Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Langkah Pertama yang Ringan
Setelah menyelesaikan mandinya di bilik kamar mandi umum yang berdinding seng, Mahesa melangkah keluar dengan pakaian ganti yang terasa jauh lebih ketat di tubuh barunya. Tudung jaket longgarnya kembali ia tarik ke depan untuk menutupi wajah tampan dan sepasang mata tajamnya yang kini tidak lagi membutuhkan kacamata. Udara pagi terasa berembus sejuk, namun bagi indra penciuman Mahesa yang mendadak menjadi sangat tajam, aroma embun dan tanah basah di sekitar gang terasa jauh lebih kaya dari biasanya.
Ia berjalan menuju warung bubur di depan gang untuk membelikan sarapan Nenek. Sepanjang jalan, ia harus menahan diri agar langkah kakinya tidak terlalu lebar. Setiap kali tumitnya menapak ke bumi, ada dorongan pegas tak kasatmata yang seolah ingin melontarkan tubuh tegapnya ke udara.
"Ini beneran aneh. Badanku rasanya kayak kapas, enteng banget," bisik Mahesa pada dirinya sendiri sembari menatap sepasang kakinya yang melangkah tanpa mengeluarkan suara gesekan sedikit pun di atas kerikil gang.
Selesai membeli dua bungkus bubur ayam, Mahesa bergegas kembali ke rumah petaknya. Ia menyuapi Neneknya dengan telaten, memastikan wanita tua itu meminum sisa obatnya dengan nyaman. Nenek sempat memperhatikan jemari Mahesa yang bersih tanpa kapalan, namun Mahesa cepat-cepat mengalihkan pembicaraan dengan alasan ia memakai sabun pembersih baru di kantor. Setelah memastikan Neneknya kembali beristirahat, Mahesa melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit pagi.
"Waduh, sudah hampir jam enam. Kalau aku nggak cepat-cepat ke halte bus, bisa telat absen lagi dan dipotong gaji sama Pak Bagus," gumam Mahesa dengan nada panik, buru-buru menyampirkan tas ransel kainnya yang usang ke punggung.
Ia mencium punggung tangan Neneknya yang terpejam. "Nek, Mahesa berangkat kerja dulu ya," pamit Mahesa dengan suara rendah yang diredam.
"Iya, Le. Hati-hati di jalan, jangan pecicilan," sahut Nenek setengah mengantuk tanpa membuka mata.
Mahesa keluar dari rumah petak, mengunci pintu kayu lapuknya, dan langsung berjalan setengah berlari menyusuri gang sempit. Keberuntungan tampaknya sedang tidak memihak padanya pagi ini. Begitu ia sampai di mulut gang utama, ia melihat bus kota jalur reguler menuju Sudirman baru saja bergerak meninggalkan halte yang berjarak sekitar tiga ratus meter di ujung jalan raya. Itu adalah bus terakhir yang bisa membawanya tepat waktu sebelum jam masuk kantor pukul tujuh pagi.
"Aduh, mampus! Busnya sudah jalan!" seru Mahesa spontan, matanya membelalak menatap kepulan asap knalpot bus yang kian menjauh.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa takut gajinya dipotong lagi pasca-insiden tumpahan kopi kemarin, Mahesa mengambil ancang-ancang. Ia memfokuskan pikirannya pada keinginan untuk mengejar bus tersebut. Secara otomatis, sisa hawa hangat dari Kitab Inti Jagat yang mendekam di bawah pusarnya bergolak mendidih, mengirimkan gelombang energi murni langsung menuju kedua tungkai kakinya.
Wusss!
Saat kaki kanannya melakukan hentakan pertama ke aspal, tubuh Mahesa melesat maju ke depan dengan kecepatan yang di luar nalar manusia biasa. Angin pagi seketika menderu keras di kedua telinganya, meniup tudung jaketnya hingga tersingkap ke belakang. Tiang-tiang listrik, pepohonan, dan rumah-rumah di pinggir jalan raya mendadak berubah menjadi bayangan buram yang tertinggal di belakangnya dalam sekejap mata.
"Lho? Kok... kok cepat banget?!" pekik Mahesa kaget, menyadari bahwa dirinya baru saja menempuh jarak seratus meter hanya dalam waktu kurang dari tiga detik.
