NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Kegiatan pagi

Tiba di hari Minggu, Rara sudah rapi dan wangi padahal waktu masih menunjukkan pukul enam. Gadis belia itu masuk ke kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu. Membuka korden kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh Laras.

"Wakey wakeyyy, time to showerrrr!" Nadanya penuh semangat dan ceria, seperti seorang ibu yang tengah membangunkan putri kecilnya untuk pergi ke sekolah. Tidak ada alasan lain Rara melakukan hal demikian, moodnya sedang bagus karena rencana yang sudah dibuatnya tempo lalu. Begitulah seorang adik, sangat menempel pada sang Kakak jika ada maunya saja.

Di sisi lain Laras cemberut dengan mata masih tertutup. Ia terlihat tidak sudi untuk sekedar membuka mata, tapi tidak untuk mulutnya yang reflek memaki. "Kurang ajar! Ini masih pagi!" suaranya serak, namun terdengar penuh kebencian.

"Kakkkk" Rara mengguncang tubuh Laras. "Ayolah, temani aku keluar." Gadis itu menarik tubuh Laras untuk bangun. Memaksa Laras membuka mata lebih lebar lagi.

"Setelah pemberitaan yang heboh di media sosial kemarin kamu tidak puas, hah?!" Sengit Laras sembari mengucek mata. Dirinya teringat saat di toko bunga, baru saja menginjakkan kaki di tempatnya bekerja itu, Laras sudah di berondong dengan celotehan Rina yang mengatakan dirinya tengah Viral.

Rina menunjukkan postingan Instagram Rara di ponselnya. Foto serta video pendek dengan like hampir setengah juta juta itu penuh dengan komentar netizen yang penasaran sekaligus iri. Tidak hanya itu, Rina juga menyuruh Laras membuka DM karena temannya itu mengirim beberapa postingan di akun gosip yang membahas tentang dirinya. Siapakah gadis beruntung itu? Aditya memiliki mangsa baru?

Parahnya, akun Instagram Laras yang bersifat pribadi itu juga dibanjiri permintaan pertemanan. Saat tahu dirinya mendadak viral, Laras hanya menghela napas. Entahlah, dirinya tidak tahu harus berbuat apa, tapi yang pasti, energinya langsung terserap habis.

"Ayolah, ini yang terakhir kali, anggap saja sebagai bentuk permintaan maafku pada kakak." Rara memohon, wajahnya memelas dengan kedua tangan memeluk Laras yang masih setengah tidur. Memeluk kuat-kuat sehingga membuat Laras sulit bergerak. "Kak, permintaanku simpel dan tidak menguras uang kakak. Masa gitu sih sama adik sendiri."

Laras menjauh, melepas tangan Rara yang membelit tubuhnya seperti gurita. "Paket ayam utuh dengan sambal bawang, terus isiin bensin full Pertamax!" finalnya. Sebenarnya masih banyak permintaan, tapi dirinya tidak serakus itu.

Rara berdecak sebal, itu artinya uang tabungannya semakin berkurang. Tapi tidak masalah, nanti bisa minta ke ayah. "Oke!"

Laras membuka matanya lebar-lebar, adiknya ini tidak biasanya langsung setuju tanpa menawar? Apa benar merasa bersalah atau ada maksud lain yang disembunyikan? "Kau merencanakan sesuatu yang lebih gila, kannn?" tanya Laras penuh selidik.

"Enggakkk! Jangan asal tuduh yaa, aku ini sedang berusaha menjadi adik yang baik... Cepat kak, sana mandi." Rara menggeleng kuat, kemudian mendorong Laras agar turun dari tempat tidur. Mengarahkan Kakanya menuju kamar mandi, bahkan sampai membukakan pintu kemudian menutupnya kembali.

"Tapi kalo kamu berulah lagi aku tidak akan menganggapmu saudara," teriak Laras dari dalam kamar mandi.

"Kejam," ucapnya singkat. Sedetik kemudian Rara tersenyum senang. Sangking senangnya, gadis itu membereskan tempat tidur Laras tanpa sadar. Melipat selimut serta merapikan bantal.

Selesai, Rara duduk di tepian kasur. Tangannya mengambil ponsel disaku dan mulai membuka DM Instagram.

-Hai kak, kami sedang bersiap-siap. Jangan lupa share lokasinya yaa- Rara mengirim pesan untuk Aditya.

