Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati sekeras batu
Menjelang siang, Ozi tiba di rumah Keenan dengan mengendarai sepeda motornya. Dahinya langsung berkerut saat melihat daun kering berserakan di halaman yang biasanya selalu tampak bersih dan rapi.
"Tumben halaman rumah ini kotor," gumamnya heran.
"Ya sudah deh. Sekalian aja aku bersihin halaman depan sama halaman belakang," lanjutnya sambil memarkir sepeda motornya.
Ozi lalu melangkah menuju teras.
"Permisi..." ucapnya sopan.
Tak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa saat sebelum kembali berkata,
"Permisi..."
Masih sunyi.
"Kok sepi banget?"
Matanya kemudian menangkap mobil Keenan yang terparkir di garasi.
"Tapi mobil Pak Keenan ada. Masa nggak ada orang di rumah?"
Ia tetap berdiri di teras, berharap salah satu penghuni rumah keluar.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
Pintu akhirnya terbuka.
"Bu Kinan, saya pikir—"
Kalimatnya terhenti di tengah jalan.
Ternyata bukan Kinanti yang membuka pintu, melainkan Tiara.
Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada dan wajah yang terlihat kurang bersahabat.
"Kamu siapa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Ozi sedikit canggung.
"Ehm... saya Ozi."
"Terus mau ngapain ke sini?" tanya Tiara lagi dengan nada ketus.
"Pak Keenan atau Bu Kinanti ada?"
"Nggak ada."
Jawaban singkat itu membuat Ozi mengedip beberapa kali.
"Tapi mobil Pak Keenan ada di rumah."
Tiara mendecak pelan.
"Kamu sebenarnya ada perlu apa sih sama ayahku?"
"Oh iya, kita memang belum pernah ketemu. Nama saya Ozi. Saya OB di kantor NVT
"Ya terus?"
"Saya mau minta izin buat membersihkan halaman depan sama halaman belakang."
Tiara mengernyit.
"Kamu ini bego atau gimana sih? OB itu kerjaannya bersih-bersih kantor, bukan bersihin rumah orang."
Nada meremehkan itu membuat Ozi hanya tersenyum kaku.
"Aduh... ceritanya panjang, Neng."
Tiara tetap menatapnya dengan sorot penuh curiga seolah menuntut penjelasan lebih lanjut.
Ozi akhirnya menghela nafas.
"Gini aja deh. Dulu saya pernah ditolong Pak Keenan waktu lagi kesusahan. Jadi sebagai bentuk balas budi, saya bersedia membersihkan rumahnya dengan sukarela. Beberapa waktu lalu saya juga membersihkan toren air dan merapikan rumput di halaman ini.”
Tiara melirik halaman yang memang terlihat berantakan. Kemudian ia membayangkan harus menyapu sendiri semua daun kering itu. Tidak… jelas ia tidak mau.
"Halaman depan kotor. Halaman belakang juga pasti sama. Bagus juga dia datang. Jadi ada yang bersihin, "gumamnya dalam hati.
Senyum tipis pun muncul di wajah Tiara.
"Ya sudah. Kalau memang mau bersihin, bersihin saja. Tahu kan di mana alat buat bersih-bersih?"
"Tahu, Neng. Kalau begitu saya langsung ke belakang saja."
Tiara hanya mengibaskan tangan dengan acuh, seolah kehadiran Ozi sama sekali tidak penting baginya.
Ozi pun segera mengambil sapu dan pengki yang biasa ia gunakan saat membantu membersihkan rumah itu. Ia memulai dari halaman depan, menyapu daun-daun kering yang berserakan di atas paving block.
Sambil bekerja, pikirannya terus dipenuhi tanda tanya.
Sedari tadi ia tak melihat sosok Keenan, Kinanti, maupun Daffa. Padahal biasanya rumah itu selalu terasa hidup. Daffa yang ceria hampir tak pernah kehabisan bahan obrolan. Sementara Kinanti selalu menyambutnya dengan ramah setiap kali ia datang. Namun hari ini suasananya berbeda.
"Mungkin mereka lagi istirahat," pikir Ozi mencoba menghilangkan rasa penasarannya.
Setelah halaman depan selesai dibersihkan, ia pun hendak ke halaman belakang. Saat itulah sebuah suara menyapanya dari arah gerbang.
"Eh, Bang Ozi."
Ozi menoleh. Seketika senyum ramah muncul di wajahnya.
"Eh, Mbak Kalila."
Kalila melangkah masuk ke halaman sambil membawa kantong plastik. Ia langsung mengenali Ozi. Keduanya pernah bertemu saat Ozi pertama kali datang ke rumah Keenan.
"Bang Ozi, sepagi ini sudah bersih-bersih di sini?" tanyanya heran sambil melirik gagang sapu di tangan pria itu.
"Iya, Mbak."
"Mas Keenan yang nyuruh, ya?"
"Oh, nggak kok, Mbak." Ozi menggeleng cepat. "Saya datang atas inisiatif sendiri."
"Oh...kirain Mas Keenan yang nyuruh."
"Kata anaknya Pak Keenan yang perempuan, Pak Keenan sama Bu Kinanti lagi nggak di rumah. Tapi kok mobil Pak Keenan masih ada di garasi, ya?"
Kalila spontan menoleh ke arah garasi.
Benar..Mobil Keenan masih terparkir di tempatnya. Namun, sepeda motor milik Kinanti tidak terlihat di sana.
"Apa mungkin Mas Keenan sama Mbak Kinanti pergi pakai motor?" gumamnya.
Kalila merasa ada sesuatu yang terasa janggal di hatinya. Ia mengenal kakaknya cukup baik. Jika Keenan sedang berada di rumah, hampir mustahil pria itu tidak keluar ketika mendengar ada tamu yang datang.
