Kevin Sanjaya lulus dengan gelar dokter tapi diremehkan.bahkan di anggap tidak berguna karena keahlian yg di pelajarinya sudah ketinggalan zaman, dan tak berguna di dunia medis pada era Moderen! Tak di sangka, karena keberuntungan, dia mendapatkan Jantung meteorid dan buku kitab medis surgawi yang di tinggalkan kakekNya sebagai warisan keluarga. Dengan mempelajari buku kitab medis surgawi dan di topang dengan jantung meteorid, kekuatan medis dan tingkat beladiriNya melampaui imajinasinya. Sehingga dia bisa merubah nasibNya menjadi dokter medis hebat dengan keahlian pertarungan yg tak terkalahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Bocah Ini Pasti Sedang Berpura-pura
"Jadi ini yang namanya satu triliun?"
Kevin mengambil cek yang dilemparkan Albert kepadanya.
Ia memegangnya di depan wajah lalu memperhatikannya dengan saksama.
Seolah-olah sedang meneliti benda langka.
Kemudian...
Senyum sinis muncul di sudut bibirnya.
Di bawah tatapan semua orang yang tercengang—
Srettt!
Kevin langsung merobek cek itu menjadi beberapa bagian!
Ruangan langsung sunyi.
Mulut Albert Wijaya terbuka lebar.
Dokter Bram melongo.
Natasya terdiam.
Bahkan Misela sampai lupa berkedip.
Seolah-olah mereka baru saja melihat seekor panda menari sambil bermain gitar.
Semua orang tahu penampilan Kevin sangat sederhana.
Pakaiannya lusuh.
Sepatunya murahan.
Jelas bukan orang kaya.
Bagi orang seperti itu, satu triliun adalah jumlah uang yang sangat besar.
Cukup membeli rumah besar di pinggiran kota.
Masih ada sisa modal untuk membuka usaha.
Bahkan bisa hidup nyaman selama bertahun-tahun.
Tetapi...
Kevin merobeknya tanpa ragu.
Bahkan matanya tidak berkedip.
Dokter Bram menggeleng tak percaya.
Kalau dirinya yang mendapat cek itu?
Jangankan merobek.
Mungkin langsung dibingkai dan dipajang di ruang tamu.
Andreas Surya diam-diam menghela napas kagum.
Sedangkan Albert Wijaya mulai merasa situasi di luar perkiraannya.
Sementara itu...
Mata Misela dan Natasya semakin berbinar.
Mereka memandang Kevin dengan kekaguman baru.
Pria ini memang keras kepala.
Tetapi juga memiliki harga diri yang luar biasa.
Benar-benar seorang pria sejati.
Wajah Albert menjadi dingin.
"Satu Triliun masih tidak cukup?"
"Kau terlalu serakah."
"Kalau begitu lupakan saja."
"Satu rupiah pun kau tidak akan mendapatkannya!"
Ia menatap Kevin tanpa berkedip.
Ia ingin melihat apakah pemuda ini benar-benar tidak peduli dengan uang.
Namun Kevin hanya tersenyum tipis.
Tatapannya penuh ejekan.
Ia menggulung sobekan cek itu menjadi bola kecil.
Lalu...
Pluk!
Dilemparkan tepat ke tempat sampah.
Gerakannya begitu santai.
Seolah yang dibuang hanyalah kertas bekas bungkus gorengan.
Setelah itu ia mendengus dingin.
"Kau bahkan tidak punya seratus triliun."
"Lalu kenapa bertingkah seolah-olah lebih hebat dari orang lain?"
Semua orang langsung tersedak.
Berani sekali!
Orang yang sedang dia lawan adalah Albert Wijaya!
Orang terkaya di Kota Jaya!
Namun Kevin tetap melanjutkan.
"Benar."
"Aku memang tidak punya uang."
"Tapi aku tidak membutuhkan uangmu."
"Aku punya tangan."
"Aku punya kaki."
"Aku bisa mencari uang sendiri."
"Aku bukan pengemis yang menunggu belas kasihanmu."
Nada suaranya semakin dingin.
