Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lari, Meninggalkan
Udara pagi di desa terasa lebih berat dari biasanya. Debu pasir yang terbawa angin menyelimuti setiap sudut jalan tanah yang terpojok di antara hamparan sawah dan pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Cahaya matahari yang baru mulai menyingsing seolah-olah tidak berani menyentuh tubuh gadis muda yang duduk diam di sudut kamar kecil tanpa lantai yang hanya berisi tikar bambu dan sebuah kasur tipis. Yasmin Nayara yang akrab disapa Yaya, menatap cermin kayu yang retak di depannya, melihat bayangan diri yang selalu membuatnya merasa seperti beban bagi semua orang di sekitarnya.
Kulit putih seperti tepung yang tidak pernah berubah, rambut pirang kemerahan yang tumbuh lebat, dan mata biru muda yang selalu menjadi sasaran tatapan menghina dari setiap orang yang melihatnya. Albinisme yang menyertai dirinya sejak lahir bukan hanya menjadi ciri fisik, melainkan alasan bagi semua orang untuk memperlakukannya dengan kejam, termasuk pamannya sendiri, Pak Surya, dan istri nya Ibu Manda.
“Hehh, anak putih! Sudah siap belum?”
Suara kasar Ibu Manda menerjang kediaman kamar sempit itu, tanpa basa-basi dia membuka pintu dan memasuki ruangan dengan langkah yang berat. “Jangan bilang kamu masih ingin mengeluh lagi! Kita sudah mengurusmu sejak bayi, sejak orang tuamu mati. Jadi sudah sepantasnya kamu harus balas budi.”
Yaya menggigil sedikit, meraih kebaya putih yang kusam dan penuh dengan sobekan kecil di beberapa bagian.“Bibi... Juragan sudah punya tiga istri. Apakah benar tidak ada cara lain selain menikahkanku dengannya?” tawarnya penuh permohonan. "Atau Yaya bisa cari kerja saja dan membantu Bibi juga Paman untuk membayar hutang."
Ibu Manda mengejek dengan suara nyaring, mendekat dan menarik rambut Yaya dengan kuat sehingga gadis itu terpaksa berdiri. “Cara lain? Kamu pikir kita suka menyimpan beban seperti kamu di rumah? Kulitmu yang aneh saja sudah membuat banyak pelanggan toko kita pergi!" Sentaknya. "Kamu mau kerja apa dengan kulit cacat begitu, tidak akan ada yang mau menerimamu. Masih mending juragan rela membayar dua puluh juta selain pelunasan hutang untuk mengambilmu dari sini, itu adalah untung besar bagi kita!”
Sebelum Yaya bisa menjawab, suara Pak Surya yang lebih kasar lagi terdengar dari luar. “Manda! Apa dia masih menggumam-gumam saja? Mobil juragan sudah akan tiba dalam sepuluh menit! Jika kamu tidak bisa membuatnya siap, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri!”
Yaya merasakan tubuhnya gemetar hebat. Sejak Ibunya meninggal setelah melahirkannya dan Ayahnya menyusul beberapa bulan kemudian dalam kecelakaan kerja, Yaya ditinggalkan pada asuhan pamannya dan Ibu Manda. Namun bukan kasih sayang yang dia terima, melainkan perlakuan sebagai pembantu rumah tangga tanpa bayaran, selalu disebut dengan nama “anak putih” atau “makhluk aneh”, dan bahkan dilarang makan bersama mereka di meja makan karena alasan “akan merusak makanan”.
“Ganti sekarang juga!” Ibu Manda melemparkan kebaya kusam itu ke arah Yasmin dengan kasar. “Dan jangan berani membuat wajah jelek saat juragan datang. Jika kamu merusak kesepakatan ini, aku akan memukulmu sampai tidak bisa berdiri lagi!”
Yasmin menunduk, menangis diam-diam sambil mengenakan baju yang sudah tidak layak dipakai lagi. Di hatinya, sebuah keputusan sudah mulai terbentuk, keputusan yang mungkin akan membuatnya kehilangan satu-satunya tempat tinggal yang dia miliki, namun dia sudah tidak bisa menanggung lagi perlakuan yang menyakitkan itu.
*****>>>{}<<<*****
Setengah jam kemudian, suara musik dangdut yang keras dari sound system portable memenuhi halaman rumah pamannya. Beberapa tetangga berkumpul di luar pagar bambu, sebagian dengan tatapan penasaran, sebagian lagi dengan wajah yang penuh dengan kesenangan karena akhirnya mereka tidak perlu lagi melihat “anak aneh” itu berkeliaran di desa. Yaya berdiri di depan pintu rumah, mengenakan kebaya kusam yang sudah dikenakannya dengan terpaksa, rambutnya kusut karena tidak dirapikan dan wajahnya penuh bekas luka kecil akibat dipukul Ibu Manda beberapa hari yang lalu.
