NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18

...18: PENDAFTARAN MASUK AKADEMI...

...****************...

"Minumlah segelas arak ini," ucap Kenzie sembari menyodorkan segelas minuman hangat ke arah teman barunya.

"Baiklah, terima kasih banyak, Kawan!" Ryujin menyambar gelas tersebut tanpa ragu, lalu meneguk isinya dalam sekali sentakan. "Ahh... Haa... Nyaman sekali rasanya!" gumam Ryujin dengan wajah yang mendadak merona merah, efek kombinasi dari arak hangat dan banyaknya daging Banteng Bertanduk Baja berenergi murni yang baru saja ia lahap ke dalam perutnya.

Kenzie ikut terkekeh, menatap gelasnya sendiri dengan pandangan sayu. "Kau tahu? Minuman ini diam-diam aku ambil dari guci rahasia Master-ku. Dan ternyata, minuman dewa ini memang jauh lebih enak jika dinikmati bersamaan dengan daging bakar!"

"Terima kasih banyak atas jamuan mewah malam ini. Sepertinya perutku sudah penuh total dan mataku mulai terasa sangat berat. Aku pergi tidur duluan ya, Bro," ucap Ryujin sembari berdiri dengan langkah gontai, meninggalkan Kenzie sendirian di meja makan demi merangkak ke kasur pojok ruangan.

"Ehh.. Si sialan ini, aku baru saja membuka obrolan, kamu malah pergi!. tega sekali kamu meninggalkan aku sendirian di sini..." Kenzie bergumam dengan wajah yang ikut merona merah akibat efek mabuk arak Arvendel.

"Maaf kawan aku benar-benar tidak mampu lagi menahan rasa kantukku ini!." kata ryujin memperjelas pada Kenzie keadaan dirinya saat ini.

 "Baiklah.. Sepertinya aku juga akan pergi tidur sekarang, agar besok pagi aku tidak mengecewakan Rava dan Liera." Dengan langkah sempoyongan dan pandangan sedikit berputar, Kenzie menyeret tubuhnya ke atas kasur empuk yang besar, merebahkan diri, dan langsung jatuh tertidur pulas dalam hitungan detik.

 

Keesokan harinya...

Matahari pagi sudah naik cukup tinggi di cakrawala, namun Kenzie dan Ryujin masih tampak terbaring nyaman di kasur masing-masing. Dengkur telentang dan suara dengkuran kecil dari hidung mereka menjadi tanda bahwa kedua pemuda ini masih sangat pulas, tenggelam dalam alam mimpi masing-masing, dan sama sekali enggan terbangun untuk bersiap menghadapi ujian murid baru di akademi.

Sementara itu, di area luar kompleks pendaftaran, kondisi sudah sangat ramai. Rava dan Liera tampak berdiri cemas sembari berulang kali menoleh ke arah jalan setapak penginapan. Sesi pendaftaran murid baru sudah berjalan, bahkan waktu terus berlalu begitu cepat hingga batas akhir pendaftaran akan segera ditutup dalam hitungan menit.

Karena dilanda kepanikan, Rava akhirnya berinisiatif bertanya kepada salah seorang pemuda calon peserta yang sedang mengantre. Pemuda itu tampak familier karena semalam Rava melihatnya menempati kamar lantai dua, tepat bersebelahan dengan kamar mewah milik Kenzie.

"Permisi, Sobat. Apakah aku boleh meminta waktumu sebentar untuk bertanya?" ucap Rava dengan nada sangat sopan.

Pemuda itu menoleh, merespons dengan sikap ramah saat mengenali Rava sebagai murid senior akademi. "Iya, boleh, Senior! Silakan tanya saja apa yang perlu Anda ketahui dariku."

"Aku ingin bertanya, apakah kamu melihat pemuda berambut perak yang menempati kamar tepat di sebelah kamarmu semalam di penginapan?" tanya Rava cemas.

Pemuda itu mengetuk dagunya, mengingat-ingat. "Maaf, Senior, sejak pagi tadi aku sama sekali tidak melihat hawa keberadaannya di sekitar area panggung pendaftaran ini."

