Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memamerkan Keahlian
Ruu menendang elang hitam itu tanpa memedulikannya, lalu melompat ringan ke atas tempat tidur. Tubuh bulatnya mendarat tepat di samping Li Yunru.
"Tuan, kamu tidak bisa makan daging sapi."
Li Yunru langsung mengernyit. "Mengapa tidak bisa? Sapi itu untuk dimakan, bukan dipelihara lalu dibiarkan mati karena usia tua?"
Ruu menarik napas, seolah hendak menjelaskan sesuatu yang sangat penting. "Para manusia setengah binatang percaya bahwa sapi adalah reinkarnasi Dewa Binatang."
Li Yunru terdiam sesaat, lalu langsung membalas tanpa ragu. "Omong kosong! Kalau Dewa Binatang bereinkarnasi jadi sapi, berarti selama ini aku makan dewa?"
Ia semakin kesal memikirkannya. Siapa yang pertama kali menyebarkan teori aneh seperti itu? Jika dewa benar-benar mati dan bereinkarnasi, lalu siapa yang menggantikan posisinya?
Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada. Jelas ia tidak akan percaya tanpa bukti yang masuk akal. Kini, logikanya mulai berjalan liar.
"Terlebih lagi, aku manusia, bukan manusia setengah binatang. Bahkan jika Dewa Binatang bereinkarnasi menjadi sapi, lalu sapi yang mana? Ribuan sapi di dunia ini, apakah semuanya reinkarnasi Dewa Binatang?" imbuhnya.
Akhirnya Hei Sanfeng mendapat kesempatan untuk menyela. Ia mengibaskan sayapnya sambil mendengus. "Jangan terlalu dianggap serius. Itu hanya sebagian kecil kepercayaan saja," ujarnya santai. "Jelas aku dan naga sakit itu juga makan daging sapi."
Elang hitam itu melirik Bai Muzhi dengan nada mengejek pada kalimat terakhir. Mereka hidup berdampingan dengan ras manusia yang memang mengonsumsi daging sapi. Jadi, kepercayaan tentang Dewa Binatang itu sama sekali tidak kredibel baginya.
Bukankah lebih masuk akal jika Dewa Binatang bereinkarnasi menjadi singa atau naga? Mengapa harus menjadi sapi yang hanya makan rumput?
Hei Sanfeng kembali menatap Ruu dengan sinis. "Jangan munafik! Aku tahu kamu juga makan daging sapi."
"Aku memang tidak menyangkalnya!" Ruu memutar bola matanya kesal. Telinganya bergerak-gerak, lalu kembali menatap Li Yunru. "Tuan, apakah kamu lapar?"
"Ya. Tapi aku ingin masak sendiri."
"Mengapa memasak sendiri? Ada koki yang bisa memasak di istana ini," sahut Hei Sanfeng tidak setuju, suaranya sedikit meremehkan.
Li Yunru menggeleng pelan. Tatapannya berubah serius. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu."
"Apakah kamu bisa memasak?" tanya Bai Muzhi tiba-tiba.
"Tentu saja." Li Yunru sedikit mengangkat dagu, nadanya mengandung sedikit kebanggaan. "Aku ini koki yang serba bisa."
Seekor kelinci dan seekor elang serta Bai Muzhi saling melirik. Ketiganya sama-sama penasaran dengan rasa masakan gadis manusia itu.
Setelah memastikan Li Yunru benar-benar baik-baik saja, mereka akhirnya menuju halaman belakang istana. Di sana tumbuh beberapa pohon rindang berbatang besar dan berdaun lebat, sementara sebuah sungai kecil mengalir jernih dari arah pegunungan.
Li Yunru tidak berniat menyembunyikan ruang spiritual dari mereka. Dengan santai ia mengeluarkan berbagai kebutuhan dari dalamnya.
"Kamu masih punya ruang penyimpanan?"
Hei Sanfeng yang masih berwujud elang hitam bertanya dengan nada penasaran. Kepalanya sedikit miring, matanya mengamati setiap benda yang muncul.
"Ya. Diberikan seseorang," jawab Li Yunru santai, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Hei Sanfeng tidak bertanya lagi. Lagi pula, ruang penyimpanan bukanlah benda langka. Banyak manusia maupun manusia setengah binatang memilikinya, selama mengenali ruang dengan setetes darah untuk mengaktifkannya.
Melihat gadis itu mengeluarkan begitu banyak bahan, ketiganya tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Ada sayuran segar, bumbu-bumbu beraroma kuat, serta berbagai peralatan dapur.
"Mengapa harus menyiapkan sebanyak itu?" Hei Sanfeng kembali bertanya.
"Makanan enak selalu membutuhkan banyak bahan," jawab Li Yunru datar.
