Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: MARKAS DI SARANG NAGA
Hutan Terlarang bukan sekadar hutan biasa.
Di masa lalu, wilayah luas yang diselimuti kabut abadi ini adalah bekas medan perang para naga kuno. Tempat di mana darah makhluk mitologi tersebut tumpah dan merembes ke dalam tanah, meninggalkan sisa-sisa energi sihir yang tidak stabil hingga hari ini.
Arus mana di sini bergerak liar, berputar-putar seperti badai tak kasat mata yang siap meremukkan kesadaran manusia biasa.
Namun, bagi Axel dan ketiga pengawalnya, keganasan alam ini justru menjadi tempat persembunyian yang paling sempurna.
Distorsi magis yang masif di tempat ini bertindak sebagai perisai alami. Tidak ada satu pun detektor sihir milik pihak Gereja yang bisa bekerja atau melacak koordinat mereka di tengah kekacauan energi yang begitu liar ini. Mereka benar-benar terputus dari radar dunia luar.
Setelah berjalan menembus pepohonan raksasa yang batangnya meliuk aneh, mereka akhirnya menemukan sebuah tempat bernaung. Sebuah gua besar yang pintu masuknya tertutup rapat oleh jalinan akar-akar pohon purba, sisa-sisa dari reruntuhan kuil naga tua yang telah runtuh ribuan tahun lalu.
"Tempat ini cukup aman untuk sementara," ucap Elysia.
Sang penyihir jenius itu melangkah maju, menyentuhkan ujung jarinya yang ramping ke dinding batu gua yang berlumut.
Seketika, lingkaran sihir hijau berpendar tipis, memicu Segel Sihir Penyamaran tingkat tinggi. Jalinan ilusi itu menyelimuti seluruh mulut gua, membuatnya tampak runtuh dan tak kasat mata dari pandangan luar.
Di dalam gua, situasi langsung terkendali berkat kesigapan para pengawal Axel.
Reynarda langsung bergerak cepat tanpa perlu diperintah. Dengan ketangkasan seorang ksatria elit, dia menggunakan ranting pohon untuk membersihkan sudut-sudut gua dari debu tebal, sarang laba-laba, dan serangga malam.
Dia memastikan setiap jengkal tempat itu layak dan cukup bersih untuk ditempati oleh Axel.
Sementara itu, Valeria memilih posisi di depan pintu masuk gua.
Dia duduk dengan santai di atas akar raksasa, namun matanya yang berwarna merah pekat menatap tajam ke arah kegelapan hutan.
Jari-jarinya bergerak pelan, memanggil bayangan-bayangan pengintai berbentuk makhluk kecil yang langsung merayap keluar, menyebar ke segala penjuru untuk menjaga perimeter luar dalam radius satu kilometer.
Axel sendiri langsung terduduk di atas bongkahan batu besar di tengah gua.
Dia bersandar pada dinding batu, merasakan rasa lelah yang luar biasa hebatnya mulai menyerang seluruh persendian. Perjalanan panjang yang menguras tenaga—mulai dari melarikan diri lewat saluran selokan bawah tanah yang kotor hingga menembus medan berat Hutan Terlarang—benar-benar menguras batas fisik manusianya.
"Host," suara AI terdengar berdenging di dalam kepalanya, memunculkan layar status transparan yang hanya bisa dilihat oleh Axel. "Analisis biometrik menunjukkan bahwa meski posisi Anda aman, Anda saat ini berada di ambang kolaps fisik. Perlu saya ingatkan, Anda adalah manusia biasa dengan tubuh staf kebersihan, bukan makhluk mitologi seperti mereka. Anda sangat membutuhkan asupan nutrisi dan istirahat total."
Axel hanya mengangguk pelan dalam hati, terlalu lelah bahkan hanya untuk membalas ucapan sarkas asisten digitalnya itu.
Dia mengatur napasnya yang memburu, lalu mengalihkan pandangan menatap ketiga wanita di sekelilingnya.