"Aku menyelamatkan putrimu karena dia sedang dalam bahaya."
"Aku tidak pernah berpikir meminta imbalan."
"Tetapi kau..."
"Kau memandang semua orang dengan pikiran kotormu."
"Karena dirimu penuh perhitungan, kau mengira semua orang sama sepertimu."
Kevin menatap Albert Wijaya, dengan tatapan tajam.
"Apakah nilai-nilai untuk menolong sesama sudah hilang dari dunia ini?"
"Apakah semua ajaran leluhur sudah dimakan anjing?"
"Kalau aku membiarkan putrimu mati di depan mataku, apakah itu baru membuatmu puas?"
"Kau pikir semua orang akan berebut menyelamatkan putrimu demi uang?"
Kevin mencibir.
"Lain kali jika aku melihat putrimu sekarat di depanku..."
"Aku tidak akan ikut campur lagi."
Setelah mengatakan itu, ia langsung berbalik.
Pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Kevin, jangan pergi!"
Misela langsung panik.
Namun tubuhnya masih lemah.
Ia bahkan tidak mampu bangun dari ranjang.
Dengan marah ia menatap ayahnya.
"Ayah!"
"Lihat apa yang sudah Ayah lakukan!"
"Bagaimana Ayah bisa berkata seperti itu kepada penyelamatku?!"
Albert Wijaya terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai ragu.
Mungkinkah...
Dirinya benar-benar salah menilai Kevin?
Namun pikiran itu segera ia buang.
Tidak mungkin.
Seseorang pasti memiliki tujuan.
Tidak ada orang yang membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Benar!
Bocah itu pasti sedang berpura-pura!
Pasti begitu!
Di sisi lain...
Natasya melihat Kevin berjalan menjauh.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mengejarnya.
"Kevin, tunggu!"
Kevin berhenti.
Melihat Natasya berlari menghampirinya, ia tersenyum.
"Oh?"
"Dokter Natasya."
"Ada apa?"
Mendengar panggilan itu, wajah Natasya langsung memerah.
"Jangan panggil aku Dokter Natasya."
"Panggil saja Natasya."
Setelah mengatakannya, ia sendiri langsung merasa malu.
Bagaimanapun juga...
Ini pertama kalinya ia meminta seorang pria memanggil namanya dengan begitu akrab.
Ia menarik napas pelan lalu berkata,
"Jangan masukkan perkataan Paman Wijaya ke dalam hati."
"Dia hanya terlalu khawatir pada Misela."
"Dan..."
"Terima kasih untuk apa yang kau lakukan hari ini."
"Kalau bukan karena dirimu..."
Kevin tersenyum santai.
"Tidak perlu."
"Bukankah kau sudah berterima kasih sebelumnya?"
"Lagipula..."
"Orang seperti itu tidak layak membuatku marah."
Mendengar jawaban itu, Natasya tidak bisa menahan senyum.
Ia menggenggam ujung bajunya.
Ragu-ragu sesaat.
Lalu mengumpulkan keberanian.
"Kalau begitu..."
"Aku ingin berterima kasih dengan benar."
"Kalau kau ada waktu..."
"Bolehkah aku mentraktirmu makan?"
Begitu kalimat itu keluar—
Wajah Natasya langsung merah sampai ke telinga.
Ini pertama kalinya dalam hidupnya mengajak seorang pria makan berdua.
Jantungnya berdebar kencang.
Namun ia memang penasaran dengan Kevin.
Pria ini terlalu misterius.
Kevin tersenyum.
"Tentu."
"Nanti aku hubungi."
Setelah bertukar nomor telepon, Kevin akhirnya meninggalkan rumah sakit.
Ruang Direktur Rumah Sakit Pusat
Di dalam ruangan, Andreas menghela napas panjang.
Lalu memandang Albert.
"Albert."
"Kali ini kau benar-benar keterlaluan."
"Aku sarankan kau segera meminta maaf kepada Sahabat Muda Kevin."
"Kalau tidak..."
"Kau akan menyesal di masa depan."
Albert menggeleng.
