NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Alex telah sampai di rumah Mira yang sangat gelap.

Suasana sepi malam itu terasa mencekam, hanya menyisakan keremangan dari lampu jalanan yang menembus kaca jendela.

Dengan napas memburu dan sisa kepanikan di dadanya, Alex buru-buru mengetuk pintu kayu di depannya.

"Mira!" panggil Alex setengah berteriak, suaranya sarat akan kekhawatiran.

"Alex, aku di sini," terdengar sahutan lirih dari dalam rumah, terdengar parau dan penuh rintihan.

Tanpa membuang waktu, Alex membuka pintu yang rupanya tidak terkunci rapat.

Alex masuk dan menghidupkan lampu ruang tamu, seketika menerangi ruangan yang semula gelap gulita.

Ia melangkahkan kakinya bergegas menyusuri lorong kecil menuju sumber suara.

Setelah itu ia masuk ke kamar melihat Mira di bawah. Wanita itu terduduk lemas di lantai dekat ranjangnya, memegangi pergelangan kakinya dengan wajah yang pucat dan air mata yang berlinang.

"Mira!" seru Alex, langsung berlutut di sebelah wanita itu.

Ia membopong tubuh Mira dengan cekatan, mengangkat tubuh ringkih sahabat istrinya itu dari lantai yang dingin dan membaringkannya secara perlahan ke atas kasur yang empuk.

"Sakit, Lex..." keluh Mira manja, merintih pelan sambil menatap Alex dengan pandangan sayu yang menuntut simpati.

Melihat gurat kesakitan di wajah Mira, Alex tak tega. Alex bangkit dan mencari minyak dan memijat kaki Mira.

Ia memijat pergelangan kaki yang tampak memar itu dengan sangat hati-hati, mencoba mengurangi rasa sakit yang dikeluhkan oleh Mira.

Fokusnya sepenuhnya terarah pada luka itu, mencoba mengabaikan atmosfer kamar yang perlahan mulai terasa berbeda.

Namun, di tengah pijatan lembut itu, Mira tiba-tiba menarik tangannya.

Sebelum Alex sempat menyadari apa yang terjadi, Mira sudah memajukan tubuhnya.

"Aku kangen kamu, Lex..." bisik Mira dengan suara yang teramat dalam, sarat akan kerinduan yang selama ini ia pendam sendiri.

Mira memeluk tubuh Alex dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

Alex membeku, tangannya yang berlumur minyak menggantung di udara.

Jantungnya berdetak kencang, berkejaran antara rasa bersalah pada Lani dan letupan ego pria yang kini sedang dipeluk erat.

Belum sempat Alex menarik diri, Mira mendongak, menatap lekat sepasang mata Alex, dan dengan berani ia mencium bibir Alex.

Sentuhan hangat yang tak terduga itu bagaikan sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehat Alex.

Seluruh pertahanan moral yang ia bangun di Bali bersama Lani mendadak runtuh dalam hitungan detik.

"Mir..." desah Alex parau, mencoba memanggil nama wanita itu di sela-sela ciuman mereka, berusaha mencari sisa-sisa waras yang kian mengikis.

Namun, Mira tidak memberikan celah bagi Alex untuk mundur.

Ia menangkup wajah Alex, menatapnya dengan binar mata yang penuh gairah sekaligus janji yang selama ini paling diinginkan oleh Alex.

"Aku akan memberikan kamu anak, Mas," bisik Mira, dengan sengaja memanggil Alex dengan sebutan 'Mas'—sebuah panggilan sakral yang biasanya hanya diucapkan oleh Lani.

Kalimat itu menghantam tepat pada titik terlemah Alex, meresonansi ultimatum Ibu Narti beberapa jam lalu di halaman rumah.

Sebelum Alex mampu mencerna keputusannya, Mira kembali mencium bibir Alex, kali ini dengan lebih menuntut dan penuh kepemilikan.

Kata 'anak' dan kehangatan Mira malam itu menjadi racun mematikan yang melumat habis seluruh kesetiaan Alex.

Dipenuhi oleh ego, tekanan keluarga yang membakar, dan godaan yang tak lagi mampu ia bendung, Alex menyerah pada nafsunya.

Alex melepaskan pakaiannya dan naik ke atas tempat tidur, menenggelamkan dirinya ke dalam lembah pengkhianatan yang akan menghancurkan pernikahannya dengan Lani tanpa sisa.

Pyarr!

Suara pecahan kaca yang nyaring mendadak membelah keheningan malam yang sunyi.

Gelas di kamar Lani pecah setelah tersenggol tanpa sengaja oleh tangannya yang bergerak gelisah dalam tidur.

Lani langsung terbangun dengan jantung yang bertalu-talu hebat.

Napasnya memburu, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Dadanya terasa sesak oleh firasat buruk yang mendadak mencengkeram seluruh kesadarannya.

