Pertemuan yang tak baik belum tentu menjadi akhir yang buruk, karna seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan muncul, contohnya perasaan jatuh cinta dan suka.
seperti kisah Jovandra dan adelliana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annaaluvv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 2
Joan lagi lagi berdecak, mau tak mau Joan berdiri dan ikutin tarikan tangan Liana yang bawa dia menuju teras rumah Liana.
" Duduk di sini, jangan kemana mana! "
" Ck, iya bawel Lo! " Ketus Joan lalu duduk di kursi besi dekat jendela.
Sedangkan Liana masuk kedalam rumah, Joan nunggu sekitar 2 menit hingga akhirnya Liana kembali dengan satu kotak putih yang di bawa Liana
Liana berjalan ke arah bangku yang ada di sebelah Joan lalu duduk di sana, Liana buka kotak putih dan keluarin alat, satu botol cairan dan plester dari kotak itu.
Liana menuangkan cairan putih pada tutup botolnya lalu mencelupkan kapasnya kesana, Liana mendongak menatap wajah Joan " Sini "
" Ngobatin luka gue? Gausah gue balik- "
" Obatin atau gak gue cari mereka buat gebukin Lo lagi! Pilih mana? " Ancam Liana, matanya membulat seperti ingin menunjukkan bahwa dirinya serius.
Joan menghela nafasnya, menolehkan wajahnya ke arah Liana " Cepet, gue mau balik "
Liana natap datar Joan " Sabar, mau gue colokin nih pinset ke mata Lo hah " ujar Liana lalu mulai mengobati luka di wajah Joan.
" Ck ck, Lo jadi cewe gak ada kalem kalemnya, kasian gue sama cowo cowo yang suka sama Lo " Ujar Joan, memperhatikan gerak gerik tangan Liana yang lagi sibuk obatin wajahnya " Anggun dikit gak bisa ya Lo?"
Liana menekankan kapasnya pada luka di wajah Joan sampai Joan meringis kesakitan.
" Akhh sakit Lo- hahhhh ikhlas gak sih Lo ngobatin gue! " Bentak Joan kesal.
Liana ambil kapas baru dan celupin kapasnya ke cairan tadi, Joan memperhatikan apa yang Liana lakukan, Joan tunggu apa tanggapan atau jawaban Liana.
Liana memegang dagu Joan dan menolehkan wajah Joan ke arah kiri, Liana lanjut mengoleskan kapasnya
" Denger, Hidup itu harus apa adanya,,,
gue bisanya jalanin hidup kaya gini ya tetep ga akan bisa merubah apapun, simplenya gausah maksain buat keliatan perpect di mata orang di saat kenyataannya itu gak cocok buat kita, hidup karna terpaksa itu ga enak " ujar Liana, Liana selesai obatin lukanya.
Joan terdiam mendengar jawaban Lisya, jawaban yang jarang dirinya dengar dari seorang perempuan yang pernah dia temui.
Liana memasangkan plasternya pada salah satu luka di wajah Joan " Ya memang nyatanya cowo cowo lebih suka cewe yang anggun kalem dan ya cantik pastinya, tapi apa kita harus maksain hal itu kalau justru kita gak bisa ada di salah satunya "
" Cowo jaman sekarang nyarinya pasti yang speknya kaya Lisa blackpink, Ariel tatum dan lain lain, cowo gak pernah puas kalo belum Nemu yang sempurna, walaupun gue tau gak semua cowo kaya gitu tapi yang kaya gitu pasti cowo " Liana rasanya ingin mengeluarkan apa yang jadi unek-uneknya selama ini juga para perempuan di luar sana mungkin, terutama dirinya paling membenci kata insecure walaupun kadang dirinya pun selalu merasa begitu.
" Lo pikir cewe gak gitu? " Tanya Joan tak terima, terutama dirinya adalah seorang laki laki, tentu Joan tak mau di cap jelek sebagai lelaki.
Liana mengangkat kotak putih itu lalu menyimpannya di bawah meja " Itu gue, soal cewe itu kan pandangan Lo dan cowo cowo, gimana masa lalu Lo, apa aja dan kaya apa waktu Lo ketemu cewe, banyak kan cewe lo? Ya Lo nilai sendiri aja " Ujar Liana sedikit menyindir.
" Sok tau Lo, Lo ga kenal gue, baru aja Lo bilang kalau gak semua cowo kaya gitu tapi kenapa Lo seakan samain gue sama yang brengsek "
Liana natap Joan, tatapannya seakan tak percaya jika Joan bukan seorang player atau playboy, yang dirinya tau Joan itu banyak di kelilingi perempuan buktinya saat di lapangan basket sore tadi.