Sebenarnya ia tahu ikan bakar yang hanya dibumbui garam pun sudah enak. Namun, jika ingin menguji kemampuan sebagai koki spiritual, tentu ia tidak bisa asal-asalan.
Li Yunru diam-diam merasa senang. Ruang spiritual itu benar-benar membantunya. Selain menyediakan alat masak, berbagai bumbu, bahkan bahan-bahan yang mungkin sulit ditemukan di dunia kuno ini pun tersedia di dalamnya.
Li Yunru mulai membersihkan daun bawang muda dalam jumlah cukup banyak. Daunnya panjang dan segar, lalu dipotong menjadi tiga bagian.
"Tuan, apa yang akan kamu buat?" tanya Ruu penasaran. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan Li Yunru. "Kenapa tidak ada daging?"
Li Yunru meliriknya sekilas. "Bukankah kelinci makan wortel dan sayur?"
Ruu langsung mengangkat kepala dengan ekspresi tidak terima. "Aku ini kelinci spiritual. Makan daging juga."
"Tidak heran kamu gendut."
"...."
Ruu terdiam dan memilih tidak menanggapi. Dalam hati, ia merasa itu tidak adil. Ia hanya makan lalu berbaring. Bagaimana bisa disalahkan jika tubuhnya menjadi gemuk?
Namun Li Yunru sudah tidak memedulikannya lagi. Setelah selesai memotong daun bawang, ia mengambil sebuah mangkuk porselen besar.
"Tolong buatkan api untukku," katanya pada Bai Muzhi sambil melirik tungku batu sederhana yang sebelumnya ia susun.
Pria berambut putih itu melangkah maju. Ia jelas tidak akan mengandalkan seekor kelinci gemuk dan elang hitam berkepala botak untuk urusan membuat api.
Sementara itu, Li Yunru memasukkan beberapa bahan ke dalam mangkuk porselen. Ia menuangkan tepung terigu, tepung beras lalu memecahkan dua butir telur. Setelah itu, ia menambahkan sedikit lada, kaldu jamur dan garam secukupnya.
Kemudian ia menuangkan air sedikit demi sedikit sambil terus mengaduk. Di bawah gerakannya yang cekatan, adonan perlahan berubah halus dan kental tanpa gumpalan.
Setelah adonan siap, ia memanaskan wajan kecil di atas tungku. Begitu wajan panas, ia menuangkan minyak secukupnya agar adonan tidak lengket.
Li Yunru lalu menyusun potongan daun bawang di atas wajan membentuk lapisan tipis. Setelah itu, ia menuangkan adonan hingga menutupi permukaannya dengan rata. Aroma daun bawang mulai menyebar saat adonan menyentuh minyak panas.
Ia membiarkannya matang sejenak sebelum membaliknya dengan cekatan. Warna cokelat keemasan perlahan muncul di kedua sisi, tampak renyah dan menggoda.
"Aromanya wangi sekali!" Hidung Ruu berkedut-kedut, matanya berbinar penuh harap.
Li Yunru tersenyum kecil. "Tunggu sampai dimakan nanti."
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng diam-diam mendekat beberapa langkah hanya untuk melihat seperti apa makanan itu.
Bai Muzhi juga mengangguk pelan. Ia memang tidak menyangkal bahwa aromanya sangat menggugah selera. Namun bukan hanya aroma yang menarik perhatiannya.
Di matanya, Bai Muzhi melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang biasa—aliran energi spiritual hijau yang perlahan mengalir dari tangan Li Yunru ke dalam makanan yang sedang dimasaknya. Seolah setiap gerakan, adukan dan sentuhan memiliki kekuatannya sendiri.
Jadi ... gadis ini benar-benar mampu membuat hidangan spiritual yang dapat menyehatkan tubuh? Tatapan Bai Muzhi semakin dalam.
Sementara itu, Li Yunru tetap fokus. Ia memang percaya diri dengan kemampuan memasaknya. Setelah seluruh adonan berubah menjadi lembaran-lembaran berwarna keemasan, ia menyusunnya di atas piring.
"Masih kurang," gumamnya pelan. Ia membutuhkan saus cocolan.
Li Yunru mengeluarkan mangkuk kecil dari ruang spiritualnya beserta beberapa bahan tambahan. Tuangkan kecap asin, air, sedikit cuka dan gula secukupnya, lalu mengaduknya hingga larut sempurna—menciptakan saus cokelat gelap beraroma asam-manis yang menggugah selera.
"Akan lebih bagus jika ada wijen sangrai," katanya dengan sedikit penyesalan. Namun, tanpa itu pun hidangan di depannya sudah tampak menggoda.
Mata Bai Muzhi tak lepas dari piring di depannya. Aroma harum terus menyebar bersama aliran energi spiritual hijau yang samar. Kini ia benar-benar penasaran.
"Apa nama hidangan ini?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