NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

BAB 8

Dalam kegelapan palka itu, aku meringkuk memeluk lutut namun setiap kali aku memejamkan mata, yang kulihat hanyalah tubuh Kak Waraqah yang terlempar menghantam pasir dan tubuhnya yang terkapar tidak bergerak. Aku terus berusaha meyakinkan diriku bahwa ia masih hidup. Bahwa pukulan itu hanya membuatnya pingsan. Bahwa suatu hari nanti aku masih bisa bertemu dengannya lagi. Namun semakin keras aku mencoba mempercayainya, semakin besar ketakutan yang merambat naik mencekik dadaku.

Bahkan aku tak diberi waktu untuk sekadar menangisi nasibku.

Sesaat setelah perut kapal berderit keras dan mulai mengayun membelah ombak, pintu palka di atasku kembali ditarik terbuka. Silau cahaya matahari masuk menyengat, disusul suara langkah sepatu kulit tebal yang menuruni tangga kayu.

Seorang awak kapal dengan napas berbau arak menghampiriku.

"Ti exoume edo?" (Apa yang kita punya disini?)

gumam pria itu dalam bahasa asing yang terdengar kasar.

Ya Allah, apa yang akan dia lakukan? batinku menjerit panik.

Tanpa peringatan, tangan kasarnya menarik tubuh kecilku hingga aku berdiri terhuyung. Ia memperhatikan gaunku. Sepertinya meski sudah kotor oleh debu dan kerak darah, kain sutra halus khas bangsawan Mekah itu tetap terlihat mahal di matanya.

Pria itu menyeringai, mengatakan sesuatu yang memuakkan kepada temannya di atas palka, lalu merobek paksa gaunku dari kerahnya.

Biadab! Lepaskan aku! jerit batinku.

Aku meronta dan menendang sekuat tenaga, berusaha menutupi tubuhku, namun tenaganya terlalu besar. Kain mahal pemberian Umi itu dilucuti sepenuhnya, meninggalkanku menggigil kedinginan di udara laut yang lembap. Sebagai gantinya, ia melemparkan selembar kain goni kasar berbau apak kepadaku. Kain usang yang bergesekan menyakitkan dengan kulitku itu kini resmi menjadi pakaian baruku.

"Pame!" (Jalan!)

bentak pria itu sambil menyeretku paksa menyusuri lorong palka yang bau.

Ia membawaku menjauh dari ruangan basah tempatku pertama kali dilempar, lalu mendorongku masuk ke sebuah area yang sedikit lebih tinggi dan beralaskan jerami kering. Di sana, beberapa anak perempuan dan wanita muda lainnya sudah lebih dulu dirantai.

Tali kasar diikat kuat-kuat melingkari kakiku hingga menggores kulit, lalu ujungnya diikatkan secara paksa pada rantai utama yang membelenggu para wanita lainnya. Penjaga itu kemudian kembali ke atas dan menutup pintu.

Dunia kini benar-benar hanya terdiri dari kegelapan yang bergoyang, derit kayu dan bau kematian.

Konsep waktu telah lama mati. Satu-satunya penanda hari adalah saat pintu palka di atasku berderit terbuka, membocorkan seberkas cahaya kelabu.

"Fae! Grigora!"(Makan! Cepat!)

teriak para penjaga yang turun membawa ember kayu. Mereka memukul tiang dengan tongkat besi agar para budak bangun.

Makanan itu lebih pantas disebut pakan babi. Bubur gandum encer yang berbau asam, dicampur dengan remah roti yang sudah mengeras seperti batu. Penjaga menuangkannya ke dalam palung kayu memanjang di tengah ruangan bawah. Orang-orang yang dirantai di sana berebut, menangis, dan saling sikut layaknya binatang kelaparan hanya untuk mendapat satu suapan.

Namun, aku tidak ikut berebut di palung itu. Penjaga membawakan mangkuk kayu kecil berisi bubur yang sedikit lebih layak dan air yang tidak berasa garam untuk kami yang berada di area jerami kering.

Kami tidak diistimewakan karena belas kasihan. Aku tahu itu. Kami ditempatkan di tempat kering agar kulit kami tidak membusuk. Kami diberi air bersih agar tidak kehilangan nilai jual. Entah untuk dijual sebagai pelayan, selir, atau tujuan lain yang lebih buruk, yang jelas kami masih dianggap cukup berharga untuk dijaga tetap hidup.

