudah berada di perusahaannya, ia akan menghadiri rapat sebelum ke tempat dimana gedung pernikahannya akan di adakan. Ia mengurus semuanya karena Senopati tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

"Radit, jam sepuluh nanti kamu jemput Raisa bawah dia ke gedung tempat pernikahan kami, aku ingin dia juga memilih beberapa dekorasi."

"Baik Tuan." Radit lalu keluar dari Ruangan Senopati, meninggalkan Tuan yang sudah sibuk dengan komputernya.

Di rumah Senopati, Raisa baru saja masuk kedalam rumah dan akan naik kekamatnya sebelum kepala pelayanan menghentikannya. "Nona Raisa tunggu?" Kepala pelayanan berlari kecil hingga berdiri tepat di hadapan Raisa.

"Ada apa Bi Lastri?" Wanita berkulit putih itu segera berhenti begitu namanya di panggil.

"Nona, Tuan menyuruh Nona, untuk siap-siap, nanti jam sepuluh asisten Tuan, Radit akan datang menjemput."

"Memangnya saya mau di jemput kemana Bi Lastri?"

"Entahlah, tapi kalau tidak salah Tuan, bilang ingin mnyiapkan hal-hal sebelum pernikahan." Bi Lastri juga kurang tahu, karena Tuannya tidak banyak bicara tadi.

"Baiklah Bi Lastri, saya naik dulu ya keatas?"

"Tapi Nona, belum makan apapun sama sekali. Makan dulu ya walau sedikit nanti Tuan marah lagi sama Nona?" Bi Lastri hanya takut jika Raisa di marahi lagi oleh Senopati.

"Nanti saja ya Bi, saya belum lapar,"

"Kalau begitu segelas jus saja ya, supaya perut Nona, tidak kosong?" Raisa hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya ke lantai dua, ia ingin mandi dan bersiap-siap untuk pergi setelah jemptannya tiba. Sedangkan Bi Lastri masuk dapur mengambilkan jus untuk Raisa.

Sesampainya di kamar ponsel Raisa berdering dan itu adalah Senopati yang menelpon. Dengan sedikit keraguan Raisa akhirnya memilih untuk mengangkat telepon dari calon suaminya itu.

"Halo...?" Suara Senopati terdengar dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!