"Begitu ya... Lalu, apakah kamu sempat melihatnya keluar kamar pagi-pagi sekali?" tanya Rava lagi, berharap Kenzie hanya tersesat jalan.

"Sepertinya pemuda itu belum ada keluar kamar sama sekali sejak fajar menyingsing, Senior."

"Ah, begitu rupanya. Kalau begitu silakan lanjutkan antreanmu. Maaf ya sudah mengganggu waktu luangmu," ucap Rava menghela napas pasrah.

"Ohh, tunggu dulu, Senior!" sela pemuda itu tiba-tiba dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi agak kesal. "Sepertinya pemuda berambut perak itu masih tertidur lelap di dalam kamarnya. Soalnya, semalam aku terus-menerus mendengar suara bising dari dalam kamarnya yang sedang melakukan sesuatu. Mereka berdua benar-benar sangat berisik hingga mengganggu waktu tidurku! Gara-gara mereka, aku bahkan hampir lambat bangun pagi ini..."

"Ehh?! Berdua?!" Rava tersentak, sepasang matanya melebar heran. "Maksudmu, di dalam kamar khusus itu ada dua orang yang menginap? Atau kamu mungkin salah mengenali orang?"

"Iya, Senior, aku tidak salah dengar ataupun salah lihat! Kalau tidak salah, semalam ada seorang pria berambut acak-acakan bernama Ryujin yang memohon-mohon untuk diizinkan tidur di dalam kamar pemuda yang Senior maksud. Dan sampai detik ini, mereka berdua sama sekali belum menampakkan batang hidungnya di sini. Kemungkinan besar mereka berdua masih terlelap pulas akibat kelelahan semalam. Kalau begitu, Senior, aku permisi dulu," kata pemuda itu memberikan informasi berharga sebelum melangkah maju ke barisan depan.

Rava menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. "Haa... Bagaimana bisa ini terjadi di hari sepenting ini?!" Ia langsung menoleh ke arah Liera dan membagi tugas dengan cepat. "Liera! Kamu tolong bantu aku mendaftarkan nama mereka berdua menggunakan kartu rekomendasi Master Helena, sementara aku akan berlari secepat kilat ke penginapan untuk membangunkan dua manusia tidak bertanggung jawab itu!"

"Baik! Cepatlah, Rava! Waktu kita tidak banyak!" seru Liera panik sembari menerobos kerumunan menuju meja pendaftaran.

Sementara di tempat lain, di dalam kamar penginapan yang tertutup rapat, Kenzie dan Ryujin sama sekali belum memberikan tanda-tanda kehidupan. Keduanya masih tertidur begitu pulas di kasur mereka masing-masing, terbuai oleh sisa-sisa efek alkohol semalam.

"Haaahahaha... Minumlah sepuasnya sampai kamu mabuk... Ayo tuang lagi... Hahaha..." Ryujin mengigau tidak jelas sembari menendang selimutnya, sementara Kenzie hanya mendengkur ringan di kasur sebelah, benar-benar melepas rasa lelahnya dengan sangat khusyuk.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mewah itu mendadak terbuka kasar. Rava tiba di lokasi dengan napas terengah-engah setelah meminta kunci serep penginapan dari resepsionis di lantai bawah.

Dan benar saja, pemandangan di depan matanya membuat urat di pelipis Rava berkedut berang. Kenzie dan Ryujin masih terbaring nyaman di atas kasur, terlihat begitu lelap tenggelam dalam mimpi indah mereka seolah ujian masuk akademi hanyalah angin lalu.

Rava melangkah masuk, namun ia tidak berani langsung mengguncang tubuh Kenzie. Mengingat bagaimana mengerikannya kekuatan fisik pemuda berambut perak itu yang sanggup meremukkan Banteng Bertanduk Baja dengan sarung pedangnya, Rava takut jika ia membangunkan Kenzie secara kasar, Kenzie akan merespons dengan pukulan refleks yang bisa membuat nyawa Rava melayang.

