NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Bab 14: Garis Tipis Kematian

Dengungan panjang dari mesin patient monitor di dalam ruang ICU terisolasi itu terus terngiang di indra pendengaran Anastasia Wijaya, bahkan setelah pintu kaca tebal ditutup rapat dari luar.

Langkah kakinya terasa begitu berat dan lemas saat ia berjalan mundur menuju deretan kursi besi di lorong ruang tunggu.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, benteng pertahanan mental Anastasia yang sewajarnya sedingin es kutub, tampak goyah seutuhnya.

Di sampingnya, Arka duduk sembari menyembunyikan wajah kecilnya di balik pelukan Sekretaris Hendra.

Bocah itu menangis tersedu-sedu, ketakutan setelah menyaksikan kegaduhan tim medis yang merangsek masuk membawa alat kejut jantung.

Sementara itu, Alta berdiri mematung di dekat dinding marmer, sepasang netra elangnya yang tajam menatap lurus ke arah pintu ICU yang tertutup rapat tanpa sepeser pun kedipan.

"Nona Anastasia, minumlah dulu,"

Rian, asisten pribadi Devan, melangkah mendekat dengan tangan yang gemetar, menyodorkan sebotol air mineral yang belum dibuka.

Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pias, menyiratkan kecemasan yang teramat pekat atas kondisi atasannya.

"Tuan Devan adalah pria yang kuat. Beliau pasti bisa bertahan..."

Anastasia tidak menyentuh botol tersebut, Ia hanya menatap lantai marmer di bawah kakinya dengan pandangan yang kosong.

‘Kenapa aku harus secemas ini?’ batin Anastasia bergolak hebat dalam keheningan yang menyiksa.

‘Pria di dalam sana adalah orang yang membuangku di tengah badai malam. Dia yang mengutuk anak-anakku sebagai anak haram. Harusnya aku merasa puas melihatnya sekarat. Tapi... kenapa dadaku rasanya begitu sesak?’

Kilasan memori malam penculikan di dermaga utara satu bulan lalu mendadak berputar balik di kepalanya.

Kata-kata Alta tentang bagaimana Devan memeluk tubuh mungilnya dari tusukan pisau taktis para penculik, hingga mengorbankan nyawanya sendiri tanpa memedulikan keselamatan fisiknya, menjadi bahan bakar yang perlahan mengikis habis sisa-sisa dendam di hati Anastasia.

Devan telah membayar dosanya dengan darah.

Dan Anastasia tahu, jika Devan mengembuskan napas terakhirnya malam ini, maka si kembar akan kehilangan kesempatan seumur hidup untuk mendengar kata maaf secara langsung dari ayah kandung mereka.

Dua jam berlalu laksana keabadian di dalam lorong yang sunyi dan dingin itu.

Hanya suara detak jarum jam dinding dan isak tangis tertahan dari Arka yang memecah keheningan.

Klik.

Pintu kaca ruang ICU akhirnya bergeser terbuka secara manual.

Dokter kepala spesialis saraf melangkah keluar dengan raut wajah yang dipenuhi peluh, perlahan melepas masker medisnya dengan helaan napas yang teramat panjang.

Rian langsung merangsek maju sebelum dokter itu sempat menegakkan tubuhnya.

"Dokter! Bagaimana kondisi Tuan Devan?! Apakah beliau..."

Suara Rian tercekat di tenggorokan, tak berani melanjutkan kalimatnya karena takut mendengar kenyataan pahit.

Anastasia ikut bangkit berdiri, menggandeng erat tangan Alta dan Arka, menatap lurus ke arah dokter demi menuntut sebuah jawaban pasti.

"Mukjizat medis benar-benar terjadi malam ini, Tuan-tuan, Nona," ucap dokter kepala dengan seulas senyuman tipis yang sangat melegakan.

