"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Mundur Tiga Tahun
"Jangan bercanda, Arga. Ini sama sekali tidak lucu." Keysa membalas tatapan suaminya dengan sorot mata tajam yang membeku. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menolak percaya pada drama murahan ini. "Kamu pikir pura-pura hilang ingatan bisa membatalkan surat cerai kita?"
"Surat cerai?" Arga mengerutkan kening dalam-dalam. Wajah pucatnya memancarkan kebingungan yang sangat nyata. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh perban di kepalanya, namun selang infus menahan gerakannya. Laki-laki itu meringis menahan sakit. "Siapa yang bercanda? Aku tanya sekali lagi, siapa kamu? Kenapa kamu ada di ruangan rawatku?"
Melihat keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi Arga, Keysa menyadari laki-laki itu tidak sedang bersandiwara. Tubuhnya otomatis bergerak menekan tombol panggilan darurat berwarna merah di dinding atas ranjang.
Tidak sampai satu menit, dokter bedah yang sama bersama dua orang perawat bergegas masuk ke dalam ruangan VIP tersebut.
"Ada apa, Keysa? Pasien mengeluh sakit?" tanya dokter itu cepat sambil langsung memeriksa monitor detak jantung.
"Dia tidak mengenalku, Dok," jawab Keysa datar. Tidak ada nada panik dalam suaranya, hanya penyampaian fakta yang dingin.
Dokter itu langsung menoleh ke arah Arga. Ia mengambil senter kecil dari saku jas putihnya dan menyorotkan cahaya lurus ke pupil mata Arga bergantian. "Bapak Arga, bisa dengar suara saya? Coba sebutkan nama lengkap Bapak."
"Arga Dirgantara. Singkirkan lampu sialan itu dari mataku, Dok. Kepalaku mau pecah rasanya." Arga menepis pelan tangan dokter itu. Nada suaranya penuh arogansi yang khas, persis seperti Arga yang Keysa kenal selama ini.
"Bagus. Bapak ingat nama Bapak. Sekarang, bisa sebutkan ini tahun berapa?"
Arga menatap dokter itu seolah dokter tersebut baru saja menanyakan hal paling bodoh di dunia. "Dua ribu dua puluh tiga. Hari ini harusnya aku memimpin rapat dewan direksi pertamaku sebagai CEO Alvandra Group yang baru. Kenapa aku bisa ada di rumah sakit? Di mana asistenku? Mana Bimo? Kenapa dia membiarkan perempuan asing ini masuk ke ruanganku?"
Hening seketika menyergap ruangan itu. Hanya suara tetesan cairan infus dan detak pelan dari mesin monitor yang terdengar.
Keysa mematung di tempatnya berdiri. Otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan kilat. Dua ribu dua puluh tiga. Itu artinya mundur tiga tahun ke belakang. Di kepala Arga, pernikahan kontrak mereka belum pernah terjadi. Laki-laki ini bahkan masih mencari Bimo, asisten lamanya yang sudah Arga pecat sendiri dengan tidak hormat karena ketahuan menggelapkan dana perusahaan dua tahun lalu.
Dokter itu menoleh ke arah Keysa, raut wajahnya mengeras menahan simpati. "Amnesia retrograde. Seperti ketakutan awal kita tadi. Trauma tumpul di lobus temporal sebelah kanan menghapus rekaman ingatannya. Dia kehilangan memori tiga tahun terakhir kehidupannya."
"Bisa disembuhkan?" tanya Keysa langsung pada inti masalah.
"Bisa kembali besok, bulan depan, tahun depan, atau bahkan tidak kembali sama sekali. Otak manusia itu sangat rumit. Untuk sementara waktu, jangan paksa dia mengingat hal-hal berat secara mendadak. Biarkan ingatannya kembali mengalir secara alami." Dokter itu memberi isyarat pada dua perawat untuk mencatat hasil pemeriksaan. "Kami akan terus memantau kondisinya. Saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dok."
Pintu kamar tertutup kembali. Kini hanya tersisa mereka berdua di ruangan luas yang terasa sangat dingin itu.
***
Arga menatap Keysa dengan tatapan menilai yang tajam. Sorot matanya memindai Keysa dari ujung rambut yang disanggul rapi tanpa celah, turun ke setelan blazer kerja elegan berwarna abu-abu gelap, lalu kembali menatap tepat ke manik mata Keysa. Itu adalah tatapan predator yang sedang mengukur kekuatan lawannya.
"Jadi, siapa kamu sebenarnya?" cecar Arga memecah keheningan. "Bimo tidak mungkin mempekerjakan karyawan baru tanpa persetujuanku. Atau kamu utusan dari kompetitor yang sengaja mengambil kesempatan saat aku sedang celaka?"
"Namaku Keysa," jawabnya dengan suara sangat tenang, seolah sedang melaporkan jadwal rapat harian. "Dan aku istrimu."
Udara di dalam ruangan itu terasa tersedot keluar habis-habisan. Arga terdiam seribu bahasa. Mata cokelatnya membesar sesaat karena terkejut, sebelum kembali menyipit penuh kecurigaan tingkat tinggi.
