Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Ketika Topeng Jatuh
Setelah bentrokan di koridor belakang panggung, Shafira Maharani menghilang tanpa jejak.
Keheningan yang tersisa terasa mencekam.
"Sial."
Arjuna Pratama mengumpat pelan, kakinya menendang dinding dengan keras. Rasa sakit di ujung jari kakinya tidak sebanding dengan yang mendidih di dadanya. Alkohol bercampur kesal bercampur dorongan gelap yang tidak terpenuhi—semuanya mengalir deras dalam darahnya, tidak menemukan tempat keluar.
Dengan ekspresi muram, ia berbalik. Udara segar. Ia butuh udara segar dan jarak dari malam yang menjengkelkan ini.
Saat ia berbelok di tikungan koridor yang sepi—
Sesosok tubuh kecil menabraknya langsung.
Kekuatan benturannya cukup untuk membuat Arjuna terhuyung satu langkah ke belakang. Tangannya bergerak secara refleks, mencengkeram lengan orang yang menabraknya sebelum mereka berdua kehilangan keseimbangan.
"Maaf, saya tidak bermaksud—"
Suara itu gemetar. Lemah. Dipenuhi ketakutan yang tidak dibuat-buat.
Citra Lestari menundukkan kepalanya serendah mungkin, tubuhnya seolah ingin menjadi tidak terlihat. Ketakutannya bukan akting—meskipun ia sengaja berada di jalur Arjuna, menghadapi pria yang sedang mabuk dan jelas-jelas dalam suasana hati paling buruknya adalah hal yang berbeda dari yang ia bayangkan.
Arjuna menatap sosok di hadapannya. Kaus abu-abu kusam. Celana jins longgar. Asisten kecil yang sama dari koridor syuting minggu lalu.
Gelombang kekesalan yang tidak proporsional muncul dalam dirinya. Mengapa semua orang hari ini berani mengganggunya?
"Apa kau tidak punya mata saat berjalan?" Suaranya rendah, serak, diwarnai dingin yang menusuk.
"Maaf, Tuan Muda Arjuna. Saya akan segera pergi."
Citra membungkuk dalam-dalam—dan kacamata berbingkai hitam tebalnya meluncur turun dari hidung mungilnya.
Klik.
Suara kecil itu terdengar tidak proporsional kerasnya di telinga Citra.
Tubuhnya membeku.
Instingnya adalah langsung berjongkok, mengambilnya, mengembalikan perisai itu ke tempatnya sebelum kerusakan terjadi. Tapi Arjuna lebih cepat.
Awalnya ia hanya melirik dengan pandangan meremehkan—asisten ceroboh, tidak perlu diingat. Tapi saat kacamata itu jatuh dan Citra mendongak karena panik—
Dunia seolah berhenti berputar selama satu detik.
Mata jenis apa itu?
Jernih seperti salju pegunungan yang mencair di bawah sinar pagi—memantulkan cahaya dari dalam, bukan dari luar. Sudut matanya terangkat alami, memancarkan kepolosan yang kontras tajam dengan kekacauan malam itu. Dan sekarang, karena panik, mata itu diselimuti kabut tipis air mata yang belum jatuh. Bulu mata panjangnya bergetar seperti sesuatu yang terluka tapi belum mau mengaku.
Tidak ada kalkulasi di sana. Tidak ada kepura-puraan. Hanya mata yang terlalu bersih untuk tempat seperti ini.
Sesuatu bergerak di belakang tatapan Arjuna yang biasanya dingin.
Ia menyipit. Menatap lebih intens.
Ada yang salah. Sangat salah—dalam arti yang berbeda dari yang ia maksud semula.
Mata itu memukau, hidup, bercahaya. Tapi wajah di sekitarnya kusam, ditutupi lapisan krim yang membuat kulit tampak abu-abu dan tidak rata. Kelopak mata yang tipis itu—cerah, halus, merah muda alami—membentuk perbedaan yang tidak masuk akal dengan warna kulit di sekitarnya.