" Oh ya, harus ya gue percaya sama Lo? " Ujar Liana mengejek, liana niatnya hanya bercanda namun respon Joan natap kearahnya se datar aspal di depan rumah dia " Bercanda,,,, "
Liana bersandar natap langit malam yang cukup terang karna bulannya hampir penuh malam itu " Telpon salah satu temen Lo gih, biar Lo balik aman "
" Udah barusan waktu Lo masuk, bentar lagi nyampe "
Liana ber oh ria, entah apa yang Liana pikirkan tiba tiba Liana penasaran gak tau apa alasannya tapi rasanya Liana pengen banget tanya beberapa hal, tapi waktu Liana lihat sikap Joan yang cukup dingin membuat Liana takut.
Namun penasaran tetap penasaran Liana tak mau jika nantinya harus bertanya pada Jihan soal Joan, bisa bisa Jihan beropini yang ngga ngga kaya berpikir Kalau Liana suka sama si cowo dingin Joandra karna tanya soal bagaimana joan di luar sekolah.
" Lo,,, suka berantem ya? " Liana memejamkan matanya, menyesal karena langsung menanyakan point utamanya.
Joan menoleh mengangkat kedua alisnya, Liana ini dukun atau apa pikir Joan, padahal kenal aja mereka engga tapi kenapa cewe di depannya itu tau " Penasaran banget ya Lo Soal gue? "
" Yaudah sih kalau gak mau jawab, jangan kepedean lo "
Joan memasukkan tangannya kedalam saku celana dan sandaran di bangku tempat dia duduk " Di bilang suka berantem gak juga, lingkungan gue itu tempatnya balap liar Lo pastinya tau lingkungan kaya apa di sana, banyak temen juga banyak musuh, di saat gue menang pasti ada salah satu orang yang gak terima dan berujung kaya tadi " Joan menolehkan wajahnya, melihat bagaimana reaksi Liana mendengar ceritanya.
" Dih gak banget, masa tiga lawan satu ya pasti kalah, terus Lo bisa kabur gimana caranya? " Balas Liana.
" Ya kabur tinggal kabur bodoh, lagian dunia malam memang gak jarang dan gak sedikit yang kaya gitu, berantem, minum minum Dan banyak lagi " Jawab Joan, melihat tatapan Liana membuat Joan mengerti apa yang sedang ada di pikiran Liana saat itu
" Iya gue tau itu salah, tapi susah buat ngerubah kebiasaan itu "
Liana angguk anggukin kepalanya mengerti, pantas aja Joan bisa berakhir kaya tadi.
Tiba tiba Joan berdeham buat Liana kembali natap kearah Joan " Btw,,, gue belum tau nama Lo, siapa nama Lo " Ujar Joan pelan.
Liana mengerutkan keningnya gak paham lebih tepatnya dia gak denger " Hah? Ngomong apa Lo gak kedengaran? "
Tanya Liana, Liana Sampai meninggikan nada suaranya.
" Nama Lo,,, " Ujar joan lagi, kali ini terdengar jelas oleh Liana.
" Adelliana, panggil Liana " Jawab Liana, Liana pun bertanya " Lo? "
" Joandra, Joan,,,, panggilan gue "
Malam itu pertama kalinya mereka berkenalan, sebuah kejadian yang di alami Joan dan Liana yang membantu Joan juga mengobati luka Joan, membuat keduanya sedikit lebih dekat malam itu.
Jika di pikir pikir pertemuan mereka pertama kali cukup tak baik, tapi pertemuan kedua kalinya berbeda.
...----------------...
Keesokkan harinya
Liana kipas kipas wajahnya yang terasa gerah akibat teriknya matahari siang ini, Liana sekarang lagi jalan keluar gerbang sekolah bareng Jihan sahabatnya, mereka dapat perintah dari ayah Liana untuk beli peluit yang di butuhkan guru olahraga, tempat toko fotocopy di luar sekolah yang jaraknya terbilang dekat yang jadi tujuan mereka.
Sewaktu mereka hampir sampai di toko fotocopy Liana melihat ada Jeffran di sana, cowo tampan berdimple yang sudah Liana suka sejak kelas dua, pemuda tampan, pintar dan punya attitude yang bagus, siapa yang tak menyukai sosok cowo yang amat sangat tampan itu.
Jihan menyenggol tangan Liana menyadarkan Liana yang terus menatap ke arah Jeffran si siswa tampan itu " udah Li, percuma Lo liatin dia ga akan sadar kalo Lo ga ngomong langsung "
Liana mencibir kesal " Ish rese Lo, ganggu aja gue lagi liat yang indah indah " Balas Liana kesal, mereka pun lanjut jalan.
" Indah indah mata Lo! " Cibir Jihan, Jihan kaitin tangannya ke tangan Liana " kalo dia udah suka sama cewe lain gimana hayo Lo Li, udah deh Lo berhenti aja suka sama dia dari pada nanti sakit hati, gue gak mau liat Lo yang lembut nan galak gini jadi sad girl " bisik jihan.