Arga mendengus pelan, sebuah tawa sumbang keluar dari bibir pucatnya. "Istri? Kamu pikir aku laki-laki bodoh yang bisa ditipu dengan drama murahan? Aku tidak mungkin menikah dengan perempuan asing bersorot mata sedingin es sepertimu. Aku bahkan tidak punya rencana untuk menikah dalam lima tahun ke depan. Jangan mengarang cerita bohong di depanku."
"Itu fakta, Arga. Mau kamu terima atau tidak," balas Keysa tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun. "Kita menikah dua tahun lalu."
"Kapan? Di mana? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?" Arga mencoba bangun untuk duduk, tapi rasa nyeri di tulang rusuknya membuat laki-laki itu kembali merebahkan diri dengan kasar. "Pernikahan macam apa yang aku lakukan? Aku ini CEO Alvandra Group. Aku tidak mungkin menikah sembunyi-sembunyi seperti pengecut tanpa liputan media sama sekali."
"Kita menikah di kantor urusan agama Pelita Selatan. Tanpa pesta. Hanya tanda tangan di atas kertas." Keysa melangkah maju satu langkah, menatap laki-laki angkuh yang terbaring lemah itu tanpa rasa kasihan. "Karena pernikahan kita murni transaksi bisnis. Kontrak kerja. Tidak ada cinta, tidak ada pesta, tidak ada perasaan. Kamu butuh tameng untuk menutupi skandalmu dan menghadapi tekanan keluargamu, sedangkan aku butuh pekerjaan dengan bayaran yang tinggi. Sederhana."
Rahang Arga mengeras mendengarnya. Ego laki-laki itu jelas terluka mendengar kata transaksi bisnis. "Kamu dibayar untuk menjadi istriku? Berapa harganya sampai aku rela menyewa perempuan sedingin kamu?"
"Cukup besar untuk membuatku bertahan mengurus semua kekacauanmu selama dua tahun, dan cukup membuatku muak hingga ingin segera berhenti hari ini juga," jawab Keysa telak.
Keysa menunduk sejenak, melihat layar ponselnya yang menyala menampilkan pesan masuk dari pengacaranya. Berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan. Semuanya berjalan sesuai rencana awal.
Keysa mengangkat kepalanya kembali. Ia menatap Arga yang masih menahan amarah bercampur kebingungan di atas ranjang. Bukankah kondisi ini adalah jalan keluar paling sempurna untuknya? Tanpa perlu repot berdebat panjang lebar soal pembagian aset atau ancaman penolakan cerai. Arga sendiri yang menolaknya. Laki-laki ini sendiri yang tidak mengakuinya.
"Tapi melihat kamu sama sekali tidak mengingatku, aku rasa ini adalah sebuah keuntungan besar untuk kita berdua," lanjut Keysa sambil merapikan tali tas jinjing di bahu kanannya.
"Keuntungan apa maksudmu?" geram Arga.
"Kita anggap saja kita memang tidak pernah saling kenal. Perjanjian kontrak itu selesai hari ini. Surat cerai kita sudah ada di atas meja kerjamu di apartemen. Kamu tinggal tanda tangan begitu kamu keluar dari rumah sakit ini dan pulih seratus persen. Hubungi saja pengacaraku."
Keysa membalikkan badan dengan gerakan luwes dan efisien. Ia siap melangkah keluar dari ruangan yang mendadak terasa sangat menyesakkan itu. Ia hanya perlu berjalan lurus ke luar pintu, mematikan ponselnya, dan memulai hidup baru yang tenang tanpa bayang-bayang laki-laki arogan pembuat masalah ini.
Namun, baru saja Keysa mengambil langkah pertamanya menjauh dari ranjang, sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
Keysa menoleh kaget dengan mata membulat. Arga setengah terbangun dari posisi baringnya. Laki-laki itu mengabaikan rasa sakit luar biasa di kepalanya dan tarikan keras pada jarum infus yang menancap di punggung tangannya hingga darah segar merembes naik ke selang plastik.
Napas laki-laki itu memburu cepat. Matanya menatap wajah Keysa dengan kilat posesif yang sangat aneh dan tidak rasional. Perempuan ini asing, sangat asing bagi otaknya. Tapi entah mengapa, ada sesuatu dari ketenangan Keysa, suara datarnya, dan wangi parfum vanila samar dari tubuh perempuan ini yang membuat insting dasar Arga meronta hebat menolak melepaskannya. Ada aura dominan dari diri Keysa yang justru membuat dada Arga berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.
"Lepaskan tanganku, Arga. Kamu bisa merobek jahitan lukamu sendiri," desis Keysa berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman Arga justru semakin mengerat seperti besi.
"Tiga tahun aku kehilangan waktu di ingatan," ucap Arga dengan suara serak namun penuh otoritas yang mutlak dan tidak terbantahkan. Matanya mengunci pandangan Keysa lekat-lekat. "Dan kau istriku? Buktikan. Jangan berani melangkah keluar dari ruangan ini sebelum aku bilang ya."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..