" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Duri di Balik Topeng
Keheningan di dalam kamar pribadi Aksa mendadak terasa begitu pekat dan menekan, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu lenyap tak bersisa. Cengkeraman jemari jangkung Aksa di bahu Valerian perlahan melonggar.
Valerian bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu gila, berdegup kencang di balik rongga dadanya. Ia menolak untuk mundur setapak pun. Tatapan matanya yang tajam menuntut kejujuran utuh, lurus menembus kabut misteri yang menyelimuti pria di hadapannya.
"Tentang pria yang kau sebut Dave itu..." Aksa mengulangi kalimatnya dengan suara yang kian merendah, parau, dan bergetar samar. Ia menarik kembali tangannya, lalu berbalik memunggungi Valerian, menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan lanskap halaman belakang kediaman Wardhana yang sunyi.
"Aksa, jangan mengalihkan pembicaraan!" desis Valerian, suaranya naik satu oktav, bergetar oleh emosi yang membuncah. "Aku bukan lagi wanita pajangan yang bisa kau tenangkan hanya dengan dekapan atau kata-kata manis.
Dua tahun aku hidup dalam kebohongan pernikahan bersama Damian, dan sekarang... aku tidak akan membiarkanmu menyimpan rahasia lain tentang masa laluku! Dari mana kau mendapatkan foto itu? Siapa Dave bagimu?!"
Aksa terkekeh lirih—sebuah tawa hambar yang terdengar begitu perih di telinga Valerian. Bahunya yang bidang tampak naik-turun saat ia menarik napas panjang, mencoba menata kembali serpihan emosi yang hampir meledak runtuh.
"Kau ingin tahu siapa Dave?" Aksa berbalik perlahan, menatap Valerian dengan kilat mata yang mendadak berubah begitu dingin namun rapuh.
"Dia adalah bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah mati, Valerian. Dia adalah pria bodoh yang pernah berjanji untuk selalu menjagamu, namun pada akhirnya... dia terpaksa menghilang karena dunia ini terlalu kejam untuk membiarkannya tetap hidup".
Valerian mengernyitkan keningnya, melangkah satu jengkel lebih dekat. "Apa maksudmu? Jangan berteka-teki denganku, Aksa! Dave adalah sahabat kuliahku. Dia menghilang tepat setelah kelulusan tanpa sepatah kata pun. Dan sekarang, foto itu ada padamu. Apakah kau mengenalnya? Atau... apakah kau menyembunyikan sesuatu tentang kepergiannya?!"
Aku tidak mengenalnya secara langsung, Valerian," ucap Aksa akhirnya, mengeluarkan sebuah jawaban yang menggantung tajam di udara, penuh dusta yang menyayat hatinya sendiri. "Aku hanya menyimpan apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal.
"Aksa! Kau berbohong!" Valerian maju, mencengkeram kerah kemeja hitam Aksa dengan kedua tangan, matanya memerah menahan tangis kekecewaan atas jawaban yang menggantung tersebut. "Tatapan matamu tidak bisa berbohong! Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku—"
Klek.
Suara gagang pintu kamar Aksa yang mendadak digerakkan dari luar seketika memutus ketegangan di antara mereka. Jantung Valerian seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa pengawasan di rumah ini telah kembali ketat.
Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, siluet tubuh jangkung Damian berdiri kokoh dengan jas hitam yang berantakan dan dasi yang sudah dilonggarkan. Sepasang netra elangnya menyala oleh riak cemburu dan amarah tertahan yang luar biasa pekat saat mendapati istrinya lagi-lagi berada di dalam kamar adiknya.
"Valerian..." panggil Damian, suaranya parau, berat, dan dipenuhi oleh getaran ancaman yang begitu mencekik koridor malam. "Lancang sekali kau melangkah keluar dari kamar utama tanpa izinku. Ikut aku sekarang, atau aku akan memastikan kurunganmu di rumah ini menjadi jauh lebih menyiksa!"
Valerian menatap Aksa untuk terakhir kalinya dengan pandangan penuh tanya, kecewa, dan keraguan yang kian menebal, sebelum akhirnya terpaksa melepaskan cengkeramannya dan melangkah mundur menuju cengkeraman tirani suaminya yang telah menunggu di ambang pintu.
Langkah kaki Valerian terasa begitu berat saat diseret kembali menuju kamar utama oleh Damian. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat, Damian langsung memutar kunci dua kali.
Damian berbalik, wajahnya mengeras menahan badai emosi. Ia melonggarkan kemejanya dengan gerakan kasar, menatap Valerian dengan pandangan mata yang dipenuhi kebencian, namun di saat yang sama memancarkan obsesi kepemilikan yang sakit.
"Kau benar-benar tidak tahu diri, Valerian," desis Damian sembari melangkah maju, memojokkan tubuh ramping istrinya hingga punggung Valerian membentur daun pintu yang dingin.
"Baru beberapa jam aku meninggalkan rumah ini untuk mengunci video sialan itu di brankas pribadiku di kantor, kau sudah berani merangkak kembali ke kamar adikku? Kau pikir aku akan membiarkan kalian berdua membodohiku lagi?!"
Valerian mendongak, menepis rasa takutnya sekuat tenaga. Sepasang netra indahnya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa berkedip.
