NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pertemuan Tak Terduga & Ancaman

Usaha Bagas nyaris lumpuh. Fitnah yang disebar pengusaha lama begitu kuat, membuat hampir semua pintu tertutup rapat bagi pemuda itu. Berhari-hari ia berkeliling dari satu gudang ke gudang lain, berbicara, memberikan keyakinan, dan membuktikan kualitas barang, namun selalu ditolak dengan alasan yang sama: “Kami tidak mau berurusan dengan penipu.”

 Hati Bagas terasa remuk, tapi ia tidak punya pilihan selain terus berjalan demi ibunya yang perlahan mulai pulih namun masih butuh biaya pengobatan dan gizi yang cukup.

Suatu pagi yang berawan, Bagas sampai di gerbang sebuah gudang penyimpanan barang terbesar di kawasan itu. Bangunannya luas, kokoh, dan penuh aktivitas. Sangat kontras dengan kondisi fisik Bagas yang lelah dan pakaiannya yang mulai lusuh. Ini adalah tempat terakhir yang belum ia coba. Jika ditolak lagi, ia tak tahu harus ke mana lagi melangkah.

Saat sedang bernegosiasi dengan kepala gudang yang tampak dingin dan keras, pembicaraan mereka terhenti saat seorang wanita muda berjalan mendekat. Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi, rambut panjangnya terikat kuda, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang jarang ditemui. Ia bukan staf biasa, semua orang yang lewat menyapanya dengan hormat. Ia adalah Laras, anak tunggal pemilik gudang besar itu.

Laras mendengar sedikit pembicaraan mereka. Matanya yang teduh menatap tajam namun lembut ke arah Bagas. Ia melihatnya sebagai pemuda yang berwajah bersih, bicara teratur, dan sorot matanya penuh ketulusan meski tersembunyi di balik kepedihan dan kelelahan. Ia pun mendengar kabar buruk tentang pemuda ini, tapi nalurinya berkata lain.

"Tunggu sebentar, Pak," potong Laras pelan namun tegas. Ia menoleh ke arah Bagas. "Kamu yang bernama Bagas, bukan? Saya dengar banyak hal buruk tentangmu, tapi saya juga dengar dari bengkel-bengkel kecil bahwa barang yang kamu bawa kualitasnya bagus dan harganya adil. Katakan padaku, apa alasanmu berdagang di sini?"

Bagas mengangkat wajahnya, menatap mata wanita itu. Ada rasa damai yang tak terlukiskan saat bertatapan dengannya. Tanpa berbelit-belit, Bagas menceritakan semuanya. Mulai dari asalnya, tujuan datang merantau bersama ibunya, bagaimana ia melihat ketimpangan harga, hingga bagaimana ia difitnah habis-habisan hanya karena dianggap mengganggu kekuasaan pengusaha lama. Ia bicara apa adanya, apa adanya tanpa pemanis, meski rasanya memalukan harus menceritakan kejatuhan dirinya di depan orang asing.

Laras mendengarkan dengan saksama, tanpa menyela, tanpa pandangan merendahkan. Saat Bagas selesai, Laras tersenyum tipis, senyum yang menyejukkan hati.

"Aku percaya padamu," ucap Laras singkat namun pasti. "Orang yang berbohong tidak akan bisa bercerita dengan rasa sakit dan ketulusan sejelas itu. Bapak, berikan dia kesempatan. Kita akan kirimkan barangnya dulu, pembayaran belakangan setelah barang terjual. Saya yang menjamin."

Kepala gudang itu tertegun, tak berani membantah perintah putri majikannya. Bagas pun ternganga, tak percaya telinganya. Di saat semua orang menolaknya, wanita inilah satu-satunya orang yang berani percaya dan memberinya jalan keluar. Rasa haru bercampur syukur memenuhi dada Bagas. Ia menunduk dalam-dalam, tak sanggup berkata apa-apa selain ucapan terima kasih yang berkali-kali.

Namun, kejadian itu ternyata menjadi awal dari masalah baru yang jauh lebih berbahaya.

Di sudut gudang, seorang pemuda berpenampilan necis, berkulit putih, dan berwajah sombong melihat semuanya. Ia adalah Dimas, anak dari salah satu pengusaha terbesar di kota itu. Orang yang menjadi pemimpin di balik persekongkolan dan fitnah yang menjerat Bagas. Dimas sudah lama mendekati Laras, berniat mempersuntingnya demi menyatukan kekayaan kedua keluarga. Ia sudah terbiasa menganggap Laras dan segala sesuatu di kawasan itu sebagai miliknya.

Melihat Bagas, seorang pendatang miskin, berpakaian sederhana, dan yang bahkan sudah ia coba cegah berkali-kali, berani berbicara lama dengan Laras, apalagi sampai mendapatkan dukungan penuh darinya, amarah Dimas meledak tak terkendali. Baginya, ini adalah penghinaan terbesar.

Hari itu juga, saat Bagas keluar dari gerbang gudang dengan langkah ringan membawa harapan baru, Dimas dan dua orang anak buahnya memotong jalan di depan Bagas. Wajah Dimas merah padam menahan marah, matanya menatap tajam penuh kebencian.

"Hei, anak kampung!" seru Dimas dengan nada mengejek. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Berani-beraninya kamu mendekati Laras? Berani-beraninya kamu memanfaatkan kebaikan hatinya?"