Mobil hitam mewah jenis SUV masuk ke dalam halaman, diikuti oleh dua mobil lain yang lebih kecil. Dari dalam mobil utama, seorang pria berbadan gemuk dengan rambut sudah mulai botak turun dengan langkah yang santai. Juragan Irwan, seorang juragan perdagangan kelapa sawit yang sudah berusia lima puluhan tahun, menatap Yasmin dengan mata yang penuh kesenangan, seperti melihat barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan.
“Wah, akhirnya aku melihatnya secara langsung,” ujarnya dengan suara yang berat, menyeringai lebar sehingga giginya yang kuning terlihat jelas. “Meski kulitnya aneh, tapi wajahnya masih bisa diterima saja. Kamu pasti akan menjadi istri yang patuh ya, nak?”
Yasmin merasakan muntahan mau naik ke kerongkongan. Dia ingin berlari, namun tangan Pak Surya sudah menyikut lengannya dengan erat, jari-jari nya menusuk ke dalam kulit Yaya hingga membentuk bekas merah. “Kamu jangan berani melakukan kesalahan yang nantinya akan kamu sesali, Yasmin,” bisik Pak Surya dengan nada ancaman yang menusuk. “Kamu sudah menjadi beban bagi kami cukup lama. Sekarang waktunya kamu membayarnya!”
Pada saat itu, Ibu Manda sedang sibuk mengambil uang yang diberikan juragan irwan dengan wajah yang penuh kesenangan. Dia menghitung uang tersebut dengan teliti, kemudian menunjukkan kepadanya sebuah surat. “Ini surat pernyataan bahwa hutang kami sudah lunas dengan kamu sebagai jaminannya,” ujarnya dengan suara riang. “Setelah kamu pergi dengan juragan Irwan, kamu tidak punya hak untuk kembali ke desa ini lagi.”
Yasmin melihat kesempatan ketika Pak Surya dan Ibu Manda sibuk berbicara dengan juragan Irwan tentang hal-hal lain. Dia perlahan melepaskan tangan pamannya yang sudah mulai mengendur, kemudian berlari dengan cepat menuju belakang rumah, melewati kebun sayuran yang dia sendiri yang selalu rawat setiap hari namun tidak pernah bisa menikmati hasilnya. Kakinya yang mengenakan sandal butut bergerak cepat melewati jalan tanah yang licin akibat genangan air hujan kemarin malam.
“Dia kabur!” Suara teriakan Ibu Manda membuat Yaya berlari lebih cepat lagi. Dia tidak melihat ke belakang, hanya fokus pada jalan yang menjurus ke arah jalan raya utama desa. Keringat mengalir deras di wajahnya, mencampur dengan air mata yang akhirnya berhasil keluar deras-deras dari matanya yang biru muda.
Setelah berlari selama hampir setengah jam, Yaya tiba di jalan raya. Dia melihat sebuah bis yang sedang melambat untuk mengantar penumpang, dan tanpa berpikir dua kali, dia melompat masuk ke dalam bis dengan hanya membawa uang seratus ribu rupiah yang dia sembunyikan di dalam jahitan rok dan kebaya yang masih dikenakannya.
“Tiket kemana, dek? Berapa uang yang kamu punya?” tanya supir bis dengan tatapan heran melihat penumpang baru yang mengenakan kebaya namun terlihat sangat buruk rupa.
Yaya menggeleng perlahan, matanya menatap jalan yang terus berjalan di luar jendela bis. “Ke kota saja, Pak. Sejauh mungkin dengan uang yang aku punya.”
*****>>>{}<<<*****
Bis berhenti di Terminal salah satu kota besar setelah perjalanan selama lebih dari dua jam. Yaya turun dari bis dengan kaki yang sudah mulai goyah. Kota yang penuh dengan gedung tinggi, kendaraan yang berlalu lalang dengan cepat, dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka membuatnya merasa kewalahan. Dia berjalan tanpa tujuan di sepanjang trotoar, masih mengenakan baju kebaya putih yang sudah kotor akibat berlari dan naik bis.
Beberapa orang menoleh melihatnya dengan tatapan sinis atau bahkan jijik. Ada yang mengucapkan kata-kata menyakitkan dengan suara pelan, ada yang bahkan menarik anak-anak mereka menjauh seolah-olah Yaya adalah penyakit yang bisa menular.
“Semua orang sama saja,” bisiknya pada diri sendiri, menekuk badan sedikit karena rasa lapar yang mulai menyerang.
*****>>>{}<<<*****
Ini karya pertama Author di NT. Jangan lupa dukungan dan kritikannya di kolom komentar!!
Yaya saat di terminal sebelum berhijab ..
jangan lupa follow IG: @queenmardhiahreal
baca juga karya lain author di Fizzo dengan nama pena yang sama...