"Jika kau begitu membenciku, Damian... jika kau muak melihatku melangkah ke kamar Aksa, kenapa kau tidak keluarkan saja video itu dari brankasmu? Tunjukkan pada Ayah dan Ibu! Ceraikan aku! Biarkan seluruh dunia tahu bahwa pernikahan agung Wardhana Group ini sudah hancur lebur!"
Diam!" bentak Damian, tangannya memukul permukaan pintu tepat di samping kepala Valerian, menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Napasnya memburu panas di wajah Valerian.
"Jangan pernah menggertakku dengan kata cerai, Valerian. Aku sudah mengatakannya semalam, dan aku tidak akan mengulangnya lagi. Video itu tidak akan pernah keluar dari brankas pribadiku. Tidak akan ada satu orang pun yang tahu tentang kebusukan kalian, karena di mata publik, kau adalah milikku. Kau adalah Nyonya Wardhana yang sedang mengandung calon pewaris takhtaku!"
Damian memundurkan tubuhnya, lalu menyunggingkan senyum sinis yang teramat dingin. "Aku akan membiarkanmu mempertahankan janin misterius itu di dalam rahimmu. Aku bahkan akan bersikap sebagai suami yang paling berbahagia di depan media besok pagi. Tapi di dalam rumah ini? Kau tidak lebih dari sekadar pajangan mati. Aku menolak menyentuh kulitmu lagi, dan aku melarangmu melangkah satu senti pun keluar dari kamar ini tanpa pengawasanku!"
Valerian tidak membalas dengan tangisan seperti dulu. Ia justru menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Damian dengan seringai tipis yang sarat akan ketegasan baru.
"Lakukan sesukamu, Damian. Kurung aku di kamar ini, awasi aku dengan ratusan pengawalmu. Tapi ingat satu hal... kau mungkin bisa memenjarakan tubuhku, tapi kau tidak akan pernah bisa menyentuh jiwaku lagi. Dan kau... tidak akan pernah bisa menang dari Aksa."
Kalimat terakhir Valerian bagaikan belati yang menusuk tepat ke dalam ego maskulin Damian. Rahang pria itu mengeras rapat, urat-urat di pelipisnya menegang hebat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Damian berbalik, meraih jasnya yang tergeletak di atas sofa, lalu melangkah keluar menuju ruang pakaian luar—memilih untuk tidur di sana dan meninggalkan Valerian sendirian.
Malam kian melarut, namun mata Valerian sama sekali tidak bisa terpejam. Ia berbaring miring di atas ranjang king size yang luas, memeluk bantalnya erat-erat sembari menatap kegelapan kamar. Kamar utama ini terasa begitu sunyi, namun di dalam kepalanya, badai pertanyaan justru bergemuruh tanpa henti.
Siapa Dave bagimu? Dan siapa... siapa dirimu yang sesungguhnya di masa laluku?Valerian menyentuh perut ratanya yang baru saja dinyatakan mengandung minggu keempat.
Pikiran Valerian sepenuhnya tersita oleh tatapan mata Aksa sore tadi. Tatapan yang begitu akrab, begitu penuh luka, dan memancarkan aura kerinduan yang teramat dalam—sebuah tatapan yang entah mengapa, terasa sangat identik dengan cara Dave memandangnya beberapa tahun lalu di koridor kampus.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Valerian pada keheningan malam, tubuhnya mendadak bergetar hebat saat sebuah teka-teki gila mulai tersusun di dalam benaknya. "Apakah... apakah Aksa dan Dave adalah..."
Belum sempat Valerian menyelesaikan spekulasi gilanya di dalam hati, keheningan malam itu mendadak dipecahkan oleh suara ketukan pelan yang sangat ritmis di jendela kaca balkonnya.
Tok... Tok... Tok...
Valerian tersentak. Ia langsung bangkit dari ranjang, menoleh ke arah gorden tipis yang bergoyang pelan tertiup angin malam. Jantungnya berdegup kencang. Apakah itu Aksa yang kembali nekat menemuinya di bawah pengawasan ketat Damian?
Dengan langkah perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Valerian berjalan mendekati jendela balkon. Ia menyibak sedikit gorden marun yang tebal, bersiap untuk melihat sosok Aksa yang biasa memanjat dari pembatas luar.
Namun, begitu matanya menatap ke luar kaca, darah Valerian seketika mendadak berdesir dingin hingga ke ujung kaki.
Di balik kaca balkon yang remang-remang tersiram cahaya bulan, tidak ada sosok Aksa. Yang berdiri di sana adalah sesosok bayangan pria misterius dengan jaket kulit hitam, wajahnya setengah tertutup oleh bayangan topi, namun sepasang matanya menatap lurus ke arah Valerian.
Pria itu tidak mencoba mendobrak, ia hanya menempelkan selembar kertas fisik baru tepat di permukaan kaca jendela—sebuah foto usang yang memperlihatkan sisi lain dari dokumen kecelakaan pesawat tiga tahun lalu, dengan sebuah tulisan tangan yang ditulis dengan tinta merah pekat di bagian bawahnya:
“Dia kembali dengan wajah baru untuk mengambil apa yang direnggut darinya. Tanya pada dirimu sendiri, Valerian... apakah anak di rahimmu itu benih dari seorang Wardhana, atau benih dari pria yang mati di London?”
Valerian terengah, tangannya spontan menutup mulutnya demi menahan jeritan histeris yang hampir lolos dari tenggorokannya. Siapa pria di luar balkon itu? Dan bagaimana bisa ada orang asing yang menembus penjagaan ketat pengawal Damian.