Pandangan Rava berputar melihat sekeliling ruangan dan mendapati meja makan dipenuhi oleh sebongkah tulang sisa daging banteng dan guci minuman yang sudah kosong. Seketika itu juga, sebuah ide cemerlang terlintas di benak Rava. Menggunakan cara paling aman dan ampuh untuk membangunkan Kenzie tanpa memicu kemarahannya, Rava merogoh cincin ruangnya sendiri.

Ia mengeluarkan sebongkah daging panggang sisa pembagian semalam yang masih menyisakan sedikit aroma gurih, lalu dengan hati-hati menaruh dan mengibas-ngibaskannya tepat di depan hidung Kenzie.

*Endus... Endus...*

Insting kuliner Kenzie yang berada di level dewa langsung bereaksi seketika. Hidungnya kembang kempis, dan perlahan kedua mata perak-merahnya terbuka, langsung menatap lurus ke arah daging di tangan Rava dengan kesadaran yang terkumpul instan. "Eh? Rava? Kenapa kamu membawakanku sarapan di atas kasur?" tanya Kenzie polos sembari bangkit duduk.

"Tuan Kenzie! Syukurlah Anda bangun! Ini bukan waktunya sarapan, ujian sudah mau dimulai!" seru Rava lega. Ia kemudian melirik ke arah kasur pojok tempat Ryujin masih mendengkur parah. "Tuan Kenzie, lalu bagaimana dengan teman sekamarmu ini? Bagaimana cara membangunkannya?"

Kenzie mengucek matanya sebentar, lalu menatap Ryujin dengan pandangan menyebalkan. "Oh, si berisik itu? Rava, tidak usah pakai cara halus untuknya. Langsung tendang saja dia sampai jatuh dari atas kasur."

Mendapat izin dari pemilik kamar, Rava tidak membuang peluang. Dengan ekspresi dongkol yang sudah tertahan sejak tadi, Rava melangkah maju dan—*BAMM!*—sebuah tendangan telak bersarang di sisi kasur, membuat tubuh Ryujin berguling bebas dan jatuh menghantam lantai kayu dengan bunyi deburan yang keras.

"Aduuuh!! Gempa bumi?! Serangan musuh?!" Ryujin langsung melompat berdiri dengan rambut yang semakin acak-acakan dan wajah panik yang luar biasa kocak. Setelah kesadarannya pulih dan melihat Rava berdiri di depannya dengan wajah kesal, Ryujin langsung berkacak pinggang dan berteriak protes, "Woy! Sialan! Apa-apaan kamu ini?! Berani sekali menendang pria tertampan di dunia ini dari tempat tidur indahnya?!"

"Hentikan ocehan narsismu itu! Cepat cuci muka dan bersiap! Kita harus pergi ke lapangan ujian sekarang juga jika kalian berdua tidak ingin dicoret dari daftar!" bentak Rava tidak kalah keras.

Setelah adegan rusuh di kamar mandi yang penuh dengan aksi saling dorong, mereka bertiga akhirnya berlari kencang memotong jalur koridor dan tiba di area lapangan utama tempat ujian berada. Beruntung bagi mereka, mereka tidak perlu lagi mengantre di loket pendaftaran yang super padat karena Liera telah berhasil mendaftarkan nama Kenzie dan Ryujin secara resmi di detik-detik terakhir.

Sembari berdiri di barisan belakang menunggu nomor undian mereka dipanggil untuk naik ke atas panggung, tensi ketegangan di antara Rava dan Ryujin ternyata belum surut. Ryujin terus-menerus mendengus kesal sembari menatap tajam ke arah Rava, melanjutkan perdebatan mereka yang sempat tertunda di kamar tadi.

Rava yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya melotot tajam. "Heh, Ryujin! Jaga bicaramu dan tolong hargai seniormu di sini!" gertak Rava sembari menunjuk lambang murid resmi di dadanya.

Ryujin sama sekali tidak gentar, ia justru membalas dengan membusungkan dadanya menantang. "Heh! Kalau begitu, tolong hargai juga juniormu yang teramat imut dan berbakat ini!"