Terlebih lagi, rumah itu tampak lebih sepi dari biasanya.
"Saya ke belakang dulu ya, Mbak," ucap Ozi sambil mengangkat sapunya.
"Oh iya, Bang."
Ozi mengangguk lalu melangkah menuju halaman belakang. Sementara itu, Kalila berjalan ke arah pintu utama.
"Assalamualaikum," ucapnya sembari memutar gagang pintu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Tiara muncul dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam. Masuk, Auntie," ujarnya.
Kalila mengangguk lalu melangkah masuk. Begitu berada di ruang tamu, ia langsung mengernyit heran.
"Sepi banget. Mas Keenan sama Mbak Kinan lagi pergi, ya?" tanyanya sambil menoleh ke sekeliling.
Tiara tampak ragu sesaat.
"Ehm..."
"Daffa ikut juga?"
Tiara kembali gelagapan.
"Ayah... ehm..."
Kalila mengamati keponakannya itu dengan heran.
"Mereka pergi naik motor, ya?" tanyanya lagi. Kemudian ia mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Oh iya, ini Auntie balikin wadah kuenya. Kemarin Auntie coba resep bolu pandan dari ibumu. Alhamdulillah, jadi juga."
Kalila menyodorkan kantong plastik itu kepada Tiara. Mendengar Kinanti disebut sebagai ibumu, seketika wajah Tiara berubah. Rasa kesal kembali menyelinap di hatinya. Padahal sebelumnya ia sempat penasaran dengan isi kantong plastik tersebut. Namun kini minatnya langsung menghilang.
Kalila lalu duduk di sofa. Baru beberapa detik ia duduk, tiba-tiba terdengar suara batuk dari lantai dua.
"Uhuk! Uhuk!"
Kalila langsung menoleh. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Itu suara Keenan. Keningnya seketika berkerut.
"Kamu bilang ayahmu nggak di rumah. Terus, yang barusan batuk siapa?"
Tiara sontak salah tingkah.
"Ehm..."
Untuk kesekian kalinya, ia tak mampu menjawab.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kalila bangkit dari duduknya.
"Auntie..." panggil Tiara gugup.
Namun Kalila tidak menggubris. Dengan langkah cepat, gadis itu berjalan menuju tangga lalu mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Tiara hanya bisa berdiri mematung sambil menelan ludah. Perasaannya mulai tidak tenang. Ia tahu, cepat atau lambat Kalila pasti akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.
“Mas, Tiara bilang Mas lagi keluar sama Mbak Kinan dan Daffa,” ucap Kalila begitu tiba di balkon.
Ia tahu, setiap kali suasana hati Keenan sedang tidak baik, kakak laki-lakinya itu akan memilih duduk sendirian di balkon sambil memandangi langit.
Keenan menoleh sekilas.
“Kinan dan Daffa nggak di rumah,” jawabnya datar.
Kalila langsung menangkap ada sesuatu yang berbeda dari nada suara itu.
“Mas membiarkan Mbak Kinan pergi berdua sama Daffa naik motor? Kenapa nggak diantar pakai mobil?”
Keenan tidak segera menjawab.
Ia kembali mengalihkan pandangan ke langit yang membentang cerah di atas sana.
“Mas...Semuanya baik-baik saja ‘bukan?”
Keenan menghembuskan nafas,
“Kinanti sekarang tinggal di tempat kos lamanya bersama Daffa.”
Kalila membelalak.
“Hah? Serius?” tanyanya tak percaya. “Ini sebenarnya ada apa sih, Mas? Aku benar-benar bingung.”
Keenan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Kinanti sudah menyerah. Dia nggak sanggup lagi hidup serumah dengan dua anak sambung yang terus membencinya.”
Wajah Kalila langsung berubah.
“Yudha dan Tiara bikin ulah apa lagi?”
Nada suaranya terdengar kesal.
“Mereka berencana menjebak Kinanti.”
Kalila mengernyit.
“Menjebak?”
Keenan mengangguk pelan.
“Mereka membawa seorang pria ke rumah dan berniat membuat seolah-olah laki-laki itu ada di kamar Kinanti. Kalau kesalahpahaman terjadi, mereka berharap aku marah, lalu mengusir Kinanti dari rumah ini.”
Kalila terperangah.
“Ya Allah...”
“Tapi rencana itu gagal.”
“Kalau gagal, kenapa Mbak Kinan tetap pergi?”
Keenan tersenyum pahit.
“Karena Kinanti terlalu menyayangi mereka..Dia berpikir kalau tetap tinggal di rumah ini, Yudha dan Tiara akan semakin jauh melangkah dalam kenakalan mereka. Dia nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kedua anak itu.”
Sesaat, Kalila hanya terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar pengorbanan sebesar itu. Kinanti diperlakukan buruk, dibenci bahkan
Dijebak. Namun perempuan itu masih memikirkan masa depan anak-anak yang menyakitinya.
“Ya Allah...” gumam Kalila lirih.
Lalu perlahan rasa haru itu berubah menjadi kemarahan. Wajahnya mengeras.
“Yudha... Tiara... kalian berdua sudah keterlaluan!”
Tanpa menunggu tanggapan Keenan, Kalila berbalik dan melangkah cepat meninggalkan balkon. Langkah kakinya terdengar berderap menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Keenan tidak berusaha menghentikannya. Ia justru membiarkan adiknya pergi. Dalam hati, ia berharap Kalila mampu melakukan sesuatu yang tak berhasil ia lakukan selama ini:
Membuka hati dan pikiran Yudha serta Tiara agar mereka menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat.
Mahesa hemmmm ada something ini