Meskipun status mereka sekarang berubah menjadi buronan paling dicari di seluruh kekaisaran, wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau penyesalan. Sebaliknya, mereka terlihat begitu tenang dan damai. Untuk pertama kalinya, mereka tidak perlu bersaing atau saling sikut satu sama lain di dalam lingkungan akademi yang mencekik dan penuh kepalsuan.
"Kalian tidak menyesal?" tanya Axel tiba-tiba, memecah keheningan gua. "Kalian semua kehilangan posisi tinggi, gelar kehormatan, dan semua kenyamanan hidup yang kalian miliki sebelumnya. Semua hal itu hilang hanya karena kalian memilih membantuku."
Reynarda yang sedang duduk bersila sambil mengasah bilah pedangnya menghentikan gerakannya sejenak.
Dia menoleh, menatap langsung ke arah netra Axel dengan tatapan mata yang sangat lembut—sebuah ekspresi yang hanya dia tunjukkan pada pemuda itu.
"Gelar dan posisi itu hanyalah rantai yang membelengguku, Axel," ucap Reynarda dengan nada suara yang mantap. "Aku adalah Ksatria Suci yang bersumpah untuk melindungi keadilan, tetapi pihak Gereja itu sendiri yang telah melanggar dan menginjak-injak keadilan demi keserakahan mereka. Aku tidak kehilangan apa-apa hari ini, kecuali beban berat yang selama ini menyesakkan dadaku. Berada di sini, melindungimu, adalah keadilan yang sesungguhnya bagiku."
Elysia yang sedang bersandar di dinding gua dengan mata terpejam menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Menara sihir yang kutinggalkan itu penuh dengan bisikan orang-orang rakus yang haus kekuasaan. Atmosfernya sangat meracuni pikiran. Di sini, di tempat terasing ini, setidaknya aku bisa mendengar suara alam yang murni tanpa gangguan sihir hitam atau intrik politik mereka."
Valeria menyeringai lebar dari balik kegelapan sudut gua, melambaikan belati kecilnya dengan santai. "Aku? Jangan bercanda, Axel. Aku sudah terbiasa hidup di lubang pembuangan yang kumuh sejak aku masih kecil. Menjadi buronan negara dan dikejar-kejar pasukan bersenjata hanyalah rutinitas hari Selasa yang biasa bagiku. Justru hidup seperti ini yang membuat darahku berdesir."
Axel tersenyum kecil mendengar jawaban mereka.
Rasa hangat menjalar di dadanya. Ternyata, takdir tidak hanya membawanya memimpin sekelompok wanita pembunuh yang berbahaya, tetapi sekelompok orang yang pada akhirnya berhasil menemukan arti kebebasan mereka sendiri melalui "kejahatan" yang mereka lakukan bersamanya.
"Rencana tindakan selanjutnya, Host?" suara AI kembali menggema, memberikan pembaruan taktis. "Kita hanya memiliki waktu kurang dari 48 jam sebelum pihak Gereja berhasil menstabilkan detektor mereka dan mengerahkan unit pemburu udara skala penuh ke area luar hutan."
Mendengar peringatan itu, rasa lelah Axel seakan menguap.
Dia berdiri tegak, berjalan mendekati peta topografi wilayah yang diproyeksikan lewat sihir cahaya oleh Elysia di tengah gua.
"Kita tidak akan diam saja di sini menunggu mereka mengepung kita," Axel menunjuk ke arah peta dengan tatapan mata yang berkilat tajam. "Jika mereka ingin mencap kita sebagai 'Penyihir Gelap' dan 'Ksatria Jatuh', maka kita akan membuat nama itu menjadi mimpi buruk yang paling ditakuti oleh mereka. Langkah pertama, kita butuh informasi valid dari pihak dalam."
"Bagaimana caranya?" tanya Reynarda, mendekat ke sisi meja batu tempat peta sihir itu melayang.
"Valeria, kau pernah bilang kalau kau memiliki jaringan bawahan yang setia di dunia bawah tanah?" Axel menatap langsung ke arah sang Ratu Dunia Bawah.
