NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Kelulusan dan Langkah Menuju Impian

Waktu laksana air yang mengalir deras di antara celah-celah batu, tidak pernah berbalik ke belakang namun selalu membawa perubahan pada setiap jengkal tanah yang dilaluinya. Satu tahun telah berlalu sejak malam penuh janji di tepi Hutan Sangker. Dalam rentang waktu dua belas bulan itu, banyak hal telah berubah di dalam dinamika kehidupan geng lingkaran utama kampus metropolitan ini. Zenix Dirgantara, yang dulunya dikenal sebagai pentolan balapan liar berkulit keras dengan aura bad boy yang kental, kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok pemuda yang jauh lebih matang, tenang, dan memiliki fokus masa depan yang sangat tajam.

Janji suci yang melingkar di jari manis Anisa di seberang pulau sana bertindak bagai kompas spiritual yang tak kasat mata bagi Zenix. Setiap kali rasa malas atau kejenuhan melanda tugas-tugas akhir kuliahnya, bayangan wajah teduh gadis berhijab itu selalu hadir, memecah kebuntuan pikirannya dan memacunya untuk segera menyelesaikan tanggung jawab akademisnya.

Hari ini, koridor lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas ternama itu tampak begitu tegang namun penuh dengan aura antisipasi yang meledak-ledak. Di depan pintu ruang sidang utama yang berlapis kayu jati kokoh, lima sahabat karib yang telah melewati suka dan duka masa perkuliahan bersama kini sedang berkumpul. Zenix, Jovanka, Deandra, Sasti, dan Susan duduk berjajar di kursi tunggu besi. Penampilan mereka hari ini tampak sangat formal, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan gaya kasual atau jaket kulit yang biasa mereka kenakan sehari-hari.

Zenix duduk di ujung kursi dengan posisi tegap. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika sangat rapi, dipadukan dengan dasi hitam slim dan setelan jas formal berwarna hitam pekat yang membungkus tubuh jangkungnya dengan sangat sempurna. Rambutnya yang biasa dibiarkan sedikit acak-acakan kini ditata klimis ke belakang, menyisakan anting hitam kecil di telinga kirinya sebagai satu-satunya identitas masa lalunya yang tersisa. Di jari tengah tangan kanannya, sebuah cincin perak masih melingkar dengan kokoh, menjadi sumber ketenangan batin utamanya menghadapi tiga dosen penguji di dalam sana.

Di sebelahnya, Jovanka tampak tidak bisa diam. Pemuda humoris itu terus-menerus membolak-balikkan bundel naskah skripsinya yang tebal dengan tangan yang sedikit berkeringat. "Gila, Zen... gua udah ngafalin bab empat dari semalem, tapi pas berdiri di depan pintu ini kenapa rumusan teori gua mendadak hilang semua ya? Jantung gua berasa mau copot nih," bisik Jovanka dengan raut wajah yang campur aduk antara panik dan mules.

Deandra, yang duduk di samping Susan, terkekeh pelan mencoba mencairkan ketegangan meski dirinya sendiri sesekali merapikan kerah kemejanya yang terasa mencekik. "Tenang, Jovan. Lu kalau panik begitu malah bikin draf presentasi lu buyar. Tarik napas dalam-dalam. Kita udah riset bareng-bareng berbulan-bulan, masa tumbang di menit-menit terakhir."

"Betul kata Dean, Jovan," sahut Sasti yang tampak sangat anggun mengenakan kemeja blazer formal wanita dengan rambut yang disanggul rapi. Di tangannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan poin-poin penting analisis data skripsinya. "Kita berlima sudah berjanji untuk masuk ke gerbang ini bersama, jadi kita juga harus keluar dari ruangan itu dengan menyandang gelar sarjana bersama-sama hari ini."

Susan, yang duduk paling ujung sembari menggenggam jemari Deandra, mengangguk mantap. "Benar! Masa depan kita sudah menanti di luar sana. Jangan sampai dosen penguji mengacaukan impian besar kita."

Zenix tidak banyak bicara. Ia hanya melirik sahabat-sahabatnya satu per satu, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat penuh keyakinan. "Jangan mempermalukan diri sendiri di dalam sana. Kita sudah sejauh ini. Masuk, bantai pertanyaan mereka dengan data, lalu kita pulang sebagai pemenang," ucap Zenix dengan nada suara beratnya yang penuh wibawa, seketika menyuntikkan energi keberanian baru ke dalam dada empat sahabatnya.

