Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAUN PUTIH YANG KOSONG
Aroma mentega yang kaya, vanila yang manis, dan adonan kue yang dipanggang dengan sempurna adalah bau yang telah mendefinisikan seluruh hidup Catalea Yoora. Sebagai salah satu putri pewaris dari Rotasi Company—imperium bisnis kuliner dan bakery raksasa yang telah mencengkeram pasar di lebih dari lima provinsi—hidup Alea seharusnya teratur, manis, dan dapat diprediksi seperti resep roti yang paling presisi.
Namun, pada pagi hari yang cerah ini, di dalam suite mewah lantai paling atas Hotel Grand Luminary, atmosfer di sekitar Alea sama sekali tidak terasa manis. Udara terasa mencekam, dingin, dan pekat oleh kecemasan yang tidak terucapkan.
Alea berdiri di depan cermin besar setinggi langit-langit. Tubuhnya dibalut oleh gaun kebaya pernikahan berwarna putih gading, bertaburkan payet kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak sedikit saja. Desainnya anggun, modern namun tetap mempertahankan siluet tradisional yang agung sangat mencerminkan citra Rotasi Company yang modern namun menghargai akar budaya. Di belakangnya, tiga orang perancang busana ternama dan dua penata rias sedang sibuk memberikan sentuhan akhir pada rambutnya yang disanggul rapi, menyematkan ronce melati yang harumnya menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.
"Nona Alea, Anda sungguh luar biasa cantik hari ini," puji sang penata rias utama,
Seorang pria paruh baya dengan gerakan tangan yang sangat gemulai saat mengaplikasikan lipstik merah lembut di bibir Alea.
"Tuan Reynald pasti tidak akan bisa mengalihkan pandangannya dari Anda sedetik pun saat akad nikah nanti." Ujar panata rias itu lagi.
Alea hanya memaksakan sebuah senyuman tipis, jenis senyuman yang sering ia gunakan saat menghadiri rapat pemegang saham atau pembukaan cabang baru Rotasi Company di luar daerah. Senyuman profesional. Senyuman yang tidak pernah mencapai matanya.
Di dalam hatinya, nama 'Reynald' terasa seperti bongkahan es yang berat.
Reynald Pratama adalah pria pilihan ayahnya. Seorang pengusaha muda di bidang logistik yang dipercaya bisa membantu Rotasi Company memperluas jaringan distribusi bahan baku kuliner mereka ke seluruh penjuru negeri. Pernikahan ini, sejak awal mula direncanakan enam bulan yang lalu, tidak pernah tentang cinta. Ini adalah tentang merger, tentang ekspansi pasar, tentang stabilitas saham, dan tentang masa depan ratusan gerai bakery yang bernaung di bawah nama besar keluarganya.
"Terima kasih," bisik Alea singkat.
Suaranya terdengar serak, bahkan di telinganya sendiri.
"Baiklah, semuanya sudah siap," kata sang perancang busana sambil menepuk pundak Alea dengan lembut.
"Kami akan meninggalkan Anda sebentar untuk memberikan waktu tenang sebelum perwakilan keluarga menjemput Anda ke bawah. Akad nikah akan dimulai dalam empat puluh lima menit lagi."
Satu per satu, para pekerja seni itu merapikan peralatan mereka dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Alea sendirian di dalam kamar pelaminan yang luas. Begitu pintu kayu jati yang berat itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, keheningan langsung menyergap. Alea menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang bukan disebabkan oleh korset kebayanya yang ketat, melainkan oleh beban yang menghimpit dadanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Di balik riasan wajah yang sempurna, ia bisa melihat sepasang mata yang lelah dan penuh keputusasaan, Matanya sendiri.
Alea berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota. Di bawah sana, di halaman hotel, deretan mobil mewah terus berdatangan. Karangan bunga ucapan selamat berukuran raksasa berbaris rapi di sepanjang lobi, dipenuhi nama-nama pejabat tinggi, konglomerat, dan kolega bisnis dari berbagai provinsi. Semua orang menantikan pernikahan abad ini antara pewaris Rotasi Company dan putra mahkota Pratama Logistics.
Namun, di antara ratusan nama yang tertulis di karangan bunga itu, ada satu nama yang terus berputar di kepala Alea sejak semalam. Nama yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam sejak tiga tahun yang lalu.
Zahran Adrian Adiguna.
Kemarin sore, saat geladi resik terakhir di ballroom hotel, Alea sempat melihat daftar tamu VIP yang diundang oleh pihak keluarganya. Hubungan antara keluarga Yoora (pemilik Rotasi Company) dan keluarga Adiguna (yang bergerak di bidang perhotelan dan properti) memang sempat membeku selama bertahun-tahun akibat persaingan bisnis yang sengit dan akibat hubungan asmara Alea dan Zahran yang diputus paksa di tengah jalan. Namun, akhir-akhir ini, entah karena strategi bisnis atau diplomasi di balik layar, hubungan kedua keluarga besar itu tiba-tiba membaik. Ayah Alea bahkan secara khusus mengirimkan undangan VIP kepada keluarga Adiguna.
Mengetahui bahwa Zahran akan hadir di pernikahannya hari ini adalah siksaan mental terbesar bagi Alea. Pria itu adalah cinta pertamanya, satu-satunya pria yang pernah mengajarinya bagaimana rasanya dicintai bukan karena statusnya sebagai pewaris bisnis, melainkan sebagai seorang wanita biasa bernama Alea. Hubungan mereka dahulu berakhir tragis, penuh air mata, dan menyisakan luka yang belum sepenuhnya mengering.
