NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berisik di Depan Kamar, Mari Pindah Tempat

​Niat membunuh yang pekat mendadak membuat udara di halaman paviliun terasa membeku. Huang Fu, sang jenius dari Keluarga Utama pusat kota, menatap Ji Huang dengan mata menyipit tajam. Tangan kanannya sudah mencengkeram gagang pedang giok di pinggangnya. Selama sembilan belas tahun hidupnya, belum pernah ada orang—apalagi seorang sampah klan cabang yang mengenakan sandal rumah longgar—berani menyuruhnya pergi untuk memeriksa pantat kuda.

​Namun, tepat saat Huang Fu hendak menghunus pedangnya untuk memotong lidah lancang Ji Huang, pandangannya tidak sengaja bergeser ke arah belakang. Di sana, berdiri Ji Lan dengan gaun hijau berburunya yang ketat.

​Melihat paras cantik Ji Lan, mata arogan Huang Fu seketika berkilat terang. Sifat murkanya mendadak diredam oleh insting tebar pesona yang muncul secara otomatis. Dia melepaskan cengkeraman pedangnya, merapikan jubah sutra putih sulaman peraknya yang mewah, lalu memasang senyuman menawan yang dibuat-buat sembari melangkah maju dengan gaya sok keren.

​"Ah... sungguh tidak disangka," ucapan Huang Fu mengalun dengan nada yang sengaja dibuat berwibawa, matanya menatap Ji Lan lekat-lekat. "Klan cabang di tempat terpencil ini ternyata memiliki permata yang begitu indah dan memikat. Sepupu cantik, siapa namamu? Sungguh malang nasibmu harus tinggal di paviliun busuk ini, dan ternoda karena memiliki saudara tiruan yang gila, idiot, serta tidak tahu tata krama seperti dia."

​Mendengar pujian yang kelewat percaya diri itu, Ji Lan tidak menunjukkan binar kagum sedikit pun. Sebaliknya, gadis bermutut pedas itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Huang Fu dari atas ke bawah dengan pandangan super jijik dan jutek yang sangat kentara.

​"Namaku bukan urusanmu, Utusan Pusat yang Sombong," jawab Ji Lan ketus tanpa memedulikan status sosial pria di depannya. "Dan sepupuku tidak gila. Dia hanya mengatakan kebenaran. Pakaianmu memang membuat halaman ini penuh debu."

​Uhuk!

​Di belakang mereka, beberapa tetua cabang hampir saja tersedak ludah sendiri mendengar jawaban tajam Ji Lan. Wajah sok keren Huang Fu seketika menegang, senyum menawannya retak menjadi guratan rasa malu yang luar biasa karena ditolak mentah-mentah di depan umum.

​Untuk menutupi rasa malunya yang membakar dada, Huang Fu berbalik dengan cepat, meluapkan seluruh emosinya kembali kepada Ji Huang dengan bentakan berapi-api. "Kurang ajar! Pasukan Penegak Hukum, tangkap bajingan kecil ini! Bawa sampah ini ke Aula Utama Keluarga Cabang sekarang juga! Kita akan menyidangnya di depan seluruh tetua atas tindakan kriminalnya terhadap Huang Jian!"

​Dua pengawal berbaju hitam langsung melangkah maju dengan tongkat besi mereka. Namun, sebelum mereka sempat menyentuh bajunya, Ji Huang justru mengangguk setuju dengan wajah polos, melambaikan tangannya dengan malas.

​"Iya, iya, tidak usah ditangkap, aku bisa jalan sendiri. Mau pindah tempat ke Aula Utama, kan? Baguslah," ucap Ji Huang blak-blakan dengan nada santai yang luar biasa datar. "Di depan kamarku ini terlalu berisik, kalian mengotori halaman paviliunku yang damai. Kalau di Aula Utama kalian ada kursi yang empuk dan ruangan yang sejuk untuk diduduki, aku ikut saja dengan sukarela."

​Huang Fu dan para pengawalnya mematung, menatap Ji Huang dengan pandangan tidak percaya. Menghadapi persidangan keluarga utama yang bisa berakhir dengan hukuman mati atau cacat, bocah ini justru ikut hanya karena ingin mencari kursi yang lebih empuk untuk bersantai?

​"Jangan bawa anakku! Jangan bawa Huang-er!"

​Tiba-tiba, sebuah drama heboh kembali pecah. Ji Tian, ayah Ji Huang yang kelewat emosional, langsung melesat maju sambil menangis bombay. Dengan kebodohannya yang khas, pria paruh baya bertubuh tambun itu menjatuhkan diri ke tanah, memeluk kaki pengawal paruh baya berbaju abu-abu yang berdiri di samping Huang Fu. Tangan kirinya masih memegang erat pelindung panci dapur yang tebal.