Satu per satu dari mereka mulai dipanggil masuk ke dalam ruang sidang yang dingin oleh sekretaris dewan penguji. Pertempuran akademis yang sesungguhnya pun dimulai.

Sasti menjadi yang pertama masuk, mempresentasikan analisis manajemen keuangan korporasi dengan sangat artikulatif, tenang, dan tajam, membuat para dosen penguji senior mengangguk-angguk puas. Setelah itu disusul oleh Susan dan Deandra strategi pemasaran digital terpadu yang sangat relevan dengan perkembangan industri modern saat ini di tahun 2026. Jovanka, meskipun awalnya sempat terbata-bata karena gugup di lima menit pertama, berhasil menguasai panggung ruang sidang berkat gaya bicaranya yang supel dan penguasaan materi operasional lapangan yang sangat kuat.

Hingga akhirnya, giliran terakhir jatuh kepada Zenix Dirgantara.

Ketika nama Zenix dipanggil, pemuda itu bangkit berdiri tanpa ragu sedikit pun. Ia melangkah masuk ke dalam ruang sidang dengan langkah yang tegap dan tatapan mata yang sangat lurus. Di hadapan tiga profesor penguji yang terkenal paling pelit memberikan nilai di fakultas tersebut, Zenix membuka laptopnya dan mulai memaparkan presentasi skripsinya yang mengangkat tema tentang restrukturisasi bisnis dan investasi makro.

Selama empat puluh lima menit berada di dalam ruangan yang mencekam itu, Zenix tidak menunjukkan celah kelemahan sedikit pun. Setiap pertanyaan jebakan, kritik tajam terhadap metodologi, hingga cecaran pertanyaan mengenai analisis risiko investasi berhasil ia patahkan satu per satu dengan jawaban yang sangat logis, taktis, dan didukung oleh data statistik yang akurat. Kepemimpinan alami dan kecerdasan otak Zenix yang selama ini tersembunyi di balik sifat liarnya kini memancar seutuhnya, membuat para dosen penguji terkesima dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi.

Tepat pukul empat sore, pintu ruang sidang utama kembali terbuka. Zenix Dirgantara melangkah keluar dengan raut wajah yang longgar, disusul oleh keluarnya pengumuman resmi dari papan digital fakultas. Hasil kelulusan sidang skripsi hari itu menyatakan bahwa kelima sahabat tersebut dinyatakan LULUS dengan predikat yang sangat memuaskan, bahkan Zenix, Sasti, dan Deandra berhasil meraih predikat Cum Laude.

"YAAAAAAASHHH!!! KITA LULUS, GUYS!!! KITA SARJANA SEKARANG!!!"

Jovanka berteriak histeris di koridor, melompat kegirangan dan langsung merangkul pundak Zenix dan Deandra secara bersamaan tanpa memedulikan tatapan heran dari mahasiswa tingkat bawah yang sedang berlalu lalang. Sasti dan Susan langsung berpelukan erat dengan mata yang berkaca-kaca penuh kebahagiaan. Segala lelah, air mata, begadang tengah malam, dan ketegangan selama empat tahun masa kuliah akhirnya terbayar lunas dalam satu lembar pengumuman kelulusan tersebut.

Setelah euforia kelulusan di koridor mereda, kelima sahabat itu berjalan bersama menuju area taman tengah kampus yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Mereka duduk melingkar di atas bangku taman batu, menatap langit sore ibu kota yang perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Kelegaan yang luar biasa merayap di dalam dada mereka, namun di saat yang sama, ada sebuah kesadaran baru yang menghantam pikiran mereka masing-masing bahwa setelah gerbang kelulusan ini, masa depan yang sesungguhnya telah menanti dengan segala harapan, cita-cita, dan tanggung jawab baru.

"Nggak kerasa ya... petualangan kita di kampus ini udah selesai," ujar Deandra sembari bersandar di sandaran bangku, menatap langit dengan pandangan menerawang. "Dulu kita cuma sekumpulan anak muda yang tahunya main, nongkrong, sama bikin masalah. Sekarang, kita udah punya gelar di belakang nama kita."

