NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Pria dari Masa Lalu

BAB 9: Pria dari Masa Lalu

​Matahari pagi menyengat koridor fakultas ekonomi dengan cerah, namun pikiran Kiara masih tertinggal di momen jam dua pagi tadi. Setiap kali ia melangkah, bayangan tangan hangat Adrian yang menyusup ke balik kaus tidurnya—mengusap punggungnya dengan begitu lembut namun nakal—terus saja berputar di kepalanya. Kiara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir debaran aneh yang terus menggelitik dadanya.

​"Fokus, Kiara. Kamu ke kampus untuk belajar, bukan untuk memikirkan dosen mesum itu," bisiknya pada diri sendiri sembari memeluk erat tumpukan buku tebal yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan pusat untuk riset tugas akhir kelompoknya.

​Buku-buku itu begitu tinggi hingga hampir menutupi pandangan depan Kiara. Ia berjalan agak terburu-buru menuju ruang diskusi di lantai dasar. Di salah satu sudut tikungan koridor dekat mading utama yang agak sepi, Kiara mempercepat langkahnya.

​BRUK!

​"Ah!"

​Kiara memekik kaget saat tubuh mungilnya menabrak sesuatu yang keras dan tinggi—seperti menabrak sebuah dinding hidup. Sentakan itu membuat keseimbangannya goyah. Tumpukan buku tebal di pelukannya seketika terlepas, meluncur bebas dan berserakan di atas lantai selasar yang bersih. Tubuh Kiara sendiri hampir saja terjatuh ke belakang jika sebuah tangan tidak dengan cekatan menangkap pinggangnya.

​Sret.

​Sebuah lengan yang kokoh menahan tubuh Kiara, mengunci posisinya agar tidak terjerembap ke lantai. Kiara mengerjapkan matanya yang sempat terpejam karena terkejut. Ia mendongak, dan sedetik kemudian matanya membelak.

​Pria yang menabraknya—atau lebih tepatnya, pria yang baru saja menyelamatkannya dari jatuh—memiliki tubuh yang tinggi, atletis, dengan wajah tampan yang ramah dan potongan rambut comma hair yang rapi. Pria itu memakai jaket almamater kampus dengan pin berlogo Ketua BEM Fakultas.

​"Rangga... Kak Rangga?" cicit Kiara pelan, suaranya terdengar tidak percaya.

​Rangga (22 tahun) adalah kakak tingkat sekaligus ketua BEM yang sangat populer di kampus. Dan yang paling penting, Rangga adalah pria yang dulu sempat Kiara taksir secara rahasia sejak semester pertama, jauh sebelum kehidupan Kiara hancur oleh utang judi pamannya dan terperangkap kontrak gelap Adrian.

​Rangga tersenyum sangat manis, memamerkan deretan giginya yang rapi hingga membuat matanya menyipit ramah. Dia perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Kiara setelah memastikan gadis itu bisa berdiri dengan tegak.

​"Hei, kamu nggak apa-apa? Maaf ya, tadi aku juga lagi buru-buru lihat ponsel, jadi nggak memperhatikan jalan," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang terdengar begitu bersahabat dan hangat—sangat kontras dengan suara berat Adrian yang selalu sarat akan intimidasi.

​"A-ah, iya Kak, saya yang salah. Saya yang bawa buku terlalu tinggi sampai nggak lihat jalan," jawab Kiara terbata-bata, wajahnya mendadak merona merah karena merasa salah tingkah berhadapan langsung dengan cinta monyetnya di masa lalu.

​Rangga terkekeh pelan melihat ekspresi gugup Kiara yang terlihat sangat menggemaskan di matanya. Pria itu langsung berlutut di lantai, mulai memunguti buku-buku tebal yang berserakan. Kiara yang sadar langsung ikut berlutut, mencoba merapikan buku-bukunya. Saat mereka berdua meraih buku yang sama secara bersamaan, jemari Rangga tidak sengaja menyentuh punggung tangan Kiara.

​Deg.

​Kiara menarik tangannya dengan canggung, memberikan senyuman manis yang tulus kepada Rangga sebagai tanda terima kasih. "Biar saya saja, Kak. Merepotkan nanti."

​"Nggak repot sama sekali untuk mahasiswi berprestasi sepertimu, Kiara. Aku sering lihat namamu di papan pengumuman penerima beasiswa," goda Rangga sambil menyerahkan tumpukan buku yang sudah rapi ke pelukan Kiara. Rangga ikut berdiri, menatap Kiara dengan binar mata yang memancarkan ketertarikan yang jelas.

​Namun, di saat Kiara dan Rangga sedang terlibat dalam interaksi manis dan penuh tawa kecil di selasar lantai dasar, atmosfer di tempat itu mendadak berubah menjadi sangat mencekam secara aneh. Suhu udara seolah turun beberapa derajat dalam sekejap.

​Kiara mendadak merasa merinding, sebuah insting pertahanan diri yang sangat kuat memberi tahu bahwa ia sedang berada dalam bahaya besar.

​Secara refleks, Kiara mengalihkan pandangannya dari Rangga, mendongak menatap ke arah koridor lantai dua yang posisinya tepat berada di atas mading utama. Di sana, berdiri sebuah sosok tegap yang sangat familiar.

​Profesor Adrian.

​Pria itu sedang berdiri bersandar pada pembatas besi koridor lantai dua, memegang sebuah map dokumen. Kacamata bacanya sudah diturunkan, digantikan oleh sepasang mata elang yang menatap lurus ke bawah, mengunci sosok Kiara dan Rangga dengan pandangan yang luar biasa tajam, gelap, dan menguliti.

​Rahang tegas Adrian tampak mengeras, mencetak garis otot yang kaku. Kedua tangannya yang bertumpu pada pembatas besi mencengkeram besi tersebut dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Seringai tengil yang biasa ia tunjukkan telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh kilat cemburu buta dan aura kepemilikan yang sangat pekat dan berbahaya.

​Adrian melihat semuanya. Dia melihat bagaimana tangan Rangga menyentuh pinggang Kiara, bagaimana jemari mereka bersentuhan di lantai, dan yang paling membuat darah Adrian mendidih—dia melihat Kiara memberikan senyuman paling manis dan tulus kepada pria lain, senyuman yang bahkan belum pernah Kiara berikan padanya di apartemen.

​Kiara yang menatap mata elang Adrian dari kejauhan langsung membeku. Jantungnya berdegup menggila karena rasa takut yang luar biasa. Tatapan Adrian seolah sedang berkata: 'Kamu mati malam ini, Kiara.'

​"Kiara? Kamu kenapa? Kok malah melamun melihat ke atas?" tanya Rangga heran, ikut mengalihkan pandangannya ke atas, namun tepat saat itu Adrian sudah berbalik dan melangkah pergi dengan aura kemarahan yang menguar nyata dari punggung tegapnya.

​"A-ah, enggak Kak. Enggak apa-apa," jawab Kiara dengan suara yang sudah bergetar ketakutan. Aturan baru yang Adrian ucapkan sambil mencium lehernya semalam langsung terngiang-ngiang di kepalanya: 'Di kampus, kamu dilarang dekat-dekat atau tersenyum pada mahasiswa pria lain.'

​Dan sekarang, Kiara baru saja melanggarnya di depan mata sang monster itu sendiri.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!