Tiba-tiba, ponsel pintar Alea yang diletakkan di atas meja rias bergetar kuat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor tidak dikenal.
Alea mengerutkan kening. Dengan langkah hati-hati agar tidak merusak gaunnya, ia berjalan mendekati meja rias dan mengangkat ponsel tersebut. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat tanpa alasan yang jelas saat ia menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo?" ucap Alea pelan.
Tidak ada jawaban langsung dari seberang telepon. Hanya ada suara helaan napas yang berat, diikuti oleh kebisingan latar belakang yang samar seperti suara mesin mobil yang menderu pelan.
"Alea..."
Suara itu, Suara bariton yang rendah, sedikit serak, dan sangat familiar itu langsung membuat lutut Alea terasa lemas. Seluruh pertahanan mental yang ia bangun selama berbulan-bulan runtuh hanya dalam hitungan satu detik.
"Zahran?" bisik Alea, suaranya bergetar hebat.
Ia mencengkeram pinggiran meja rias dengan tangan kirinya yang bebas agar tidak terjatuh.
"Zahran, kenapa kamu meneleponku? Hari ini... hari ini adalah hari pernikahanku."
"Aku tahu," jawab Zahran di seberang sana. Suaranya terdengar dingin, namun ada getaran emosi yang tertahan di dalamnya.
"Aku tahu hari ini kamu akan menjadi milik orang lain, Alea. Menjadi tumbal untuk ambisi perusahaan keluargamu lagi, sama seperti saat mereka memisahkan kita dulu."
"Jangan mulai lagi, Zahran," air mata mulai menggenang di pelupuk mata Alea, mengancam akan merusak maskara antipandangan yang dipakainya.
"Semuanya sudah terlambat. Hubungan kita sudah selesai tiga tahun lalu. Aku harus melakukan ini untuk ayahku, untuk Rotasi Company."
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah kamu mencintai pria itu?" tanya Zahran,
Pertanyaan itu menembus tepat ke bagian paling rapuh di hati Alea. Alea terdiam, Keheningan di antara mereka
berdua di telepon terasa begitu menyakitkan. Ia tidak bisa menjawab 'ya', karena itu adalah kebohongan terbesar. Namun ia juga tidak berani menjawab 'tidak'.
"Aku ada di basement hotel sekarang, Alea," kata Zahran tiba-tiba, membuat Alea terengah kaget.
"Di dekat lift barang sektor C. Mobilku menyala. Jika kamu keluar sekarang melalui pintu belakang kamar suite-mu, melewati koridor staf, tidak akan ada yang melihatmu. Aku memberimu satu kesempatan terakhir. Ikut bersamaku, atau jalani sisa hidupmu dalam kepura-puraan di dalam sangkar emas itu." Ujar Zahran datar.
"Zahran, kamu gila! Ini penculikan jika kamu memaksaku!" pekik Alea pelan, takut suaranya terdengar hingga ke luar kamar.
"Aku tidak memaksamu, Alea. Pilihan ada di tanganmu. Aku akan menunggumu di sini tepat selama sepuluh menit. Jika kamu tidak datang, aku akan pergi dan aku bersumpah tidak akan pernah menampakkan diriku lagi di hadapanmu seumur hidupku."
Pip.
Sambungan telepon terputus.
Alea menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan pandangan kosong. Jantungnya berpacu seperti kuda liar. Sepuluh menit. Hidupnya, masa depannya, dan nasib bisnis keluarganya berada di ujung tanduk dalam waktu sepuluh menit ini.
Ia menatap pintu utama kamar suite-nya, di mana di balik pintu itu ada koridor mewah yang mengarah ke ballroom tempat upacara pernikahan yang akan mengikatnya selamanya dalam perjodohan tanpa cinta. Kemudian, pandangannya beralih ke pintu kecil di sudut ruangan—pintu darurat yang biasa digunakan oleh staf hotel untuk mengantar makanan atau keperluan kebersihan.
Air mata Alea akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang dihias sempurna. Dengan tangan yang bergetar, ia mulai melepas ronce melati dari rambutnya, membiarkannya jatuh berserakan di atas lantai marmer yang dingin. Kebaya putih gadingnya yang megah itu tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik kebebasannya.Dua puluh menit kemudian, ketukan keras terdengar di pintu utama kamar suite Alea.
"Nona Alea? Waktunya sudah tiba. Tuan Besar dan Tuan Reynald sudah menunggu di bawah," suara asisten pribadi ayahnya terdengar dari luar.
Tidak ada jawaban.
Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih tidak sabar.
"Nona Alea? Saya masuk ya?" Ujar Asisten itu lagi.
Ketika pintu kayu besar itu didorong terbuka, ruangan itu kosong melompong. Kamar pelaminan yang mewah itu sunyi seperti kuburan. Di atas lantai, ronce melati putih berserakan seperti reruntuhan mimpi. Dan di atas tempat tidur, tergeletak sebuah gaun kebaya putih gading yang kosong—ditinggalkan begitu saja oleh sang pemilik yang telah lenyap tanpa jejak, hanya beberapa menit sebelum janji suci diucapkan.
Bencana terbesar dalam sejarah Rotasi Company baru saja dimulai.