Bagas berhenti, menatap tenang namun waspada. "Saya hanya berbisnis, Mas. Nona Laras yang memberi saya kesempatan karena ia tahu saya jujur. Saya tidak bermaksud apa-apa."

"Jujur?" Dimas tertawa sinis, lalu maju selangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Bagas. "Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu? Kamu cuma sampah pendatang. Kamu cuma miskin yang berlagak pintar. Kamu merusak harga pasar kami, kamu membuat orang-orang bertanya, dan sekarang kamu berani merebut perhatian wanita yang kuinginkan. Kamu sudah main api, Bagas."

Dimas mengangkat dagu dengan angkuh, suaranya meninggi dan penuh ancaman yang dingin.

"Dengar baik-baik. Minggir dari kota ini. Kembalilah ke tempat asalmu. Atau... kamu dan ibumu yang lemah itu akan menyesal seumur hidup kalian pernah melangkahkan kaki ke sini. Ingat kata-kataku, di kota ini, aku yang punya kuasa. Aku bisa membuatmu mati kelaparan, atau lebih buruk lagi. Aku bisa membuat ibumu menangis sehidup semati karena kehilangan anaknya."

Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Sorot mata Dimas penuh niat jahat. Anak buah di belakangnya pun mulai melangkah maju, mengepung Bagas. Konflik fisik terasa begitu dekat, tinggal menunggu sedikit saja pemicu. Bagas mengepal tangan kuat-kuat, menahan amarah yang mendidih di dalam dada. Ia ingin sekali membalas, ingin sekali mengajarkan pemuda sombong itu arti menghargai orang lain. Tapi nama ibunya kembali menghentikan langkahnya. Ia tidak boleh bertengkar, ia tidak boleh terlibat masalah hukum, demi keselamatan Ibu.

Bagas membuang muka, berusaha tetap tenang. "Saya tidak mengganggu siapa pun, Mas. Saya hanya mencari nafkah halal. Saya tidak akan pergi, selama saya belum membuktikan diri. Dan tolong, jangan pernah melibatkan Ibu saya."

Bagas pun berjalan melewati mereka dengan kepala tegak, meski jantungnya berdebar kencang karena bahaya yang mengintai di punggungnya.

Sesampainya di kontrakan kecil sore itu, wajah Bagas yang biasanya berusaha tersenyum tampak pucat dan tegang. Ibu yang sedang duduk di kursi rotan langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Ia melihat lengan anaknya sedikit memar akibat didorong oleh anak buah Dimas tadi.

"Bagas..." panggil Ibu lirih, tangannya gemetar menyentuh bekas memar itu. "Ada apa, Nak? Kamu terlibat perkelahian?"

Melihat kekhawatiran di mata ibunya yang masih belum sepenuhnya pulih, Bagas tak sanggup menyembunyikan semuanya. Ia menceritakan pertemuannya dengan Laras yang membawa kebaikan, namun juga ancaman nyawa yang datang dari Dimas dan kekuasaannya.

Ibu mendengarkan dengan napas memendek, wajahnya makin pucat seiring bertambahnya cerita. Ketakutan kembali merayapi hatinya. Ia tahu, orang-orang berkuasa di kota ini bisa melakukan apa saja semau mereka. Ia tidak ingin anaknya terluka, ia tidak ingin mereka berdua menjadi sasaran kejahatan hanya karena Bagas ingin maju dan sukses.

Ibu menggenggam tangan anaknya erat, matanya berkaca-kaca penuh keprihatinan.

"Nak..." suara Ibu bergetar, "Kalau memang tempat ini terlalu berbahaya, kalau nyawamu dan keselamatanmu terancam, kita bisa cari tempat lain. Ibu tidak apa-apa hidup sederhana, asal kamu selamat. Ibu takut, Bagas. Ibu takut orang-orang jahat itu benar-benar menyakiti kamu. Tolong, berjanjilah pada Ibu, kamu harus berhati-hati. Jangan berjalan sendirian kalau tidak perlu, jangan pulang terlalu malam, dan hindari berkonflik dengan mereka apa pun yang terjadi. Kesuksesan itu penting, tapi nyawamu jauh lebih berharga bagi Ibu."

Bagas menunduk, mencium punggung tangan keriput ibunya. Ia tahu ketakutan itu wajar, tapi ia juga sadar, kalau ia lari lagi, ia akan lari selamanya. Dimas dan pengusaha jahat itu ingin ia pergi karena mereka tahu Bagas adalah ancaman bagi kekuasaan kotor mereka. Justru karena itulah Bagas harus tetap berdiri.

"Tenanglah, Bu," jawab Bagas lembut namun tegas. "Aku akan berhati-hati. Aku tidak akan mencari masalah, tapi aku juga tidak akan lari dari kebenaran. Laras sudah percaya padaku, dan aku tidak akan mengecewakan kepercayaan itu. Aku akan membuktikan pada Dimas dan semua orang jahat itu, bahwa ancaman dan kekerasan tidak akan pernah bisa mematikan semangat orang yang jujur."

Malam itu, suasana di kontrakan kecil itu menjadi tebal oleh kekhawatiran. Di luar sana, di balik kegelapan malam, ancaman Dimas terasa semakin nyata. Bagas tahu, sejak Laras berpihak padanya, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya usaha dan nama baik, tapi keselamatan nyawa dirinya dan juga ibunya.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!