"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pelukan sore itu di ruang tengah perlahan terlepas, namun kehangatan yang tertinggal seolah enggan beranjak dari antara mereka. Bita berdeham kecil, buru-buru memalingkan wajahnya yang sudah terasa panas ke arah lain, mencoba menetralisir rasa canggung yang mendadak menyerang setelah ia dengan frontal meminta suaminya untuk tidak pindah kamar.
"Y-ya udah... kalau gitu gue ke atas duluan. Mau ganti baju," ucap Bita memecah kesunyian, tangannya sibuk merapikan pasmina instannya yang sebenarnya tidak berantakan.
Ibra tersenyum maklum melihat tingkah gengsi istrinya yang kembali kumat. "Iya, silakan. Saya mau mengunci pintu depan dan mematikan beberapa lampu di bawah dulu."
"Oke," sahut Bita singkat sebelum berjalan setengah berlari menaiki anak tangga.
Malam harinya, kamar utama itu terasa memiliki atmosfer yang sepenuhnya baru. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya saat Umi masih ada. Kini, mereka berada di sana atas dasar keinginan bersama—atau lebih tepatnya, atas izin terselubung dari Bita.
Bita sedang duduk bersila di tengah kasur king size, dikelilingi oleh laptop yang menyala, beberapa buku tebal mata kuliah hukum internasional, dan tumpukan kertas binder. Wajahnya tampak kusut, keningnya berkerut dalam dengan sebuah pulpen yang sesekali ia ketuk-ketukkan ke dagunya.
Cklek.
Pintu kamar mandi dalam terbuka. Gus Ibra melangkah keluar dengan penampilan santainya; kaos oblong abu-abu polos, celana kain panjang, dan rambut hitam yang sedikit berantakan karena sisa air wudhu sebelum tidur. Ia melirik ke arah tempat tidur, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang.
"Belum selesai tugasnya, Bita?" tanya Ibra lembut, mengambil posisi duduk di tepi kasur, tepat di dekat tumpukan buku Bita.
Bita mengembuskan napas frustrasi, mendorong laptopnya sedikit menjauh. "Gak tahu deh, Gus. Pusing banget gue. Ini dosen ngasih tugas analisis kasus hukumnya ribet banget. Mana besok pagi jam delapan udah harus dikumpulin lewat portal kampus."
Ibra merendahkan tubuhnya sedikit, melirik layar laptop Bita yang dipenuhi ketikan paragraf yang agak berantakan. "Kasus klaim wilayah perairan internasional?"
"Iya! Kok lo tahu?" Bita menoleh cepat, menatap suaminya dengan mata bulat yang berbinar kaget.
"Dulu saat di Yaman, saya juga mempelajari hukum fikih muamalah dan beberapa perbandingan hukum internasional yang berkaitan dengan batas wilayah negara Islam," jawab Ibra sabar. Ia mengulurkan tangannya, mengambil salah satu buku tebal milik Bita, lalu membalik halamannya dengan cekatan. "Bagian mana yang membuatmu bingung?"
Bita menggeser duduknya menjadi sedikit lebih dekat dengan Ibra, melupakan sejenak sekat canggung di antara mereka demi menyelamatkan nilai tugasnya. "Ini... bagian argumen dari konvensi UNCLOS-nya. Gue bingung nyari celah pasal yang pas buat ngebelain studi kasus yang dikasih dosen."
Ibra mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak langsung mendikte jawaban, melainkan menaruh buku tersebut di atas pangkuannya, lalu menatap Bita dengan sorot mata yang teramat teduh.
"Coba kamu lihat pasal yang ini," tunjuk Ibra dengan jari telunjuknya pada salah satu halaman buku. "Jangan hanya fokus pada klaim teritorialnya, tapi lihat hak zonasi ekonomi eksklusifnya. Hukum internasional itu seperti seni berargumen, Tsabita. Kamu harus pintar mencari celah dari kesepakatan yang paling mendasar."
Bita memperhatikan arah telunjuk Ibra, lalu membaca ulang baris kalimat tersebut. Perlahan, binar pemahaman mulai muncul di wajahnya. "Ah! Iya juga ya! Kenapa gue gak kepikiran dari tadi sih? Wah, Gus, lo pinter juga ternyata."
Ibra terkekeh rendah, suara tawa kecilnya terdengar begitu renyah dan menenangkan di keheningan malam kamar mereka. "Alhamdulillah. Setidaknya sekolah saya bertahun-tahun di negeri orang tidak sia-sia hanya untuk membantu tugas kuliah istri saya malam ini."
Wajah Bita merona merah mendengarkan kata 'istri saya' yang meluncur begitu alami dari bibir Ibra. Ia buru-buru menarik laptopnya kembali dan mulai mengetik dengan cepat. "Iya, iya, makasih ya. Udah sana, lo kalau mau tidur duluan aja. Gue masih mau ngetik ini bentar lagi."
"Saya temani," sahut Ibra pelan.