Kecepatan larinya begitu fantastis, seolah ia sedang mengendarai sepeda motor sport tak kasatmata di jalur pedestrian. Hebatnya lagi, paru-parunya tidak terasa sesak sama sekali. Napasnya tetap berjalan teratur dan teratur, seakan ia hanya sedang berjalan santai di koridor kantor.
Namun, kejutan sesungguhnya belum berakhir. Tepat di depannya, sebuah mobil boks boks ekspedisi mendadak berhenti mendadak karena menghindari kucing, memblokir seluruh trotoar dan menyisakan celah sempit yang tidak mungkin dilewati dengan kecepatan lari sekencang itu. Jarak antara tubuh Mahesa dan badan mobil boks tinggal lima meter lagi.
"Awas! Rem, Sa, rem!" teriak Mahesa panik, mencoba menghentikan laju kakinya yang terlampau cepat.
Karena panik dan tidak tahu cara mengerem, Mahesa secara refleks menekuk kedua lututnya lalu menghentakkan kedua kakinya ke permukaan aspal dengan sekuat tenaga, berniat untuk melompati rintangan di depannya.
Boom!
Suara dorongan angin yang pekat terdengar dari bawah pijakannya. Tubuh macho Mahesa melesat tegak lurus ke atas langit bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Mobil boks setinggi tiga meter itu terlewati dalam sekejap mata, bahkan tubuh Mahesa terus membubung tinggi hingga melewati pucuk-pucuk pohon palem yang berjejer di sepanjang jalan protokol.
"Astagfirullah! Aku terbang?!" jerit Mahesa histeris di udara, menatap ke bawah di mana atap mobil boks dan kendaraan lainnya tampak mengecil di bawah sepasang kakinya yang menggantung bebas.
Ia berada di ketinggian hampir sepuluh meter dari permukaan tanah. Di atas sini, ia bisa merasakan kebebasan mutlak yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Tubuhnya terasa seringan bulu ayam yang ditiup angin, melayang anggun di udara pagi Jakarta. Ketakutan yang sempat merayap di dadanya seketika menguap, digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa mendalam terhadap isi ilmu meringankan tubuh dari kitab kuno tersebut.
Saat gaya momentum vertikalnya habis, tubuh Mahesa mulai menuruni lintasan gravitasi secara perlahan. Mengingat instruksi gambar siluet manusia di dalam kitab semalam yang menyuruh untuk mengendapkan hawa murni di telapak kaki saat mendarat, Mahesa segera mempraktikkannya. Ia menarik napas dalam, mengarahkan hawa hangat di perutnya turun ke ujung-ujung jarinya.
Tuk.
Sepasang sepatu kets usang Mahesa mendarat dengan sangat sempurna di atas beton halte bus yang kosong. Hebatnya, pendaratan dari ketinggian sepuluh meter itu sama sekali tidak menimbulkan suara dentuman keras, juga tidak membuat lututnya terasa sakit. Pendaratannya seringan kucing yang melompat dari atas meja.
Tepat pada saat yang sama, bus kota yang sempat ia kejar tadi baru saja mengerem dan membuka pintunya di depan halte tersebut. Sopir bus dan beberapa penumpang di dalam tidak menyadari bahwa pemuda yang baru saja melangkah masuk ke dalam bus dengan napas yang sangat tenang itu baru saja melompat menembus langit pagi.
Mahesa melangkah masuk ke dalam bus, membayar ongkos dengan uang pas, lalu mengambil tempat berdiri di bagian belakang dekat jendela. Ia memegangi pegangan tangan bus yang terbuat dari besi, meremasnya sedikit untuk memastikan bahwa tangannya benar-benar nyata.
"Ilmu meringankan badan... ini beneran nyata. Aku bisa lari secepat angin dan melompat setinggi pohon tanpa ngerasa capek sama sekali," bisik Mahesa dengan senyuman tipis yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik tudung jaketnya.
Di dalam bus yang berguncang membelah kemacetan Jakarta pagi itu, Mahesa menatap pantulan dirinya di kaca jendela bus yang berdebu. Di balik penampilannya yang masih dibungkus jaket sederhana, ia tahu bahwa langkah pertamanya hari ini menuju Gedung Graha Subroto tidak akan pernah sama lagi seperti kemarin. Pemuda culun yang biasanya melangkah dengan berat hati karena bayang-bayang hinaan, kini telah memiliki langkah kaki yang seringan angin dan sekokoh batu karang, siap menyongsong apa pun takdir yang menantinya di tempat kerja.