"Astaghfirullah, ya Allah ada apa ini?" bisik Lani dengan suara bergetar sambil menatap serpihan kaca yang berserakan di lantai.

Ia menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Kasur itu masih rapi dan dingin, menandakan belum ada orang yang merebahkan diri di sana sejak beberapa jam yang lalu.

Lani melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam.

"Kenapa Mas Alex belum pulang dari kantor?" gumamnya penuh kecemasan.

Rasa khawatir mengalahkan rasa sakit di hatinya akibat kejadian di rumah ibu mertuanya sore tadi.

Dia mencoba menghubungi suaminya. Jemarinya yang gemetar membuka layar ponsel, mencari nama kontak Alex, lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung berdering panjang, namun hingga detik terakhir, panggilan itu terputus begitu saja.

"Kenapa tidak diangkat?" tanyanya pada diri sendiri.

Apakah terjadi sesuatu di jalan? Apakah pekerjaan di kantor begitu menyita waktu hingga suaminya tidak sempat melihat ponsel?

Gelisah yang kian memuncak membuat Lani kembali menghubungi suaminya untuk kedua kali.

Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, merapalkan doa dalam hati agar suara berat Alex segera menyahut di seberang sana.

Sementara itu, di sebuah kamar yang dipenuhi atmosfer pengkhianatan, dering ponsel yang bergetar di atas nakas mengusik keheningan.

Mira membuka matanya perlahan, melirik ke arah Alex yang sudah tertidur pulas di sampingnya akibat kelelahan.

Melihat nama 'Istriku' berkedip di layar ponsel Alex, seulas senyum licik dan penuh kemenangan tersungging di bibir Mira.

Dengan gerakan pelan agar tidak mengejutkan pria di sebelahnya, Mira meraih ponsel tersebut dan mengangkatnya.

Begitu panggilan tersambung, Lani yang sudah tidak sabar langsung bersuara dengan nada panik sekaligus lega.

"Mas Alex....."

Mira tidak membalas dengan kata-kata. Ia sengaja membiarkan keheningan sesaat, lalu sengaja menarik napas dalam-dalam agar suara helaan napasnya terdengar jelas oleh Lani, sebelum akhirnya Mira langsung menutup ponselnya secara sepihak.

Tut... Tut... Tut...

Sambungan terputus. Di kamarnya yang sunyi, Lani terpaku dengan ponsel yang masih menempel di telinga.

Wajahnya seketika pucat pasi, darahnya seolah berhenti mengalir.

Suara helaan napas wanita yang sangat familier di telinganya sebelum telepon ditutup tadi menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong.

Air mata yang sejak sore ia tahan, kini perlahan luruh membasahi pipinya.

Dada Lani naik turun menahan rasa sakit yang teramat sangat, sebuah kenyataan pahit mulai terkuak di depan matanya.

"Mas, apa yang kamu lakukan? Kamu bersama siapa?" gumam Lani.

Ia meratapi hancurnya kepercayaan yang baru saja ia rajut kembali di Pulau Dewata.

Lani yang sudah tidak bisa tidur lagi bangkit dari tempat tidur.

Langkah kakinya terasa begitu berat dan limbung saat berjalan melewati serpihan gelas yang masih berserakan di lantai kamar, seolah mengabaikan bahaya kecil itu demi rasa sakit yang jauh lebih besar di dadanya.

Ia melangkah ke ruang depan dan duduk di kursi tamu menunggu kedatangan suaminya.

Suasana rumah kontrakan mereka begitu sunyi, hanya ditemani sorot lampu teras yang temaram dan dinginnya angin malam yang menyusup dari celah pintu.

Jam menunjukkan mulai dari jam satu malam sampai jam lima pagi lani menunggu suaminya yang tidak ada kabar sama sekali.

Setiap detak jam dinding terasa seperti siksaan yang lambat laun membunuh harapan di hati Lani.

Sepanjang empat jam itu, matanya tak pernah lepas menatap pintu depan.

Ia memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil, berharap suara deru motor Alex akan memecah keheningan fajar.

Ia sempat mencoba menelepon kembali beberapa kali, namun ponsel suaminya kini telah beralih menjadi tidak aktif.

Bayangan helaan napas wanita yang mengangkat teleponnya tengah malam tadi terus berputar di kepalanya, bercampur dengan ultimatum kejam dari Ibu Narti sore kemarin.

Ketika cahaya fajar mulai bersinar di langit timur, Lani masih bergeming di kursinya.

Wajahnya pucat, matanya sembap, dan hatinya kini benar-benar kosong.

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati dan bertahan dalam badai, detik ini Lani tersadar bahwa rumah tangga yang ia pertahankan dengan air mata telah runtuh sepenuhnya sebelum mentari pagi itu terbit.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!