Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Gemuruh mesin kota Manhattan seolah teredam oleh dinding-dinding kaca tebal di lantai tertinggi Menara Osborn Group.
Ruang kerja Arthur Osborn yang megah kini berubah menjadi ruang sidang yang mencekam.
Ketegangan tidak lagi berpusat pada runtuhnya harga saham atau pengunduran diri sepihak klan Abbey dari proyek pelabuhan, melainkan pada sebuah kebenaran domestik yang jauh lebih menghancurkan daripada kebangkrutan finansial.
Arthur Osborn berdiri kaku di balik meja kerja mahoninya, sepasang matanya yang menua namun tetap tajam menatap bergantian ke arah dua putra kandungnya.
Di sebelah kanan, Raynazh Osborn berdiri dengan napas yang memburu, wajahnya pucat pasi bercampur rona merah kemarahan yang tertahan.
Penampilannya yang biasa rapi kini tampak kusut, mencerminkan frustrasi mendalam seorang pria yang baru saja didepak dari kursi CEO.
Sementara di sebelah kiri, Louis Enver Osborn berdiri bersandar pada pilar marmer hitam dengan kedua tangan tenggelam di saku celana jinsnya. Wajah Louis sedingin es, tanpa riak emosi, seolah kehadiran dirinya di ruangan itu hanyalah sebuah formalitas yang menjemukan. Namun, jika ada yang jeli melihat sekilas ke arah rahangnya, otot-put otot di sana mengatup begitu keras.
"Katakan sekali lagi, Raynazh," suara Arthur memecah keheningan, rendah dan sarat akan ancaman yang menuntut kejelasan. "Dan pastikan kata-kata yang keluar dari mulutmu bukan sekadar bualan pecundang yang frustrasi karena kehilangan jabatannya."
Raynazh terkekeh sinis, matanya melirik tajam ke arah Louis sebelum kembali menatap sang ayah. "Bualan? Ayah bisa memeriksa rekapan medis atau bertanya langsung pada anjing pemburu yang baru saja Anda tarik dari Brooklyn ini, Ayah! Adiba tidak pergi ke Swiss hanya karena urusan perceraian kami. Dia pergi membawa sesuatu. Dia hamil."
Arthur menyipitkan matanya. "Hamil? Jika dia hamil, bukankah itu artinya kau yang tidak becus menjaga istrimu hingga dia membawa penerus Osborn ke Paris?"
"Itu bukan anakku!" raung Raynazh, suaranya melengking memecah keheningan ruangan.
Telunjuknya mengacung lurus, bergetar hebat, tepat ke arah wajah Louis. "Anak itu... janin yang ada di dalam rahim Adiba saat ini, adalah anak dari bajingan ini! Louis! Malam Pengantin kami...Dan juga malam saat mereka mengkhianatiku, ternyata telah menghasilkan janin!"
Deg.
Kata-kata Raynazh menghantam dinding-dinding ruang kerja itu laksana godam yang tak kasat mata.
Arthur Osborn tersentak. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, pria tua yang terkenal berdarah dingin dan selalu memegang kendali penuh atas segalanya itu tampak benar-benar terkejut.
Ekspresi wajahnya menegang ekstrem. Matanya melebar, memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya dan kemurkaan yang masif.
Arthur perlahan mengalihkan pandangan matanya yang berat, menatap lurus ke arah Louis. "Louis... apakah yang dikatakan kakakmu itu benar?"
Louis tidak langsung menjawab. Dia perlahan menegakkan tubuh tegapnya dari pilar marmer, melangkah maju beberapa senti ke dalam pendar lampu ruangan.
Sepasang mata elang abu-abunya yang biasanya memancarkan aura pemberontakan jalanan yang kasar, kini tampak begitu gelap, menyimpan badai penyesalan yang membakar batinnya sejak dua hari lalu.
Ingatan Louis secara otomatis terlempar kembali pada malam di pelataran parkir Manhattan, saat Adiba menangis dan berteriak di depannya, mencoba meyakinkannya tentang keberadaan janin itu, yang kemudian dia balas dengan cacian paling hina.
"Jika bajingan ini tidak mengaku, Ayah bisa melihat laporan dari tim medis yang didapatkan oleh mata-matai bisnis kita!" Raynazh kembali menyela, menyodorkan beberapa lembar kertas digital ke atas meja Arthur dengan sentakan kasar.
"Usia kehamilannya tepat empat minggu! Garis waktunya cocok persis dengan malam Pertama kami, mereka bahkan melakukanya di Brooklyn Minggu lalu! Mereka tidur bersama di belakangku, dan sekarang wanita jalang itu melarikan diri untuk menyembunyikan anak haram mereka!"
"Jaga mulutmu, Raynazh!" suara Louis mendadak keluar, rendah, serak, namun memiliki daya tekan yang sanggup membungkam kalimat Raynazh seketika.
Louis melangkah mendekati meja kerja, menatap kakaknya dengan kilat kemurkaan yang murni. "Kau boleh membenciku sepuas hatimu. Kau boleh menyebutku bajingan, pengkhianat, atau apa pun. Tapi jangan pernah sekali pun kau berani melontarkan kata 'anak haram' atau 'wanita jalang' untuk Adiba dan anak itu di depanku!"
Raynazh tersentak mundur satu langkah, terkejut oleh intensitas ancaman yang memancar dari tubuh Louis. Namun, rasa sakit hatinya yang mendalam mengalahkan rasa takutnya.
