Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hukuman dan Benih yang Mulai Tertanam
"Ingat posisimu, Mireya. Setiap helai informasi tentang masa laluku yang coba kamu ulik, akan dibayar mahal oleh tubuhmu malam ini."
Bisikan dingin Calix di depan daun telinga Mireya mengirimkan gelombang kejut yang membuat seluruh persendian gadis itu melemas. Di bawah temaram lampu kamar utama yang sengaja diredupkan, Calix mengurung tubuh Mireya di antara kedua lengan kokohnya. Kemeja hitam yang dikenakan pria itu sudah tanggal, menyisakan dada bidang berotot yang memancarkan hawa panas, kontras dengan udara pendingin ruangan yang berembus di sekitar mereka.
Mireya mendongak dengan napas yang mulai tersendat. Air mukanya pias, menyiratkan rasa sesal sekaligus ketakutan yang nyata. "Calix, ku-mohon... aku sudah bilang aku tidak sengaja. Dokter itu yang—"
"Aku tidak suka dibantah, Mireya," potong Calix dengan suara rendah yang sarat akan dominasi mutlak. Jemari tangannya yang besar bergerak lambat, menelusuri rahang Mireya hingga turun ke tali tipis gaun tidur satinnya. "Dan aku paling benci jika ada orang asing yang mencoba mencampuri urusan pribadiku. Anggap ini hukuman karena kamu sudah bersikap lancang."
Dengan satu sentuhan lambat namun penuh tekanan, Calix menyibak gaun tidur Mireya, membiarkan tubuh polos gadis itu kembali terekspos di bawah tatapan elangnya yang menggelap. Mireya refleks memeluk dadanya sendiri, mencoba menyembunyikan diri dari intensitas tatapan yang seolah menelanjanginya luar dan dalam.
"Tolong, jangan malam ini..." cicit Mireya, matanya mulai berkaca-kaca saat teringat bagaimana perihnya sisa luka dari malam pertama mereka yang belum sepenuhnya pulih. "Aku lelah sekali. Besok pagi-pagi sekali aku harus ke rumah sakit. Papa dan Mama pasti sudah menungguku di sana sebelum operasi Aiden dimulai."
Calix terdiam sejenak mendengar kata 'Papa dan Mama' yang disebut oleh Mireya. Sebuah senyuman sinis yang dingin terukir di sudut bibirnya. "Papa dan Mama? Maksudmu orang tua yang langsung pergi ke kantor pusat begitu dana segar dariku masuk ke rekening mereka? Orang tua yang dengan senang hati menyerahkan kesucian putrinya demi selembar cek lima puluh miliar?"
Kata-kata Calix bagai sembilu yang menghantam dada Mireya. Rasa perihnya bahkan melebihi rasa sakit fisik yang ia rasakan semalam. "Jangan bicara seperti itu tentang orang tuaku! Mereka terpaksa melakukannya!"
"Faktanya mereka memang menjualmu kepadaku, Mireya," bisik Calix, memanfaatkan kepanikan Mireya untuk merapatkan tubuhnya, menindih gadis itu dengan perlahan di atas kasur sutra yang empuk. "Dan karena aku sudah membayar lunas, maka malam ini... akulah pemilik mutlak atas dirimu. Tidak ada bantahan, dan tidak ada jalan keluar."
Sebelum Mireya sempat membalas, Calix sudah membungkam bibirnya. Ciuman kali ini tidak dimulai dengan hentakan kasar, melainkan dengan ritme yang teramat lambat, menyiksa, dan penuh penekanan. Calix menyesap belahan bibir Mireya satu per satu, mengabaikan rintihan tertahan yang lolos dari sela-sela napas gadis itu. Kulit mereka yang saling bergesekan mulai menciptakan hawa panas yang membakar akal sehat.
Mireya mencoba mengalihkan wajahnya, namun tangan Calix dengan cepat mengunci tengkuknya, memaksa Mireya untuk menerima setiap lumatan dalam yang memabukkan sekaligus menakutkan itu. Kedua tangan Mireya yang semula memukul pelan dada Calix, perlahan-lahan kehilangan tenaga, berubah menjadi cengkeraman pasrah pada bahu kokoh sang miliarder.