"Tuan Surya."
"Apakah Anda serius?"
"Bocah itu tidak punya latar belakang apa pun."
"Apa yang harus saya sesali?"
"Kondisiku belakangan ini memang tidak aman."
"Banyak orang yang ingin memanfaatkanku."
"Aku hanya berhati-hati."
Andreas Surya menghela napas.
"Kau masih belum mengerti."
"Satu hal yang bisa kupastikan."
"Pengetahuan medis Kevin jauh di atasku."
"Aku bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya."
Apa?!
Tubuh Albert langsung bergetar.
Matanya membelalak.
"Tuan Surya..."
"Anda tidak sedang bercanda, kan?"
"Dia masih sangat muda!"
"Bagaimana mungkin dia seorang ahli pengobatan?"
Andreas Surya tersenyum pahit.
"Kau tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya."
"Penyakit putrimu sangat khusus."
"Ide pengobatan yang kupakai tadi berasal darinya."
"Kalau bukan karena Kevin..."
"Putrimu mungkin sudah menjadi mayat sekarang."
Kalimat itu seperti petir yang menyambar kepala Albert Wijaya.
Wajahnya langsung pucat.
"Tuan Surya!"
"Jangan menakut-nakutiku!"
"Lalu bagaimana kondisi Misela sekarang?"
Andreas menjawab,
"Untuk sementara sudah stabil."
"Ke depannya dia hanya perlu datang ke rumah sakit setiap setengah bulan sekali."
"Tetapi..."
"Jika terjadi keadaan darurat seperti malam ini..."
"Dan tidak ada yang menanganinya tepat waktu..."
"Dia tetap bisa kehilangan nyawanya."
Mendengar itu, Albert langsung panik.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Andreas menjawab tanpa ragu,
"Rekrut Kevin."
"Jadikan dia pengawal pribadi atau pendamping medis putrimu."
"Selama dia ada di sisi Misela, peluang keselamatannya akan jauh lebih besar."
Albert langsung terdiam.
Baru saja ia menghina Kevin habis-habisan.
Sekarang ia harus memohon kepada orang yang sama?
Ini benar-benar seperti menampar wajah sendiri.
Namun demi putrinya...
Ia tidak punya pilihan.
Malam itu.
Sesampainya di rumah.
Albert duduk di ruang kerja dengan wajah suram.
Ia memandang pengawalnya.
Jonatan Lihawa.
"Jonatan."
"Apa pendapatmu tentang bocah itu?"
Jonatan tersenyum pahit.
"Awalnya saya salah menilainya."
"Saya tidak menyangka dia memiliki harga diri sebesar itu."
"Dan saya lebih tidak menyangka lagi bahwa Tabib Ajaib Surya sangat menghargainya."
"Kalau bertemu lagi nanti..."
"Saya pasti tidak akan bersikap sembarangan."
Albert Wijaya mengangguk pelan.
"Aku juga tidak menyangka."
"Ternyata kita benar-benar tidak boleh menilai buku dari sampulnya."
Kemudian matanya berubah dingin.
"Pergilah dan lakukan dua hal untukku."
"Pertama."
"Cari Kevin."
"Begitu menemukannya, laporkan kepadaku."
"Dan perlakukan dia dengan hormat."
"Semakin hormat semakin baik."
"Jangan sampai menyinggungnya lagi."
"Baik, Tuan Wijaya."
Jonatan mengangguk.
"Yang kedua."
"Cari siapa pelaku yang berani membius putriku malam ini."
"Berani menyentuh Misela..."
"Berarti mereka sedang menantangku."
Kilatan dingin muncul di mata Albert.
Wajahnya dipenuhi amarah.
Jonatan merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Ia tahu.
Kali ini seseorang akan mendapat masalah besar.
Namun yang lebih mengejutkan baginya adalah satu hal.
Tabib Ajaib Surya yang terkenal di seluruh Negeri Nusantara sangat menghargai Kevin.
Artinya...
Masa depan pemuda itu kemungkinan tidak terbatas.
udah berapa bab nih jari gak lepas2? 😇🤭