"Kenapa? Kau merasa bersalah sekarang? Kau meruntuhkan pernikahanku, kau meruntuhkan aliansi finansial keluarga ini, dan sekarang kau bertingkah seolah kau adalah pahlawan yang melindungi mereka?!"
"Cukup!" Arthur menghantam meja kerjanya dengan keras. Bunyi dentuman itu seketika membungkam kedua putranya.
Arthur Osborn menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali akal sehatnya yang sempat terguncang oleh fakta domestik ini. Sebagai seorang arsitek bisnis yang kejam, otaknya secara otomatis mulai memetakan situasi baru ini ke dalam papan catur kekuasaannya.
Adiba Abbey hamil anak Louis. Hubungan kehamilan itu terhitung tiga minggu—sebuah fakta medis rekayasa yang dirancang oleh Giorgio Chiellini, namun kini telah diterima sebagai kebenaran mutlak oleh seluruh keluarga Osborn.
Arthur menatap Louis dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di satu sisi, dia murka karena skandal ini telah menghancurkan hubungan bisnis dengan klan Abbey.
Namun di sisi lain, sebuah pemikiran licik mulai tumbuh di dalam kepalanya. Anak di dalam rahim Adiba adalah darah daging Louis—putra keduanya yang memiliki ketahanan fisik dan mental yang jauh lebih kuat daripada Raynazh.
Jika anak itu berdarah campuran Osborn dan Abbey, maka anak itu adalah kunci emas untuk menarik kembali seluruh investasi George Abbey yang sempat lepas.
"Jadi... janin itu benar-benar ada," gumam Arthur, suaranya kembali mendingin, memancarkan aura perhitungan yang mengerikan.
Dia bersandar pada kursi kebesarannya, menatap Louis dengan tajam. "Louis, aku menarikmu dari Brooklyn dan memberikanmu kursi CEO ini bukan hanya untuk mengelola pelabuhan. Sekarang, tugasmu bertambah."
Louis menyipitkan matanya. "Apa maksudmu, ayah?"
"Cari Adiba Abbey," perintah Arthur mutlak. "Gunakan seluruh fasilitas, tim intelijen, dan dana tak terbatas dari Osborn Group yang sekarang berada di bawah kendalimu sebagai CEO. Lacak keberadaannya di Swiss atau di belahan bumi mana pun dia bersembunyi. Bawa dia kembali ke New York."
Louis terkekeh getir, sebuah tawa hambar yang sarat akan penolakan. "Kau mengira ini mudah, Ayah? George Abbey telah membentengi putrinya dengan seluruh kekuatan klannya. Dan yang paling penting... Adiba membenciku. Dia tidak akan pernah sudi melihat wajahku lagi setelah apa yang terjadi."
"Aku tidak peduli tentang perasaan atau kebenciannya, Louis!" bentak Arthur, condong ke depan mejanya. "Wanita itu mengandung penerus sah dari darahmu! Anak itu memiliki nilai strategis yang terlalu besar untuk dibiarkan tumbuh di bawah kendali penuh klan Abbey tanpa campur tangan kita. Jika kau harus berlutut di depan pintu rumahnya untuk membawanya kembali, maka lakukan! Kau yang memulai kekacauan ini dengan menidurinya, maka kau yang harus bertanggung jawab membawanya pulang ke rumah ini!"
Raynazh yang mendengar perintah ayahnya seketika membelalak tidak percaya. "Ayah! Apa yang Anda katakan?! Anda menyuruh Louis membawa wanita itu kembali? Bagaimana dengan posisiku?! Bagaimana dengan harga diriku sebagai pria yang dikhianati?!"
Arthur menoleh lambat ke arah Raynazh, tatapan matanya dipenuhi oleh rasa muak yang mutlak. "Harga dirimu sudah hilang sejak kau gagal menyentuh istrimu sendiri selama sebulan pernikahan, Raynazh. Kau telah gagal dalam segala hal. Sekarang, diam dan keluar dari ruanganku sebelum aku mencabut seluruh fasilitas dan namamu dari keluarga ini!"
Raynazh terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan. Dia menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya yang mendalam, lalu melirik ke arah Louis dengan tatapan yang dipenuhi oleh kabut kebencian yang kian menebal.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Raynazh berbalik kasar dan melangkah keluar dari ruangan, membanting pintu ganda mahoni itu dengan hantaman yang memekakkan telinga.
Kini, hanya tersisa Arthur dan Louis di dalam ruangan yang luas itu.
Louis berdiri diam, menatap lembaran kertas digital di atas meja yang menampilkan laporan medis tentang kehamilan tiga minggu Adiba. Dadanya bergemuruh hebat. Penyesalan yang mendalam kian menguliti jiwanya.
Dia ditarik dari Brooklyn bukan untuk merayakan takhtanya sebagai CEO baru, melainkan untuk memulai sebuah perburuan kosong yang dirancang oleh takdir yang kejam.
"Pergilah, Louis," ucap Arthur, suaranya terdengar datar namun dingin. "Gunakan kekuasaan barumu. Cari ibunya, dan bawa pulang anakmu."
Louis tidak menjawab. Dia mengambil kertas laporan tersebut, meremasnya di dalam genggaman tangannya hingga hancur, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang kerja Arthur.
Di dalam kepalanya, bayangan wajah Adiba yang menangis malam itu terus berputar laksana kutukan.
Dia akan mencari Adiba, bukan demi bisnis Arthur, melainkan demi sepotong maaf dan hak atas janin yang pernah dia Ragukan—tanpa pernah tahu bahwa di sebuah rumah aman di Long Island, seorang pria bernama Giorgio Chiellini sedang tersenyum memenangkan permainan ini.