"Calix... ahh... sakit..." rintih Mireya saat ciuman itu turun ke leher jenjangnya. Calix sengaja memberikan sesapan lambat yang kuat di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang kontras di atas kulit putih bersih milik Mireya.
"Ini baru permulaan dari hukumanmu, Istriku," bisik Calix serak, suaranya terdengar begitu parau di tengah kesunyian kamar.
Pria tiga puluh lima tahun itu mulai menuntut lebih. Berbeda dengan malam pertama yang berjalan sedikit terburu-buru karena pembuktian kesucian, malam kedua ini berjalan dengan tempo yang sengaja diperlambat oleh Calix. Setiap sentuhan, setiap kecupan, dan setiap gerakan jarinya di atas kulit mulus Mireya dilakukan dengan presisi yang menyiksa, sengaja membakar gairah Mireya hingga gadis itu sepenuhnya tak berdaya di bawah kendalinya.
Ketika saatnya tiba untuk menanamkan kembali benih di dalam rahim Mireya, gadis itu langsung memekik tertahan. Rasa perih dari sisa semalam yang bergesekan dengan tuntutan baru yang lebih dalam membuat air mata Mireya langsung luruh membasahi pipinya.
"Sakit! Calix, perih... hiks... kumohon pelan-pelan," tangis Mireya pecah, jemari kakinya menekuk erat menahan sensasi robekan yang kembali terasa di bagian bawah perutnya.
Calix menatap wajah menangis di bawahnya dengan tatapan yang semakin menggelap oleh kabut gairah. Alih-alih mempercepat ritme agar semuanya cepat selesai, Calix justru sengaja menahan gerakannya di dalam, menikmati bagaimana kehangatan tubuh Mireya menjepit miliknya dengan begitu erat. Ia bergerak dengan durasi yang sengaja diperpanjang, menghujam dengan ritme konstan yang lambat namun sangat dalam.
"C-Calix... sudah... hiks... aku tidak kuat lagi... ini terlalu perih," mohon Mireya dengan suara yang habis. Tubuhnya berguncang hebat, melengkung pasrah mengikuti setiap pergerakan Calix yang seolah tanpa ampun. Kedua tangannya mencengkeram erat seprai putih di bawahnya hingga kusut masai.
"Tahan, Mireya. Semakin lama kita melakukannya, semakin besar peluang benihku tertanam dengan sempurna di rahimmu," geram Calix rendah, peluh mulai bercucuran dari dahi dan pelipisnya, menetes mengenai dada Mireya yang naik turun dengan tidak beraturan.
Waktu seolah berhenti berputar di kamar mewah itu. Detik demi detik berlalu menjadi menit yang menyiksa bagi fisik Mireya yang masih murni. Rasa perih yang menyengat itu terus mendominasi, membuat setiap desahan yang keluar dari bibirnya terdengar seperti rintihan minta ampun yang menyedihkan.
"Ampun, Calix... hiks... perih sekali... hentikan... aku mohon..." ratap Mireya lagi, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Calix, mencari sedikit belas kasihan dari pria yang sedang hilang akal di atasnya.
Namun, hancurnya pertahanan dan tangis ampunan dari Mireya justru menjadi bahan bakar yang membuat Calix semakin dominan. Pria itu terus memperpanjang durasi penyatuan mereka, memastikan setiap sudut rahim Mireya terjangkau oleh benih yang ia tumpahkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari malam sebelumnya.
Ketika fajar hampir menyingsing dan Calix akhirnya melepaskan kunciannya setelah pelepasan yang panjang, Mireya sudah tergeletak tak berdaya di atas kasur dengan napas yang putus-putus. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan matanya bengkak karena terlalu banyak menangis menahan perih.
Calix bangkit berdiri, menatap tubuh ringkih yang tampak berantakan di atas ranjang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secuil rasa bersalah yang melintas cepat di matanya, namun dengan segera ia tutupi kembali dengan topeng sedingin es miliknya. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Mireya yang menggigil.
"Istirahatlah. Jam delapan nanti sopir akan mengantarmu menemui orangtuamu di rumah sakit," ucap Calix datar, sebelum melangkah pergi meninggalkan Mireya yang menangis dalam diam di bawah kehangatan selimut yang terasa asing.
semangat terus ya Thor...