Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 ( Rasa Apa Ini ? )
Arven masih asik bermain dengan para anak anak disana, sedangkan Alena ia memilih untuk beristirahat karena merasa lelah.
Bu Ayumi yang melihat Alena sendirian pun menghampiri gadis itu.
" Kamu kenal sama Arven, Alena ? "
" Baru berapa hari sih Bu, ga sengaja itu juga "
" Arven itu anak yang baik sekali, dia mau bermain dengan anak anak disini. Bahkan sering sekali ia memberikan hadiah untuk anak anak disini "
Alena mendengarkan cerita Bu Ayumi sambil menatap Arven yang sedang asik bermain.
" Arven dari dulu sering kesini Bu ? "
" Iyah, kalau dulu dia kesini itu sama Ibunya. Tapi setelah ibunya meninggal, Arven selalu sendiri kesini "
" Ini Ibu punya foto Ibu Arven dan Arven "
Bu Ayumi mengeluarkan ponselnya, menunjukkan satu foto Arven bersama ibunya.
" Ibunya Arven, sakit apa Bu ? "
" Leukimia, dan Arven baru tau disaat sudah stadium akhir "
" Papahnya masih ada kan Bu ? "
" Masih, cuma sejak dulu Arven itu tidak dekat dengan ayahnya. "
" Ibu pikir kalian berdua pacaran loh, soalnya cocok " ucap Bu Ayumi menggoda
" Cocok apanya Bu, aku mah orang susah sedangkan Arven kan ibu tau sendiri "
" Jodoh itu ga ada yang tau, mungkin bisa saja kalian berjodoh "
Alena hanya tersenyum sambil menggeleng, kemudian ia kembali menatap Arven dari kejauhan.
..
Arven yang sudah merasa lelah akhirnya menghampiri Alena.
" Cape " ucap Arven sambil mengatur nafasnya
" Minum dulu " Alena memberikan sebotol air mineral
Arven meneguk air itu, hingga air itu habis tak tersisa.
" Lo keringetan banget sih "
Alena mengelap kening Arven yang basah akan keringat.
Arven tak berkomentar, ia hanya diam dengan apa yang Alena lakukan.
" Kalau ga langsung di lap, nanti masuk lagi terus jadi penyakit tau "
" Kalau gue sakit, emang lo ga mau Deket sama gue lagi ? "
Alena menatap Arsen dengan serius.
" Pertanyaan konyol apa itu ? "
" Lupain aja " ucap Arven
Arven masih mengatur nafasnya, ia menatap lurus kearah anak anak yang masih asik bermain.
" Kenapa lo ngajak gue kesini Al ? "
" Karena niat awal gue tuh biar lo happy, habisnya gue liat lo itu kerja terus, muka lo serius banget. Hidup itu harus di nikmati Arven, jangan dibawa setres"
" Makasih atas niat lo, Alena "
Alena hanya mengangguk sambil tersenyum.
....
Selamat selesai dari panti, Alena mengajak Arven pergi kesebuah taman.
Mereka pun duduk dihamparan rumput dengan pemandangan danau didepannya.
" Gue penasaran deh " ucap Alena tiba-tiba
" Penasaran kenapa ? "
" Kenapa dari banyak nya cewek, lo pilih gue ? "
Arven diam sejenak, sedangkan Alena menunggu jawaban itu.
" Karena menurut gue, lo lagi butuh duit "
" Kedua pertanyaan gue, kenapa 30 hari ? Ada apa dengan 30 hari ? "
Arven kembali diam, ia tak langsung menjawab pertanyaan Alena.
" Gue cuma mau tau aja Arven "
" Karena menurut gue waktu yang pas aja "
Alena merebahkan tubuhnya diatas rumput itu, pandangannya menatap lurus ke langit langit.
" Jujur, gue seneng sih ketemu sama lo. Ya walaupun pertemuan itu ga disengaja " ucap Alena
Arven pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Alena, ia juga ikut menatap ke langit langit.