Sekitar dua menit Aditya akhirnya menjawab -Bagus- balasan singkat kemudian di susul pesan yang berisi link lokasi pertemuannya dengan Aditya.

-Tempatnya kok di perumahan? Kakak enggak mau jual kami ke Kamboja kan? Aman kan?-

Aditya mengirim emot tertawa -Uangku sudah banyak, tidak butuh pekerjaan seperti itu-

-Aman, itu rumahku-

-Anjir- Rara refleks menjawab dengan umpatan. Rara hampir tidak percaya jika Aditya seterbuka itu. Bagaimana jika dirinya mengambil kesempatan? Menjual alamat rumah Aditya pada fans fanatik cowok itu? -Beneran ini kak?-

-Beneran dong, hahah-

Sekitar 20 menit berlalu akhirnya Laras sudah selesai mandi, harum sabun menguar begitu gadis itu keluar dengan hanya menggunakan bathrobe.

Laras mengambil baju di lemari secara random, tanpa banyak berpikir. Pikir Laras, toh tidak akan menghadiri acara formal, hanya jalan-jalan. Sedangkan Rara, gadis itu juga tidak peduli akan pakaian kakaknya. Dilihat-lihat masih wajar dan tidak memalukan. Bodo amat, yang penting dirinya bisa foto bersama dengan Aditya.

"Sarapan dulu, kakak lapar." Laras menginterupsi, setelah buang air besar, kini perutnya keroncongan parah.

"Enggak usah, keburu telat." Rara menolak,

"Telat ngapain? ... Lagi pula kalau ibu sudah masak gimana?" Laras menoleh sejenak pada Rara, gadis setengah pengangguran itu langsung keluar setelah mengantongi ponsel.

Rara akhirnya mengalah, ia membenarkan kalimat Kakaknya. Bisa sakit hati jika mereka tidak mau sarapan sedangkan Ibu sudah memasak dengan penuh cinta. Dan benar saja, begitu keduanya sampai di ruang makan. Tiga piring penuh nasi goreng sudah menanti di meja.

"Tumben kalian akur?" Tanya Sari, wanita itu meletakan teh tawar hangat untuk menemani sarapan.

"Pagi Bu ... Aku mau ngajakin kakak jalan-jalan sebagai permintaan maaf karena telah merepotkan kakak." Rara duduk di kursi yang berhadapan dengan Sari. Sedangkan Laras duduk di sebelahnya.

Wajah Sari berseri saat mendengar kalimat Rara. "Bagus itu, kali ini ibu mendukung. Kalian itu saudara, sudah sepantasnya akur seperti ini. Ibu jadi seneng liatnya." Begitulah seorang ibu, bahagianya sederhana, cukup melihat putri-putrinya akur.

"Ayah kemana Bu?" tanya Laras saat menyadari Ayahnya tidak bersama mereka. Biasanya Harto akan datang belakangan. Tapi hari ini, Harto tidak terlihat batang hidungnya padahal Laras sudah menyelesaikan setengah nasi goreng di piringnya.

"Lembur katanya, kalian mau jalan-jalan ke mana?" Sari menatap kedua putrinya bergantian, sedikit penasaran. Pasalnya masih terlalu pagi untuk keduanya menikmati waktu bersama dan pastinya banyak tempat belum dibuka.

Laras mengedikkan bahu tidak tahu. "Tau tuh." dagunya lantas menujuk Rara.

"Mall, tapi aku mau mampir dulu ke rumah temen. Dia minta tolong ngirim barang," ucap Rara tanpa mengalihkan pandangan, gadis itu sedang fokus menghabiskan sarapan.

"Loh, kenapa enggak dia aja yang pergi?" Kini Laras ikut penasaran.

"Gak tau." singkat Rara yang sebenarnya malas menjelaskan. Lebih tepatnya malas mencari alasan untuk kebohongannya.

"Aneh, mau saja di suruh-suruh." Laras berdecak, kesal karena berati dirinya juga akan ikut.

"Biarin, aku suka dateng ke rumahnya. Gendongan, lumayan cuci mata."

"Disuruh temen mau, di suruh kakak sendiri banyak banget alesannya."

Rara meringis merasa bersalah. "Bantu kakak, enggak dapet imbalan sihh."

Laras bungkam, tidak lagi berbicara pada adiknya yang menyebalkan.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!