Kontras yang tidak bisa terjadi secara alami.
Dia menyembunyikan kecantikannya.
Pertanyaan itu meledak di kepalanya bukan sebagai dugaan, tapi sebagai kepastian. Dan sebelum logikanya sempat bertindak, tubuhnya sudah bergerak.
Jari-jari Arjuna mencengkeram dagu mungil Citra—kekuatan yang tidak meminta izin—memaksa wajah itu mendongak.
"Heh..."
Tawa kecil keluar dari bibirnya. Ambigu. Berbahaya. Dipenuhi penasaran yang tiba-tiba menyala.
Di bawah ujung jarinya, kulitnya sehalus porselen—jauh berbeda dari penampilan kasarnya. Rasa penasaran itu menjalar cepat menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Ia mencondongkan tubuh lebih dekat. Napasnya yang panas dan berbau alkohol menerpa dahi Citra.
"Asisten kecil..." suaranya merendah, serak, intim dengan cara yang tidak nyaman. "Kau menyembunyikan dirimu dengan sangat baik."
Tatapannya penuh keserakahan tertuju pada mata almond yang tidak bisa bohong itu. "Aku ingin tahu persis wajah apa yang kau sembunyikan di balik topeng ini."
Dagu Citra terasa sakit. Ia dipaksa mendongak, menatap wajah tampan yang hanya berjarak beberapa inci—dan api gelap di mata Arjuna membuat jantungnya berdegup bukan karena kagum, tapi karena panik murni.
Ini bukan bagian dari rencananya. Tidak seperti ini. Tidak secepat ini.
"Tuan Muda Arjuna, Anda salah paham." Suaranya pecah. "Saya tidak menyembunyikan apa pun. Tolong lepaskan saya."
"Salah paham?" Ia terkekeh, ejekan dingin di baliknya. "Entah itu salah paham atau bukan—aku akan tahu setelah melihat sendiri."
Tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan Citra. Kuat. Final.
"Ah—Tuan Muda Arjuna, lepaskan! Anda tidak bisa melakukan ini!"
Citra menarik tangannya, berusaha melepaskan diri. Perlawanannya lemah—sebagian karena fisiknya memang tidak sebanding, sebagian karena pikirannya sedang mencoba berpikir lebih cepat dari kepanikannya sendiri.
Dia membawaku ke mana? Lift? Lantai atas?
Kita baru bertemu dua kali.
Arjuna bahkan tidak perlu berusaha keras. Seperti menggiring anak kucing yang tidak patuh, ia setengah menarik, setengah menggiring Citra menuju lift di ujung koridor—bergerak dengan keyakinan orang yang tidak pernah diajarkan kata tidak dalam konteks ini.
Air mata Citra mengalir sekarang, mengaburkan pandangannya. Bukan sepenuhnya strategi—sebagian besar itu adalah panik yang nyata, tubuh yang bereaksi lebih jujur dari yang ia izinkan.
Dan hal yang paling menyedihkan adalah: air mata itu tidak melunakkan Arjuna.
Justru sebaliknya.
Ada sesuatu dalam diri pria itu yang terpantik oleh ketidakberdayaan—bukan karena sadisme yang disadari, tapi karena instingnya yang paling primitif menerjemahkan perlawanan lemah sebagai konfirmasi bahwa ia boleh melanjutkan.
Citra terhuyung mengikuti tarikan itu, kakinya terseret lebih dari yang ia langkahkan sendiri.
Ia datang ke malam ini sebagai pemain yang tenang dengan rencana yang sudah dipikirkan. Tapi rencana itu dibuat untuk Arjuna yang ada di dalam file sistem—bukan untuk pria ini, yang berdiri di persilangan antara amarah dan alkohol dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya.
Ia bukan lagi pemain catur yang mengamati papan dari kejauhan.
Ia adalah bidak yang sedang dicengkeram oleh raja yang sedang tidak waras.