"Benar, Dean," sahut Sasti, matanya berbinar menatap hamparan rumput taman. "Masa depan sudah di depan mata. Setelah wisuda bulan depan, cita-cita yang selama ini kita diskusikan di kafe atau di sela-sela revisi skripsi harus mulai kita wujudkan satu per satu."

Sasti menoleh ke arah Susan. "Gua sendiri sudah memantapkan hati untuk menerima tawaran kerja di salah satu perusahaan konsultan keuangan asing di kawasan SCBD. Gua mau mengasah kemampuan analisis gua di sana sebelum nanti suatu hari bisa membangun firma konsultan gua sendiri."

Susan tersenyum manis, menggenggam erat tangan Deandra yang berada di atas pangkuannya. "Kalau gua dan Dean... kami sudah sepakat untuk mulai serius mengelola dan mengembangkan bisnis diler kuliner modern dan kafe franchise yang modalnya sudah kami tabung sejak tahun lalu. Kami mau belajar mandiri, membangun usaha dari nol bersama-sama sebagai bekal masa depan kami berdua."

Jovanka tidak mau kalah. Ia menegakkan tubuhnya, menepuk dadanya dengan bangga. "Kalau gua... berhubung bokong gua nggak bisa diam kalau kelamaan duduk di belakang meja kantor, gua mau gabung ke perusahaan logistik dan distribusi berskala nasional milik paman gua. Gua mau belajar mengendalikan operasional lapangan di sana, sekalian mau ngumpulin modal yang banyak buat masa depan."

Mendengar pemaparan cita-cita dan harapan dari para sahabatnya, Zenix Dirgantara tersenyum bangga. Ia merasa sangat bersyukur memiliki lingkaran pertemanan yang tidak hanya solid dalam urusan bersenang-senang, tetapi juga memiliki visi dan tekad yang kuat untuk menjadi manusia yang sukses dan berguna di masa depan.

"Kalau lu sendiri gimana, Zen? Apa rencana besar lu setelah ini?" tanya Jovanka, mengarahkan pandangan semua orang di taman itu tertuju sepenuhnya kepada sosok Zenix yang menjadi pemimpin mereka selama ini.

Zenix mengubah posisi duduknya, menumpukan kedua tangan di atas lututnya. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke arah horison barat kota, menyiratkan sebuah rencana yang sudah tersusun rapi dengan sangat matang di dalam kepalanya selama satu tahun terakhir ini.

"Cita-cita dan harapan gua sudah sangat jelas setelah kelulusan ini," jawab Zenix dengan suara beratnya yang mantap dan penuh penekanan. "Gua akan langsung masuk ke dalam jajaran manajemen perusahaan holding properti dan investasi milik keluarga Dirgantara. Gua akan mengambil alih kendali beberapa proyek besar di sana untuk membuktikan kepada Papa dan Dewan Direksi bahwa gua sudah sangat matang dan mampu memimpin jalannya bisnis keluarga dengan tangan gua sendiri."

Zenix berhenti sejenak, sebuah senyuman penuh arti yang sangat hangat terukir di wajah tampannya saat ia menatap cincin perak di tangannya. "Gua mau bekerja keras mengumpulkan pencapaian dan memantaskan posisi gua di perusahaan itu dalam waktu singkat. Karena... tepat setelah gua mapan di posisi itu, gua punya satu janji besar yang harus segera gua tepati. Gua akan memacu mobil gua kembali ke Desa Beringin Sakti, membawa orang tua gua secara resmi, untuk meminang dan menjemput Anisa menjadi istri sah gua untuk selamanya."

Mendengar pernyataan penutup yang begitu jantan dan sarat akan komitmen masa depan dari Zenix, keempat sahabatnya seketika tertegun, sebelum akhirnya kompak memberikan tepuk tangan yang meriah disertai sorakan menggoda. Mereka tahu betul, di balik ambisi besar Zenix untuk menguasai dunia bisnis kota, tujuan akhir dari hati pemuda itu tetaplah berada di sebuah pondok bambu sederhana di tepi Hutan Sangker. Harapan dan cita-cita masa depan telah menanti di hadapan mereka, dan dengan gelar sarjana yang kini telah berada di tangan, kelima sahabat itu siap melangkah keluar dari gerbang kampus guna menaklukkan dunia nyata dengan keyakinan yang penuh.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!