" Ish Lo! ya jangan lah, doain gue berjodoh sama dia gimana sih Lo jadi temen " Balas Liana mendadak geram, Jihan kalo ngomong atau bahas soal Jeffran selalu kaya gitu.
" Gue sih dukungannya Lo sama yang lain, doa gue yang terbaik pastinya kalo buat sahabat gue tecigtah "
" Dih, Siapa sih siapa hah? yang lain yang lain siapa? "
" Hmm, gue doain Lo berjodoh sama,,,, " ucapan Jihan terhenti, begitupun langkah kakinya.
Liana ikut menghentikan langkahnya, dirinya bingung tentunya, apalagi lihat arah mata Jihan menatap ke arah lain " Napa berhenti? " Tanya Liana, Liana melihat jari telunjuk Jihan menunjuk ke arah depan yang tepatnya di depan Liana.
Liana pun menoleh penasaran apa yang sebenarnya di tunjuk oleh Jihan " cowo,, "
Sewaktu Liana lihat siapa ternyata Itu Joan, cowo datar itu berdiri dengan tangan yang terulur pada Liana, joan tiba tiba menyodorkan box berukuran kecil yang dia pegang, Liana yang bingung natap tangan Joan dan wajah Joan bergantian
" Buat Lo " Ujar Joan.
" Hah? " Bingung Liana, Liana belum paham apa Yang lagi terjadi sekarang, otaknya loading terlalu lama " gue gak lagi ultah " kata Liana kaya orang bego.
Liana kaget waktu tangan Joan narik tangannya dan simpen box kecil itu di tangan Liana.
" Thanks buat semalem, ini balesanya " Jawab Joan tak bertele tele, lalu Joan memasukkan tangannya ke saku Hoodie, dan pergi tanpa berpamitan.
Jihan di samping Liana langsung menatap Liana dengan senyuman curiga, Jihan sampai nujukin wajah super ngeselin buat goda Liana " Apanih, ekhm, si cowo lentera biru baru aja kemaren debat kaya musuh bebuyutan lah sekarang,,, ada something ya Lo berdua " goda Jihan sambil colek colek tangan Liana.
" Dih ngga jangan ambil kesimpulan deh, nanti gue cerita di kelas " Balas Liana, terus dia lanjut jalan tinggalin Jihan menuju tempat fotocopy.
Jihan pun segera menyusuli Liana, Langkah Liana cukup cepat hingga tak terasa sudah sampai di tempat fotocopy nya, mata Jihan mendelik sewaktu dia liat si cowo bernama Jeffran itu sekarang jalan ke arah Liana.
" Eh Li, ngapain? fotocopy? "
Liana noleh sewaktu ada cowo yang ajak dia bicara, seseorang yang bertanya padanya adalah Jeffran, Liana saat ini kelewat senang waktu tau cowo itu adalah cowo yang begitu Liana sukai menyapa dan bertanya padanya, hal sesimpel itu saja sudah membuat Liana bertambah suka pada sosok bernama Jeffran itu.
Liana tak menyangka saja Jeffran bertanya padanya lebih dulu, sebelumnya selalu Liana yang memulai obrolan.
" Jeffran, ngga,,,ini di suruh ayah gue beli peluit buat guru olahraga,, rusak katanya " Jawab Liana, senyuman manis Liana berikan.
" oh gitu kirain " ujar Jeffran, Jeffran pun magambil tumpukan kertas yang sudah selesai di fotocopy " Gue udah selesai, duluan Li, Han "
Liana mengangguk, matanya terus mengikuti Jeffran yang berjalan menuju gedung sekolah.
Jihan mendorong tangan Liana " Heh, Seseneng itu Lo Li? Anjir cuma, eh Li, ngapain fotocopy?, oh gitu kirain, yaudah ya gue duluan, cuma itu Li cuma ITU asem banget anjir " Cerocos Jihan geram lihat tatapan Liana yang terkagum kagum lihat si cowo bernama Jeffran itu.
Liana menyenggol bahu Jihan " Ish ngerusak aja Lo, Lo aja dulu sama Darrel kaya gitu ya! "
" Oh sorry Darrel itu beda, cowo royal perhatian gue, bukan kek dia iya sih dia kaya tapi suka tebar pesona, ramah sana sini bikin anak orang berharap yang ternyata ujung ujungnya cuma harapan palsu "
Jleb, ucapan Jihan langsung menghantam hati Liana, pedas tapi apa yang di ucapkan Jihan memang benar adanya, namun Liana tak pernah sadar akan hal itu.
...TO BE CONTINUED ...
Mohon di tandai yaa kalo ada yang perlu di revisi