"Guncangan aktivitas saraf yang ekstrem tadi sempat membuat jantung pasien mengalami flatline atau henti jantung sementara selama hampir dua menit. Namun, setelah kami melakukan tindakan resusitasi dan memberikan dosis epinefrin tambahan, detak jantung Tuan Devan berhasil kembali ke ritme normal."

Dokter itu menoleh ke arah Alta dan Arka dengan tatapan haru.

"Panggilan dari putra-putranya tampaknya memberikan stimulasi psikologis yang teramat kuat pada alam bawah sadarnya. Tubuh pasien merespons dengan baik. Masa koma lima puluh harinya telah resmi berakhir. Saat ini Tuan Devan sedang tertidur di bawah pengaruh obat penenang yang kami berikan untuk menstabilkan tekanan darahnya. Besok pagi, beliau dipastikan akan siuman seutuhnya."

Napas Rian seketika berembus lega, pria itu langsung jatuh terduduk di lantai selasar sembari merapalkan doa syukur yang teramat dalam.

Di sisi lain, Anastasia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setitik air mata kelegaan meluncur melewati pipinya yang semula pias.

Rasa kosong yang menghimpit dadanya sejak dua jam lalu kini lenyap, digantikan oleh sebuah ketetapan batin yang baru.

Pertempuran masa lalu mereka telah selesai, dan besok, lembaran baru yang sesungguhnya akan dimulai.

------------------------------

Sementara itu, di tempat yang sangat bertolak belakang dengan atmosfer kelegaan di rumah sakit, kegelapan malam di dalam kompleks rumah tahanan wanita Jakarta terasa kian mencekam.

Siska Amalia duduk bersila di atas dipan semen sel tahanannya yang pengap dan dingin.

Pakaian mewahnya kini telah berganti menjadi seragam narapidana berwarna oranye yang longgar.

Wajahnya yang semula cantik kini tampak sangat kuyu, dipenuhi gurat keputusasaan dan amarah yang bergejolak hebat.

Hari ini, pengadilan bisnis resmi memutuskan penyitaan seluruh aset dan harta kekayaannya untuk menutupi kerugian Mahendra Group akibat konspirasi fitnah yang ia rancang lima tahun lalu.

Siska telah kehilangan segala hal yang paling ia banggakan—ia telah hancur seutuhnya di bawah kekuasaan Wijaya Corps.

Brak!

Suara ketukan keras pada jeruji besi sel mengejutkan Siska.

Seorang petugas sipir wanita berdiri di sana dengan tatapan datar.

"Siska Amalia, waktu kunjungan darurat untukmu. Pengacaramu datang membawa dokumen yang harus segera kamu tanda tangani."

Siska mendengus sinis, melangkah tertatih-tatih keluar dari sel menuju ruang kunjungan yang dibatasi oleh sekat kaca tebal.

Ia mengira akan melihat wajah pengacara tua sewaan keluarganya yang membosankan.

Namun, begitu ia duduk di kursi besi dan menatap ke balik kaca, sepasang netra Siska melebar sempurna karena terkejut.

Pria yang duduk di hadapannya bukanlah pengacaranya.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan mahal, memancarkan aura wibawa yang teramat dingin dan berkelas.

Wajah pria itu memiliki struktur yang sangat mirip dengan Siska—garis rahang yang tegas dan sepasang mata elang yang memancarkan kecerdasan tingkat tinggi.

Dia adalah Samuel Amalia. Kakak kandung Siska yang selama sepuluh tahun terakhir menetap di Swiss dan dikenal sebagai salah satu pengacara internasional sekaligus konsultan taktis di bursa saham Eropa.

Keberadaannya selama ini sengaja dihapus dari manifes keluarga Amalia demi melindungi reputasi bisnisnya di luar negeri.

Siska dengan cepat menyambar gagang telepon interkom di dinding.

"Kak... Kak Samuel?! Bagaimana bisa Kakak ada di sini?! Bukankah Kakek Wijaya memblokir seluruh akses kunjungan untukku?!" suara Siska terdengar bergetar hebat menahan tangis histeris.