​"Jangan goreng anakku di Aula Utama! Dia masih kecil! Dia belum menikah dan belum pernah mencicipi arak madu! Kalau kalian mau menghukum seseorang, hukum saja aku! Biarkan aku yang duduk di kursi panas kalian!" raung Ji Tian dramatis, air matanya membasahi sepatu bot sang pengawal.

​Pengawal berbaju abu-abu itu hanya melirik Ji Tian dengan sudut mata berkedut kesal, merasa tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pria tua yang aneh ini.

​Ji Huang menghela napas panjang, melangkah mendekat, lalu menepuk pundak ayahnya yang sedang menangis di lantai dengan wajah lempeng. "Ayah, lepaskan kaki orang itu. Lagipula, bubur gosong yang Ayah buatkan tadi pagi rasanya jauh lebih berbahaya bagi nyawaku daripada orang-orang dari pusat kota ini. Tenang saja, aku cuma mau pergi duduk di kursi mereka. Nanti sebelum jam makan siang, aku sudah pulang."

​"B-Benarkah, Huang-er?" Ji Tian mendongak, ingusnya kembang kempis dengan polos.

​"Benar. Ayah tunggu saja di sini sambil membersihkan sisa arang di dapur," jawab Ji Huang jujur. Ji Tian yang terlalu murni akhirnya melepaskan pelukannya dan berdiri sambil mengangguk-angguk percaya.

​Saat Ji Huang berbalik untuk berjalan, sebuah tangan yang halus namun gemetar tiba-tiba menahan lengan linennya yang robek. Ji Huang menoleh dan melihat Ji Lan berdiri di sampingnya. Mata jernih sepupunya itu tidak lagi memancarkan ke-jutek-an, melainkan ketakutan dan kecemasan yang sangat nyata.

​"Ji Huang, jangan bodoh! Jangan pergi!" bisik Ji Lan dengan suara bergetar, mencengkeram lengan Ji Huang lebih erat. "Huang Fu itu kejam, dan pengawal abu-abu di sampingnya adalah master Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-7! Ini jebakan, mereka akan menghancurkanmu begitu kamu menginjakkan kaki di Aula Utama!"

​Ji Huang menatap sepasang mata cemas Ji Lan. Di detik itu, kepolosan malas di wajah Ji Huang mendadak memudar, digantikan oleh seulas aura kewibawaan kuno yang sangat teduh namun dominan—sisa keagungan dari seorang Dewa Pedang yang tak terkalahkan.

​Dia memberikan senyuman tipis yang menyiratkan sedikit sentuhan sadis yang menenangkan. "Sepupu jutek, Sup Ayam Ginseng Hitam yang kamu bawakan tadi rasanya sangat enak. Energi dari sup itu sedang berputar di tubuhku dan membuat tangan pemalasku ini agak gatal sekarang. Tenang saja... kalau kursi di Aula Utama mereka nanti tidak empuk, aku tidak keberatan menggunakan kepala orang sok keren dijubah sutra itu sebagai bantal siangku."

​Ji Lan seketika tertegun. Cengkeraman tangannya di lengan Ji Huang perlahan mengendur. Mendengar kalimat mengerikan yang diucapkan dengan nada sesantai itu, bulu kuduk Ji Lan mendadak merinding, namun di saat yang sama, sebuah perasaan aman yang aneh dan tak masuk akal mendadak menyelimuti hatinya. Hubungan spiritual mereka seolah memberi tahu Ji Lan bahwa pemuda di depannya ini memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri.

​"Jalan, sampah! Jangan membuang waktu!" Huang Fu mendengus kasar, lalu berbalik dan mulai berjalan memimpin jalan keluar dari halaman dengan dada dibusungkan, mencoba mengembalikan wibawa sok keren-nya yang sempat runtuh.

​"Iya, iya, tidak usah berteriak," gumam Ji Huang malas.

​Dia melangkah keluar dari halaman paviliun dengan santai, menyeret sepasang sandal rumah kayunya yang longgar hingga menimbulkan suara pletag-pletog yang berisik di sepanjang koridor batu. Karena sandal itu longgar dan Ji Huang sangat malas mengeluarkan tenaga, dia berjalan dengan kecepatan yang sangat lambat—bahkan lebih lambat dari cara berjalan seorang kakek tua yang sedang encok.

​Akibatnya, Huang Fu yang berjalan di depan terpaksa harus menghentikan langkahnya setiap beberapa meter, menoleh ke belakang dengan wajah berkedut menahan amarah karena seluruh rombongan Keluarga Utama yang megah itu terpaksa ikut berjalan seperti siput di belakang seorang pemuda compang-camping.

​Sambil menyeret kakinya perlahan, Ji Huang memandangi punggung kaku Huang Fu dengan tatapan polosnya yang khas, sembari membatin malas: “Jubah putihnya lumayan bagus, tapi langkah kakinya terlalu tegang. Dasar bocah pusat kota yang berisik. Mari kita lihat, seberapa empuk kursi di Aula Utama mereka, dan apakah mereka punya arak yang enak untuk disajikan.”

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!