"Tentu saja," jawab Valeria dengan nada percaya diri. "Namun, dengan situasi kota yang sedang siaga satu, mereka pasti akan kesulitan jika dipaksa menembus blokade ketat di gerbang ibu kota sekarang."
"Kita tidak perlu menembus blokadenya," Axel tersenyum miring, lalu jarinya menunjuk ke sebuah titik spesifik di luar batas luar peta—sebuah pos perdagangan utama yang terletak di pinggiran luar ibu kota.
Rencana Operasi Umpan Pasar Gelap:
- Penyebaran Rumor: Memanfaatkan jaringan pasar gelap milik Valeria untuk menyebarkan berita bahwa kelompok Axel memiliki "obat penawar" murni untuk mengatasi parasit jiwa yang digunakan Gereja.
- Pancingan Agen: Memanfaatkan kepanikan para petinggi Gereja yang korup agar mereka mengirimkan agen tingkat tinggi secara terburu-buru ke pos perdagangan tersebut demi merebut obat itu.
- Penyergapan Total: Menjebak agen yang datang dan merebut dokumen atau catatan rahasia mengenai struktur komando operasi pembersihan ini.
"Umpan yang sangat menarik," Reynarda tersenyum lebar, menyetujui taktik licik tersebut.
"Mereka yang sangat ingin membasmi kita pasti akan langsung melompat panik begitu tahu senjata rahasia mereka memiliki penawar. Mereka akan datang ke kita dengan membawa catatan rahasia tentang siapa saja yang memimpin operasi ini."
"Persis," Axel mengangguk tegas.
"Elysia, tugasmu adalah membuat jebakan sihir isolasi di sekitar lokasi yang tidak akan meninggalkan jejak energi sedikit pun setelah diaktifkan. Reynarda, kau yang mengatur strategi penyergapan fisik di titik buta. Valeria, begitu mereka terperangkap, bagianmu adalah melakukan interogasi total."
"Host," AI menyela di dalam pikiran Axel dengan nada sarkasnya yang khas.
"Perlu saya ingatkan kembali bahwa 'bermain' dengan agen rahasia Gereja tingkat tinggi membutuhkan nyali yang luar biasa besar. Namun, melihat kondisi mental dan riwayat psikologis ketiga wanita di samping Anda saat ini, saya rasa mereka akan sangat menikmati setiap detik dari sesi interogasi berdarah tersebut."
"Itu memang tujuannya," jawab Axel dingin.
Malam itu, di bawah langit Hutan Terlarang yang gelap gulita dan diselimuti badai sihir yang menderu, kelompok kecil yang awalnya terbentuk karena serangkaian ketidaksengajaan dan obsesi gila, kini mulai bertransformasi menjadi sebuah entitas yang sangat berbahaya. Mereka bukan lagi sekadar buronan yang melarikan diri tanpa arah. Mereka telah berubah menjadi pemburu sejati yang siap memangsa para pemburu mereka.
Axel kembali berjalan ke bongkahan batunya, memejamkan mata sejenak untuk memulihkan tenaganya yang tersisa demi mempersiapkan diri menghadapi hari esok yang akan penuh dengan tumpahan darah, intrik, dan konspirasi tingkat tinggi.
Dia benar-benar sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa kembali menjadi seorang staf kebersihan biasa yang hidup tenang di sudut akademi.
Dia telah memilih jalan gelap ini, dan dia akan memastikan bahwa dialah orang terakhir yang tetap berdiri tegak saat seluruh badai ini berakhir.
"Semangat, Host. Persiapkan diri Anda sebaik mungkin, karena besok pagi, kita akan segera mendapatkan tamu pertama kita di papan permainan ini."
Axel akhirnya tertidur lelap dalam keheningan malam hutan yang mencekam, tertidur dengan aman karena tahu dirinya dikelilingi oleh tiga wanita mematikan yang siap membakar seluruh isi dunia jika ada seseorang yang berani menyentuh atau menyakitinya sedikit saja.