Samuel perlahan mengangkat gagang teleponnya, menempelkannya ke telinga.

Wajahnya tetap datar, tanpa ada riak emosi atau belas kasihan melihat kondisi adik kandungnya yang mengenaskan.

"Kekuasaan Keluarga Wijaya memang besar di negeri ini, Siska. Namun, uang dan koneksi internasional di bursa saham Eropa selalu bisa membeli celah di tempat sekotor ini,"

ucap Samuel, suaranya terdengar begitu berat, tenang, namun sarat akan dinginnya bilah es yang siap menusuk.

"Kak! Tolong aku! Anastasia Wijaya... jalang itu telah menghancurkan hidupku! Dia merebut semua hartaku dan memenjarakanku! Kakak harus membalaskan dendamku pada Wijaya Corps! Hancurkan wanita itu, Kak!" raung Siska penuh dengan kemurkaan yang membakar jiwanya dari balik kaca.

Samuel menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tenang, sebuah senyuman yang justru terlihat begitu mengerikan di mata Siska.

"Tenanglah, Adikku. Kamu berada di tempat ini karena kamu terlalu ceroboh dan menggunakan metode murahan seperti penculikan fisik yang melanggar hukum dasar," ucap Samuel dengan nada bicara yang tertata rapi.

Pria itu perlahan mengeluarkan sebuah dokumen dari balik tas kulitnya dan memperlihatkannya ke depan kaca. Dokumen itu adalah lembar akta otentik pembelian saham rahasia.

"Dendam?" Samuel tertawa kecil, suara tawa yang begitu hambar.

"Menghancurkan Anastasia dengan cara fisik seperti yang kamu lakukan adalah tindakan bodoh. Plot twist yang sesungguhnya telah kurancang sejak satu minggu lalu, Siska. Melalui perusahaan cangkang di Swiss, aku diam-diam telah membeli seluruh sisa saham Mahendra Group yang anjlok di bursa efek akibat penarikan modal Wijaya Corps."

Siska tercekat sempurna, seluruh kalimat makiannya tertahan di tenggorokan.

"M-Maksud Kakak...?"

"Saat ini, akulah pemilik sah dari lima puluh satu persen saham pengendali Mahendra Group yang baru, bukan Devan lagi," bisik Samuel dengan sorot mata yang mendadak berkilat memancarkan intrik kelam yang teramat pekat.

"Besok pagi, saat Devan siuman dan Anastasia mengira dia telah memenangkan seluruh permainan bisnis ini... aku sendiri yang akan melayangkan gugatan akuisisi balik secara paksa terhadap anak perusahaan Wijaya Corps menggunakan celah hukum internasional. Saya tidak akan menyentuh fisik mereka, Siska. Saya akan meruntuhkan kerajaan bisnis Wijaya Corps dari dalam lantai bursa, hingga Anastasia dan kedua anak kembarnya merangkak di jalanan tanpa menyisakan sepeser pun uang."

Samuel perlahan meletakkan kembali gagang telepon interkomnya sembari menyunggingkan senyum kemenangan prematur yang begitu misterius.

Pria itu bangkit berdiri, berbalik melangkah meninggalkan ruang kunjungan yang gelap, membiarkan Siska yang mematung dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus harapan baru yang mengerikan.

Belati baru yang jauh lebih taktis dan mematikan kini telah resmi diarahkan ke arah Anastasia Wijaya dari balik lantai bursa saham internasional.

Siska mungkin telah tumbang, namun kemunculan Samuel sebagai penguasa rahasia Mahendra Group yang baru kini bersiap memutarbalikkan seluruh papan catur takdir,

meninggalkan akhir cerita yang teramat menggantung tentang bagaimana nasib Anastasia dan si kembar dalam menghadapi badai finansial yang sesungguhnya esok pagi.

------------------------------

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!