Di sebelah kananku, seorang gadis remaja dengan rambut pirang kotor duduk memeluk lututnya. Aku memperhatikan tubuhnya yang kurus dan dipenuhi memar kebiruan. Dari ciri fisiknya, ia jelas bukan orang Arab.

Aku mencoba membuka mulutku yang terasa kaku.

"Siapa namamu?" bisikku pelan dalam bahasa Arab.

Gadis itu melirikku sekilas. Tatapannya kosong, namun ada sebersit kebingungan di matanya melihat anak balita yang seharusnya menangis ketakutan malah bertanya dengan tenang. Ia membuang muka, mengabaikanku sepenuhnya. Keheningan merayap di antara kami, diselingi suara ombak yang menghantam lambung kapal.

Aku menghela napas pelan, menyimpulkan bahwa dia mungkin tidak mengerti bahasa Arab.

Namun, beberapa saat kemudian, gadis itu kembali melirikku. Tatapannya berhenti cukup lama pada belenggu di kakiku, sebelum bibirnya yang kering akhirnya bergetar pelan.

"Elara," jawabnya lirih dengan aksen asing yang sangat tebal.

"Qatilah," balasku sebelum akhirnya ia kembali menyembunyikan wajah di lututnya dan terisak tanpa suara.

Itu adalah kata terakhirnya selama berhari-hari. Ia mengunci diri dalam traumanya, dan aku tidak memaksanya.

Mungkin pada malam ketiga, atau keempat, pertahanan mental gadis itu runtuh.

Malam itu, saat penjaga sedang tertidur lelap di atas geladak, Elara mengigau parah dalam tidurnya. Ia menangis tersedu-sedu memanggil ibunya dalam bahasa yang tidak kupahami. Saat ia akhirnya terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar hebat, aku tahu ini kesempatanku.

Otak dewasaku mengambil alih, memanfaatkan wujud balitaku.

Aku menggeser tubuhku mendekat. Aku mengulurkan tangan kecilku, lalu menyentuh lengannya yang dingin.

"Kakak bermimpi buruk?" tanyaku pelan, sengaja menggunakan nada polos seorang anak kecil.

Elara tersentak. Ia menatap tangan kecilku yang memegang lengannya, lalu perlahan menatap wajahku. Tatapannya berubah. Melihat seorang balita berumur lima tahun yang ikut dirantai di neraka ini justru berusaha menenangkannya, membuat sisa-sisa kewarasan dan ketegarannya hancur berkeping-keping.

Tangis Elara pecah. Ia tidak lagi memedulikan siapa aku. Ia hanya butuh melepaskan sesaknya.

"Ayahku menyuruhku bersembunyi di bawah meja," isaknya tiba-tiba. Ia berbicara terbata-bata, mencari kata demi kata dalam bahasa Arab yang jelas bukan bahasa ibunya. "Prajurit berbaju besi itu mendobrak masuk kerumah kami. Mereka menebas leher ayahku di depanku, sebelum mereka menarik rambutku keluar dari rumah."

Aku terdiam. Napasku tertahan di tenggorokan.

Aku tahu persis rasa sakit itu. Aku bahkan tidak sempat menguburkan jenazah keluargaku sendiri. Cerita Elara seperti cermin yang memantulkan kembali tragediku. Di dalam neraka kayu ini, aku menyadari satu kebenaran yang pahit. Kesedihanku bukanlah sesuatu yang spesial. Kapal ini dibangun dari ribuan tragedi dan darah orang-orang yang kehilangan keluarganya.

Entah pada hari ke berapa, perut kapal tiba-tiba berguncang hebat, lalu perlahan berhenti mengayun.

Keheningan sesaat digantikan oleh teriakan riuh para awak kapal di atas kami. Terdengar suara kayu bergesekan dan dentang rantai jangkar baja yang diturunkan menghantam air laut.

Pintu palka di atas kami dibuka paksa.

Cahaya matahari siang menusuk masuk.

"Siko! Pame!" (Berdiri! Jalan!) bentak beberapa penjaga berbadan besar yang melompat turun membawa pecut. Mereka memukul tiang kayu dengan keras, memaksa kami berdiri.