Rava berdecak kesal, tangannya mengepal erat. "Imut dari mananya, wajahmu itu mirip kain pel! Lagipula, berapa usiamu sebenarnya sampai aku harus memberikan rasa hormat yang tinggi pada seorang junior sepertimu?!"

"Delapan belas tahun!" jawab Ryujin lantang penuh kebanggaan.

Mendengar angka tersebut, Kenzie yang sejak tadi berdiri santai di samping mereka mendadak tertegun. Ia menoleh, menatap Ryujin dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Eh? Ternyata kamu masih semuda itu ya? Tapi entah mengapa... tingkah lakumu dan cara bicaramu jauh lebih mirip seperti pria tua bangkotan yang kurang belaian."

Rava langsung menyambung kalimat Kenzie dengan tawa mengejek. "Hahaha! Benar sekali! Dengar itu! Usiaku sendiri sudah dua puluh tahun, tahu tidak! Aku lebih tua dua tahun darimu! Jadi, sudah kewajibanmu untuk menghormati yang lebih tua!" Rava kemudian menepuk pundak Kenzie setuju. "Benar kata Tuan Kenzie, mukamu dan kelakuanmu itu memang jauh lebih mirip pria tua bangkotan ketimbang pria muda!"

Ryujin mendengus kasar, sama sekali tidak peduli dengan ejekan fisik mereka. Yang ia tuntut saat ini adalah harga dirinya yang terluka akibat ditendang dari kasur. "Masa bodo dengan usia! Pokoknya sebelum kamu meminta maaf secara resmi atas tendangan tidak berperikemanusiaanmu di kamar tadi, aku tidak akan pernah diam dan tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang di akademi ini!" tuntut Ryujin sembari menunjuk-nunjuk wajah Rava.

Melihat keributan yang mulai memancing perhatian calon peserta lain, Kenzie akhirnya menghela napas panjang sembari menggelengkan kepala.

"Hadeh... Berisik sekali kalian berdua ini. Sebaiknya cepat selesaikan perkara remeh kalian sekarang juga. Rava, mengalah sajalah dan minta maaf padanya agar dia berhenti mengoceh," kata Kenzie memberikan solusi. Uniknya, Kenzie mengucapkan kalimat bijak tersebut dengan ekspresi super santai sembari sibuk menciumi ujung jari kelingkingnya yang baru saja selesai ia gunakan untuk mengorek lubang kupingnya sendiri.

Rava yang melihat Kenzie sudah bersuara akhirnya memilih untuk mengalah demi menghormati pemuda kuat itu. "Baiklah! Karena ini adalah perintah langsung dari Tuan Kenzie, aku akan meminta maaf padamu!" jawab Rava dengan nada ketus. Namun, entah karena tertular ketidak sopanan Kenzie atau memang sengaja ingin mengejek Ryujin, Rava mengucapkan kalimat maaf tersebut sembari dengan santainya memasukkan jari telunjuknya ke dalam hidung, sibuk mengorek upilnya di depan wajah Ryujin.

Ryujin yang melihat pemandangan absurd di depan matanya seketika membeku. Kerutan di dahinya berlipat ganda, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat dongkol sekaligus jijik.

"Woy!! Ada apa dengan kalian berdua ini, hah?! Yang satu meminta maaf dengan santai sambil mengorek upil, dan satunya lagi menyuruh berdamai sambil asyik menciumi jari bekas mengorek kuping! Apakah kalian berdua sedang menganggap harga diriku ini sebagai lelucon?!" teriak Ryujin frustrasi, merasa kesehatan mentalnya terancam berada di dekat mereka.

*Plak! Plak!*

Sebelum perdebatan semakin meluas, dua pukulan ringan mendarat di belakang kepala Rava dan Ryujin. Liera mendadak muncul dari arah depan dengan wajah serius, menengahi mereka berdua. "Hentikan tindakan memalukan kalian! Simpan energi kalian dan fokuslah pada panggung utama, karena ujian masuk akademi baru saja resmi dimulai!"

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!