Bita menghentikan ketikannya sejenak, melirik Ibra yang kini sudah menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, membuka sebuah kitab kecil bersampul hijau tua yang biasa ia baca sebelum tidur. "Gak apa-apa nih? Lo besok gak ada jadwal pagi ke kantor?"
"Jadwal saya besok agak siang. Jadi tidak apa-apa kalau harus menemani kamu sedikit lebih malam," jawab Ibra tanpa mengalihkan pandangannya dari kitab. Tangannya yang bebas bergerak perlahan mengusap puncak kepala Bita yang di kuncir asal, memberikan usapan-usapan kecil yang entah kenapa langsung membuat rasa pening di kepala Bita menguap begitu saja.
Bita menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman yang ingin meledak di wajahnya. Sifat perhatian Ibra yang tidak pernah berlebihan namun selalu tepat sasaran ini benar-benar perlahan meruntuhkan seluruh pertahanannya.
Satu jam berlalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Bita akhirnya menutup laptopnya.
"Alhamdulillah, selesai juga!" seru Bita lega sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Sudah?" tanya Ibra, menutup kitabnya lalu meletakkannya di atas meja nakas.
"Udah, Gus. Aman. Berkat bantuan lo juga tadi," jawab Bita sambil mulai membereskan buku-buku dan kertas bindernya yang berserakan di atas kasur, menaruhnya di meja belajar kecil dekat jendela.
Saat Bita kembali ke atas tempat tidur, ia mendapati Ibra sudah merebahkan tubuhnya dalam posisi telentang di sisi kanan kasur. Namun, ada yang berbeda malam ini. Jarak di antara mereka tidak lagi dipisahkan oleh benteng bantal guling yang dipasang kaku seperti malam-malam sebelumnya. Guling itu kini tergeletak pasrah di sudut bawah tempat tidur.
Bita menelan ludahnya kaku, mendadak dilanda rasa gugup yang luar biasa saat hendak naik ke atas kasur. "Gus... gulingnya kok ditaruh di bawah?"
Ibra membuka matanya, menoleh ke arah Bita dengan tatapan mata yang sangat tenang namun sarat akan kehangatan. "Memangnya kamu masih membutuhkan pembatas itu, Tsabita? Saya rasa, setelah dua malam kemarin, kita sudah sepakat untuk saling membiasakan diri."
Bita terdiam, wajahnya dalam sekejap langsung matang seperti kepiting rebus. Ia tidak bisa membantah kalimat suaminya yang sangat logis namun mendebarkan itu. Dengan langkah pelan, Bita naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di sisi kiri dengan posisi miring membelakangi Ibra, bergulung rapat di dalam selimut tebalnya.
"Gus... lampu utamanya matiin dong. Silau," cicit Bita dari balik selimut.
"Iya," jawab Ibra patuh. Pria itu menjangkau saklar di dekat nakasnya. Dalam sekejap, pencahayaan kamar berubah menjadi temaram, hanya menyisakan sinar hangat dari lampu tidur berwarna kuning redup di sudut ruangan.
Suasana kembali hening. Bita bisa mendengar desau halus AC dan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Tiba-tiba, ia merasakan kasur di belakangnya sedikit bergerak. Perlahan namun pasti, jarak di antara mereka terkikis.
Bita menahan napasnya ketika merasakan sebuah lengan kekar dan hangat melingkar dengan sangat lembut di sekeliling pinggangnya yang terbalut selimut. Ibra menggeser tubuhnya mendekat, memeluk Bita dari arah belakang tanpa ada unsur paksaan, melainkan sebuah dekapan protektif yang teramat nyaman. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas pria itu langsung mengepung seluruh indra penciuman Bita.
"G-Gus..." bisik Bita, tubuhnya sempat menegang sesaat.
"Saya hanya ingin memeluk istri saya, Bita. Tidak lebih," bisik Ibra tepat di belakang telinganya, suaranya yang bariton rendah terdengar begitu seksi dan bergetar halus di keheningan malam. "Tidurlah. Kamu sudah lelah seharian ini."
Mendengar tutur lembut suaminya yang selalu menenangkan dan menghargai batasannya, ketegangan di tubuh Bita perlahan-lahan luruh. Rasa aman yang luar biasa pekat menyelimuti dirinya di dalam dekapan hangat Gus Ibra.
Bita tidak memberontak, tidak juga melepaskan tangan kekar yang melingkari pinggangnya. Ia justru membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang di belakangnya, memejamkan matanya dengan seulas senyuman tulus yang akhirnya terkembang sempurna di bibirnya.
"Selamat tidur, Gus," bisik Bita lirih, hampir menyerupai gumaman sebelum kantuk benar-benar menjemputnya.
Ibra mempererat dekapannya dengan sangat lembut, mengecup pelan puncak kepala istrinya dengan penuh rasa sayang. "Selamat tidur, Istriku. Semoga Allah selalu menjagamu."