Rantai dan tali panjang yang mengikat kaki kami ditarik kasar dari luar. Aku terhuyung ke depan, dipaksa melangkah menaiki tangga. Saat aku berjalan melewati barisan jeruji di bagian bawah palka, pemandangan neraka itu akhirnya terlihat jelas.

Beberapa budak pekerja kasar tidak bangun sama sekali. Tubuh mereka kaku menempel di lantai kayu yang basah, sementara lalat mengerubungi luka mereka yang membusuk. Penjaga hanya menendang mayat-mayat itu ke samping sambil mengumpat, sekadar untuk memberi jalan bagi kami, barang dagangan yang masih bernilai jual.

Aku menatap nanar pemandangan itu. Di kehidupan asliku pada abad kedua puluh satu, kematian seperti ini akan dianggap sebagai tragedi kemanusiaan dan memicu penyelidikan besar. Namun di abad keenam ini, mayat manusia hanyalah tumpukan sampah penghalang jalan.

Bau anyir darah, kotoran, dan daging busuk membuat perutku bergejolak hebat. Sambil menahan mual, aku dipaksa terus melangkah menaiki tangga kayu yang licin.

Saat kepalaku akhirnya melewati batas geladak utama, angin laut yang sangat kering dan panas menerpa wajahku. Mataku perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menyengat tanpa ampun. Aku melangkah ke atas papan geladak.

Di mana aku? batinku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Aku melihat debu gurun yang beterbangan dari arah daratan, menempel pada dinding bangunan-bangunan batu berpilar kokoh yang memanjang di pesisir. Puluhan kapal kayu berjejer merapat di pelabuhan raksasa ini. Di bawah sana, orang-orang berlalu lalang mengenakan pakaian linen tipis, sementara puluhan prajurit berpatroli, dan bendera Kekaisaran Bizantium berkibar gagah tertiup angin.

Otak mahasiswaku mulai bekerja keras menyusun petunjuk geografi dari ingatan buku sejarah. Kapal ini berlayar ke arah utara dari perairan Mekah menyusuri Laut Merah. Anginnya sepanas oven, sangat khas cuaca pesisir gurun, tetapi pelabuhannya dibangun megah dengan gaya arsitektur Romawi.

Aku menelan ludah yang terasa perih di tenggorokan.

Clysma...? Nama itu muncul dari sudut ingatan masa laluku. Pelabuhan transit utama Kekaisaran Bizantium di ujung utara Laut Merah.

Namun, sebelum aku sempat mencerna semuanya, sebuah tarikan kasar di ujung tali kakiku membuyarkan lamunanku.

Para penjaga mulai menyortir kami tepat di atas geladak. Anak-anak didorong ke sisi kanan menuju sebuah barisan kereta kayu, sementara gadis remaja dan wanita dewasa ditarik paksa ke sisi kiri.

"Pame!" (Jalan!) bentak seorang penjaga, menarik rantai Elara dengan kasar.

Langkah Elara tertahan. Ia menoleh ke arahku. Matanya merah dan penuh ketakutan.

"Qatilah," panggilnya.

Aku menoleh, menatap air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Sepertinya mereka akan membawaku ke tempat lain," lirihnya pelan.

Dadaku tiba-tiba terasa sesak.

"Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." Elara menggigit bibirnya, berusaha menahan isak tangis yang lebih keras. "Terima kasih sudah mau bicara denganku."

"Pame!" penjaga itu kembali membentak, menarik rantainya jauh lebih kuat. Elara tersandung beberapa langkah ke depan.

"Jangan mati, Qatilah," ucapnya.

Penjaga itu menariknya lagi, menyeret Elara menuruni papan tangga kapal.

Aku menatap punggung rapuh gadis itu yang perlahan menghilang ditelan keriuhan pelabuhan dan para budak lainnya.

Entah mengapa, dadaku terasa begitu kosong. Kami bahkan baru saling mengenal beberapa hari. Namun di neraka terapung itu, beberapa hari terasa jauh lebih panjang daripada bertahun-tahun.

Satu tetes air mata jatuh melewati pipiku.

Dan aku benar-benar tidak tahu apakah seorang budak yang masuk ke tanah Mesir ini masih memiliki jalan untuk kembali.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!