" Semenjak kedua orangtua gue ga ada, gue tuh ngerasa beban di pundak gue berat banget. "
" Disaat gue pengen nyerah sama hidup, gue liat lagi Ade gue dan ya gue tau kalau gue ga boleh nyerah gitu aja "
" Gue rela kerja apapun selagi halal, selagi gue ga jual diri, yang penting Ade gue bisa sekolah setinggi mungkin "
Arven mendengarkan cerita Alena, sesekali ia melirik wanita yang ada disampingnya.
" Tapi lo pasti punya cita-cita kan Al ? "
" Cita cita gue itu jadi orang sukses, gue pengen bahagiain keluarga, bikin bangga orangtua. Ya walaupun kedua orangtua gue udah ga ada "
" Tapi gue tetap mau bikin mereka bahagia, karena gue tau mereka bisa liat gue dari atas sana "
Arven tersenyum mendengarkan setiap cerita yang keluar dari mulut Alena.
" Kehilangan itu ga enak ya Al " ucap Arven
" Hmm " Alena mengangguk
" Lo pasti selalu inget sama ibu Lo ya kalau ke panti ? " tanya Alena
" Ya bisa dibilang gitu, tapi sekarang tujuan gue datang kesana ya cuma mau bikin orang lain seneng aja sih "
" Jangan selalu mikirin orang lain Arven, lo juga harus mikirin diri lo sendiri. "
" Lo juga harus bahagia, lo harus nikmatin hidup yang singkat ini, karena kita ga akan tau bagaimana hidup kita jika ada kehidupan lainnya "
Arven mendengarkan dengan serius setiap kata kata yang keluar dari mulut Alena.
" Jujur sama gue, lo sakit kan ? "
Arven terdiam, bahkan mulutnya terasa berat untuk menjawab.
" Lo sakit apa ? "
" Gue ga sakit Alena "
" Bohong, gue denger Arven "
" Kapan ? "
" Kemarin, gue juga liat dokter keluar dari ruangan lo "
Arven tak bisa menjawab apapun saat ini, tapi ia juga belum siap jika Alena tau yang sebenarnya.
" Kalau lo belum siap buat cerita ke gue ga apa apa, Arven "
" Tapi satu yang lo harus tau dan ingat "
" Apa ? " tanya Arven singkat
" Lo harus tetap semangat buat jalanin hidup ini, kalau lo butuh teman cerita gue juga siap buat dengerin lo cerita "
" Ya walaupu gue ini masih kayak anak kecil, tapi ya gue bisa dewasa juga ko kadang "
Arven tertawa mendengar ucapan Alena..
" Malah ketawa, gue serius tauu "
" Lo lucu Alena, gue suka "
" lo suka sama gue ? "
" Bu.. bukan maksud gue ya gue suka sama bercanda lo gitu "
" Oh kirain lo udah suka sama gue "
Arven merasa gemas melihat raut wajah Alena, sedangkan gadis itu masih asik menatap langit-langit.
....
Malam hari Alena baru saja selesai mandi, ia mengambil ponselnya yang sejak tadi ia letakkan diatas meja.
Ia melihat pesan masuk dar Arven.
[Arven : Hari Keempat]
[Arven : Nilai Lo, 8/10 ]
Alena tersenyum lebar, dengan segera ia membalas pesan Arven
[Alena : SERIUS GUE DAPET NILAI DELAPAN ??!]
[Alena : Mimpi apa guee ]
Beberapa detik kemudian, Arven pun membalasnya
[Arven : Karena hari ini, lo bikin gue bahagia Alena ]
Alena tersenyum membaca pesan yang Arven kirimkan
[Alena : Lo udah jatuh cinta ya sama gue ?]
Tak sampai satu detik, Arven membalas pesan itu
[Arven : Belum]
Baru Alena ingin membalas, satu pesan kembali masuk dari Arven
[Arven : Tapi engga tau kalau besok besok ]
[Arven : Istirahat sana, lo pasti cape ]
[Arven : Taruh hpnya, tidur ]
[Arven : Makasih untuk hari ini, Alena]
Jantung Alena berdebar dengan kencang, ia terus menatap ponselnya membaca pesan pesan Arven.
" Gue kenapa ya ? Ko gue seneng gini ? "
Alena memegangi dadanya yang terus berdebar
" Gue ga jatuh cinta kan ? "